Tugas Pengantar Agribisnis


Pada saat ini, Provinsi Jambi merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang menghasilkan produksi perkebunan cukup besar di Indonesia. Ada dua komoditi perkebunan unggulan yang dikembangkan saat ini yaitu tanaman kelapa sawit dan karet. Akan tetapi dalam perkembangannya ke depan, para ahli menilai bahwa tanaman karet dinilai lebih menguntungkan dibandingkan dengan kelapa sawit. Berikut kutipan yang diambil dari penelitian Chairil Anwar (2006) tentang perkembangan pasar dan prospek agribisnis di Indonesia:

“Pertumbuhan ekonomi dunia yang pesat pada sepuluh tahun terakhir,
terutama China dan beberapa negara kawasan Asia-Pasifik dan Amerika Latin
seperti India, Korea Selatan dan Brazil, memberi dampak pertumbuhan
permintaan karet alam yang cukup tinggi, walaupun pertumbuhan permintaan
karet di negara-negara industri maju seperti Amerika Serikat, Eropa dan Jepang
relatif stagnan.
Menurut International Rubber Study Group (IRSG), diperkirakan akan
terjadi kekurangan pasokan karet alam pada periode dua dekade ke depan. Hal
ini menjadi kekuatiran pihak konsumen, terutama pabrik-pabrik ban seperti
Bridgestone, Goodyear dan Michelin. Sehingga pada tahun 2004, IRSG
membentuk Task Force Rubber Eco Project (REP) untuk melakukan studi
tentang permintaan dan penawaran karet sampai dengan tahun 2035. Hasil
studi REP meyatakan bahwa permintaan karet alam dan sintetik dunia pada
tahun 2035 adalah sebesar 31.3 juta ton untuk industri ban dan non ban, dan 15
juta ton diantaranya adalah karet alam.”

Jambi sebagai salah satu penghasil karet alam di Indonesia diharapkan mampu menghasilkan karet alam yang dapat memenuhi permintaan pasar dunia. Pemerintah Provinsi Jambi pada tahun 2006 telah mulai melaksanakan program revitalisasi perkebunan melalui replanting tanaman karet. Akan tetapi program replanting tanaman karet ini tidak akan berhasil apabila sistem agribisnis perkebunan karet tidak mendukung pelaksanaan program.

Tugas:

Carilah fenomena-fenomena yang terjadi dan permasalahan yang muncul dalam pengembangan agribisnis karet ditinjau dari semua sub sistem tanaman karet. Permasalahan utama apa yang dihadapi oleh petani karet di Provinsi Jambi dan bagaimana alternatif pemecahan masalahnya.

Tugas dibuat dalam bentuk paper minimal 250 kata, ditulis dan dimasukkan ke dalam comment post Tugas Pengantar Agribisnis. Tugas paling lambat dikumpulkan pada hari Senin/ 5 Desember 2011 pukul 18.00 WIB.

 

Dosen Mata Kuliah Pengantar Agribisnis

Zakky Fathoni, SP, M.Sc

41 comments on “Tugas Pengantar Agribisnis

  1. nama: titin handayanti
    nim :D1B010048
    kelas : Agribisnis (E)
    JAWAB:
    Tanaman karet berasal dari lembah Amazon, Brazilia dengan curah hujan 2000-3000 mm/tahun. Di Indonesia tanaman karet dibudidayakan umumnya pada dataran rendah dengan curah hujan antara 1500-4000 mm/tahun. Dengan makin terbatasnya lahan yang ideal untuk tanaman karet serta kompetisi dalam hal penggunaan lahan dengan komoditas lainnya, perusahaan perkebunan atau petani ingin mengembangkan karet pada lahan dengan kondisi sub optimal.fenomena Pengembangan agribisnis karet Indonesia ke depan perlu
    didasarkan pada perencanaan yang lebih terarah dengan sasaran yang
    lebih jelas serta mempertimbangkan berbagai permasalahan, peluang
    dan tantangan yang sudah ada serta yang diperkirakan akan ada
    sehingga pada gilirannya akan dapat diwujudkan agribisnis karet yang
    berdaya saing dan berkelanjutan serta memberi manfaat optimal bagi
    para pelaku usahanya secara berkeadilan.
    Sub sistem agribisnis antara lain :
    A. Agribisnis Primer dan Hulu
    Selama lebih dari 35 tahun (1967-2003), areal perkebunan karet
    di Indonesia meningkat sekitar 1,2% per tahun. Namun pertumbuhan
    ini hanya terjadi pada areal karet rakyat (+ 1,5% per tahun),
    sedangkan pada perkebunan besar negara dan swasta cenderung
    menurun (Tabel 1). Dengan luasan sekitar 3,3 juta ha pada tahun
    2003, mayoritas (85%) perkebunan karet di Indonesia adalah
    perkebunan rakyat, yang menjadi tumpuan mata pencaharian lebih
    dari 15 juta jiwa. Dari keseluruhan areal perkebunan rakyat tersebut,
    sebagian besar (+ 91%) dikembangkan secara swadaya murni, dan
    sebagian kecil lainnya yaitu sekitar 288.039 ha (+ 9 %) dibangun
    melalui proyek PIR, PRPTE, UPP Berbantuan, Partial, dan Swadaya
    Berbantuan.Permasalahan utama yang dihadapi perkebunan karet nasional
    adalah rendahnya produktivitas karet rakyat (+ 600 kg/ha/th), antara
    lain karena sebagian besar tanaman masih menggunakan bahan
    tanam asal biji (seedling) tanpa pemeliharaan yang baik, dan tingginya
    proporsi areal tanaman karet yang telah tua, rusak atau tidak produktif
    (+ 13% dari total areal). Pada saat ini sekitar 400 ribu ha areal karet
    berada dalam kondisi tua dan rusak dan sekitar 2-3% dari areal
    tanaman menghasilkan (TM) yang ada setiap tahun akan memerlukan
    peremajaan. Dengan kondisi demikian, sebagian besar kebun karet
    rakyat menyerupai hutan karet.
    B. Agribisnis Hilir
    Bahan olah karet berupa lateks dapat diolah menjadi berbagai
    jenis produk barang jadi lateks (latex goods) dan karet padat (RSS,
    SIR) dijadikan bahan baku untuk menghasilkan berbagai jenis barang
    karet. Barang jadi dari karet terdiri atas ribuan jenis dan dapat
    diklasifikasikan atas dasar penggunaan akhir (end use) atau menurut
    saluran pemasaran (market channel). Pengelompokan yang umum
    dilakukan adalah menurut penggunaan akhir yakni: (1) ban dan produk
    terkait serta ban dalam, (2) barang jadi karet untuk industri, (3)
    kemiliteran, (4) alas kaki dan komponennya, (5) barang jadi karet
    untuk penggunaan umum dan (6) kesehatan dan farmasi. Ragam produk karet yang dihasilkan dan diekspor oleh Indonesia
    masih terbatas, pada umumnya masih didominasi oleh produk primer
    (raw material) dan produk setengah jadi.Diindonesia sekarang ini harga karet semakin menurun.rakyat miskin pun semakin miskin.
    Rendahnya produktivitas, terutama pada perkebunan rakyat yang baru mencapai 821 kg kadar karet kering KKK, sedangkan potensi produksi bisa lebih dari satu ton KKK/ha/tahun.pemsalahn ini disebabkan akibat karena terbatasnya penggunaan bibit karet klon unggul, kurangnya pemeliharaan, seperti pemupukan dan pengendalian hama/penyakit serta terjadinya peningkatan luas tanaman karet tua/rusak.Disisi lain modal petani masih sangat lembah untuk meremajakan kebun karet.alternatif pemecahan permaslahan ini,karet merupakan komositas perkebunan unggulan diprovinsi jambi yang memberikan kontribusi 85,82% dari nilai ekspor perkebunan.jumlah tenaga kerja yang terserap juga cukup tinggi,tercatat 414 ribu tenaga kerja atau 55% dari total tenaga kerja sub sektor perkebunan.salah satu permaslahan yang ditemui pada perkebunan karet rakyat adalah masih rendahnya produktivitas hasil serta beragam dan rendahnya mutu bahan olah karet. bahwa program pengembangan karet rakyat yang telah dilaksanakan di Provinsi Jambi sejak tahun 2006-2010, melalui dana APBD Provinsi Jambi telah mencapai 45.254 ha, melalui dana APBD Kabupaten seluas 16.700 ha dan melalui dana APBN seluas 3.746 ha. Diharapkan luasan kebun karet rakyat yang diremajakan akan terus meningkat, sehingga produksinya juga akan terus mengalami peningkatan. menanam dan memelihara bibit karet unggul yang sudah diterima dan perlu diingat oleh para petani, bahwa bibit yang diberikan kepada para petani adalah ,bibit unggul, sehingga dalam pemeliharaannya perlu mendapatkan perlakukan yang intensif, seperti pemupukan, pengendalian hama/penyakit khususnya dari serangan jamur akar putih (JAP), dan serangan hama binatang pengganggu.

  2. NAMA : EVI ERISKA
    NIM : D1B010045
    KELAS : AGRIBISNIS (E)
    STATUS : B

    PERMASALAHAN YANG MUNCUL DALAM PENGEMBANGAN AGRIBISNIS PENGINDUSTRIAN KARET DI KABUPATEN BATANG HARI

    Secara umum permasalahan industri karet di kabupaten Batanghari hampir sama dengan permasalahan-permasalahan yang dihadapi didaerah sentra karet lainya diwilayah Sumatra maupun daerah-daerah lain di Indonesia, permasalahan industri karet dikabupaten Batanghari secara garis besar dapat berasal dari 2 faktor penyebab, yaitu;
    1.Faktor yang berasal dari internal
    2.Faktor yang berasal dari external
    Permasalahan dari faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam pelaku industri karet itu sendiri yang meliputi permasalahan ditingkat petani, industri pengolahan.
    Ditingkat petani permasalahan yang mendasar adalah system pengelolaan perkebunan karet yang ada sekarang masih dilakukan dengan cara yang sangat sederhana hal ini dipengaruhi oleh hampir 93% luas perkebunan yang ada dikabupaten Batanghari merupakan perkebunan milik rakyat yang dikelola secara mandiri oleh pemiliknya. Tentunya system pengelolaan yang seperti ini memiliki banyak kekurangan terutama di bidang permodalan dan pengetahuan dalam pengelolaan perkebunan dampak dari kekurangan tersebut dapat dilihat mulai dari cara persiapan lahan yang dilakukan dengan seadanya, pemilihan bibit yang kurang baik dan proses pembibitan yang berdasarkan pengalaman, proses penyadapan yang tidak teratur, pengolahan hasil dengan menggunakan teknologi yang sangat sederhana yang mereka peroleh secara turun temurun sampai dengan rantai perdagangan yang sangat panjang, tentunya factor-faktor ini sangat berpengaruh terhadap kwalitas hasil yang mereka hasilkan dan daripada itu juga penghasilan yang diterima oleh petani juga jauh dari optimal.
    Dengan system pengolahan ditingkat petani yang terkesan apa adanya tersebut tentu berpengaruh terhadap permasalahan yang dihadapi di tingkat industri pengolahan karet karena karet yang dihasilkan oleh para petani memiliki kualitas dibawah standar perdagangan nasional maupun internasional karet maka pihak indutri pengolahan harus mengeluarkan biaya pengolahan yang cukup besar untuk mengolah karet petani tersebut agar menjadi karet yang memenuhi standar mutunya sehingga hasil yang mereka peroleh menjadi sangat kecil selain itu juga banyak industri pengolahan karet yang terkena masalah pemanfaatan limbah dari industrinya karena dalam pengolahan karet yang berasal dari perkebunan rakyat rata-rata mengahasilkan limbah selain karet yang cukup banyak seperti kulit pohon karet, daun-daun, tanah, dan lain sebagainya. Dan ini pula salah satunya yang menyebabkan keengganan investor menanamkan investasi dibidang pengolahan karet (industri hilir) dikabupaten Batanghari. Selain itu peran pemerintah khususnya pemerintah daerah kabupaten batanghari dalam usaha perkebunan karet di nilai masih sangat kurang dan masih kalah dengan bidang usaha lainya terutama usaha bahan tambang, hal ini dapat dilihat setelah sekian lamanya kabupaten Batanghari berdiri bahkan telah mengalami beberapa kali pemekaran wilayah dan pertukaran kepemimpinan system pengolahan kebun karet yang sebenarnya lambang dari kabupaten dan sumber pendapatan sebagian besar masyarakatnya tidak banyak mengalami perubahan bahkan mulai tergusur oleh perkebunan kelapa sawit yang dikelola oleh perusahaan swasta selain itu kebijakan pemerintah pada saat ini masih berorientasi pada ekspor barang mentah sehingga hasil yang didapat sangat tidak optimal.
    Sedangkan faktor external yang mempengaruhi dari perkembangan industri karet dikabupaten Batanghari adalah harga karet internasional yang belum stabil dan masih kalah bersaing dengan karet sintetis.

    SOLUSI PENANGANAN PERMASALAHAN INDUSTRI KARET
    KABUPATEN BATANGHARI

    Dilihat dari permasalahan yang dihadapi oleh usaha industri perkaretan di kabupaten Batanghari dapat dilakukan usaha-usaha tertentu untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi tersebut dan usaha tersebut harus meliputi dari 3 unsur pokok yang mempunyai peran yang sangat penting dalam menunjang berkembangnya industri karet dikabupaten Batanghari, ketiga unsure pokok tersebut adalah;
    1. . Petani Karet
    Mengatasi permasalahan ditingkat petani karet merupakan hal yang pokok dan mendasar yang harus dilakukan dalam industri karet karena ditingkat petani inilah yang menentukan tinggi rendahnya kwalitas suatu produk karet yang dihasilkan oleh industri pengolahan karet, dan perbaikkan ditingkat petani tersebut dapat dilakukan dengan memberikan pengetahuan dan teknologi kepada petani karet tentang pengelolaan industri karet yang baik dan benar mulai dari proses penyiapan lahan, pemilihan bibit, cara penanaman, cara perawatan, penyadapan/panen, sampai dengan pengelolaan hasil kebun. Dan semua itu harus mereka kuasai agar hasil yang mereka terima juga maksimal.
    2. Pelaku Industri
    3. Masayarakat
    Kabupaten Batanghari merupakan daerah dati II provinsi jambi yang terletak 43 KM dari pusat pemerintahan kota Jambi.jadi, karet merupakan komoditi unggulan masyarakat kabupaten Batanghari, sekitar 93% masyarakatnya menggantungkan hidup dari hasil karet dengan bekerja sebagai petani karet baik itu kebun sendiri maupun menjadi buruh tani dikebun karet milik orang lain.
    Berdasarkan masalah yang muncul yang dihadapi petani di salah satu provinsi Jambi maka dapat disimpulkan bahwa Perkembangan perkebunan karet dikabupaten Batanghari masih dinilai berjalan lambat karena sebagian besar masih merupakan perkebunan rakyat yang masih dikelola secara sederhana dengan segala keterbatasanya.
    Namun semua itu diharapkan tidak menjadi kendala untuk mengembangkan usaha bidang perkaretan dikabupaten Batanghari baik itu perkebunan maupun industry hilirnya sehingga dimasa mendatang kabupaten Batanghari mampu menjadi sentra penghasil karet yang memiliki kualitas baik dan mampu bersaing dipasar nasional maupun internasional .

    DAFTAR PUSTAKA

    Anwar Chairil, 2001, “Menajemen dan Teknologi Budidaya Karet” (disampaikan
    pada pelatihan “Tekno Ekonomi Agribisnis Karet” tanggal 18 Mei 2006, di
    Jakarta oleh PT. FABA Indonesia Konsultan). Pusat Penelitian Karet; Medan
    Grahadyarin BM Lukita dan Hamzirwan,2007, “Petani Terhimpit di Hulu dan Hilir”,
    Penelitian Terhadap Keadaan Petani Karet di Sumatra Selatan
    Tim Penulis Penebar Swadaya,2008, “Buku Panduan Karet”(cetakan pertama),
    Penebar Swadaya: Jakarta
    http://www.kabbatanghari.go.id
    http://www.batanghari.com
    Disarikan dari berbagai informasi di internet

  3. NAMA : NURMAIDA MALAU
    NIM : D1B010086
    PRODI : AGRIBISNIS E
    STATUS : BARU

    I. PENDAHULUAN
    Karet merupakan komoditi perkebunan yang sangat penting peranannya di Indonesia. Selain sebagai sumber lapangan kerja bagi sekitar 1,4 juta tenaga kerja, komoditi ini juga memberikan kontribusi yang signifikan sebagai salah satu sumber devisa non-migas, pemasok bahan baku karet dan berperan penting dalam mendorongpertumbuhan sentra-sentra ekonomi baru di wilayah-wilayah pengembangan karet. Sampai dengan tahun 1998 komoditi karet masih merupakan penghasil devisa terbesar dari subsector perkebunan dengan nilai US$ 1.106 juta, namun pada tahun 2003 turun menjadi nomor dua setelah kelapa sawit dengan nilai US$ 1.494 juta (nilai ekspor minyak sawit mencapai US$ 2.417 juta). Di samping itu perusahaan besar yang bergerak di bidang karet telah memberikan sumbangan pendapatan kepada negara dalam bentuk berbagai jenispajak dan pungutan perusahaan.Perkebunan karet di Indonesia juga telah diakui menjadi sumber keragaman hayati yang bermanfaat dalam pelestarian lingkungan, sumber penyerapan CO dan penghasil O , serta memberi fungsi orologis bagi wilayah di sekitarnya. Selain itu tanaman karet ke depan akan merupakan sumber kayu potensial yang dapat menstubsitusi kebutuhan kayu yang selama ini mengandalkan hutan alam. Indonesia merupakan negara dengan areal tanaman karet terluas di dunia. Pada tahun 2002, luas perkebunan karet Indonesia mencapai 3,318 juta ha, disusul Thailand (1,96 juta ha), Malaysia (1,54 juta ha), China (0,61 juta ha), India (0,56 juta ha), dan Vietnam (0,32 juta ha). Dari areal tersebut diperoleh produksi karet Indonesia sebesar 1,63 juta ton yang menempati peringkat kedua di dunia, setelah Thailand dengan produksi sekitar 2,35 juta ton. Posisi selanjutnya ditempati India (0,63 juta ton), Malaysia (0,62 juta ton), China (0,45 juta ton), dan Vietnam (0,29 juta ton). Sebagai negara produsen karet kedua terbesar di dunia pada saat ini, Indonesia berpotensi besar untuk menjadi produsen utama dalam dekade-dekade mendatang. Potensi ini dimungkinkan karena Indonesia mempunyai potensi sumberdaya yang sangat memadai untuk meningkatkan produksi dan produktivitas, baik melalui pengembangan areal baru maupun melalui peremajaan areal tanaman karet tua dengan menggunakan klon unggul latekskayu. Namunpotensi ini akan dapat termanfaatkan dengan baik hanya jika langkahlangkah strategis penanganan operasionalnya dapat dikoordinasikan dengan baik. Pada saat yang sama, negara-negara pesaing Indonesia, dengan sistem kelembagaan peremajaan tanaman karetnya yang jauh lebih mapan, juga sedang menata diri untuk merebut pasar karet yangsangat prospektif dalam dua dekade mendatang.Pengembangan agribisnis karet Indonesia ke depan perlu di dasarkan pada perencanaan yang lebih terarah dengan sasaran yang lebih jelas serta mempertimbangkan berbagai permasalahan, peluang dan tantangan yang sudah ada serta yang diperkirakan akan ada sehingga pada gilirannya akan dapat diwujudkan agribisnis karet yang berdaya saing dan berkelanjutan serta memberi manfaat optimal bagi para pelaku usahanya secara berkeadilan.

    II. KONDISI AGRIBISNIS KARET SAAT INI
    A. Agribisnis Primer dan Hulu
    Selama lebih dari 35 tahun (1967-2003), areal perkebunan karet di Indonesia meningkat sekitar 1,2% per tahun. Namun pertumbuhan ini hanya terjadi pada areal karet rakyat (+ 1,5% per tahun), sedangkan pada perkebunan besar negara dan swasta cenderung menurun (Tabel 1). Dengan luasan sekitar 3,3 juta ha pada tahun 2003, mayoritas (85%) perkebunan karet di Indonesia adalah perkebunan rakyat, yang menjadi tumpuan mata pencaharian lebih dari 15 juta jiwa. Dari keseluruhan areal perkebunan rakyat tersebut, sebagian besar (+ 91%) dikembangkan secara swadaya murni, dan sebagian kecil lainnya yaitu sekitar 288.039 ha (+ 9 %) dibangun melalui proyek PIR, PRPTE, UPP Berbantuan, Partial, dan Swadaya Berbantuan.
    Permasalahan utama yang dihadapi perkebunan karet nasional adalah rendahnya produktivitas karet rakyat (+ 600 kg/ha/th), antara lain karena sebagian besar tanaman masih menggunakan bahan tanam asal biji (seedling) tanpa pemeliharaan yang baik, dan tingginya proporsi areal tanaman karet yang telah tua, rusak atau tidak produktif (+ 13% dari total areal). Pada saat ini sekitar 400 ribu ha areal karet berada dalam kondisi tua dan rusak dan sekitar 2-3% dari arealtanaman menghasilkan (TM) yang ada setiap tahun akan memerlukan peremajaan. Dengan kondisi demikian, sebagian besar kebun karet rakyat menyerupai hutan karet. Masalah usahatani karet yang dihadapi petani secara umum adalah keterbatasan modal baik untuk membeli bibit unggul maupun sarana produksi lain seperti herbisida dan pupuk. Selain itu ketersediaan sarana produksi pertanian tersebut di tingkat petani juga masih terbatas. Bahan tanam karet unggul yang terjamin mutunya hanya tersedia di Balai Penelitian atau para penangkar benih binaan melalui sistem Waralaba di sentra-sentra pembibitan yang juga masih sangat terbatas jumlahnya. Perkembangan industri perbenihan di sentra-sentra produksi karet cukup pesat sejalan dengan meningkatnya permintaan bahan tanam karet klon unggul oleh petani. Namun secara umum mutu bibit karet yang dihasilkan oleh para penangkar bibit masih sangat beragam. Selain itu, masalah lain yang dihadapi penangkar bibit adalah keterbatasan sumber entres yang terjamin kemurniannya dan keterbatasan jenis klon unggul baru yang dimiliki. Prospek bisnis penyediaan bahan tanam karet ke depan cukup menjanjikan, karena pasarnya masih sangat terbuka dan potensi keuntungan yang dapat diraih oleh penangkar cukup memadai. Sebagai gambaran, tingkat B/C ratio pengusahaan bahan tanam karet dalam polibeg minimal 1,5. Harga bahan tanam karet unggul dalam polibeg (1-2 payung) saat ini di tingkat penangkar adalah sekitar Rp.2.500 – Rp 3.500 yang bervariasi menurut jenis klonnya. Persoalan mendasar untuk meningkatkan produktivitas karet rakyat melalui peremajaan tanaman tua/rusak adalah tidak tersedianya dana khusus untuk peremajaan dengan suku bunga yang wajar sesuai dengan tingkat resiko yang dihadapi. Hal ini sangat berbeda dengan negara-negara produsen utama karet lainnya seperti Thailand, Malaysia dan India. Dana pengembangan, promosi, dan peremajaan karet di negara-negara tersebut umumnya disediakan oleh pemerintah yang diperoleh dari pungutan CESS ekspor komoditi karet. Di Indonesia, pungutan CESS untuk pengembangan komoditi perkebunan telah dihentikan sejak tahun 1970.
    Permasalahan utama lainnya di perkebunan karet rakyat adalah bahwa bahan baku yang dihasilkan umumnya bermutu rendah, dan pada sebagian lokasi harga yang diterima di tingkat petani masih relatif rendah (60-75% dari harga FOB) karena belum efisiennya sistem pemasaran bahan olah karet rakyat (bokar). Belum efisiennya system pemasaran tersebut antara lain disebabkan lokasi kebun jauh dari pabrik pengolah karet dan letak kebun terpencar-pencar dalam skala luasan yang relatif kecil dengan akses yang terbatas terhadap fasilitas angkutan, sehingga biaya transportasi menjadi tinggi. Bahan olah karet dari petani pada umumnya berupa bekuan karet yang dibekukan dengan bahan pembeku yang direkomendasikan (asam format), maupun yang tidak direkomendasikan (asam cuka, tawas, dsb). Pada saat ini bahan olah karet tersebut mendominasi pasar karet di Indonesia karena dinilai petani paling praktis dan menguntungkan. Harga bokar di tingkat petani dengan kualitas sedang (cukup bersih) dan kadar KKK sekitar 50% adalah sekitar Rp 4000- Rp 5000. Dengan harga tersebut tingkat B/C ratio pengusahaan kebun petani sampai menghasilkan bokar tersebut pada umumnya adalah sekitar 1,6 – 1,75. Bahan olah karet berupa lateks dan koagulum lapangan, baik yang dihasilkan oleh perkebunan rakyat maupun perkebunan besar dapat diolah menjadi komoditi primer dalam berbagai jenis mutu. Lateks kebun dapat diolah menjadi jenis karet cair dalam bentuk lateks pekat dan lateks dadih serta karet padat dalam bentuk RSS, SIR 3L, SIR 3CV, SIR 3WF dan thin pale crepe yang tergolong karet jenis mutu tinggi (high grades). Sementara koagulum lapangan, yakni lateks yang membeku secara alami selanjutnya hanya dapat diolah menjadi jenis karet padat yakni antara lain jenis mutu SIR10, SIR 20 dan brown crepe yang tergolong jenis karet mutu rendah (low grades). yang sangat besar dalam agribisnis karet.
    B. Agribisnis Hilir
    Bahan olah karet berupa lateks dapat diolah menjadi berbagai jenis produk barang jadi lateks (latex goods) dan karet padat (RSS, SIR) dijadikan bahan baku untuk menghasilkan berbagai jenis barang karet. Barang jadi dari karet terdiri atas ribuan jenis dan dapat diklasifikasikan atas dasar penggunaan akhir (end use) atau menurut saluran pemasaran (market channel). Pengelompokan yang umum dilakukan adalah menurut penggunaan akhir yakni: (1) ban dan produk terkait serta ban dalam, (2) barang jadi karet untuk industri, (3) kemiliteran, (4) alas kaki dan komponennya, (5) barang jadi karet untuk penggunaan umum dan (6) kesehatan dan farmasi. Ragam produk karet yang dihasilkan dan diekspor oleh Indonesia masih terbatas, pada umumnya masih didominasi oleh produk primer (raw material) dan produk setengah jadi. Jika dibandingkan dengan negara-negara produsen utama karet alam lainnya, seperti Thailand dan Malaysia, ragam produk karet Indonesia tersebut lebih sedikit. Sebagian besar produk karet Indonesia diolah menjadi karet remah (crumb rubber) dengan kodifikasi “Standard Indonesian Rubber” (SIR), sedangkan lainnya diolah dalam bentuk RSS dan lateks pekat. Pada saat ini jumlah sarana pengolahan karet berbasis lateks mencapai 23 unit dengan kapasitas sebesar 144.520 ton/tahun, dan pengolahan crumb rubber swasta di luar PTPN sebanyak 75 unit dengan kapasitas 1.957.400 ton/tahun. Kapasitas pabrik pengolahan crumb rubber pada saat ini sudah mencukupi untuk mengolah bahan baku yang tersedia, namun pada lima tahun mendatang diperlukan investasi baik untuk merehabilitasi pabrik yang ada maupun untuk membangun pabrik pengolahan baru untuk menampung pertumbuhan Pada sisi lain, kayu karet yang ada saat ini baru sebagian kecil dimanfaatkan untuk kayu olahan, papan partikel dan papan serat. Hal ini terjadi karena lokasi pabrik pengolah kayu jauh dari sumber bahan baku sehingga proporsi biaya transportasi menjadi tinggi (> 50% dari harga jual petani). Oleh karena itu, harga kayu karet di tingkat petani masih rendah dan tidak menarik bagi petani. Dengan penataan kelembagaan yang lebih baik, kayu karet rakyat merupakan potensi pasokan bahan baku. Prospek bisnis pengolahan crumb rubber ke depan diperkirakan tetap menarik, karena marjin keuntungan yang diperoleh pabrik relative pasti.
    C. Perdagangan dan Harga
    Volume ekspor karet alam Indonesia sejak tahun 1996 hingga 2000 mengalami fluktuasi dan cenderung mengalami penurunan. Pada tahun 1996 ekspor karet alam Indonesia adalah sekitar 1,5 juta ton kemudian menurun pada tahun 1997, dan naik kembali pada tahun 1998 hampir mendekati 1,6 juta ton. Setelah itu terus menurun, hingga pada tahun 2000 ekspor karet alam Indonesia berada di bawah 1,4 juta ton. Penurunan volume ekspor yang terjadi sejak tahun 1998 ini sangat erat kaitannya dengan penurunan harga karet di pasaran dunia sejak periode tersebut. Volume ekspor karet pada tahun 2002 mencapai 1,5 juta ton dengan nilai US$ 1.049 juta. Penurunan volume ekspor karet alam Indonesia yang tejadi selama enam tahun terakhir disertai dengan penurunan harga karet alam di pasar dunia berdampak secara langsung terhadap perolehan devisa negara yang diperoleh dari komoditas ini. Devisa yang dihasilkan dari karet alam mengalami penurunan yang sangat nyata dari US$ 1.894 juta pada tahun 1996 hingga menjadi US$ 854 juta pada tahun 1999 dan kemudian mengalami peningkatan pada tahun 2002 menjadi US$ 1.037 juta (Tabel 4). Rekor nilai ekspor yang tertinggi justru dicapai pada tahun 1995 dengan nilai sebesar US$ 1.964 juta. Secara relatif terhadap nilai ekspor komoditas non-migas, devisa yang diperoleh dari komoditas karet juga mengalami penurunan dari 5 persen pada tahun 1996 menjadi hanya 1,9 persen pada tahun 2000. Kondisi ini jauh berbeda dibandingkan dengan Malaysia, dimana industri hilir di dalam negeri mampu menyerap sekitar 70% dari total produksi negara tersebut. Rendahnya konsumsi karet alam domestic mencerminkan belum berkembangnya industri hilir yang berbasis karet alam. Hal ini mengakibatkan perolehan nilai tambah komoditi karet masih relatif rendah. Pada kenyataannya koordinasi vertikal dari hulu (on farm) ke hilir (pengolahan dan pemasaran) dalam sistem agribisnis karet di Indonesia belum optimal.
    D. Infrastruktur, Kelembagaan dan Kebijakan Pemerintah
    Kebijakan dalam pengembangan infrastruktur agribisnis karet diarahkan pada upaya konsolidasi dan optimalisasi pendayagunaan dan pemanfaatan potensi sumberdaya infrastruktur yang ada. Pada kenyataannya, infrastruktur untuk mendukung pengembangan agribisnis karet di daerah pada umumnya masih kurang atau sangat terbatas. Infrastruktur berupa jalan dan jembatan kecuali untuk proyek PIRBUN/NES pada umumnya dibangun tidak secara langsung untuk mendorong pengembangan agribisnis karet di daerah, melainkan terkait dengan program pembangunan infrastruktur daerah.
    III. POTENSI, PROSPEK DAN ARAH PENGEMBANGAN
    A. Prospek Agribisnis Karet
    1. Produksi dan konsumsi
    Selain itu jumlah perusahaan industri polimer yang menggunakan bahan baku karet alam diperkirakan juga akan meningkat. Dengan semakin berkurangnya sumber-sumber ladang minyak bumi dan batu bara (non-renewable natural resources) sebagai bahan baku karet sintetis, persaingan antara karet alam dengan produk substitusi ini diperkirakan akan semakin berkurang.
    2. Harga
    Peningkatan konsumsi karet alam di negara-negara Asia tersebutantara lain disebabkan pertumbuhan ekonomi dan populasi yang terjadi di kawasan tersebut, dan relokasi industri barang jadi karet dari Negara barat ke negara produsen karet alam. Industrialisasi di negara penghasil karet alam yang terus berkembang akan mengakibatkan di satu sisi peningkatan konsumsi domestik karet alam di negara tersebut, dan di sisi yang lain penurunan produksi karet alam akibat kompetisi dengan komoditas atau industri lainnya seperti yang telah terjadi di Malaysia..
    3. Kayu karet
    Nilai tambah produk karet dapat diperoleh melalui pengembangan industri hilir dan pemanfaatan kayu karet sebagai bahan baku industry kayu. Namun sampai saat ini potensi kayu karet tua belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Pemanfaatan kayu karet merupakan peluang baru untuk meningkatkan margin keuntungan dalam agribisnis karet.
    B. Potensi Pengembangan Agribisnis Karet
    1. Produksi lateks
    Dari uraian di atas tergambar bahwa peluang untuk pengembangan usaha agribisnis karet cukup terbuka pada hamper semua subsistem, baik pada subsistem agribisnis hulu (on farm), maupun subsistem hilir. Selain itu agribisnis karet di Indonesia memiliki keunggulan komparatif (comparative advantage) yang berpotensi untuk ditingkatkan menjadi keunggulan bersaing (competitive advantage). Besarnya potensi sumberdaya yang dimiliki Indonesia, seperti sumberdaya alam (lahan dan iklim yang sesuai), teknologi, tenaga ahli, serta plasma nutfah bahan tanaman yang cukup memadai akan meningkatkan peluang tersebut.
    2. Produksi kayu
    Potensi hasil agribisnis karet yang perlu segera dieksplorasi saat ini dan ke depan adalah kayu karet, untuk mengantisipasi permintaan kayu di tingkat domestik dan dunia yang terus meningkat. Pada kenyataannya, kebutuhan kayu bulat total dunia per tahun terus meningkat.
    3. Inovasi teknologi
    Sebagai salah satu komoditi pertanian, produksi karet sangat tergantung pada teknologi dan manajemen yang diterapkan dalam sistem dan proses produksinya. Produk industri perkebunan karet perlu disesuaikan dengan kebutuhan pasar yang senantiasa berubah. Status industri perkebunan Indonesia akan berubah dari pemasok bahan mentah menjadi pemasok barang jadi atau setengah jadi yang bernilaiM tambah lebih tinggi yang berarti kandungan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dari produk akan meningkat. Kesemuanya ini memerlukan dukungan teknologi yang lengkap, yang diperoleh melaluikegiatan penelitian dan pengembangan yang dibutuhkan. Indonesia dalam hal ini telah memiliki lembaga penelitian karet yang mempunyai sejarah sangat panjang (sejak 1930-an) dalam menyediakan ilmu pengetahuan, teknologi dan inovasi di bidang perkaretan.
    IV. TUJUAN DAN SASARAN
    A. Tujuan
    Tujuan kegiatan pengembangan agribisnis karet ke depan adalah
    sebagai berikut:
    1. Mempercepat peremajaan karet dengan menggunakan teknologi anjuran.
    2. Meningkatkan produksi dan produktivitas serta mutu hasil perkebunan karet melalui upaya rehabilitasi dan intensifikasi kebun.
    3. Mengembangkan industri hilir berbasis karet alam.
    4. Meningkatkan nilai tambah dan pendapatan pekebun.
    B. Sasaran
    Sasaran jangka panjang (2005-2025) pengembangan agribisnis karet adalah sebagai berikut:
    1. Produksi karet Indonesia akan mencapai 3,5 – 4 juta ton dan menjadi produsen utama karet alam dunia. Dari produksi tersebut 25% diserap oleh industri di dalam negeri dan 75% untuk ekspor.
    2. Produktivitas rata-rata kebun karet akan meningkat menjadi 1.200-1.500 kg/ha, dan hasil kayu karet minimal 300 m3/ha/siklus.
    3. Jenis bahan tanam yang digunakan minimal 85% klon karet unggul penghasil lateks dan kayu.
    4. Pendapatan petani pekebun akan mencapai US$ 2.000/KK. Pendapatan ini terkait juga dengan harga yang diterima petani yaitu minimal 80% dari harga FOB, petani mempunyai saham di unit pengolahan karet serta pendapatan dari diversifikasi usaha termasuk hasil kayu karet.
    5. Berkembangnya industri hilir berbasis karet alam dan industry pengolahan kayu karet.
    V. KEBIJAKAN, STRATEGI DAN PROGRAM
    A. Kebijakan Pengembangan Agribisnis Berbasis Karet
    Untuk meraih peluang sebagai produsen karet dan produk karet terbesar di dunia, diperlukan kebijakan yang tepat dalam pengembangan agribisnis karet di Indonesia ke depan. Serangkaian kebijakan umum yang diperlukan antara lain adalah sebagai berikut:
    1. Kebijakan ekonomi makro (terutama di bidang moneter dan fiskal) yang kondusif bagi pembangunan sistem dan usaha agribisnis karet.
    2. Kebijakan industri (industrial policy) yang memberi prioritas pada pengembangan klaster industri (industrial cluster).
    3. Kebijakan perdagangan internasional (international trade policy) yang netral namun antisipatif baik secara sektoral, domestik, maupun antar negara dalam kerangka mewujudkan suatu perdagangan yang lebih bebas dan lebih adil (freer and fairer trade) dan dinamis dalam merespon perkembangan pasar.
    4. Kebijakan pengembangan infrastruktur (jalan, pelabuhan, listrik, telepon, pengairan) di daerah-daerah yang kondusif bagi keberlangsungan usaha agribisnis yang efisien dan efektif.
    5. Kebijakan pengembangan kelembagaan (institutional policy) baik lembaga keuangan, penelitian dan pengembangan, pendidikan sumberdaya manusia, dan penyuluhan, serta pengembangan kelembagaan dan organisasi petani.
    6. Kebijakan pendayagunaan sumber daya alam dan lingkungan secara efisien dan bijaksana.
    7. Kebijakan pengembangan pertumbuhan agribisnis karet di daerah.
    8. Kebijakan ketahanan pangan dikaitkan dengan sistem dan usaha agribisnis karet.Kebijakan ekonomi makro, terutama di bidang moneter dan fiscal hendaknya kondusif bagi terwujudnya pembangunan sistem dan usaha agribisnis karet. Jajaran pemerintah, mulai dari pusat, propinsi dan kabupaten seyogyanya mempunyai kebijakan yang terintegrasi,harmonis dan sinergis dalam bidang moneter.
    B. Strategi
    Untuk mencapai kondisi agribisnis karet yang berdaya saing tinggi dan posisi Indonesia sebagai negara penghasil karet dan produk karet terbesar di dunia tersebut diperlukan langkah-langkah strategis sebagai berikut:
    1. On-farm
    Upaya yang ditempuh adalah meningkatkan produksi dan produktivitas perkebunan karet melalui:
    a. Penggunaan klon unggul penghasil lateks dan kayu yang mempunyai produktivitas lateks potensial lebih dari 3.000 kg/ha/th, dan menghasilkan produktivitas kayu karet lebih dari 300 m /ha/siklus.
    b. Percepatan peremajaan karet tua dan tidak produktif terutama pada perkebunan karet rakyat (peningkatan adopsi klon dari 40% pada tahun 2004 menjadi 55% pada tahun 2009, dan meningkat menjadi 85% pada tahun 2025), yang terutama direalisasikan melalui gerakan peremajaan tanaman karet rakyat seluas 400 ribu ha sampai dengan tahun 2009 dan seluas 1,2 juta ha sampai dengan tahun 2025.
    c. Diversifikasi usahatani karet melalui integrasi dengan tanaman pangan dan ternak untuk peningkatan pendapatan keluarga tani.
    d. Peningkatan efisiensi usaha pada setiap tahap proses produksi untuk menjamin marjin keuntungan dan daya saing yang tinggi.
    2. Off-farm
    Di bidang off-farm upaya yang ditempuh untuk meningkatkan mutu, nilai tambah dan pendapatan petani adalah melalui:
    a. Peningkatan kualitas bahan olah karet (bokar) yang dihasilkan petani sesuai dengan SNI bokar yang disyaratkan oleh industri pengolahan.
    b. Peningkatan efisiensi pemasaran bokar dan penguatan kelembagaan petani untuk mencapai bagian harga yang diterima petani minimal 75% dari harga FOB pada tahun 2009 dan 80% pada tahun 2025.
    c. Penyediaan Kredit Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang terkait dengan peremajaan karet dan pengembangan usaha bersama dalam kegiatan pengolahan dan pemasaran.
    d. Pengembangan infrastruktur yang menunjang pengembangan produksi dan pengolahan barang jadi karet.
    e. Peningkatan nilai tambah produk melalui pengembangan industry hilir yang ramah lingkungan yang dicerminkan melalui peningkatan daya serap bokar minimal 10% dari produksi pada tahun 2009, dan minimal 25% pada tahun 2025.
    f. Peningkatan pendapatan petani mencapai sekitar US$1.500 pada tahun 2009 dan US$ 2.000 pada tahun 2025 melalui berbagai upaya peningkatan hasil usahatani (perbaikan sistem produksi,
    pengolahan dan pemasaran), dan penciptaan usaha industri kecil dan menengah pedesaan.
    C. Program
    Untuk mencapai sasaran jangka menengah (2005-2009) yaitu peningkatan produksi karet di atas 2 juta ton/th dengan tingkat produktivitas rata-rata kebun di atas 800 kg/ha, diperlukan upaya peremajaan dan intensifikasi pemeliharaan tanaman. Dengan demikian program peremajaan menjadi prioritas kegiatan pembangunan agribisnis karet pada jangka menengah.

    MASALAH PETANI KARET DIJAMBI
    Saat ini salah satu masalah dalam perkebunan karet adalah mengenai kualitas getah karet. Jika kualitas getah karet ini dapat ditingkatkan tentunya akan meningkatkan nilai jual kepada industri sehingga akan meningkatkan pendapatan petani. Begitu pula untuk industri crumb rubber, peningkatan kualitas getah karet akan mempermudah proses produksi sehingga dapat mengurangi biaya. Selain itu, bahan baku karet yang bagus juga akan menghasilkan produk crumb rubber yang lebih baik sehingga akan meningkatkan daya saing produk dari pesaing-pesaing internasional. Untuk itu diperlukan peran serta pemerintah dalam bantuan penyediaan bibit karet serta penyuluhan mengenai pemeliharaan yang tepat sehingga dapat mencapai hasil yang maksimal. Masalah petani juga tertuju pada harga karet yang masih rendah hal ini disebab kan karna harga kurang stabil.
    Cara mengatasi nya :
    Melakukan penelitian dan pengembangan, serta inovasi agar bibit pohon karet ini memiliki kualitas yang makin baik. Itu juga pahlawan, pahlawan di belakang layar. Dicontohkan kepada saya tadi, bibit-bibit yang diharapkan lebih unggul, lebih baik, lebih berkualitas sehingga hasilnya lebih baik. Kita akan terus lakukan namanya penelitian dan pengembangan ini.
    Yang kedua, setelah seperti ini, maka ada penelitian perkebunan karet yang dikerjakan oleh rakyat, konon produktivitasnya sedikit lebih rendah dibandingkan perusahaan-perusahaan yang mengelola. Misalnya kalau tidak salah, 800 kilogram per tahun ya, sedangkan yang perusahaan bisa mencapai 1.000 begitu ya? Berapa? Coba angkanya berapa yang betul? Dua ton untuk apa itu? Untuk siapa? Dua ton per hektar per tahun untuk perusahaan-perusahaan. Untuk petani perkebunan rakyat berapa? 800 kilo, betul.Mari kita lakukan upaya, Pak Menteri Pertanian, para pejabat pertanian di daerah, Pak Gubernur, Pak Bupati, bagaimana kita melakukan upaya agar yang dikerjakan oleh rakyat, perkebunan rakyat meningkat. Bukan hanya 800 kilogram begitu ya menjadi dua ton. Ya, tidak usah dua ton, naik dulu satu ton, naik satu koma dan seterusnya. Tolong ini tugas kepada para pejabat terkait untuk terus meningkatkan produktivitasnya.
    Yang lainnya lagi, mestinya Jambi ini, kalau dari luasan kebun karetnya sekitar seperlima, 600 sekian ribu hektar dari 3,4 juta hektar seluruh Indonesia. Pak Gubernur, Pak Bupati, kalau memang kita punya kekuatan seperti itu di Jambi, tolong diperhatikan berapa industri atau pabrik pengolahannya. Jangan sampai kurang, dengan demikian nanti ya menjadi merugi daerah, menjadi merugi petani-petani kita. Tolong ditata dengan baik.
    Jadi yang perlu saya harapkan kepada Bapak supaya harganya stabil, Pak. Dan yang kemarin, Pak, ada yang menurun amat, Pak, tujuh ribu rupiah, Pak, per kilo, sawit 200 perak per kilo. Jadi kami selaku petani sangat sedih Pak, melarat melulu. Jadi kalau sekarang, Pak, nampaknya harga cukup lumayan. Saya mohon kepada Bapak kiranya harga stabil kaya gini. Yang sekarang Pak, harganya sekitar Rp18.000 perak, Pak sekilo.

    DAFTAR PUSTAKA
    http://www.litbang.deptan.go.id/special/komoditas/files/0105-KARET.pdf
    http://www.acicis.murdoch.edu.au/hi/field_topics/johan.pdf
    http://www.jambiprov.go.id/..

  4. NAMA : DHIKDAYA MANGGALA PUTRA
    NIM : D1B010035
    KELAS : AGRIBISNIS (D)

    PERMASALAHAN YANG MUNCUL DALAM PENGEMBANGAN AGRIBISNIS KARET di PROVINSI JAMBI

    Karet merupakan komoditas potensial dan berperan penting sebagai sumber penerimaan devisa negara, penyerapan tenaga kerja, pendorong pertumbuhan ekonomi sentra-sentra baru di wilayah sekitar perkebunan karet dan dalam pelestarian lingkungan, terutama penyerapan CO2. Agribisnis karet mempunyai prospek yang cerah. Namun demikian masih menghadapi berbagai permasalahan seperti : produktivitas dan mutu produk yang rendah.

    o subsistem hulu :
    menurut saragih (1999) subsistem hulu adalah Kegiatan ekonomi yang menyediakan sarana produksi bagi pertanian, seperti industri dan perdagangan agrokimia (pupuk, pestisida, dll), industri agrootomotif (mesin dan peralatan), dan industri benih/bibit. Di hubungkan dengan masalah perkembangan agribisnis karet di jambi petani karet di jambi masih kesuliatan mendapatkan bibit karet yang unggul salah satu alasan karena bibit yang mahal dan terkadang petani karet tertipu oleh para penjual bibit yang mengatakan bibit unggul dan murah. Yang kedua sulit nya mendapat kan bahan agroklima (Pupuk, dan penunjang yang lain) yang baik dan terkadang petani harus memebeli nya di luar jambi dengan harga yang tinggi

     Solusi = pemerintah harus memberi bantuan terhadap Petani karet, baik itu dalam memberikan sosialisasi mengenai bibit tanaman Karet dan melakukan proses mediasi antara penjual bibit dan bahan Agroklima agar dapat mempermudah petani karet untuk menjalankan sektor sub-sistem hulu

    o Sub-sistem Hilir :
    Saragih (1999) subsistem hilir adalah industri-industri yang mengolah komoditi pertanian primer menjadi olahan seperti industri makanan./minuman, industri pakan, industri barang-barang serat alam, industri farmasi, industri bio-energi dll. Di hubungkan dengan masalah perkembangan agribisnis karet di jambi, karet (lateks) dapat di produksi dengan berbagai bentuk dari alat rumah tangga sampai alat otomotif namun petani di Indonesia khusus nya di jambi hanya memproduksi Karet (lateks) dan Mengirim nya ke perantara (Tengkulak) dan dari Perantara di kirim lagi ke Pabrik pengolahan karet dan petani hanya mendapat laba sedikit dari system rantai Niaga tersebut.
    Permasalahan lain yang dihadapi dalam agribisnis karet adalah, ekspor karet Indonesia khususnya di Jambi sebagian besar berbentuk bahan baku (Lateks) dengan mutu yang lebih rendah dibanding dengan negara lain sehingga kurang kompetitif di pasar internasional hal ini di karenakan kurang nya kesadaran dari petani untuk memproduksi Lateks yang baik, petani hanya memikirkan keuntungan dari pada kualiatas dan sulit nya petani untuk mendapatkan bibit yang baik sehingga berdampak sulit nya mendapatkan Bahan baku yang baik

     Solusi = 1. jika rantai niaga di perpendek yaitu dari petani langsung ke pabrik maka petani akan mendapatkan untung lebih besar.
    2. petani harus menyadari bahwa untuk mendapat ke untungan yang maksimal kualitas produksi harus di utamakan dan peranan pemerintah sangat dibutuhkan dalam mengarahkan petani dan penyediaan bibit yang baik sehingga dapat menunjang sektor subsistem Hilir

    o Sub-sistem penyedia jasa agribisnis
    Saragih (1999) sub-sistem Penediaan jasa agribinis seperti perkreditan, transportasi dan pergudangan, Litbang, Pendidikan SDM, dan kebijakan ekonomi di hubungkan dengan masalah perkembangan agribisnis karet di jambi Pendidikan SDM petani karet di jambi masih kurang sehingga petani karet kurang mendapatkan pengetahuan mengenai karet dan masalah ke-2 dalam perkreditan atau pun pinjaman proses pinjaman Modal kepada perkerditan atau koperasi petani di buat sulit dengan proses pinjamannya yang rumit sehingga petani lebih memilih meminjam ke Perantara(Tengkulak) karena proses pinjaman nya mudah dan cepat tetapi pinjaman melalui perantara ada dampak negative nya yaitu setiap hasil produksi karet, petani harus mengirim nya ke tengkulak.

     Solusi : jika pemerintah ingin Provinsi Jambi mampu menghasilkan karet alam yang dapat memenuhi permintaan pasar dunia, faktor SDM harus di tingkatkan baik dalam pengetahuan dan keterampilan dan untuk masalah ke-2 pemerintah dapat menyediakan jaminan keuangan yang baik dan tidak mempersulit proses pinjaman di koperasi

    DAFTAR PUSTAKA
    http://www.litbang.deptan.go.id/berita/one/355/
    http://agroindustry.wordpress.com/2009/11/17/subsistem-agribisnis/
    wawancara dengan bapak Jamanhuri.Spd ( Petani karet di desa berembang,Muaro Jambi)

  5. Nama :Friska.A.Tp.Bolon
    Nim :D1B010087
    Prodi :Agribisnis E
    Status: Baru

    Karet adalah polimer hidrokarbon yang terkandung pada lateks beberapa jenis tumbuhan. Sumber utama produksi karet dalam perdagangan internasional adalah para atau Hevea brasiliensis (sukuEuphorbiaceae). Beberapa tumbuhan lain juga menghasilkan getah lateks dengan sifat yang sedikit berbeda dari karet, seperti anggota suku ara-araan (misalnya beringin), sawo-sawoan (misalnya getah perca dan sawo manila), Euphorbiaceae lainnya, serta dandelion. Pada masa Perang Dunia II, sumber-sumber ini dipakai untuk mengisi kekosongan pasokan karet dari para. Sekarang, getah perca dipakai dalam kedokteran (guttapercha), sedangkan lateks sawo manila biasa dipakai untukpermen karet (chicle). Karet industri sekarang dapat diproduksi secara sintetis dan menjadi saingan dalam industri perkaretan.

    Ketersediaan Lahan : Sejumlah lokasi di Indonesia memiliki keadaan lahan yang cocok untuk penanaman karet, sebagian besar berada di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Luas area perkebunan karet tahun 2008 mencapai sekitar 3,5 juta ha, di mana 84,5% merupakan perkebunan karet milik rakyat, dan hanya 7,2% perkebunan besar negara serta 8,3% perkebunan besar milik swasta.
    Dari 33 provinsi di Indonesia, hanya 24 provinsi yang memiliki lahan untuk areal perkebunan karet. Di Sumatera dan Kalimantan, seluruh provinsi memiliki perkebunan karet, yaitu 10 provinsi di Sumatera dan empat provinsi di Kalimantan. Bahkan di Sumatera dikenal Segitiga Emas penghasil karet, yaitu Jambi, Bengkulu dan Sumatera Selatan, karena ketiga provinsi tersebut menyumbang sekitar 70% produksi karet nasional. Selain itu, Sumatera Utara dan Riau juga memberikan kontribusi besar bagi produksi karet nasional, karena kedua provinsi tersebut memiliki lahan perkebunan karet yang luas. Perkebunan karet di Sumatera Utara sebesar 456.983 ha, sedangkan Riau memiliki 369.911 ha.
    Kalimantan merupakan wilayah penghasil karet kedua setelah Sumatera. Di wilayah ini terdapat perkebunan karet seluas 822.746 ha yang tersebar di empat provinsi. Selanjutnya, meskipun wilayah Pulau Jawa memiliki lahan perkebunan karet yang tidak terlalu luas (hanya 131.338 ha), namun wilayah ini memiliki keunggulan sebagai kawasan industri karet karena di Pulau Jawa paling banyak berdiri pabrik-pabrik pengolahan karet alam menjadi produk-produk barang dari karet. Berikut ini tabel yang menyajikan ketersediaan lahan untuk komoditas karet di Indonesia.
    Salah satunya perkebunan karet terdapat di provinsi jambi,yaitu dikabupaten Batang hari yang secara geografis Kabupaten Batang Hari terletak di pantai timur Sumatera dan di bagian timur Provinsi Jambi, dengan batas wilayah meliputi Kabupaten Muaro Jambi di sebelah timur dan utara, Kabupaten Tebo dan Sarolangun di bagian barat, serta Kabupaten Musi Banyuasin, di bagian selatan. Secara topografis daerah ini terdiri dari dataran rendah yang dibelah oleh Sungai Batang Hari dengan rawa yang menggenang air sepanjang tahun.Menurut elevasinya, wilayah Batang Hari terdiri ketinggian 11 -100 meter (92,67 %), sisanya 7,33 % berada pada ketinggian 101 -500 meter dari permukaan laut. Adapun ikiimnya termasuk iklim tropis dengan suhu udara berkisar antara 25,8° C – 27,6° C. Curah hujan rata-rata pertahun antara 185,8 mm – 213,33 mm dengan kelembaban antara 76 % – 95 % serta penyinaran berkisar antara 89,3 % s/d 133,9 %.
    I.
    MASALAH YANG DIHADAPI OLEH PETANI JAMBI ADALAH DIBIDANG AGRIBISNIS TENTANG HARGA KARET YANG TIDAK STABIL

    Di hadapan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono dan para pejabat negara, petani kemarin mengeluhkan harga karet. Menurutnya, saat ini harga karet tidak stabil di pasaran.
    ‘’Pada kesempatan ini, saya mengharapkan agar pemerintah bisa menstabilkan harga karetnya,’’ ungkap petani karet, H Dahlan Hamid didepan presiden kemarin saat penyadapan karet perdana di Desa Niaso, Kabupaten Muarojambi.
    Selain itu, dia juga mengharapkan adanya bantuan pemerintah. Karena saat ini saat mengolah lahan tidak lagi dibakar sebagaimana yang diharapkan pemerintah. Tetapi permasalahannya, petani saat ini tidak dapat menanam palawija. Sehingga menjelang karetnya bisa disadap.
    ‘’Tanahnya tidak subur, jika dibakar tanah subur dan bisa menanam palawija sebagai pengahasilan tambahan, sebelumnya kalau dibakar tanah subur. Sehingga ketika menanam palawija akan tumbuh subur,’’ ujarnya.
    Mendengar keluhan petani ini, Presiden meminta kepada Menteri Pertanian dan pihak-pihak terkait untuk bisa memikirkannya solusinya. Dan Presiden minta agar dilaporkan hasilnya. Selain itu, Presiden berharap kepada semua pihak yang terkait, termasuk Bupati dan Gubernur, untuk mengupayakan agar hasil perkebunan rakyat dapat meningkat. Karena perkebunan karet rakyat setiap hektare saat ini hanya dapat menghasilkan 800 kg/hektare/tahun. Sedangkan perkebunan yang dikelola perusahaan bisa menghasilkan dua ton setiap hektar/tahun.
    ‘’Kedepan bagaimana perkebunan karet rakyat bisa lebih dari 800 kg/hektare/tahun, setidaknya 1000, hingga 1000 kg lebih setiap hektare/tahunnya,’’ tegasnya.
    Disamping itu, Presiden juga meminta agar tata niaganya juga diperbaiki. Sehingga harga yang peroleh petani bisa baik.
    ‘’Bagi yang memproses memerlukan biaya, tetapi agar adil, adil bagi petani, adil bagi perusahaan yang memproses lebih lanjut, sehingga dengan demikian semuanya mendapat keuntungan yang lebih baik,’’ tegasnya.
    Presiden menyampaikan harapannya, agar harga karet tetap setabil, dengan demikian penghasilan petani akan semakin baik. Karena menurut Presiden, harga komoditi tidak selalu bisa diatasi oleh pemerintah, tetapi pemerintah selalu mencari solusi untuk mengatasinya.
    “Saya punya pengalaman, dimana saat harga karet turun Ibu Ani selalu mendapat SMS dari berbagai daerah, yang meminta agar pemerintah bisa menaikkan harga keret, dan Ibu selalu menyampaikan kepada saya, tetapi ketika harga karet naik tidak satupun yang SMS, namun selaku orang tua, dengan kenyataan ini tetap bersyukur, ketika keluarga besarnya mendapat rezeki yang halal,” jelas Presiden.
    Presiden, juga menyampaikan perkebunan karet di Jambi seperlima dari luas perkebunan karet nasional atau 600 ribu hektare lebih, dari 3,4 juta hektar perkebunan karet di Indonesia.
    Sehubungan dengan itu Presiden minta kepada Gubernur dan Bupati/Walikota, agar memperhatikan industri pengolahan karet di Jambi, jangan sampai kurang, karena ini dapat merugikan petani. Agar ini ditata dengan baik.
    ‘’Kalau saat ini ada 11 dan masih mungkin ditambah tiga lagi, ini agar diperhatikan, dengan demikian akan menjadi lebih baik, harap Presiden. Presiden juga berjanji melalui Menteri Pertanian akan menambah anggaran bidang perkebunan karet, khususnya untuk Provinsi Jambi,’’ tuturnya.
    Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan Provinsi, Ir Tagor Mulia Nasution, berharap program ini bisa menjadi gerakan nasional (gernas) seperti kakau yang dilaksanakan di Indonesia Timur. Sedangkan disinggung harapannya dengan dilakukannya penyadapan perdana oleh Presiden, Tagor menyampaikan, agar rakyat bisa kembali bersemangat mengembangkan perkebunan karet di Jambi.
    ”Ini sebagaimana yang pernah terjadi 100 tahun yang lalu, Jambi menjadi penghasil karet terbesar, ini sebagai wujud penyuluhan dari seorang kepala negara,” ujarnya.
    Terlebih lagi, bila petani menanam bibit unggul, maka pendapatannya akan tinggi dan akan mengungkit pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi. Untuk pengembangan perkebunan karet di Jambi, menurut Kadis Perkebunan Provinsi Jambi, saat ini lebih kurang ada 650 ribu hektare. Dari luasan itu masih ada lebih kurang 120 ribu hektare terdiri dari kebun karet tua milik rakyat, sehingga produktivitasnya rendah.
    ”Kemudian juga dari luasan tersebut Pemerintah Provinsi Jambi telah meremajakan seluas 85 ribu hektare, yang dimulai dari tahun 2006,” tegasnya.

    Karet adalah Karet merupakan politerpena yang disintesis secara alami melalui polimerisasi enzimatik isopentilpirofosfat. Unit ulangnya adalah sama sebagaimana 1,4-poliisoprena. Dimana isoprena merupakan produk degradasi utama karet.

    DAFTAR PUSTAKA
    http://www.jambiekspres.co.id
    http://www.scribd.com/…/Potensi-Industri-Karet-Kabupaten-Batanghari-Jambi.
    id.wikipedia.org/wiki/Karet

  6. Nama :Rudy.A.Tambun
    Nim :D1B010081
    Prodi :Agribisnis E
    Status:BARU

    Komoditi karet merupakan salah satu unggulan perkebunan di Provinsi Jambi karena karet menjadi sumber pendapatan daerah dan merupakan sumber pendapatan sebahagian besar petani. Walaupun akhir-akhir ini harga karet mengalami penurunan tetapi petani di hampir semua kabupaten tetap mengusahakan karet sesuai dengan potensi alam dan sumberdaya manusianya.

    I. Potensi Industri Pengolahan Karet : Klaster industri pengolahan Karet

    Selama ini, produk karet alam Indonesia lebih banyak diekspor dalam bentuk bahan baku hasil olahan seperti crumb rubber dan lateks. Ekspor bahan olahan karet ini mencapai sekitar 85% dari total produksi karet nasional. Hanya sekitar 15% produksi karet alam yang diserap oleh industri dalam negeri. Proporsi tersebut mengindikasikan bahwa sektor industri di Indonesia masih lemah dalam memanfaatkan potensi karet alam yang dimiliki, sekaligus menjadi peluang besar bagi para investor untuk menanamkan modalnya di sektor industri pengolahan karet.
    Produksi karet secara nasional pada tahun 2008 mencapai 2,92 juta ton. Jumlah ini masih bisa ditingkatkan lagi dengan melakukan peremajaan dan memberdayakan lahan-lahan pertanian milik petani serta lahan kosong/ tidak produktif yang sesuai untuk perkebunan karet.
    Pemerintah melalui Departemen Perindustrian, pada tahun 2005 telah membentuk klaster industri pengolahan karet di Indonesia. Departemen Perindustrian telah melakukan identifikasi permasalahan dalam pengembangan industri barang-barang dari karet dengan melibatkan stakeholder di daerah melalui pembentukan kelompok kerja. Dari hasil kelompok kerja industri pengolahan karet tersebut telah di petakan dan diinventarisasi beberapa wilayah potensi perkebunan karet serta industri pengolahan karet hilir. Sementara itu, di berbagai daerah telah diberi bantuan peralatan industri komponen yang diharapkan akan dapat medorong tumbuhnya industri sejenis dan industri hilir barang-barang karet.
    Dalam pengembangan klaster karet tersebut telah ditetapkan tiga lokasi sebagai berikut:
    • Sumatera Utara untuk produk karet berbasis lateks;
    • Jambi untuk pengembangan industri berbasis crumb rubber, dan
    • Jawa Barat untuk pengembangan produk karet industri.

    II. PERMASALAHAN KARET DIBIDANG AGRIBISNIS TENTANG PRODUKTIVITAS KARET DIJAMBI YG SANGAT RENDAH

    Salah satu yang menjadi permasalahan bagi petani Jambi saat ini adalah rendahnya produktivitas. Apalagi, pada perkebunan rakyat yang baru mencapai 821 Kg Kadar Karet Kering (KKK), sedangkan potensi produksi bisa lebih dari satu ton KKK/Ha/tahun. Hal ini ditegaskan Gubernur Jambi H Hasan Basri Agus (HBA) pada penanaman perdana bibit karet, di Desa Simpang Sungai Duren, Kabupaten Muarojambi, Selasa (14/12).

    Menurut gubernur, rendahnya tingkat produktivitas ini, sebagai akibat terbatasnya penggunaan bibit karet klon unggul. ‘’Selain itu kurangnya pemeliharaan, seperti pemupukan dan pengendalian hama/penyakit serta terjadinya peningkatan luas tanaman karet tua/rusak. Di sisi lain modal petani masih sangat lemah untuk meremajakan kebun karet,’’ tegas gubernur.

    Namun, terangnya, pemerintah tidak tinggal diam atas persoalan ini. “Pemerintah terus berupaya mengatasi berbagai permasalahan petani. Pemerintah juga berupaya untuk membantu petani dalam menyediakan bibit karet unggul secara cuma-cuma. Disamping itu pemerintah juga telah melakukan pembinaan/pengawasan penangkar, pelatihan petani dan pembangunan jalan produksi serta berbagai pembinaan lainnya,’’terangnya.Selama ini, program pengembangan karet rakyat yang telah dilaksanakan di Provinsi Jambi sejak tahun 2006-2010, melalui dana APBD Provinsi Jambi telah mencapai 45.254 Ha, melalui dana APBD Kabupaten seluas 16.700 Ha dan melalui dana APBN seluas 3.746 Ha.

    Diharapkan luasan kebun karet rakyat yang diremajakan akan terus meningkat, sehingga produksinya juga akan terus mengalami peningkatan. ‘’Untuk Kabupaten Muarojambi, salah satu daerah yang menjadi sentra produksi karet, yang telah memberikan kontribusi nyata dalam peremajaan kebun karet. Kontribusi lain dari perkebunan karet ini, yakni berkembangnya penangkar bibit karet secara pesat di Provinsi Jambi. Dengan demikian diharapkan akan dapat memenuhi kebutuhan bibit karet dalam peremajaan kebun karet, khususnya eks plasma PTPN VI di Kabupaten Muarojambi dan Kabupaten Batanghari,’’ sebutnya.

    Oleh karenanya, gubernur berharap, para petani dapat menggunakan bibit unggul dapal menanam karet. Apabila petani mau memanfakan bibit unggul dan memelihara dengan sebaik-baiknya maka, peningkatan produksi akan dapat dicapai, yang pada gilirannya akan dapat meningkatkan kesejahteraan petani sebagai cita-cita dari Jambi EMAS 2015.

    Untuk Kabupaten Muarojambi sendiri, terangnya lagi, memiliki sumber daya alam cukup potensial, yang mampu menumbuh kembangkan perekonomian daerah dan masyarakat. Salah satunya adalah potensi perkebunan karet dan kelapa sawit. ‘’Khusus untuk perkebunan karet, di Kabupaten Muarojambi hingga tahun 2009 memiliki kebun seluas 60.000 Ha, dengan produksi mencapai 26.487 ton, ini menunjukkan bahwa Muarojambi memiliki potensi cukup besar dan perlu dukungan semua.

    DAFTAR PUSTAKA
    http://www.jambiekspres.co.id
    http://www.metrojambi.com

  7. NAMA : SYAMSUL BAHRI
    NIM : DD1B010006
    KELAS : AGRIBISNIS (D)

    Jawaban :
    PEMECAHAN PERMASALAHAN YANG MUNCUL DALAM AGRIBISNIS KARET DI PROVINSI JAMBI DENGAN CARA PEREMAJAAN TANAMAN
    Karet adalah tanaman perkebunan tahunan berupa pohon batang lurus. Pohon karet pertama kali hanya tumbuh di Brasil, Amerika Selatan, namun setelah percobaan berkali-kali oleh Henry Wickham, pohon ini berhasil dikembangkan di Asia Tenggara, di mana sekarang ini tanaman ini banyak dikembangkan sehingga sampai sekarang Asia merupakan sumber karet alami. Di Indonesia, Malaysia dan Singapura tanaman karet mulai dicoba dibudidayakan pada tahun 1876. Tanaman karet pertama di Indonesia ditanam di Kebun Raya Bogor. Indonesia pernah menguasai produksi karet dunia, namun saat ini posisi Indonesia didesak oleh dua negara tetangga Malaysia dan Thailand. Lebih dari setengah karet yang digunakan sekarang ini adalah sintetik, tetapi beberapa juta ton karet alami masih diproduksi setiap tahun, dan masih merupakan bahan penting bagi beberapa industri termasuk otomotif dan militer.

    A. MASALAH TANAMAN KARET di PROVINSI JAMBI
    Pengembangan perkebunan karet sebagai komoditi unggulan ekspor yang diwujudkan dengan kegiatan “Peremajaan Karet Rakyat” merupakan kebijakan strategis yang dicanangkan oleh Pemerintah Provinsi Jambi. Kebijakan tersebut telah dilaksanakan sejak tahun 2006 hingga sekarang dan direncanakan akan terus berlangsung hingga tahun 2010. Tujuan utama pemerintah dalam kebijakan tersebut adalah (a) meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan yang mencapai kurang lebih 223.059 KK atau sekitar 34% dari penduduk provinsi Jambi, (b) mendorong pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional mengingat peranan komoditi karet dalam ekspor, dan (c) optimalisasi potensi daerah dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan untuk mewujudkan visi “Jambi mampu maju dan mandiri”1. Kebutuhan akan peremajaan karet rakyat khususnya provinsi Jambi baik bagi pemerintah dan masyarakat merupakan prioritas. Dari 595.473 Ha tanaman karet pada tahun 2005, sekitar 136.000 Ha (22,84%) perlu segera barang tentu, rendahnya produktivitas rata-rata karet rakyat ini dengan hanya 714 kh/ha/tahun juga ditentukan oleh keadaan tersebut, selain bibit tanaman yang bersumber dari seedling (klon lokal dan tidak unggul). Selain itu beberapa alasan mengapa program peremajaan karet ini dilakukan antara lain1: (i) sebagian besar masyarakat Jambi menggantungkan hidupnya dari karet; (ii) agroklimat Provinsi Jambi sangat cocok untuk pengembangan karet; (iii) masyarakat Jambi sudah akrab dengan tanaman karet dan dahulu, Jambi pernah dikenal sebagai kota karet; dan (iv) prospek karet kedepan sangat menjanjikan terutama didorong oleh kenaikan perluasan pasar yang cukup baik; (v) dengan makin terbatasnya ketersediaan bahan baku kayu, diharapkan tanaman karet dapat menggantikan posisi kayu alam.
    I . SUBSISTEM AGRIBISNIS HULU
    Selama lebih dari 35 tahun (1967-2003), areal perkebunan karet
    di Indonesia meningkat sekitar 1,2% per tahun. Namun pertumbuhan
    ini hanya terjadi pada areal karet rakyat (+ 1,5% per tahun),
    sedangkan pada perkebunan besar negara dan swasta cenderung
    menurun (Tabel 1). Dengan luasan sekitar 3,3 juta ha pada tahun
    2003, mayoritas (85%) perkebunan karet di Indonesia adalah
    perkebunan rakyat, yang menjadi tumpuan mata pencaharian lebih
    dari 15 juta jiwa.
    II . SUBSISTEM AGRIBISNIS HILIR
    Menurut saragih (1999) subsistem hulu adalah Kegiatan ekonomi yang menyediakan sarana produksi bagi pertanian, seperti industri dan perdagangan agrokimia (pupuk, pestisida, dll), industri agrootomotif (mesin dan peralatan), dan industri benih/bibit. Di hubungkan dengan masalah perkembangan agribisnis karet di jambi petani karet di jambi masih kesuliatan mendapatkan bibit karet yang unggul salah satu alasan karena bibit yang mahal dan terkadang petani karet tertipu oleh para penjual bibit yang mengatakan bibit unggul dan murah. Yang kedua sulit nya mendapat kan bahan agroklima (Pupuk, dan penunjang yang lain) yang baik dan terkadang petani harus memebeli nya di luar jambi dengan harga yang tinggi.

    B. PEMECAHAN MASALAH DENGAN CARA PEREMAJAAN TANAMAN KARET
    Mengacu pada definisi peremajaan yang diberikan oleh Rajino, (1984) cit Aima, (1991), peremajaan karet yang dilaksanakan di provinsi Jambi adalah penggantian tanaman yang telah rusak (replanting) dan penanaman tanaman pada lahan yang baru (new planting) milik petani. Dalam Petunjuk pelaksanaan pengembangan karet rakyat Provinsi Jambi, (Anonim, 2008) tercantum maksud dan tujuan, pengelolaan dan organisasi, seleksi calon petani dan lokasi, persiapan lahan, penanganan bibit karet dan obat-obatan, penyaluran sarana produksi, hingga pelaporan, monitoring dan evaluasi pelaksanaan. Persiapan diawali dengan pemenuhan syarat: (a) petani tergabung dalam kelompok petani karet (kelompok tani) beranggotakan 25-30 orang petani lengkap dengan pengurus kelompok, (b) petani memiliki lahan yang akan diremajakan atau lahan khusus (belukar atau lahan tidur) yang akan ditanam baru. Persyaratan anggota dalam kelompok tani, harus memenuhi: (a) bermukim diwilayah lokasi pengembangan, (b) berusia 20-50 tahun, sehat jasmani dan sudah menikah, (c) bersedia memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh instansi Dinas atau yang membidangi perkebunan. Selain itu memenuhi syarat lahan calon lokasi yaitu (a) mudah dijangkau dari tempat tinggal petani, (b) terletak dipinggir jalan atau sungai atau di areal yang dapat dibangun jalan, (c) lahan yang akan diremajakan/diikutsertakan seluas 1 Ha/KK dan luas kawasan pengembangan minimal 10 Ha, (d) status lahan tidak bermasalah baik secara teknis maupun sosial, dan (e) tidak berada dalam kawasan hutan lindung atau hutan produksi.

    C. HAL-HAL YANG HARUS DI LAKUKAN DALAM MELAKUKAN PEREMAJAAN KARET.
    1. Luas lahan dan jumlah petani yang akan diikut sertakan dalam peremajaan
    karet ini hendaknya disesuaikan dengan kemampuan membina dari instansi
    teknis kabupaten yang bersangkutan khususnya PPL. Sehingga tidak
    terkesan pembentukan kelompok tani secara terburu-buru dan dipaksakan,
    guna untuk mencapai tingkat keberhasilan yang lebih tinggi.
    2. Perlu dipertimbangkan untuk menjadikan satu kelompok tani dari satu desa
    ditiap kabupaten sebagai pilot proyek peremajaan dengan pola pembinaan
    partisipatif. Pembinaan yang intensif diharapkan menjadi percontohan bagi
    kelompok tani desa lainnya dan merupakan laboratorium belajar bagi petani
    yang akan melaksanakan peremajaan pada jangka panjang.
    3. Keterlibatan Instansi terkait dalam peremajaan karet.
    Jika ditelusuri dengan seksama, maka peremajaan karet ini menyangkut
    keterlibatan beberapa instansi pemerintah kabupaten secara terintegrasi.
    Diantara instansi tersebut termasuk Badan Pertanahan Nasional kabupaten
    dan Dinas Kehutanan atau yang membidangi.
    4. Kelembagaan Petani
    Sebagaimana diketahui, kelompok tani berfungsi sebagai wadah kerja-sama,
    forum musyawarah dan kelas belajar bagi anggota kelompok.
    5. Kesiapan petani
    Kesiapan petani (mental) peserta peremajaan harus diupayakan sedemikian
    rupa sehingga keberhasilan semakin meningkat.
    6. Ukuran tinggi bibit
    Ukuran tinggi bibit yang diberikan kepada petani masih kecil (masih banyak
    memiliki tinggi 15 cm – 20 cm). Bibit dengan ukuran ini belum dapat bersaing
    dengan baik dengan gulma di lapangan. Oleh karena itu ukuran bibit yang
    diberikan kepada petani hendaklah sudah lebih tinggi/besar.
    7. Penyakit Tanaman
    Serangan penyakit JAP sangat tinggi, akan tetapi pemberian belerang sirus
    tidak merata dan jumlahnya sangat sedikit.
    8. Gulma
    Alang-alang (Imperata cylindrical) merupakan gulma yang paling dominan
    pada pertanaman muda dan tidak efektif dikendalikan dengan pembabatan.
    Pengendalian dengan penggunaan herbisidida sitemik merupakan pilihan
    yang tepat untuk gulma ini akan tetapi terkendala oleh harganya yang mahal.
    Untuk itu pemerintah (provinsi dan kabupaten) dapat kiranya memberikan
    bantuan herbisida tersebut.
    9. Pupuk
    Bantuan pupuk yang diberikan belum mencukupi kebutuhan pemupukan
    tanaman karet pada tahun pertama sesuai dosis anjuran. Untuk itu
    diharapkan pemerintah kabupaten dapat mengadakan bantuan pupuk sesuai
    dengan dosis dan macam pupuk yang diperlukan.
    10. Pengendalian hama
    Penguatan kelompok tani (organisasi dan kerjasama) terutaman terkait
    kegiatan pengendalian hama (babi dan kera/simpai) dan penyakit perlu
    dilakukan. Hal ini perlu mendapat perhatian karena secara factual
    kekompakan kelompok tani karet tidak sebaik kelompok tani padi.

    DAFTAR PUSTAKA

    Puslit Karet Sembawa 2009. Rekomendasi pemupukan tanaman karet.
    Balai Penelitian Sembawa – Pusat Penelitian Karet Sembawa,
    Sumatera Selatan.
    http://www.jambiekspres.co.id/utama/20809-petani-keluhkan-harga-karet.html
    http://www.acicis.murdoch.edu.au/hi/field_topics/johan.pdf
    http://www.jambiprov.go.id/..

  8. NAMA ; ATIKA NOVERLYA SARI
    NIM : D1B010069
    PRODI : AGRIBISNIS ( E )
    STATUS KONTRAK : B

    Latar belakang
    Dari data ICRAF MBO menunjukan bahwa luasan kebun karet di Indonesia mencapai 3.300.000 Ha dengan produksi 1.800.000 ton pada tahun 2003. Sedangkan luas areal perkebunan karet di Propinsi Jambi hanya mencapai 429.335 Ha dengan produksi 185.196 ton/tahun. Artinya luas kebun karet di Propinsi Jambi mncapai 13% dari total luasan kebun karet di Indonesia. amun perbandingan produksi antara produksi Jambi dengan total produksi Indonesia hanya mencapai 10,3%. Sedangkan tingkat produktifitas karet di Indonesia telah mencapai angka 54,5%. Akan tetapi, tingkat produktifitas karet di Propinsi Jambi hanya mencapai 43,1%.

    Data diatas menunjukan bahwa tingkat produktifitas karet di Propinsi Jambi masih rendah dibandingkan dengan tingkat produktifitas karet nasional. Paling tidak, terdapat tiga faktor utama penyebab rendahnya tingkat produktifitas karet di Propinsi Jambi, yakni : faktor bibit dan faktor keterbatasan sumberdaya. Faktor bibit dilihat dari daya guna masyarakat atau petani terhadap bibit karet. Sampai detik ini, petani karet Jambi masih menggunakan bibit karet sapuan atau seedling atau yang lebih dikenal dengan bibit karet liar. Menurut hasil penelitian ICRAF MBO yang dipublikasikan pada tahun 2005 menunjukan bahwa produksi karet dari bibit sapuan/seedling hanya 1/3 dari karet yang menggunakan bibit unggul.

    Sedangkan fakta dilapangan memperlihatkan bahwa masih sangat sedikit petani yang menggunakan bibit karet unggul. Faktor keterbatasan sumberdaya dilihat dari segi pengetahuan dan modal yang dimiliki oleh petani dalam mengembangkan bibit unggul. Sehingga berdampak pada lambatnya pengembangan bibit unggul yang dilakukan secara swadaya relatif lambat. Disadari memang, pengembangan karet klon membutuhkan modal yang tidak sedikit dan membutuhkan pengetahuan baru tentang berbudidaya karet. Karena budidaya karet unggul tidak bisa disamakan dengan budidaya karet alam. Disamping itu, persoalan peredaran bibit karet palsu juga menghantui petani yang berkeinginan untuk mengembangkan karet unggul. Sudah menjadi rahasia umum, perearan bibit karet palsu sampai saat ini masih beredar di pasaran dan intansi yang berwenang belum mampu mengatasi peredarannya.

    Salah satu solusi dari persoalan diatas adalah dengan melakukan pengembangan sentra pembibitan karet secara swadaya dalam skala kecil. Dengan adanya pengembangan sentra pembibitan paling tidak bisa memangkas biaya yang harus dikelurkan guna mendapatkan bibit karet unggul. Selain itu juga akan didapatkan bibit karet yang jelas kualitas dan keasliannya dibandingkan jika dibeli dari pasaran.

    Pengelolaan Pembibitan Karet Unggul
    Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengelolaan pembibitan karet unggul adalah sebagai berikut :
    1. Ketersedian batang bawah
    2. Ketersedian mata entres
    3. Kemampuan teknis okulasi

    Ketersedian batang bawah
    Pokok-pokok dalam pembibitan batang bawah :
    Persiapan lahan pembibitan
    a) Mutlak perlu dilakukan untuk mendapatkan akar dan pertumbuhan yang optimum à kedalaman 40-50 cm
    b) Dengan mekanis maupun manual
    c) Perlu dibuat jalan pemisah (lebar 1.5 m setiap 11-12 m)
    d) Perlu pembuatan petak-petak (lebar 4.5-5 m)
    e) Pengajiran (sesuai jarak tanam)

    Penanganan benih/biji
    a) Klon àAVROS 2037, GT 1, LCB 1320, PR 228, PR 300 (tumbuh cepat, daya gabung, kemampuan berbuah, tahan penyakit daun, mudah diokulasi, akar kuat)
    b) Pemungutan dan seleksi biji dengan cara perendaman
    c) Pengawetan dan pengemasan biji
    d) Uji kesegaran benih

    Penyemaian benih/biji
    a) Pembuatan bedengan
    • Media tumbuh : pasir/serbuk gergaji
    • Tidak terkena matahari langsung
    • Disiram pagi dan sore hari
    b) Pendederan
    • Sistem teratur à pemindahan kecambah lebih mudah, dan dapat sampai stadia pancing
    • Sistem tebar à pemindahan stadia mentis/bintang dan tidak boleh terlambat

    Penanamana kecambah
    a) Pilih kecambah yang muncul 4/5 bln) à herbisida (paraquat, glifosat)
    • Penyemprotan dilakukan pagi hari
    c) Pengendalian penyakit terutama penyakit daun
    Penyakit yang umum menyerang di pembibitan penyakit gugur daun Oidium hevea dan colletotrichum gloeosporioides dikendalikan dengan menggunakan fungisida (dithane), dapat juga dicampur dengan urea 2 %.

    d) Pemupukan
    Pemupukan dapat dilakukan dengan dosis sebagai berikut :
    Umur (Bulan Sesudah Tanam)
    Jenis pupuk
    1. Urea
    2. SP36
    3. MOP
    4. Kieserit

    Mata Entres
    Pembangunan kebun entres harus memperhatikan bebebrapa aspek, yakni :
    1. Pemilihan lokasi
    • Bebas dari gangguan hama dan penyakit, karena kebun entres dapat dipertahankan 8 sampai 10 tahun.
    • Bebas dari gangguan alam, seperti banjir, longsor dll
    • Topografi datar
    • Dekat dari jalan, untuk memudahkan pengangkutan sarana produksi dan pemanenan
    • Dekat dengan sumber air, untuk memudahkan penyiraman
    • Dekat dari perkampungan, agar mudah dijangkau dan diawasi

    2. Perencanaan
    Perencanaan kebun entres untuk kebutuhan bibit okulasi 1 Ha kebun produksi
    Uraian
    Kebutuhan
    Satuan
    Keterangan
    Kebutuhan bibit
    Penanaman
    550
    Bibit polibag

    Penyulaman
    605
    Bibit okulasi
    10% dari jumlah bibit yang akan ditanam
    Persedian bibit okulasi
    666

    10% afkir mati dipolibag
    Jumlah batang bawah yang akan diokulasi
    865
    Batang bawah
    30% gagal
    Entres dan luas kebun entres
    Mata entres
    865
    Mata
    10 mata : 1 meter
    Panjang entres
    87
    Meter

    Kebutuhan entres
    130
    Meter
    1.5 taksasi
    Jumlah pohon entres
    87
    Pohon
    1.5 meter : 1 pohon
    Luas kebun entres
    0.01

    8000 pohon/Ha
    Biji untuk batang bawah
    Bibit yang diokulasikan
    865

    Bibit batang bawah
    952

    10% kerdil
    Transplanting
    1047

    10% mati saat transplanting
    Biji yang berkecambah
    1779

    70% daya kecambah
    Biji yang dideder
    2313

    30% gagal

    3. Persiapan lahan
    Pembuatan petakan-petakan dan jalan untuk memudahkan pemeliharaan dan pemanenan. Jangan bercampur antar klon/jenis yang ada
    Pengajiran, jarak 1 m x 1 m
    Pembuatan lobang tanam, ukuran 40 cm x 40 cm x 40 cm

    4. Tata ruang
    Tata ruang dimaksudkan untuk membagi-bagi lahan kebun entres sesuai dengan jenis klon yang diinginkan agar tidak terjadi pencampuran klon satu dengan yang lainnya.
    • Buat petak/plot berdasarkan jenis klon dan jumlah batang setiap klon (sepert gambar dibawah)
    • Buat jalan dan pemisah antara petak/plot untuk masing-masing klon agar tidak bercampur
    • Dilengkapi dengan peta yang memuat tentang jenis klon, jumlah batang (baris dan lajur) setiap klon, tahun tanam, dll

    5. Penanaman
    • Jarak tanam : 1 m x 1 m.
    • Lubang tanam : 40 cm x 40 cm x 40 cm
    • Bahan tanan stum mata tidur, stum mini ataupun bibit dalam polibag.
    • Buat petakan/plot, tanda klon diletakan pada setiap sudut petak.
    • Lengkapi dengan peta dasar sesuai dengan jenis klon, jumlah batang tiap klon
    • Penyulaman dilakukan dengan klon yang sama dengan petaknya
    6. Pemiliharaan
    Penyiangan
    Manual : pada saat tanaman masih muda
    Kimiawi : bila batang bawah berwarna coklat
    Pemupukan
    Dilakukan 4 kali per tahun
    Dosis (gram/pohon/pemupukan)
    Urea : 10, SP36 : 15, KCL : 10
    Pengendalian hama dan penyakit tanaman
    • Penyakit gugur daun Oidium hevea : Bayletone 250EC
    • Penyakit gugur daun colletotrichum gloeosporioides : Dithane M 45
    • Penyakit lapuk batang Fusarium : Antico F 96
    • Penyakit Jamur Akar Putih : Bayletone 250 EC
    Pewiwilan
    Pembuangan tunas palsu dan tunas samping

    7. Pemurnian
    Pemurnian kebun entres merupakan suatu rangkaian kegiatan yang harus dilakukan dalam pembangunan kebun entres guna mendapatkan pertanaman yang seragam dan benar menurut jenis klonnya. Pemurnian dilakukan pada tahun pertama, pada waktu tanaman sudah mencapai 3 – 4 payung daun. Ketidakmurnian jenis klon yang terjadi pada kebun entres biasanya disebabkan oleh :
    Tunas yang tumbuh berasal dari batang bawah bukan dari mata okulasi yang ditempelkan (tunas liar).
    Tercampurnya bibit beberapa jenis klon pada saat penanaman sebagai akibat dari :
    • Kesalahan pada waktu okulasi di pembibitan
    • Entres yang digunakan tidak murni
    • Tercampurnya jenis klon pada saat pembongkaran bibit
    • Sumber bibit untuk pembangunan kebun entres tidak jelas asal usulnya.
    Tanaman kerdil, karena berasal dari mata tunas yang tidak bagus.
    Klon lain yang tidak diinginkan dalam suatu petak/plot (seperti pada gambar tata ruang) harus segera dibongkar/dipindahkan dan diganti dengan klon yang sesuai pada petak/plot tersebut. Apabila pembongkaran tidak memungkinkan maka dapat dilakukan dengan teknik okulasi bertingkat (mengokulasi bibit tersebut dengan klon yang sesuai dengan petak/plot tersebut).

    Teknis Okulasi
    Okulasi merupakan salah satu teknik perbanyakan/perkawinan secara vegetatif dengan menempelkan kulit batang yang satu ke batang lainnya. Okulasi hanya bisa dilakukan pada tanaman yang memiliki kambium/kulit ari. Teknik perbanyakan/perkawinan vegetatif maksudnya adalah teknik perbanyakan/perkawinan tanaman yang tidak berlangsung secara alami tapi melalui bantuan/intervesi manusia.
    Pada tanaman karet, okulasi dilakukan dengan menempelkan kulit batang yang memiliki mata tunas (entres) dengan batang karet lainnya (batang bawah). Entres diambil dari karet yang memiliki produksi tinggi melalui pengujian atau penelitian oleh Balai Penelitian Karet baik dalam maupun luar negeri (klon anjuran). Sedangkan untuk batan bawah diambil dari karet yang rentan terhadap penyakit dan memiliki pertumbuhan akar yang baik. Bahan dan peralatan pendukung yang dibutuhkan pada saat okulasi adalah, batang atas (entres), batang bawah, pisau okulasi, plastik okulasi, asahan dan kain lap.

    Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melakukan okulasi :
    Kesiapan batang bawah
    Ujung tunas batang bawah dalam kondisi dorman/tidur atau daun tua
    Lilit batang pada 5 cm diatas permukaan tanah : 5 – 7 cm

    Pembuatan Jendela
    Sebelum pembukaan jendela, batang bawah dilap dengan kain pembersih
    Ketingian jendela 2 jari diatas permukaan tanah
    Pembukaan jendela dilakukan secara vertikal sepanjang 6 – 7 cm, lebar 1/3 lilit batang, bukaan dapat dilakukan dari bawah atau dari atas.
    Perisai mata siap dimasukkan

    Pembuatan perisai mata, penempelan dan pembalutan
    Pengirisan perisai mata entres, pengirisan dapat dilakukan coklat (umur 8 bln – 1 thn) atau hijau ( 4 – 6 bulan).
    Pelepasan kayu pada perisai mata, ditandai dengan titik putih pada kulit. Kalau berlubang pada kulit berarti matanya tertinggal pada batang
    Perisai mata dimasukkan
    Penutupan jendela
    Pengikatan dengan plastik, plastik diikatkan saling tumpang tidih sehingga air tidak masuk kedalam tempelen.

    Pembukaan dan pemeriksanaan
    Setelah 2 minggu, tempelan dapat dibuka dan diperiksa. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
    Buat irisan dari bawah ke atas sehingga plastik terpotong
    Potong lidah jendela
    Pemeriksaan okulasi dgn mencukil pada tempelan okulasi, cukilan berwarna hijau
    Okulasi jadi, plastik diselipkan pada batang

    Pembongkaran bibit
    Pembongkaran dilakukan setelah tempelan berumur
    • Dengan cangkul
    – Satu mg sebelum cabut, bibit dipotong tinggi 5-7 cm dpo, potongan dioles TB 192
    – Buat parit sedalam 60 cm pd salah satu sisi dgn jarak 10 cm dari bibit
    – Potong akar tunggang disisakan 35 cm, kemudian bibit didorong kearah lubang
    – Akar lateral dipotong sisakan 5 cm
    • Dongkrak (pulling jack)
    – Bibit dipotong setinggi 50 cm
    – Jepit bagian atas, cabut dgn cara mengungkit
    – Potong bagian atas bibit 5-7 cm dpo
    – Sisakan akar tunggang 35 cm, dan akar lateral 5 cm

    DAFTAR PUSTAKA :
    1. adi-junedi.blogspot.com/
    2. Bahan presentase Ratna Akiefnawati, ICRAF Muara Bungo pada pelatihan teknis budi daya karet unggul/klon di Dusun Lancar Tiang Desa Tuo Ilir, November 2006.
    3. Bahan presentase Balai Penelitian Sembawa yang disampaikan pada pelatihan teknis budidaya karet klon bagi penyuluh petani lapangan (PPL) Kab. Bungo dan Kab. Tebo di Sembawa, Mei 2006.
    4. Diktat Pelatihan Dinamika Kelompok dan budidaya karet Kab. Bungo dan Tebo, 19 – 26 Februari 2006

  9. NAMA : ARI YUDHA KARTIKA
    NIM : D1B010054
    KELAS : AGRIBISNIS (E)

    Karet adalah salah satu jenis pohon yang dianjurkan dalam pembangunan HTI untuk memproduksi pokok kayu dan hasil sampingan lateks. Karet mulai dikenal di Indonesia sejak zaman kolonial Belanda. Tanaman asal Brasil ini termasuk genus Hevea, famili Euphorbiaceae. Sampai sekarang ada tiga spesies karet yang umum dibudidayakan yaitu Hevea brasiliensis, H. spruceana dan H. puciflora. Dari ketiga jenis tersebut yang dianjurkan untuk HTI adalah Hevea brasiliensis.
    Daerah penyebaran tanaman karet mencapai luasan antara 15°LU-10°LS. Ketinggian tempat yang sesuai untuk tanaman ini yaitu 1-600 m dpl. Curah hujan yang diinginkan berkisar antara 2 000-2 500 mm/tahun. Daur panen untuk kebutuhan bahan pulp sekitar 25 tahun

    Karet cukup baik dikembangankan di daerah lahan kering beriklim basah. Tanaman karet memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan komoditas lainnya, yaitu:
    1 Dapat tumbuh pada berbagai kondisi dan jenis lahan, serta masih mampu dipanen hasilnya meskipun pada tanah yang tidak subur,
    2 Mampu membentuk ekologi hutan, yang pada umumnya terdapat pada daerah lahan kering beriklim basah, sehingga karet cukup baik untuk menanggulangi lahan kritis,
    3 Dapat memberikan pendapatan harian bagi petani yang mengusahakannya, dan
    4 Memiliki prospek harga yang cukup baik, karena kebutuhan karet dunia semakin meningkat setelah China membuka pasar baru bagi karet Indonesia.

    Karet merupakan salah satu komoditi perkebunan penting, baik sebagai sumber pendapatan, kesempatan kerja dan devisa, pendorong pertumbuhan ekonomi sentra-sentra baru di wilayah sekitar perkebunan karet maupun pelestarian lingkungan dan sumberdaya hayati. Namun sebagai negara dengan luas areal terbesar dan produksi kedua terbesar dunia, Indonesia masih menghadapi beberapa kendala, yaitu rendahnya produktivitas, terutama karet rakyat yang merupakan mayoritas (91%) areal karet nasional dan ragam produk olahan yang masih terbatas, yang didominasi oleh karet remah (crumb rubber). Rendahnya produktivitas kebun karet rakyat disebabkan oleh banyaknya areal tua, rusak dan tidak produktif, penggunaan bibit bukan klon unggul serta kondisi kebun yang menyerupai hutan. Oleh karena itu perlu upaya percepatan peremajaan karet rakyat dan pengembangan industri hilir.

    Kondisi agribisnis karet saat ini menunjukkan bahwa karet dikelola oleh rakyat, perkebunan negara dan perkebunan swasta. Pertumbuhan karet rakyat masih positif walaupun lambat yaitu 1,58%/tahun, sedangkan areal perkebunan negara dan swasta sama-sama menurun 0,15%/th. Oleh karena itu, tumpuan pengembangan karet akan lebih banyak pada perkebunan rakyat. Namun luas areal kebun rakyat yang tua, rusak dan tidak produktif mencapai sekitar 400 ribu hektar yang memerlukan peremajaan. Persoalannya adalah bahwa belum ada sumber dana yang tersedia untuk peremajaan. Di tingkat hilir, jumlah pabrik pengolahan karet sudah cukup, namun selama lima tahun mendatang diperkirakan akan diperlukan investasi baru dalam industri pengolahan, baik untuk menghasilkan crumb rubber maupun produk-produk karet lainnya karena produksi bahan baku karet akan meningkat. Kayu karet sebenarnya mempunyai potensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan furniture tetapi belum optimal, sehingga diperlukan upaya pemanfaatan lebih lanjut.

    Agribisnis karet alam di masa datang akan mempunyai prospek yang makin cerah karena adanya kesadaran akan kelestarian lingkungan dan sumberdaya alam, kecenderungan penggunaan green tyres, meningkatnya industri polimer pengguna karet serta makin langka sumber-sumber minyak bumi dan makin mahalnya harga minyak bumi sebagai bahan pembuatan karet sintetis. Pada tahun 2002, jumlah konsumsi karet dunia lebih tinggi dari produksi. Indonesia akan mempunyai peluang untuk menjadi produsen terbesar dunia karena negara pesaing utama seperti Thailand dan Malaysia makin kekurangan lahan dan makin sulit mendapatkan tenaga kerja yang murah sehingga keunggulan komparatif dan kompetitif Indonesia akan makin baik. Kayu karet juga akan mempunyai prospek yang baik sebagai sumber kayu menggantikan sumber kayu asal hutan. Arah pengembangan karet ke depan lebih diwarnai oleh kandungan IPTEK dan kapital yang makin tinggi agar lebih kompetitif.

    Tujuan pengembangan karet ke depan adalah mempercepat peremajaan karet rakyat dengan menggunakan klon unggul, mengembangkan industri hilir untuk meningkatkan nilai tambah, dan meningkatkan pendapatan petani.

    Solusi dari persoalan diatas adalah dengan melakukan pengembangan sentra pembibitan karet secara swadaya dalam skala kecil. Dengan adanya pengembangan sentra pembibitan dan industri hilir paling tidak bisa memangkas biaya yang harus dikelurkan guna mendapatkan bibit karet unggul. Selain itu juga akan didapatkan bibit karet yang jelas kualitas dan keasliannya dibandingkan jika dibeli dari pasaran.

    Sumber ; Badan penelitian dan pengembangan pertanian

  10. NAMA : SYAMSUL BAHRI
    NIM : D1B010006
    KELAS : AGRIBISIS (D)
    Mohan Maaf sebelumya Pak , Saya Samsul Bahri ,
    saya ingin mengkomfirasikan kesalahan penulisan no NIM saya di coments tugas saya ,,di situ saya salah mengetik no NIm,,,no NIM,,saya yang benar seperti yang tertera di atas,,
    Terimah kasih

  11. NAMA : AAN MASHUDI
    NIM : D1B010039
    KELAS : AGRIBISNIS (D)

    PROGRAM REHABILITASI KARET DI PROVINSI JAMBI
    UPAYA UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH
    Komoditas karet memegang peranan utama dalam perekonomian masyarakat
    di semua kabupaten dalam provinsi Jambi, dan telah menjadi sumber perndapatan yang sangat dominan bagi sebagian besar petani. Menurut data di Dinas Perkebunan Provinsi Jambi pada tahun 2005, total volume ekspor karet provinsi Jambi mencapai 365.786 ton dengan nilai sebesar Rp3,97 triliun, meningkat dibandingkan dengan posisi tahun 2004 yaitu total volume sebesar 235.287 ton dengan nilai sebesar Rp2,98 triliun. Menteri Pertanian dan Ketahanan Pangan Republik Indonesia pada saat kunjungan kerja ke Provinsi Jambi pada pertengahan tahun 2006, mengatakan bahwa pengembangan perkebunan karet termasuk salah satu agenda revitalisasi pertanian di Indonesia. Urgensi utama memasukkan perkebunan karet sebagai prioritas utama nasional karena karet terbukti mempunyai peranan yang sangat penting bagi perekonomian nasional. Dalam kurun waktu 6 tahun terakhir, ekspor karet
    menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan. Jika pada tahun 2000 total volume ekspor sebanyak 1,38 juta ton dengan nilai USD 889 juta meningkat menjadi 2,02 juta ton dengan nilai USD 2.854 juta dolar pada tahun 2005. Ini merupakan peningkatan yang signifikan dengan tingkat pertumbuhan rata-rata 23% per tahun. Perkembangan produksi karet nasional juga diikuti pula oleh peningkatan penyerapan tenaga kerja yaitu sekitar 1,4 juta tenaga kerja langsung, belum lagi termasuk penyerapan tenaga kerja tidak langsung yang turut mendukung perkembangan karet Indonesia.
    Sampai tahun 2005 luas areal tanaman karet di provinsi Jambi mencapai 567.042 hektar yang tersebar pada 9 kabupaten, yakni menurut urutannya
    Sarolangun seluas 111.581 Ha, disusul oleh Merangin seluas 108.038 Ha, dan yang terkecil adalah kabupaten Kerinci seluas 303 Ha. Adapun kondisi luas lahan perkebunan karet yang ada terdiri dari 105.566 Ha adalah tanaman belum
    menghasilkan (TBM), 330.820 Ha adalah tanaman menghasilkan dan 130.656 Ha adalah tanaman tua dan rusak. Kondisi ini menyebabkan rendahnya tingkat
    produktivitas lahan yang rata-rata sebesar 709 kg/Ha/th, dengan produktivitas
    terendah di kabupaten Kerinci sebesar 485 kg/Ha/th. Untuk mengatasi kondisi
    tersebut pada waktu mendatang Pemerintah Provinsi Jambi telah membuat program kerja rehabilitasi karet tua dan penambahan luas areal perkebunan karet yang telah dimasukkan ke dalam anggaran belanja provinsi untuk merehabilitasi karet tua pada tahun 2006 seluas 17.500 hektar dan perluasan sekitar 5.000 hektar yang akan berlanjut sampai dengan tahun 2010.

    PERMASALAHAN KARET DIBIDANG AGRIBISNIS TENTANG PRODUKTIVITAS KARET DIJAMBI YG SANGAT RENDAH
    Salah satu yang menjadi permasalahan bagi petani Jambi saat ini adalah rendahnya produktivitas. Apalagi, pada perkebunan rakyat yang baru mencapai 821 Kg Kadar Karet Kering (KKK), sedangkan potensi produksi bisa lebih dari satu ton KKK/Ha/tahun. Hal ini ditegaskan Gubernur Jambi H Hasan Basri Agus (HBA) pada penanaman perdana bibit karet, di Desa Simpang Sungai Duren, Kabupaten Muarojambi, Selasa (14/12).

    Menurut gubernur, rendahnya tingkat produktivitas ini, sebagai akibat terbatasnya penggunaan bibit karet klon unggul. ‘’Selain itu kurangnya pemeliharaan, seperti pemupukan dan pengendalian hama/penyakit serta terjadinya peningkatan luas tanaman karet tua/rusak. Di sisi lain modal petani masih sangat lemah untuk meremajakan kebun karet,’’ tegas gubernur.

    Namun, terangnya, pemerintah tidak tinggal diam atas persoalan ini. “Pemerintah terus berupaya mengatasi berbagai permasalahan petani. Pemerintah juga berupaya untuk membantu petani dalam menyediakan bibit karet unggul secara cuma-cuma. Disamping itu pemerintah juga telah melakukan pembinaan/pengawasan penangkar, pelatihan petani dan pembangunan jalan produksi serta berbagai pembinaan lainnya,’’terangnya.Selama ini, program pengembangan karet rakyat yang telah dilaksanakan di Provinsi Jambi sejak tahun 2006-2010, melalui dana APBD Provinsi Jambi telah mencapai 45.254 Ha, melalui dana APBD Kabupaten seluas 16.700 Ha dan melalui dana APBN seluas 3.746 Ha.

    Diharapkan luasan kebun karet rakyat yang diremajakan akan terus meningkat, sehingga produksinya juga akan terus mengalami peningkatan. ‘’Untuk Kabupaten Muarojambi, salah satu daerah yang menjadi sentra produksi karet, yang telah memberikan kontribusi nyata dalam peremajaan kebun karet. Kontribusi lain dari perkebunan karet ini, yakni berkembangnya penangkar bibit karet secara pesat di Provinsi Jambi. Dengan demikian diharapkan akan dapat memenuhi kebutuhan bibit karet dalam peremajaan kebun karet, khususnya eks plasma PTPN VI di Kabupaten Muarojambi dan Kabupaten Batanghari,’’ sebutnya.

    Oleh karenanya, gubernur berharap, para petani dapat menggunakan bibit unggul dapal menanam karet. Apabila petani mau memanfakan bibit unggul dan memelihara dengan sebaik-baiknya maka, peningkatan produksi akan dapat dicapai, yang pada gilirannya akan dapat meningkatkan kesejahteraan petani sebagai cita-cita dari Jambi EMAS 2015.

    Untuk Kabupaten Muarojambi sendiri, terangnya lagi, memiliki sumber daya alam cukup potensial, yang mampu menumbuh kembangkan perekonomian daerah dan masyarakat. Salah satunya adalah potensi perkebunan karet dan kelapa sawit. ‘’Khusus untuk perkebunan karet, di Kabupaten Muarojambi hingga tahun 2009 memiliki kebun seluas 60.000 Ha, dengan produksi mencapai 26.487 ton, ini menunjukkan bahwa Muarojambi memiliki potensi cukup besar dan perlu dukungan semua.
    jika rantai niaga di perpendek yaitu dari petani langsung ke pabrik maka petani akan mendapatkan untung lebih besar.
    2. petani harus menyadari bahwa untuk mendapat ke untungan yang maksimal kualitas produksi harus di utamakan dan peranan pemerintah sangat dibutuhkan dalam mengarahkan petani dan penyediaan bibit yang baik sehingga dapat menunjang sektor subsistem Hilir

    o Sub-sistem penyedia jasa agribisnis
    Saragih (1999) sub-sistem Penediaan jasa agribinis seperti perkreditan, transportasi dan pergudangan, Litbang, Pendidikan SDM, dan kebijakan ekonomi di hubungkan dengan masalah perkembangan agribisnis karet di jambi Pendidikan SDM petani karet di jambi masih kurang sehingga petani karet kurang mendapatkan pengetahuan mengenai karet dan masalah ke-2 dalam perkreditan atau pun pinjaman proses pinjaman Modal kepada perkerditan atau koperasi petani di buat sulit dengan proses pinjamannya yang rumit sehingga petani lebih memilih meminjam ke Perantara(Tengkulak) karena proses pinjaman nya mudah dan cepat tetapi pinjaman melalui perantara ada dampak negative nya yaitu setiap hasil produksi karet, petani harus mengirim nya ke tengkulak.

    Solusi : jika pemerintah ingin Provinsi Jambi mampu menghasilkan karet alam yang dapat memenuhi permintaan pasar dunia, faktor SDM harus di tingkatkan baik dalam pengetahuan dan keterampilan dan untuk masalah ke-2 pemerintah dapat menyediakan jaminan keuangan yang baik dan tidak mempersulit proses pinjaman di koperasi

    DAFTAR PUSTAKA
    http://www.litbang.deptan.go.id/berita/one/355/
    http://agroindustry.wordpress.com/2009/11/17/subsistem-agribisnis/

  12. nama : RENO ANDEA
    NIM : D1B010056
    STATUS : B
    KELAS : E
    tanaman karet merupakan salah satu tanaman perkebunan yang menjanjikan hasil yang sangat besar, tanaman karet juga suatu tanaman perkebuanan yang perawatan nya tidak terlalu sulit, di masyrakat umum ada berbagai macam jenis kebun karet, seperti hutan karet, yaitu kebun karet yang dipenuhi pohon pohon besar dan hewan hewan buas, harga karet sangat tergantung pada perekonomian global, pada saat ini tidak banyak negara yang memngahsilkan lateks karet dengan produksi banyak, sehingga para petani berlomba-lomba untuk memperlebar perkebunan mereka. tapi harga lateks indonesia di global atau dunian sangat rendah. itu semua di akibatkan oleh rendahnya mutu lateks karet nasional.

    PERMASALAHAN UTAMA
    1. permasalahan utama yang saat ini di hadapi para petani karet adalah. pluktuasi haraga karet yang tidak menetu, yang di sebabkan rendahnay mutu lateks karet. ini semua di sebabkan kurangnya kepedulian masyarakat terhadap mutu latek karet, sehingga membuat mereka sendiri tertekan.

    PEMECAHANA MASALAH
    harga lateks sangat bergantung pada mutu lateks itu sendiri, dan jga sangat berpengaruh dengan perekonomian global. cara yang paling efisien yang dapat di lakukan para petani adalah dengan menghasilkan mutu lateks dengan kualitas 1. dan menghindari keterkaitan penuh degan menadah lateks. melihat gejolak pasar global, karana lateks sangat berpengaruh dengan pasar global, hal itu disebabkan hampir 70 % hasil lateks nasional di exspor keluar negri, seperti ke jepang, singapur, amerika. DLL. jika petani mengetahui gejolak pasar global atau dunia, petani dapat mengantisipasinya dengan mengurangi produksi lateks, sehinggan dapat mengurangi kerugian yang terlalu dalam,

    ada jga cara lain yang sangat menguntungkan dengan membentuk kelompok tani (
    gapoktan) yang di gagas oleh para ahli ahli pertanian, dan menbentuk suatu perjanjian khusus denagn kramrabet atau perusahan pengolah latetks pohon karet, untuk membeli secara langusung lateks petani tampa melalui penadah, dengan sayarat kelompok tani (gapoktan) tersebut, dapat menghasilkan karet sesuai dengan perjanjian baik banyaknya lateks yang di hasilkan dengan mutu ter baik, sehingga dapat menhguntungkan petani dan kramrabet. dan mutu karet indonesia di mata global dapat menjadi mutu terbaik, dan negara negara besar konsumen lateks pohon karet berlomba-lomba untuk membeli lateks dari indonesia, dan harga lateks nasional menjadi lebih baik. dan petani dapat hidup dengan layak.

  13. NAMA : M.Adlin chandra.s.f
    NIM : D1B010053
    KELAS : Agribisnis (E)
    STATUS : B

    PERMASALAHAN.
    Sadarkah petani karet berapa kerugian yang disebabkan karena getah karet tidak keluar.

    Getah adalah hasil yang diharapkan dari tanaman karet, tetapi kadang kala tanaman karet tidak mengeluarkan getah sama sekali walaupun sudah waktunya berproduksi. Atau ada juga tanaman karet yang semula sudah berproduksi ( mengeluarkan getah) tiba tiba getah tidak keluar lagi, padahal tanaman tersebut secara fisik tetap tampak sehat dan pertumbuhan tajuk lebih baik dibandingkan dengan tanaman yang normal (mengeluarkan getah).

    SOLUSI.
    ganti tanaman karet dengan benih unggul dan jangan lagi menggunakan benih asalan.!
    Sedangkan apabila tanaman karet yang semula mengeluarkan getah tetapi lambat laun stop tidak mengeluarkan getah lagi, bisa dicurigai disebabkan karena eksploitasi penyadapan yang berlebihan. apalagi disertai dengan penggunaan bahan perangsang getah (ethrel/ ethephon). inilah yang di sebut dengan penyakit Kering Alur Sadap (KAS).

    Tahapan gejala penyakit KAS adalah sebagai beikut :

    • Tidak keluar getah di sebagian alur sadap. Beberapa minggu kemudian
    keseluruhan alur sadap ini kering dan tidak mengeluarkan getah

    • Getah menjadi encer dan Kadar Karet Kering (K3) berkurang

    • Kekeringan menjalar sampai ke kaki gajah baru ke panel sebelahnya

    • Bagian yang kering akan berubah warnanya menjadi cokelat dan kadang-
    kadang terbentuk gum (blendok).

    • Pada gejala lanjut seluruh panel / kulit bidang sadap kering dan pecah-pecah
    hingga mengelupas

    Penyakit KAS merupakan salah satu penyakit penting di perkebunan karet terutama di perkebunan rakyat. Keparahan penyakit ini di perkebunan karet rakyat cukup tinggi yaitu sekitar 12-15 %. Hal ini terutama disebabkan karena kondisi sosial ekonomi petani yaitu: pengetahuan dan kesadaran petani yang kurang terhadap budidaya tanaman serta terbatasnya pendapatan petani untuk melaksanakan pengendalian penyakit.

    Untuk mengetahui adanya indikasi gejala KAS di areal perkebunan karet Saudara, dapat dilakukan deteksi dini penyakit yaitu melakukan sadap tusuk di bawah bidang sadap sampai ke bawah pada pohon karet yang dicurigai. Apabila tidak keluar getah atau getah yang keluar mulai encer maka kemungkinan tanaman tersebut terserang KAS.

    Pada kondisi tersebut perlu segera dilakukan pengendalian yaitu :

    – Menurunkan intensitas penyadapan pada pohon karet yang telah mulai
    menunjukkan kering alur sadap

    – Menghindari atau menurunkan intensitas penyadapan pada musim gugur daun
    alami

    – Bidang sadap yang mati dan kulit kering bisa dipulihkan kembali dengan
    pemberian formulasi oleokimia (Antico F-96, No. BB)

    – Pemberian oleokimia dengan cara mengerok kulit bidang sadap yang sakit
    kemudian dioles segera setelah pengerokan selesai

    – Satu tahun kemudian kulit yang baru bisa disadap kembali

    – Penambahan 160 gram pupuk KCl /pohon/tahun dari dosis anjuran

    Sebagai gambaran umum, kerugian ekonomi yang disebabkan karena KAS di areal perkebunan karet di Indonesia dengan tingkat keparahan penyakit 13 % adalah sekitar 5 triliun rupiah pertahun. Perhitungan kerugian ekonomi akibat KAS adalah sebagai berikut :
    Kerugian satu pohon

    – Produksi getah rata-rata satu hektar/tahun : 1.200 kg

    – Produksi getah rata-rata satu pohon/tahun : 1.200 kg : 450 pohon = 2.7 kg

    – Produksi getah satu pohon selama 20 tahun : 20 tahun x 2.7 kg = 54 kg

    – Nilai kehilangan finansil selama 20 tahun : 54 kg x Rp. 17.000 = Rp. 918.000.-
    Kerugian akibat KAS di Indonesia

    – Luas kebun tahun 2008 : 3.438.638 ha

    – Taksiran keparahan penyakit KAS : 13 %

    – Luas yang terserang penyakit KAS : 13 % x 3.438.638 ha = 447.023 ha

    – Kehilangan produksi getah per tahun : 447.023 ha x 600 kg =268.213.400 kg

    – Nilai kehilangan finansil per tahun : 268.213.400 kg x Rp. 17.000.=
    Rp.4.559.634.600.000.-

    Selanjutnya, petani hendaknya perlu melakukan pengamatan setiap hari sadap terutama pada klon-klon yang rentan/produksi tinggi atau kebun-kebun yang disadap dengan intensitas tinggi dan disertai dengan penggunaan Ethrel. Pengamatan intensif terutama dilakukan pada tanaman yang disadap pada saat tanaman meranggas dan membentuk daun muda. Tanaman yang diistirahatkan atau yang dioles dengan bahan perangsang pertumbuhan kulit perlu diperiksa kembali setelah lebih satu tahun untuk mengetahui apakah kulit pulihan bekas kekeringan telah dapat disadap kembali.

    Mengingat pentingnya penyakit ini dan dampak ekonomi yang ditimbulkan, petani perlu mengingat dua hal, yaitu : lakukan pemupuan sesuai dengan dosis anjuran dan lakukan penyadapan sesuai dengan rekomendasi berdasarkan umur tanaman.!

    Sumber.
    DIREKTORAT PERLINDUNGAN PERKEBUNAN
    DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN – KEMENTERIAN PERTANIAN

  14. NAMA : NURAINI
    NIM : D1B010008
    PRODI : AGRIBISNIS
    STATUS : BARU

    PENGEMBANGAN AGRIBISNIS PERKEBUNAN KARET DI KABUPATEN SAROLANGUN PROPINSI JAMBI

    Fenomena yang dijadikan obyek penelitian adalah pengembangan agribisnis sub sektor perkebunan karet di Kabupaten Sarolangun yang dianggap belum optimal. Meskipun belum optimal, namun dari data PDRB diketahui bahwa kontribusi Sub Sektor Perkebunan Karet tergolong besar bila dibandingkan dengan kontribusi sub-sub sektor lainnya, karena produksi Sub Sektor Perkebunan Karet di Kabupaten Sarolangsung termasuk yang paling tinggi di antara produksi sub-sub Sektor Sektor Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan. Dengan pertumbuhan produksi yang tinggi itu, mestinya Sub Sektor Perkebunan Karet di Kabupaten Sarolangun dapat dikembangkan menjadi sektor unggulan, karena sub sektor tersebut potensial untuk menjadi sektor unggulan dalam menumbuhkan perekonomian daerah. Dan untuk menjadikan sub sektor perkebunan karet di Kabupaten Sarolangun sebagai sektor unggulan jelas diperlukan suatu kebijakan dan strategi pengembangan sub sektor tersebut.
    Berdasarkan Fenomena yang ada dapat disimpulkan bahwa:
    1. Sumber daya ekonomi perkebunan karet yang terdapat dalam lingkungan strategis belum tergarap secara optimal karena terkendala oleh kondisi tanaman karet yang tua dan rusak; sumber daya sosial perkebunan karet belum dioptimalkan untuk mengembangkan perkebunan karet sebagai sektor unggulan karena partisipasi para petani perkebunan masih redah; pembangunan infrastruktur perkebunan untuk mendukung pengembangan perkebunan karet sebagai sektor unggulan sangat terbatas; cukup banyak kendala pengembangan pemasaran hasil perkebunan karet; dan arah kebijakan Pemuda Kabupaten Sarolangun dalam mengelola potensi dan permasalahan perkebunan karet sebagai sektor unggulan masih belum jelas.
    2. Pemuda Kabupaten Sarolangun belum mengidentifikasi dan menetapkan secara jelas faktor kunci keberhasilan dalam mengembangkan sumber daya perkebunan karet sebagai sektor unggulan.
    3. Belum tercantum rumusan Visi Pengembangan Agribisnis Perkebunan Karet sebagai sektor unggulan; dan belum ada deskripsi Misi Pengembangan Agribisnis Perkebunan Karet sebagai sektor unggulan.
    4. Kebijakan yang menunjukkan rumusan tujuan pembangunan yang perlu dicapai melalui pengembangkan agribinis perkebunan karet belum jelas; dan oleh sebab itu sasaran pembangunan yang perlu dicapai melalui pengembangkan agribinis perkebunan karet juga tidak jelas.
    5. Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Sarolangun tidak memiliki formulasi strategi pengembangan agribisnis perkebunan karet sebagai sektor unggulan; dan Dinas Kehutanan dan Perkebunan tidak memiliki prioritas strategi untuk segera menyikapi persoalan-persoalan pengembangan agribisnis perkebunan karet sebagai sektor unggulan.
    6. Belum ada pelaksanaan crash program pengembangan agribisnis perkebunan karet sebagai sektor unggulan yang benar-benar terintegrasi, efektif dan efisien; dan belum ada perencanaan program jangka menengah pengembangan agribisnis perkebunan karet yang dapat menjamin terwujudnya pengembangan agribisnis perkebunan karet sebagai sektor unggulan.
    7. Dengan demikian secara umum diperoleh gambaran aktual bahwa strategi pengembangan agribisnis perkebunan karet di Kabupaten Sarolangun belum terpola secara terarah, terpadu dan berkesinambungan.

    SOLUSI PENANGANAN PERMASALAHAN INDUSTRI KARET DI KABUPATEN SAROLANGUN
    produksi Sub Sektor Perkebunan Karet di Kabupaten Sarolangsung termasuk yang paling tinggi di antara produksi sub-sub Sektor Sektor Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan. karena sub sektor tersebut potensial untuk menjadi sektor unggulan dalam menumbuhkan perekonomian daerah. Dan untuk menjadikan sub sektor perkebunan karet di Kabupaten Sarolangun sebagai sektor unggulan jelas diperlukan suatu kebijakan dan strategi pengembangan sub sektor tersebut.
    Sumber daya ekonomi perkebunan karet yaitu dengan adanya program peremajaan karet merupakan program yag telah terbukti bisa meningkatkan pendapatan masyarakat, yang berarti bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Maka dari itu, program peremajaan karet ini penting untuk dilanjutkan, yang mana karet merupakan komoditi prospektif. Terlebih lagi karet merupakan salah satu komoditi unggulan dari Provinsi Jambi, Namun disamping itu Permasalahan utama dalam peremajaan karet di Kabupaten Sarolangun adalah permasalahan permodalan. Selain dana dari APBD Kabupaten Sarolangun, APBD Provinsi Jambi dan APBN, kredit dari bank merupakan sektor utama yang diharapkan mampu mengatasi kekurangan atau keterbatasan modal dalam peremajaan karet dimaksud Penyerapan kredit dari perbankan masih rendah. Penyebab utama rendahnya adalah karena para petani karet sebagian besar tidak mimiliki sertifikat sebagai jaminan atau agunan, sehingga mereka tidak memperoleh kredit dari bank Pemerintah Kabupaten Sarolangun dan Pemerintah Provinsi Jambi sudah mengupayakan jalan keluar kredit perbankan bagi petani karet untuk meremajakan karetnya, namun Wapres (pemerintah pusat) diharapkan memberikan kontribusi yang lebih besar lagi dalam mengatasi permodalan petani karet dalam melakukan peremajaan karet melalui kredit perbankan. Serta perlunya pemberitahuan terhadap teknologi dan pembudidayaan karet dengan baik agar dapat mencapai hasil yang maksimal. Memperbaiki pola pemesaran hasil perkebunan karet sehingga dapat mensejahterakan petani.

    SUMBER:
    http://tesisdisertasi.blogspot.com/2010/02/pengembangan-agribisnis-perkebunan.html : Diakses 01-Desember-2011, pukul 20.00 wib
    http://www.jambiprov.go.id/?show=berita&id=1705&kategori=berita&title=WAPRES%20:%20PEJABAT%20HARUS%20LEBIH%20BANYAK%20MENDENGARKAN%20ASPIRASI%20MASYARAKAT : Diakses 01-Desember-2011, pukul 20.00
    http://binaukm.com/2011/08/solusi-masalah-kemungkinan-krisis-bibit-karet/ :Diakses 01-Desember-2011, pukul 20.00 wib

  15. NAMA : NURAINI
    NIM : D1B010008
    PRODI : AGRIBISNIS
    STATUS : BARU

    PENGEMBANGAN AGRIBISNIS PERKEBUNAN KARET DI KABUPATEN SAROLANGUN PROPINSI JAMBI

    Fenomena yang dijadikan obyek penelitian adalah pengembangan agribisnis sub sektor perkebunan karet di Kabupaten Sarolangun yang dianggap belum optimal. Meskipun belum optimal, namun dari data PDRB diketahui bahwa kontribusi Sub Sektor Perkebunan Karet tergolong besar bila dibandingkan dengan kontribusi sub-sub sektor lainnya, karena produksi Sub Sektor Perkebunan Karet di Kabupaten Sarolangsung termasuk yang paling tinggi di antara produksi sub-sub Sektor Sektor Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan. Dengan pertumbuhan produksi yang tinggi itu, mestinya Sub Sektor Perkebunan Karet di Kabupaten Sarolangun dapat dikembangkan menjadi sektor unggulan, karena sub sektor tersebut potensial untuk menjadi sektor unggulan dalam menumbuhkan perekonomian daerah. Dan untuk menjadikan sub sektor perkebunan karet di Kabupaten Sarolangun sebagai sektor unggulan jelas diperlukan suatu kebijakan dan strategi pengembangan sub sektor tersebut.
    Berdasarkan Fenomena yang ada dapat disimpulkan bahwa:
    1. Sumber daya ekonomi perkebunan karet yang terdapat dalam lingkungan strategis belum tergarap secara optimal karena terkendala oleh kondisi tanaman karet yang tua dan rusak; sumber daya sosial perkebunan karet belum dioptimalkan untuk mengembangkan perkebunan karet sebagai sektor unggulan karena partisipasi para petani perkebunan masih redah; pembangunan infrastruktur perkebunan untuk mendukung pengembangan perkebunan karet sebagai sektor unggulan sangat terbatas; cukup banyak kendala pengembangan pemasaran hasil perkebunan karet; dan arah kebijakan Pemuda Kabupaten Sarolangun dalam mengelola potensi dan permasalahan perkebunan karet sebagai sektor unggulan masih belum jelas.
    2. Pemuda Kabupaten Sarolangun belum mengidentifikasi dan menetapkan secara jelas faktor kunci keberhasilan dalam mengembangkan sumber daya perkebunan karet sebagai sektor unggulan.
    3. Belum tercantum rumusan Visi Pengembangan Agribisnis Perkebunan Karet sebagai sektor unggulan; dan belum ada deskripsi Misi Pengembangan Agribisnis Perkebunan Karet sebagai sektor unggulan.
    4. Kebijakan yang menunjukkan rumusan tujuan pembangunan yang perlu dicapai melalui pengembangkan agribinis perkebunan karet belum jelas; dan oleh sebab itu sasaran pembangunan yang perlu dicapai melalui pengembangkan agribinis perkebunan karet juga tidak jelas.
    5. Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Sarolangun tidak memiliki formulasi strategi pengembangan agribisnis perkebunan karet sebagai sektor unggulan; dan Dinas Kehutanan dan Perkebunan tidak memiliki prioritas strategi untuk segera menyikapi persoalan-persoalan pengembangan agribisnis perkebunan karet sebagai sektor unggulan.
    6. Belum ada pelaksanaan crash program pengembangan agribisnis perkebunan karet sebagai sektor unggulan yang benar-benar terintegrasi, efektif dan efisien; dan belum ada perencanaan program jangka menengah pengembangan agribisnis perkebunan karet yang dapat menjamin terwujudnya pengembangan agribisnis perkebunan karet sebagai sektor unggulan.
    7. Dengan demikian secara umum diperoleh gambaran aktual bahwa strategi pengembangan agribisnis perkebunan karet di Kabupaten Sarolangun belum terpola secara terarah, terpadu dan berkesinambungan.

    SOLUSI PENANGANAN PERMASALAHAN INDUSTRI KARET DI KABUPATEN SAROLANGUN
    produksi Sub Sektor Perkebunan Karet di Kabupaten Sarolangsung termasuk yang paling tinggi di antara produksi sub-sub Sektor Sektor Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan. karena sub sektor tersebut potensial untuk menjadi sektor unggulan dalam menumbuhkan perekonomian daerah. Dan untuk menjadikan sub sektor perkebunan karet di Kabupaten Sarolangun sebagai sektor unggulan jelas diperlukan suatu kebijakan dan strategi pengembangan sub sektor tersebut.
    Sumber daya ekonomi perkebunan karet yaitu dengan adanya program peremajaan karet merupakan program yag telah terbukti bisa meningkatkan pendapatan masyarakat, yang berarti bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Maka dari itu, program peremajaan karet ini penting untuk dilanjutkan, yang mana karet merupakan komoditi prospektif. Terlebih lagi karet merupakan salah satu komoditi unggulan dari Provinsi Jambi, Namun disamping itu Permasalahan utama dalam peremajaan karet di Kabupaten Sarolangun adalah permasalahan permodalan. Selain dana dari APBD Kabupaten Sarolangun, APBD Provinsi Jambi dan APBN, kredit dari bank merupakan sektor utama yang diharapkan mampu mengatasi kekurangan atau keterbatasan modal dalam peremajaan karet dimaksud Penyerapan kredit dari perbankan masih rendah. Penyebab utama rendahnya adalah karena para petani karet sebagian besar tidak mimiliki sertifikat sebagai jaminan atau agunan, sehingga mereka tidak memperoleh kredit dari bank Pemerintah Kabupaten Sarolangun dan Pemerintah Provinsi Jambi sudah mengupayakan jalan keluar kredit perbankan bagi petani karet untuk meremajakan karetnya, namun Wapres (pemerintah pusat) diharapkan memberikan kontribusi yang lebih besar lagi dalam mengatasi permodalan petani karet dalam melakukan peremajaan karet melalui kredit perbankan. Serta perlunya pemberitahuan terhadap teknologi dan pembudidayaan karet dengan baik agar dapat mencapai hasil yang maksimal. Memperbaiki pola pemesaran hasil perkebunan karet sehingga dapat mensejahterakan petani.

    SUMBER:
    http://tesisdisertasi.blogspot.com/2010/02/pengembangan-agribisnis-perkebunan.html : Diakses 01-Desember-2011, pukul 20.00 wib
    http://www.jambiprov.go.id/?show=berita&id=1705&kategori=berita&title=WAPRES%20:%20PEJABAT%20HARUS%20LEBIH%20BANYAK%20MENDENGARKAN%20ASPIRASI%20MASYARAKAT : Diakses 01-Desember-2011, pukul 20.00
    http://binaukm.com/2011/08/solusi-masalah-kemungkinan-krisis-bibit-karet/ :Diakses 01-Desember-2011, pukul 20.00 wib

  16. NAMA : NURAINI
    NIM : D1B010008
    PRODI AGRIBISNIS

    PENGEMBANGAN AGRIBISNIS PERKEBUNAN KARET DI KABUPATEN SAROLANGUN PROPINSI JAMBI

    Fenomena yang dijadikan obyek penelitian adalah pengembangan agribisnis sub sektor perkebunan karet di Kabupaten Sarolangun yang dianggap belum optimal. Meskipun belum optimal, namun dari data PDRB diketahui bahwa kontribusi Sub Sektor Perkebunan Karet tergolong besar bila dibandingkan dengan kontribusi sub-sub sektor lainnya, karena produksi Sub Sektor Perkebunan Karet di Kabupaten Sarolangsung termasuk yang paling tinggi di antara produksi sub-sub Sektor Sektor Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan. Dengan pertumbuhan produksi yang tinggi itu, mestinya Sub Sektor Perkebunan Karet di Kabupaten Sarolangun dapat dikembangkan menjadi sektor unggulan, karena sub sektor tersebut potensial untuk menjadi sektor unggulan dalam menumbuhkan perekonomian daerah. Dan untuk menjadikan sub sektor perkebunan karet di Kabupaten Sarolangun sebagai sektor unggulan jelas diperlukan suatu kebijakan dan strategi pengembangan sub sektor tersebut.
    Berdasarkan Fenomena yang ada dapat disimpulkan bahwa:
    1. Sumber daya ekonomi perkebunan karet yang terdapat dalam lingkungan strategis belum tergarap secara optimal karena terkendala oleh kondisi tanaman karet yang tua dan rusak; sumber daya sosial perkebunan karet belum dioptimalkan untuk mengembangkan perkebunan karet sebagai sektor unggulan karena partisipasi para petani perkebunan masih redah; pembangunan infrastruktur perkebunan untuk mendukung pengembangan perkebunan karet sebagai sektor unggulan sangat terbatas; cukup banyak kendala pengembangan pemasaran hasil perkebunan karet; dan arah kebijakan Pemuda Kabupaten Sarolangun dalam mengelola potensi dan permasalahan perkebunan karet sebagai sektor unggulan masih belum jelas.
    2. Pemuda Kabupaten Sarolangun belum mengidentifikasi dan menetapkan secara jelas faktor kunci keberhasilan dalam mengembangkan sumber daya perkebunan karet sebagai sektor unggulan.
    3. Belum tercantum rumusan Visi Pengembangan Agribisnis Perkebunan Karet sebagai sektor unggulan; dan belum ada deskripsi Misi Pengembangan Agribisnis Perkebunan Karet sebagai sektor unggulan.
    4. Kebijakan yang menunjukkan rumusan tujuan pembangunan yang perlu dicapai melalui pengembangkan agribinis perkebunan karet belum jelas; dan oleh sebab itu sasaran pembangunan yang perlu dicapai melalui pengembangkan agribinis perkebunan karet juga tidak jelas.
    5. Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Sarolangun tidak memiliki formulasi strategi pengembangan agribisnis perkebunan karet sebagai sektor unggulan; dan Dinas Kehutanan dan Perkebunan tidak memiliki prioritas strategi untuk segera menyikapi persoalan-persoalan pengembangan agribisnis perkebunan karet sebagai sektor unggulan.
    6. Belum ada pelaksanaan crash program pengembangan agribisnis perkebunan karet sebagai sektor unggulan yang benar-benar terintegrasi, efektif dan efisien; dan belum ada perencanaan program jangka menengah pengembangan agribisnis perkebunan karet yang dapat menjamin terwujudnya pengembangan agribisnis perkebunan karet sebagai sektor unggulan.
    7. Dengan demikian secara umum diperoleh gambaran aktual bahwa strategi pengembangan agribisnis perkebunan karet di Kabupaten Sarolangun belum terpola secara terarah, terpadu dan berkesinambungan.

    SOLUSI PENANGANAN PERMASALAHAN INDUSTRI KARET DI KABUPATEN SAROLANGUN
    produksi Sub Sektor Perkebunan Karet di Kabupaten Sarolangsung termasuk yang paling tinggi di antara produksi sub-sub Sektor Sektor Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan. karena sub sektor tersebut potensial untuk menjadi sektor unggulan dalam menumbuhkan perekonomian daerah. Dan untuk menjadikan sub sektor perkebunan karet di Kabupaten Sarolangun sebagai sektor unggulan jelas diperlukan suatu kebijakan dan strategi pengembangan sub sektor tersebut.
    Sumber daya ekonomi perkebunan karet yaitu dengan adanya program peremajaan karet merupakan program yag telah terbukti bisa meningkatkan pendapatan masyarakat, yang berarti bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Maka dari itu, program peremajaan karet ini penting untuk dilanjutkan, yang mana karet merupakan komoditi prospektif. Terlebih lagi karet merupakan salah satu komoditi unggulan dari Provinsi Jambi, Namun disamping itu Permasalahan utama dalam peremajaan karet di Kabupaten Sarolangun adalah permasalahan permodalan. Selain dana dari APBD Kabupaten Sarolangun, APBD Provinsi Jambi dan APBN, kredit dari bank merupakan sektor utama yang diharapkan mampu mengatasi kekurangan atau keterbatasan modal dalam peremajaan karet dimaksud Penyerapan kredit dari perbankan masih rendah. Penyebab utama rendahnya adalah karena para petani karet sebagian besar tidak mimiliki sertifikat sebagai jaminan atau agunan, sehingga mereka tidak memperoleh kredit dari bank Pemerintah Kabupaten Sarolangun dan Pemerintah Provinsi Jambi sudah mengupayakan jalan keluar kredit perbankan bagi petani karet untuk meremajakan karetnya, namun Wapres (pemerintah pusat) diharapkan memberikan kontribusi yang lebih besar lagi dalam mengatasi permodalan petani karet dalam melakukan peremajaan karet melalui kredit perbankan. Serta perlunya pemberitahuan terhadap teknologi dan pembudidayaan karet dengan baik agar dapat mencapai hasil yang maksimal. Memperbaiki pola pemesaran hasil perkebunan karet sehingga dapat mensejahterakan petani.

    SUMBER:
    http://tesisdisertasi.blogspot.com/2010/02/pengembangan-agribisnis-perkebunan.html : Diakses 01-Desember-2011, pukul 20.00 wib
    http://www.jambiprov.go.id/?show=berita&id=1705&kategori=berita&title=WAPRES%20:%20PEJABAT%20HARUS%20LEBIH%20BANYAK%20MENDENGARKAN%20ASPIRASI%20MASYARAKAT : Diakses 01-Desember-2011, pukul 20.00
    http://binaukm.com/2011/08/solusi-masalah-kemungkinan-krisis-bibit-karet/ :Diakses 01-Desember-2011, pukul 20.00 wib

  17. NAMA :NURAINI
    NIM :D1B010008
    PRODI :AGRIBISNIS
    STATUS :BARU
    PENGEMBANGAN AGRIBISNIS PERKEBUNAN KARET DI KABUPATEN SAROLANGUN PROPINSI JAMBI

    Fenomena yang dijadikan obyek penelitian adalah pengembangan agribisnis sub sektor perkebunan karet di Kabupaten Sarolangun yang dianggap belum optimal. Meskipun belum optimal, namun dari data PDRB diketahui bahwa kontribusi Sub Sektor Perkebunan Karet tergolong besar bila dibandingkan dengan kontribusi sub-sub sektor lainnya, karena produksi Sub Sektor Perkebunan Karet di Kabupaten Sarolangsung termasuk yang paling tinggi di antara produksi sub-sub Sektor Sektor Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan. Dengan pertumbuhan produksi yang tinggi itu, mestinya Sub Sektor Perkebunan Karet di Kabupaten Sarolangun dapat dikembangkan menjadi sektor unggulan, karena sub sektor tersebut potensial untuk menjadi sektor unggulan dalam menumbuhkan perekonomian daerah. Dan untuk menjadikan sub sektor perkebunan karet di Kabupaten Sarolangun sebagai sektor unggulan jelas diperlukan suatu kebijakan dan strategi pengembangan sub sektor tersebut.
    Berdasarkan Fenomena yang ada dapat disimpulkan bahwa:
    1. Sumber daya ekonomi perkebunan karet yang terdapat dalam lingkungan strategis belum tergarap secara optimal karena terkendala oleh kondisi tanaman karet yang tua dan rusak; sumber daya sosial perkebunan karet belum dioptimalkan untuk mengembangkan perkebunan karet sebagai sektor unggulan karena partisipasi para petani perkebunan masih redah; pembangunan infrastruktur perkebunan untuk mendukung pengembangan perkebunan karet sebagai sektor unggulan sangat terbatas; cukup banyak kendala pengembangan pemasaran hasil perkebunan karet; dan arah kebijakan Pemuda Kabupaten Sarolangun dalam mengelola potensi dan permasalahan perkebunan karet sebagai sektor unggulan masih belum jelas.
    2. Pemuda Kabupaten Sarolangun belum mengidentifikasi dan menetapkan secara jelas faktor kunci keberhasilan dalam mengembangkan sumber daya perkebunan karet sebagai sektor unggulan.
    3. Belum tercantum rumusan Visi Pengembangan Agribisnis Perkebunan Karet sebagai sektor unggulan; dan belum ada deskripsi Misi Pengembangan Agribisnis Perkebunan Karet sebagai sektor unggulan.
    4. Kebijakan yang menunjukkan rumusan tujuan pembangunan yang perlu dicapai melalui pengembangkan agribinis perkebunan karet belum jelas; dan oleh sebab itu sasaran pembangunan yang perlu dicapai melalui pengembangkan agribinis perkebunan karet juga tidak jelas.
    5. Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Sarolangun tidak memiliki formulasi strategi pengembangan agribisnis perkebunan karet sebagai sektor unggulan; dan Dinas Kehutanan dan Perkebunan tidak memiliki prioritas strategi untuk segera menyikapi persoalan-persoalan pengembangan agribisnis perkebunan karet sebagai sektor unggulan.
    6. Belum ada pelaksanaan crash program pengembangan agribisnis perkebunan karet sebagai sektor unggulan yang benar-benar terintegrasi, efektif dan efisien; dan belum ada perencanaan program jangka menengah pengembangan agribisnis perkebunan karet yang dapat menjamin terwujudnya pengembangan agribisnis perkebunan karet sebagai sektor unggulan.
    7. Dengan demikian secara umum diperoleh gambaran aktual bahwa strategi pengembangan agribisnis perkebunan karet di Kabupaten Sarolangun belum terpola secara terarah, terpadu dan berkesinambungan.

    SOLUSI PENANGANAN PERMASALAHAN INDUSTRI KARET DI KABUPATEN SAROLANGUN
    produksi Sub Sektor Perkebunan Karet di Kabupaten Sarolangsung termasuk yang paling tinggi di antara produksi sub-sub Sektor Sektor Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan. karena sub sektor tersebut potensial untuk menjadi sektor unggulan dalam menumbuhkan perekonomian daerah. Dan untuk menjadikan sub sektor perkebunan karet di Kabupaten Sarolangun sebagai sektor unggulan jelas diperlukan suatu kebijakan dan strategi pengembangan sub sektor tersebut.
    Sumber daya ekonomi perkebunan karet yaitu dengan adanya program peremajaan karet merupakan program yag telah terbukti bisa meningkatkan pendapatan masyarakat, yang berarti bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Maka dari itu, program peremajaan karet ini penting untuk dilanjutkan, yang mana karet merupakan komoditi prospektif. Terlebih lagi karet merupakan salah satu komoditi unggulan dari Provinsi Jambi, Namun disamping itu Permasalahan utama dalam peremajaan karet di Kabupaten Sarolangun adalah permasalahan permodalan. Selain dana dari APBD Kabupaten Sarolangun, APBD Provinsi Jambi dan APBN, kredit dari bank merupakan sektor utama yang diharapkan mampu mengatasi kekurangan atau keterbatasan modal dalam peremajaan karet dimaksud Penyerapan kredit dari perbankan masih rendah. Penyebab utama rendahnya adalah karena para petani karet sebagian besar tidak mimiliki sertifikat sebagai jaminan atau agunan, sehingga mereka tidak memperoleh kredit dari bank Pemerintah Kabupaten Sarolangun dan Pemerintah Provinsi Jambi sudah mengupayakan jalan keluar kredit perbankan bagi petani karet untuk meremajakan karetnya, namun Wapres (pemerintah pusat) diharapkan memberikan kontribusi yang lebih besar lagi dalam mengatasi permodalan petani karet dalam melakukan peremajaan karet melalui kredit perbankan. Serta perlunya pemberitahuan terhadap teknologi dan pembudidayaan karet dengan baik agar dapat mencapai hasil yang maksimal. Memperbaiki pola pemesaran hasil perkebunan karet sehingga dapat mensejahterakan petani.

    SUMBER:
    http://tesisdisertasi.blogspot.com/2010/02/pengembangan-agribisnis-perkebunan.html : Diakses 01-Desember-2011, pukul 20.00 wib
    http://www.jambiprov.go.id/?show=berita&id=1705&kategori=berita&title=WAPRES%20:%20PEJABAT%20HARUS%20LEBIH%20BANYAK%20MENDENGARKAN%20ASPIRASI%20MASYARAKAT : Diakses 01-Desember-2011, pukul 20.00
    http://binaukm.com/2011/08/solusi-masalah-kemungkinan-krisis-bibit-karet/ :Diakses 01-Desember-2011, pukul 20.00 wib

  18. NAMA :NURAINI
    NIM :D1B010008
    PRODI :AGRIBISNIS
    STATUS :BARU
    PENGEMBANGAN AGRIBISNIS PERKEBUNAN KARET DI KABUPATEN SAROLANGUN PROPINSI JAMBI

    Fenomena yang dijadikan obyek penelitian adalah pengembangan agribisnis sub sektor perkebunan karet di Kabupaten Sarolangun yang dianggap belum optimal. Meskipun belum optimal, namun dari data PDRB diketahui bahwa kontribusi Sub Sektor Perkebunan Karet tergolong besar bila dibandingkan dengan kontribusi sub-sub sektor lainnya, karena produksi Sub Sektor Perkebunan Karet di Kabupaten Sarolangsung termasuk yang paling tinggi di antara produksi sub-sub Sektor Sektor Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan. Dengan pertumbuhan produksi yang tinggi itu, mestinya Sub Sektor Perkebunan Karet di Kabupaten Sarolangun dapat dikembangkan menjadi sektor unggulan, karena sub sektor tersebut potensial untuk menjadi sektor unggulan dalam menumbuhkan perekonomian daerah. Dan untuk menjadikan sub sektor perkebunan karet di Kabupaten Sarolangun sebagai sektor unggulan jelas diperlukan suatu kebijakan dan strategi pengembangan sub sektor tersebut.
    Berdasarkan Fenomena yang ada dapat disimpulkan bahwa:
    1. Sumber daya ekonomi perkebunan karet yang terdapat dalam lingkungan strategis belum tergarap secara optimal karena terkendala oleh kondisi tanaman karet yang tua dan rusak; sumber daya sosial perkebunan karet belum dioptimalkan untuk mengembangkan perkebunan karet sebagai sektor unggulan karena partisipasi para petani perkebunan masih redah; pembangunan infrastruktur perkebunan untuk mendukung pengembangan perkebunan karet sebagai sektor unggulan sangat terbatas; cukup banyak kendala pengembangan pemasaran hasil perkebunan karet; dan arah kebijakan Pemuda Kabupaten Sarolangun dalam mengelola potensi dan permasalahan perkebunan karet sebagai sektor unggulan masih belum jelas.
    2. Pemuda Kabupaten Sarolangun belum mengidentifikasi dan menetapkan secara jelas faktor kunci keberhasilan dalam mengembangkan sumber daya perkebunan karet sebagai sektor unggulan.
    3. Belum tercantum rumusan Visi Pengembangan Agribisnis Perkebunan Karet sebagai sektor unggulan; dan belum ada deskripsi Misi Pengembangan Agribisnis Perkebunan Karet sebagai sektor unggulan.
    4. Kebijakan yang menunjukkan rumusan tujuan pembangunan yang perlu dicapai melalui pengembangkan agribinis perkebunan karet belum jelas; dan oleh sebab itu sasaran pembangunan yang perlu dicapai melalui pengembangkan agribinis perkebunan karet juga tidak jelas.
    5. Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Sarolangun tidak memiliki formulasi strategi pengembangan agribisnis perkebunan karet sebagai sektor unggulan; dan Dinas Kehutanan dan Perkebunan tidak memiliki prioritas strategi untuk segera menyikapi persoalan-persoalan pengembangan agribisnis perkebunan karet sebagai sektor unggulan.
    6. Belum ada pelaksanaan crash program pengembangan agribisnis perkebunan karet sebagai sektor unggulan yang benar-benar terintegrasi, efektif dan efisien; dan belum ada perencanaan program jangka menengah pengembangan agribisnis perkebunan karet yang dapat menjamin terwujudnya pengembangan agribisnis perkebunan karet sebagai sektor unggulan.
    7. Dengan demikian secara umum diperoleh gambaran aktual bahwa strategi pengembangan agribisnis perkebunan karet di Kabupaten Sarolangun belum terpola secara terarah, terpadu dan berkesinambungan.

    SOLUSI PENANGANAN PERMASALAHAN INDUSTRI KARET DI KABUPATEN SAROLANGUN
    produksi Sub Sektor Perkebunan Karet di Kabupaten Sarolangsung termasuk yang paling tinggi di antara produksi sub-sub Sektor Sektor Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan. karena sub sektor tersebut potensial untuk menjadi sektor unggulan dalam menumbuhkan perekonomian daerah. Dan untuk menjadikan sub sektor perkebunan karet di Kabupaten Sarolangun sebagai sektor unggulan jelas diperlukan suatu kebijakan dan strategi pengembangan sub sektor tersebut.
    Sumber daya ekonomi perkebunan karet yaitu dengan adanya program peremajaan karet merupakan program yag telah terbukti bisa meningkatkan pendapatan masyarakat, yang berarti bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Maka dari itu, program peremajaan karet ini penting untuk dilanjutkan, yang mana karet merupakan komoditi prospektif. Terlebih lagi karet merupakan salah satu komoditi unggulan dari Provinsi Jambi, Namun disamping itu Permasalahan utama dalam peremajaan karet di Kabupaten Sarolangun adalah permasalahan permodalan. Selain dana dari APBD Kabupaten Sarolangun, APBD Provinsi Jambi dan APBN, kredit dari bank merupakan sektor utama yang diharapkan mampu mengatasi kekurangan atau keterbatasan modal dalam peremajaan karet dimaksud Penyerapan kredit dari perbankan masih rendah. Penyebab utama rendahnya adalah karena para petani karet sebagian besar tidak mimiliki sertifikat sebagai jaminan atau agunan, sehingga mereka tidak memperoleh kredit dari bank Pemerintah Kabupaten Sarolangun dan Pemerintah Provinsi Jambi sudah mengupayakan jalan keluar kredit perbankan bagi petani karet untuk meremajakan karetnya, namun Wapres (pemerintah pusat) diharapkan memberikan kontribusi yang lebih besar lagi dalam mengatasi permodalan petani karet dalam melakukan peremajaan karet melalui kredit perbankan. Serta perlunya pemberitahuan terhadap teknologi dan pembudidayaan karet dengan baik agar dapat mencapai hasil yang maksimal. Memperbaiki pola pemesaran hasil perkebunan karet sehingga dapat mensejahterakan petani.

    SUMBER:
    http://tesisdisertasi.blogspot.com/2010/02/pengembangan-agribisnis-perkebunan.html : Diakses 01-Desember-2011, pukul 20.00 wib
    http://www.jambiprov.go.id/?show=berita&id=1705&kategori=berita&title=WAPRES%20:%20PEJABAT%20HARUS%20LEBIH%20BANYAK%20MENDENGARKAN%20ASPIRASI%20MASYARAKAT : Diakses 01-Desember-2011, pukul 20.00
    http://binaukm.com/2011/08/solusi-masalah-kemungkinan-krisis-bibit-karet/ :Diakses 01-Desember-2011, pukul 20.00 wib

  19. Nama ;Ummil Mukminin
    Nim ; D1B010038
    Kelas ; D agribisnis
    Permasalahan pengembangan agroindustri karet di Muaro tebo
    MUARA TEBO- Rencana pengembangan kebun karet untuk Kabupaten Tebo tahun 2009 ini akan dilanjutkan dengan luas total seluruhnya sebanyak 2.975 Ha, masing-masing dengan dana yang diambil dari APBD Kabupaten Tebo seluas 400 Ha, dari APBD Provinsi seluas 2.500 Ha dan dari APBN (Dana Tugas Pembantu) seluas 75 Ha.
    Hal ini disampaikan oleh Bupati Tebo Drs.H.A.Majid Muas MM disela-sela acara Kunjungan Kerja Bapak Gubernur Jambi di Kabupaten Tebo dalam rangka tanam perdana program pengembangan Kebun Karet Rakyat tahun anggaran 2009 pada sabtu (04/04) lalu “Program pengembangan kebun karet ini akan terus dilanjutkan pada tahun yang akan datang baik dengan dana APBD Kabupaten Tebo, APBD Provinsi dan APBN guna menunjang pilar pembangunan salah satunya adalah ekonomi kerakyatan,” ungkap Bupati ketika itu.
    Bupati menjelaskan program pengembangan kebun karet rakyat ini khusus di Kabupaten Tebo sebenarnya telah dimulai sejak tahun 2001 lalu dengan sumber dana dari APBD Kabupaten Tebo dengan luas 108 Ha, kemudian dilanjutkan tahun 2002 seluas 750 Ha, tahun 2003 seluas 895 Ha, tahun 2004 seluas 650 ha, tahun 2005 seluas 600 Ha, tahun 2007 seluas 300 Ha dan tahun 2008 seluas 660 Ha. “Untuk tahun 2006/2007 kegiatan pengembangan kebun karet ini didanai oleh APBD Provinsi seluas 2.402 Ha dan tahun 2008 seluas 400 Ha sedangkan dari APBN tahun 2008 seluas 105 Ha,” terang Bupati lagiSehingga Bupati menyebutkan total luas pengembangan kebun karet rakyat di Kabupaten Tebo sampai dengan tahun 2008 adalah seluas 6.870 ha yang tersebar di seluruh wilayah Desa dan Kecamatan yang ada di Kabupaten Tebo.Bupati menambahkan kegiatan itu merupakan sebagian upaya pemerintah Provinsi Jambi dan pemkab Tebo dalam peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Tebo. “Dengan ini saya berharap agar seluruh lapisan masyarakat dapat mendukung program ini maupun program lain sehingga dapat berjalan lancar, tepat sasaran dan dapat mencapai tujuan secara optimal,” tandasnya. (infojambi.com/SUK), Sumber : infojambi.com
    Permasalahan dalam agribisnis Karet
    1. kualitas getah karet. Jika kualitas getah karet ini dapat ditingkatkan tentunya akan meningkatkan nilai jual kepada industri sehingga akan meningkatkan pendapatan petani. Begitu pula untuk industri crumb rubber, peningkatan kualitas getah karet akan mempermudah proses produksi sehingga dapat mengurangi biaya. Selain itu, bahan baku karet yang bagus juga akan menghasilkan produk crumb rubber yang lebih baik sehingga akan meningkatkan daya saing produk dari pesaing-pesaing internasional. Untuk itu diperlukan peran serta pemerintah dalam bantuan penyediaan bibit karet serta penyuluhan mengenai pemeliharaan yang tepat sehingga dapat mencapai hasil yang maksimal.
    2. Masalah petani juga tertuju pada harga karet yang masih rendah hal ini disebab kan karna harga kurang stabil. Diharapkan luasan kebun karet rakyat yang diremajakan akan terus meningkat, sehingga produksinya juga akan terus mengalami peningkatan. ‘’Untuk, salah satu daerah yang menjadi sentra produksi karet, yang telah memberikan kontribusi nyata dalam peremajaan kebun karet. Kontribusi lain dari perkebunan karet ini, yakni berkembangnya penangkar bibit karet secara pesat di Provinsi Jambi. Dengan demikian diharapkan akan dapat memenuhi kebutuhan bibit karet dalam peremajaan kebun karet, khususnya eks plasma PTPN VI
    3. Permainan Spikulan
    Dulu pemain di pasar finansial, seperti pasar modal, obligisi, valuta adalah orang / lemabaga tertentu, sedangkan yang bermain di pasar komoditi orang tertentu pula, sekarang pemodal / spikulan yang bermain di pasar finansial, juga bermain di pasar komoditi, sehingga naik turunya harga di pasar komoditi, suka aneh-aneh, karena ada pengaruh dari pasar finansial, ini yang terjadi di harga komoditi tahun 2008, yang harga melambung-lambung tidak karukaruan, dan menjelang tahun 2009 turun pula tidak karukaruan.
    Solusi : jika pemerintah ingin Provinsi Jambi mampu menghasilkan karet alam yang dapat memenuhi permintaan pasar dunia, faktor SDM harus di tingkatkan baik dalam pengetahuan dan keterampilan dan untuk masalah ke-2 pemerintah dapat menyediakan jaminan keuangan yang baik dan tidak mempersulit proses pinjaman di koperasi
    Daftar pustaka
    http://infokaretalamindonesia.blogspot.com/2009/04/karet-di-kabupaten-tebo.html

  20. NAMA : AAN MASHUDI
    NIM : D1B010039
    KELAS : AGRIBISNIS (D)
    PERMASALAHAN KARET PROVINSI JAMBI
    Komoditi karet merupakan salah satu unggulan perkebunan di Provinsi Jambi karena karet menjadi sumber pendapatan daerah dan merupakan sumber pendapatan sebahagian besar petani. Walaupun akhir-akhir ini harga karet mengalami penurunan tetapi petani di hampir semua kabupaten tetap mengusahakan karet sesuai dengan potensi alam dan sumberdaya manusianya. Sebagaimana dijelaskan Gubernur Jambi H Zulkifli Nurdin hampir di setiap kesempatannya mengatakan, akibat pengaruh krisis finansial di Amerika Serikat yang berimbas terhadap perekonomian dunia juga dirasakan oleh para petani karet di Jambi. Harga karet masih anjlok sekitar Rp3.500 per-kg, sebelum krisis harga karet mencapai sekitar Rp12.000 perkg. Hal ini akibat banyaknya industri mobil di luar negeri seperti di Amerika tutup, industri ban mengurangi produksinya sehingga berimbas menurunnya permintaan terhadap karet alam. Lain halnya dengan harga sawit saat ini sudah mulai membaik, meskipun belum kembali normal, karena sawit termasuk kebutuhan pokok.
    Petani diminta untuk bersabar, karena dampak krisis tersebut tidak hanya dialami oleh petani Jambi, tetapi hampir seluruh dunia mengalaminya, suatu saat nanti kembali akan normal, dia mengharapkan. Saat membuka Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Provinsi Jambi Tahun 2009 belum lama ini di Ruang Pola Kantor Gubernur Jambi dia mengatakan, pertumbuhan ekonomi dunia terus direvisi menurun dimana pada Januari 2008 pertumbuhan ekonomi dunia sebesar 4,4 persen maka pada Januari 2009 direvisi menjadi 0,5 persen dan Amerika Serikat sendiri pada Januari 2009 pertumbuhannya minus 1,6 persen, Jepang minus 2,6 persen, Eropa minus 2,0 persen dan Negara-negara Asean 2,7 persen.
    Akibat revisi tersebut maka prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia juga terkoneksi dari semula 6,5 persen menjadi 4,0 persen sampai 5,0 persen, begitu juga dengan pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi pada tahun 2008 sebesar 7,16 persen, tertinggi se-Sumatera dan lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 6,1 persen.
    Target pertumbuhan ekonomi Jambi berdasarkan RPJM-D Provinsi Jambi sebesar 7-7,5 persen terkoreksi menjadi 6,5 persen-7 persen, hal ini dikarenakan menurunnya harga komoditi ekspor unggulan Jambi seperti sawit dan karet. Krisis tidak dapat dipastikan kapan akan berakhir. Provinsi Jambi harus sudah bersiap diri untuk menghadapi krisis ini, antara lain dengan mempercepat pelaksanaann APBDtahun2009. Disamping itu dia juga menegaskan, bahwa angka pertumbuhan ekonomi Jambi tersebut bukan asal buat saja atau asal bapak senang, tetapi bersumber dari perhitungan yang dibuat oleh Biro Pusat Statistik (BPS). Justru dengan angka-angka yang menggembirakan tersebut membuat semua pihak menjadi optimis mampu menghadapi terpaan krisis global yang menghantam perekonomian dunia. Saat ini harga karet masih anjlok per-kg hanya Rp3.000 sampai Rp3.500 membuat petani sangat kesulitan, tetapi harga sawit sudah mulai sedikit membaik?kata Gubernur. Program Replanting Karet di Jambi merupakan program yang pro terhadap rakyat, dan akan tetap dilanjutkan. Disamping untuk meningkatkan produksi dari tanaman yang sudah tua untuk diremajakan dengan bibit unggul, juga berdampak terhadap penghijauan, bumi Provinsi Jambi akan menghijau sekaligus sebagai jawaban upaya untuk mengatasi pemanasan global. Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jambi H Tagor Mulia Nasution, mengatakan Permasalahan yang dihadapi pada saat ini adalah rendahnya produktivitas terutama pada perkebunan rakyat yang baru mencapai 776 Kg/Ha/Thn, sedangkan perkebunan besar swasta936Kg/Ha/Thn. Rendahnya tingkat produktivitas antara lain disebabkan karena terbatasnya penggunaan bibit karet unggul, kurang pemeliharaan dan meningkatnya kondisi tanaman karet tua/rusak. Untuk pemecahan masalah tersebut tentu harus malalui pengembangan yang berteknologi. (nor faisal)
    Kendati harga karet belum stabil, tapi salah satu produk unggulan perkebunan di Provinsi Jambi ini, tetap jadi andalan para petani. Bahkan, Gubernur Jambi Drs H Zulkifli Nurdin tetap gigih mempertahankan program Replanting Karet. Diakui Gubernur, hingga saat ini, dampak krisis ekonomi, harga karet masih belum stabil. Saat ini harga karet masih anjlok Rp 3 ribu sampai dengan Rp 3,5 ribu/kg. “Kondisi ini memang membuat petani sangat kesulitan,” ujar Gubernur Jambi, Drs H Zulkifli Nurdin saat membuka Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Provinsi Jambi Tahun 2009 di Ruang Pola Kantor Gubernur Jambi belum lama ini. Gubernur menjelaskan, program Replanting Karet di Jambi merupakan program yang pro terhadap rakyat, dan akan tetap dilanjutkan. Disamping untuk meningkatkan produksi tanaman yang sudah tua dan diremajakan dengan bibit unggul, juga berdampak terhadap penghijauan serta sebagai jawaban upaya untuk mengatasi pemanasan global. Soal karet, Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jambi Ir.H. Tagor Mulia Nasution, MM mengatakan, permasalahan yang dihadapi saat ini adalah rendahnya produktivitas terutama pada perkebunan rakyat yang baru mencapai 776 Kg/Ha/Tahun, sedangkan perkebunan besar swasta 936 Kg/Ha/Tahun. Ia menjelaskan, rendahnya tingkat produktivitas antara lain disebabkan karena terbatasnya penggunaan bibit karet unggul dan kurang pemeliharaan dan meningkatnya kondisi tanaman karet tua/rusak. Untuk pemecahan masalah ini, tentu harus melalui pengembangan yang bertekhnologi.
    Target pengembangan karet tahun 2009, kata dia, seluas 16.500 HA. Upaya percepatan yang telah dilakukan untuk mensukseskan kegiatan ini, antara lain dengan pengorganisasian melalui pembentukan Tim internal Provinsi maupun Kabupaten dan penetapan panitia pengadaan dan penetapan petugas pemeriksa barang. Sedangkan upaya- Pelaksanaan dan mendistribusikannya keseluruh Kabupaten, Mengadakan rapat dengan mengundang seluruh Kepala Dinas yang membidangi Perkebunan Kabupaten dan melakukan Koordinasi dan konsultasi kepada seluruh Bupati se Provinsi Jambi. Upaya lainnya, sambung dia, membuat MOU antara Gubernur Jambi dengan Bupati dalam upaya penegasan kerjasama mensukseskan Program Pengembangan Karet Rakyat Jambi tahun 2009. ”Saat ini sedang berlangsung proses pemilihan penyedia barang untuk pengadaan bibit karet dan direncanakan pada awal Mei 2009 penyaluran bibit karet secara bertahap sudah dapat dilaksanakan. Sosialisasi kegiatan secara berjenjang di tingkat Provinsi, Kabupaten, Kecamatan dan Desa serta Kelompok Tani,” tandasnya. (infojambi.com/Release Humas)

    DAFTAR PUSTAKA
    http://infojambi.com/v.1/ekonomi-a-info-bisnis/5445-meski-harga-anjlok-jambi-tetap-andalkan-karet.html
    http://www.pelita.or.id/baca.php?id=68390

  21. Nama : Ricki alhadad
    Nim : D1B010065
    Kelas : Agribisnis (E)
    Status : B

    Karet merupakan salah satu komoditi perkebunan penting, baik sebagai sumber pendapatan, kesempatan kerja dan devisa, pendorong pertumbuhan ekonomi sentra-sentra baru di wilayah sekitar perkebunan karet maupun pelestarian lingkungan dan sumberdaya hayati. Namun sebagai negara dengan luas areal terbesar dan produksi kedua terbesar dunia, Indonesia masih menghadapi beberapa kendala, yaitu rendahnya produktivitas, terutama karet rakyat yang merupakan mayoritas (91%) areal karet nasional dan ragam produk olahan yang masih terbatas, yang didominasi oleh karet remah (crumb rubber). Rendahnya produktivitas kebun karet rakyat disebabkan oleh banyaknya areal tua, rusak dan tidak produktif, penggunaan bibit bukan klon unggul serta kondisi kebun yang menyerupai hutan. Oleh karena itu perlu upaya percepatan peremajaan karet rakyat dan pengembangan industri hilir.
    Kondisi agribisnis karet saat ini menunjukkan bahwa karet dikelola oleh rakyat, perkebunan negara dan perkebunan swasta. Pertumbuhan karet rakyat masih positif walaupun lambat yaitu 1,58%/tahun, sedangkan areal perkebunan negara dan swasta sama-sama menurun 0,15%/th. Oleh karena itu, tumpuan pengembangan karet akan lebih banyak pada perkebunan rakyat. Namun luas areal kebun rakyat yang tua, rusak dan tidak produktif mencapai sekitar 400 ribu hektar yang memerlukan peremajaan. Persoalannya adalah bahwa belum ada sumber dana yang tersedia untuk peremajaan. Di tingkat hilir, jumlah pabrik pengolahan karet sudah cukup, namun selama 5 tahun mendatang diperkirakan akan diperlukan investasi baru dalam industri pengolahan, baik untuk menghasilkan crumb rubber maupun produk-produk karet lainnya karena produksi bahan baku karet akan meningkat. Kayu karet sebenarnya mempunyai potensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan furnitur tetapi belum optimal, sehingga diperlukan upaya pemanfaatan lebih lanjut.
    Agribisnis karet alam di masa datang akan mempunyai prospek yang makin cerah karena adanya kesadaran akan kelestarian lingkungan dan sumberdaya alam, kecenderungan penggunaan green tyres, meningkatnya industri polimer pengguna karet serta makin langka sumber-sumber minyak bumi dan makin mahalnya harga minyak bumi sebagai bahan pembuatan karet sintetis. Pada tahun 2002, jumlah konsumsi karet dunia lebih tinggi dari produksi. Indonesia akan mempunyai peluang untuk menjadi produsen terbesar dunia karena negara pesaing utama seperti Thailand dan Malaysia makin kekurangan lahan dan makin sulit mendapatkan tenaga kerja yang murah sehingga keunggulan komparatif dan kompetitif Indonesia akan makin baik. Kayu karet juga akan mempunyai prospek yang baik sebagai sumber kayu menggantikan sumber kayu asal hutan. Arah pengembangan karet ke depan lebih diwarnai oleh kandungan IPTEK dan kapital yang makin tinggi agar lebih kompetitif.
    Tujuan pengembangan karet ke depan adalah mempercepat peremajaan karet rakyat dengan menggunakan klon unggul, mengembangkan industri hilir untuk meningkatkan nilai tambah, dan meningkatkan pendapatan petani. Sasaran jangka panjang (2025) adalah:
    (a) Produksi karet mencapai 3,5–4 juta ton yang 25% di antaranya untuk industri dalam negeri;
    (b) Produktivitas meningkat menjadi 1.200-1.500 kg/ha/th dan hasil kayu minimal 300 m3/ha/siklus
    (c) Penggunaan klon unggul (85%)
    (d) Pendapatan petani menjadi US$ 2,000/KK/th dengan tingkat harga 80% dari harga FOB; dan
    (e) Berkembangnya industri hilir berbasis karet.
    Sasaran jangka menengah (2005-2009) adalah
    (a) Produksi karet mencapai 2,3 juta ton yang 10% di antaranya untuk industri dalam negeri
    (b) Produktivitas meningkat menjadi 800 kg/ha/th dan hasil kayu minimal 300 m3/ha/siklus
    (c) Penggunaan klon unggul (55%)
    (d)Pendapatan petani menjadi US$ 1,500/KK/th dengan tingkat harga 75% dari harga FOB; dan
    (e) Berkembangnya industri hilir berbasis karet di sentra-sentra produksi karet.
    Kebijakan yang diperlukan untuk pengembangan agribisnis karet Adalah
    (a) Kebijakan ekonomi makro, yaitu kebijakan moneter berupa penyediaan dana (antara lain CESS model baru) dan fiskal (keringanan pajak dan pungutan lainnya)
    (b) Kebijakan industri dengan prioritas pengembangan industri hilir melalui pengembangan Kawasan Industri Masyarakat Perkebunan (KIMBUN)
    (c) Kebijakan perdagangan internasional yang mengarah kepada perdagangan yang makin bebas dan makin adil;
    (d) Kebijakan pengembangan infrastruktur
    (e) Kebijakan kelembagaan (litbang, pendidikan, perbankan, dll)
    (f) Kebijakan pendayagunaan sumberdaya alam secara efisien dan bijaksana
    (g) Kebijakan pengembangan agribisnis di daerah; dan
    (h) Kebijakan ketahanan pangan yang terkait dengan agribisnis karet.
    Strategi di tingkat “on farm” yang diperlukan adalah
    (a) Penggunaan klon unggul dengan produktivitas tinggi (3000 kg/ha/th)
    (b) Percepatan peremajaan karet tua seluas 400 ribu ha sampai dengan 2009 dan 1,2 juta ha sampai dengan 2025
    (c) Diversifikasi usahatani karet dengan
    tanaman pangan sebagai tanaman sela dan ternak
    (d) Peningkatanefisiensi usaha tani.
    Di tingkat “off farm” adalah :
    (a) Peningkatan kualitas bahan olah karet rakyat (bokar) berdasarkan SNI
    (b) Peningkatan efisiensi pemasaran untuk meningkatkan marjin harga petani
    (c)Penyediaan kredit usaha mikro, kecil dan menengah untuk peremajaan, pengolahan danpemasaran bersama
    (d) Pengembangan infrastruktur
    (e) Peningkatan nilai tambah melalui pengembangan industri hilir; dan
    (f) Peningkatanpendapatan petani melalui perbaikan sistem pemasaran dan lain-lain. Program kegiatan 2005-2009 adalah menerapkan model peremajaan partisipatif dengan pendekatan gerakan swadaya masyarakat (prinsip self help), bukan proyek berbantuan lagi, serta melibatkan seluruh stakeholder.
    Sasaran peremajaan adalah kebun rakyat swadaya dan eks proyek PIR dan
    UPP. Luas areal peremajaan 56 ribu ha per tahun dengan menggunakan klon unggul.
    Total biaya per hektar yang diperlukan selama tahun ke-0 sampai ke-5 adalah sekitar Rp 10.337.600. Sumber pendanaan adalah APBN, APBD, kredit perbankan, hasil penjualan kayu karet petani, GAPKINDO dan swadaya petani.
    Kebutuhan investasi untuk peremajaan selama 2005-2009 untuk areal seluas 336.000 ha adalah sekitar Rp 2,41 triliun, sedangkan selama 2005-2025 untuk areal seluas 1,2 juta ha adalah Rp 8,62 triliun. Kebutuhan dana untuk investasi pada pabrik karet remah dengan kapasitas 70 ton/hari adalah Rp. 25,6 miliar, namun belum perlu segera penambahan pabrik baru. Untuk kayu karet, diperlukan dana sekitar Rp. 2,12 miliar untuk menghasilkan treated sawn timber dengan kapasitas 20m3/hari.
    Kebijakan yang diperlukan untuk percepatan investasi adalah :
    (a) Penciptaan iklim investasi yang makin kondusif seperti pemberian kemudahan dalam proses perijinan, pembebasan pajak (tax holiday) selama tanaman atau pabrik belum berproduksi, pemberian rangsangan kepada pengusaha untuk menghasilkan end product bernilai tambah tinggi yang non-ban, yang prospek pasarnya di dalam negeri cerah, adanya kepastian hukum dan keamanan baik untuk usaha maupun lahan bagi perkebunan, dan penghapusan berbagai pungutan dan beban yang memberatkan iklim usaha
    (b) Pengembangan sarana dan prasarana berupa jalan, jembatan, pelabuhan, alat transportasi, komunikasi, dan sumber energi (tenaga listrik);
    (c) Penyediaan dana dengan menghidupkan kembali pungutan dari hasil produksi/ekspor karet (semacam CESS) yang sangat diperlukan untuk membiayai pengembangan industri hilir, peremajaan, promosi dan peningkatan kapasitas SDM karet
    (d) Pengembangan sistem kemitraan antara petani dan perusahaan, misalnya dengan pola ”PIR Plus”, dimana petani tetap memiliki kebun beserta pohon karetnya, dan ikut sebagai pemegang saham perusahaan yang menjadi mitranya.

    DAFTAR PUSTAKA
    PROSPEK DAN ARAH PENGEMBANGAN
    AGRIBISNIS KARET
    Edisi Kedua
    TIM PENYUSUN
    Penanggung Jawab : Dr. Ir. Achmad Suryana
    Kepala Badan Litbang Pertanian
    Ketua : Dr. Ir. Didiek Hadjar Goenadi, M.Sc., APU
    Direktur Eksekutif LRPI
    Anggota : Dr. Ir. Muhammad Supriadi
    Dr. Ir. Gede Wibawa
    Ir. Mukti Sarjono, M.Sc.
    Ir. Prayogo U. Hadi, MEc.

  22. NAMA : SARI NOVITA
    NIM : D1B010030
    KELAS : AGRIBISNIS D

    Permasalahan yang di hadapi petani karet di provinsi jambi pada saat ini yaitu :
    Rendahnya produktifitas tanaman karet karena akibat terbatasnya penggunaan bibit karet klon unggul. Selain itu kurangnya pemeliharaan seperti pemupukan dan pengendalian hama dan penyakit serta modal petani karet yang masih sangat lemah untuk meremajakan kebun karet, dan harga karet masih rendah sehingga pendapatan petani karet juga kurang serta kurangnya sarana dan prasarana dalam lahan pembibitan karet.

    Dalam masalah tersebut dapat di atasi dengan alternatif pemecahan masalahnya yaitu :
    Dengan adanya bantuan dari pemerintah dalam menyediakan bibit karet unggul secara Cuma-Cuma. Disamping itu pemerintah juga harus melakukan pembinaan atau pengawasan penangkaran, pelatihan petani dan pembangunan jalan produksi, serta memelihara dengan sebaik-baiknya tanaman karet tersebut dengan cara pemberian pupuk dan lain-lain, agar peningkatan produksi akan tercapai. Bagi petani karet yang masih banyak menjual hasil panennya ke tengkulak karet sehingga harga karet lebih murah dibandingkan di jual langsung ke pabriknya, seharusnya petani karet menjual hasil karet ke pabrik nya agar mendapat harga yang lebih tinggi dan menghasilkan ke untungan, dengan adanya modal untuk transportasi serta teknologi memungkinkan petani karet menjual hasil karetnya ke pabrik,sekarang ini petani kesulitan transportasi untuk menjual hasil karet ke pabrik langsung.
    Dari permasalahan dan alternatif pemecahan masalah tersebut subsistem-subsitem agribisnis sangat mempengaruhi karena subsistem hulu yang menyediakan modal bagi petani seperti bibit,subsistem pertanian primer yang petani mengusahan perkebunan karet yang unggul, subsistem agribisnis hilir yang mengolah hasil karet menjadi barang-barang yang bermutu atau berkualitas, serta subsitem penyediaan jasa seperti transportasi yang membantu petani dalam menjual karet ke pabrik langsung.
    DAFTAR PUSTAKA
    http://metrojambi.com/ekobis/2027-produktivitas-perkebunan-jambi-masih-rendah.html di akses 3 desember 2011,22:00
    http://agroindustry.wordpress.com/2009/11/17/subsistem-agribisnis/ di akses 3 desember 2011,22;00

  23. Nama : Rani Hidayah
    Nim : D1B010050
    Kelas : E
    Prodi : Agribisnis
    Status : Baru (B)

    A. FENOMENA-FENOMENA YANG TERJADI DAN PERMASALAHAN YANG MUNCUL DALAM PENGEMBANGAN AGRIBISNIS KARET DITINJAU DARI SEMUA SUBSISTEM TANAMAN KARET.
    Selama lebih dari 35 tahun (1970-2006), areal perkebunan karet di Indonesia meningkat sekitar 4,8% per tahun, namun pertumbuhan yang nyata terutama terjadi pada areal karet rakyat, sedangkan pada perkebunan besar negara dan swasta sangat rendah, dibawah 1% pertahun. Dari keseluruhan areal perkebunan rakyat tersebut, sebagian besar (± 91%) dikembangkan secara swadaya murni, dan sisanya (± 9 %) dibangun melalui proyek-proyek PIR, PRPTE, UPP Berbantuan, Partial, dan Swadaya Berbantuan.
    Permasalahan utama yang dihadapi perkebunan karet nasional adalah rendahnya produktivitas karet rakyat (600-800 kg/ha/th), antara lain karena sebagian besar tanaman masih menggunakan bahan tanam asal biji (seedling) tanpa pemeliharaan yang baik, dan tingginya proporsi areal tanaman karet yang telah tua, rusak atau tidak produktif (± 13% dari total areal). Pada saat ini sekitar 400 ribu ha areal karet berada dalam kondisi tua dan rusak dan sekitar 2-3% dari areal tanaman menghasilkan (TM) yang ada setiap tahun akan memerlukan peremajaan.
    Sebagian besar produk karet Indonesia diolah menjadi karet remah (crumb rubber) dengan kodifikasi “Standard Indonesian Rubber” (SIR), sedangkan lainnya diolah dalam bentuk RSS dan lateks pekat. Kapasitas pabrik pengolahan crumb rubber pada saat ini sesungguhnya sudah melebihi dari kapasitas penyediaan bokar dari perkebunan rakyat, namun pada lima tahun mendatang diperlukan investasi baik untuk merehabilitasi pabrik yang ada maupun untuk membangun pabrik pengolahan baru untuk menampung pertumbuhan pasokan bahan baku yang diperhitungkan akan meningkat seiring dengan gencarnya upaya-upaya peremajaan dan perluasan areal kebun karet yang baru.
    Prospek bisnis pengolahan crumb rubber ke depan diperkirakan tetap menarik, karena marjin keuntungan yang diperoleh pabrik relatif pasti. Marjin pemasaran, antara tahun 2000-2006 berkisar antara 3,7%-32,5% dan marjin keuntungan pabrik pengolahan antara 2-4% dari harga FOB, tergantung pada tingkat harga yang berlaku. Tingkat harga FOB itu sendiri sangat dipengaruhi oleh harga dunia yang mencerminkan permintaan dan penawaran karet alam, dan harga beli pabrik dipengaruhi kontrak pabrik dengan pembeli/buyer (biasanya pabrik ban) yang harus dipenuhi. Pada umumnya marjin yang diterima pabrik akan semakin besar jika harga meningkat.

    B. PERMASALAHAN UTAMA YANG DIHADAPI OLEH PETANI KARET DI PROFINSI JAMBI, DAN BAGAIMANA ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAHANNYA.
    Mutu bahan olah karet rakyat (bokar) sangat menentukan daya saing karet alam Indonesia dipasar International. Dengan mutu bokar yang baik akan terjamin permintaan pasar jangkan panjang. Mutu bokar yang baik dicerminkan oleh Kadar Kering Karet
    (KKK) dan tingkat kebersihan yang tinggi. Upaya perbaikan mutu bokar harus dimulai sejak penanganan lateks di kebun sampai dengan tahap pengolahan akhir.
    Mutu bahan olah karet rakyat (bokar) sangat menentukan daya saing karet alam Indonesia dipasar International. Dengan mutu bokar yang baik akan terjamin permintaan pasar jangkan panjang. Mutu bokar yang baik dicerminkan oleh Kadar Kering Karet (KKK) dan tingkat kebersihan yang tinggi. Upaya perbaikan mutu bokar harus dimulai sejak penanganan lateks di kebun sampai dengan tahap pengolahan akhir. Untuk itu para petani karet di Provinsi Jambi, diarahkan menggunakan Deorub K, formula pembeku latek (getah karet), pengganti asam semut (cuka) untuk mencegah bau, sekaligus meningkatkan penghasilan para petani.
    Dalam upaya meningkatkan penghasilan petani karet, Pemprov Jambi sejak beberapa tahun lalu melakukan peremajaan pohon karet tua rakyat dan kini mengarahkan petani untuk memanfaatkan Deorub K, kata Staf Ahli Gubernur Jambi bidang Hukum dan Politik, Jazid Idris, di Jambi, Jumat.
    Rencana penggunaan bahan pembeku latek itu disampaikannya di Jambi, Jumat, setelah melakukan pertemuan dengan penemu formula Deorub, Solikhin, dan perusahaan yang memproduksi bahan tersebut serta para kepala dinas perkebunan, baik provinsi maupun kabupaten/kota.
    Provinsi Jambi merupakan salah satu daerah penghasil karet yang cukup besar yang kebunnya tersebar di Kabupaten Merangin, Bungo, Tebo, Sarolangun, Batanghari, Muarojambi dan Tanjung Jabung Barat.
    Jazid mengaku saat menjabat Staf Ahli bi dang Ekonomi dan Keuangan merintis penggunaan bahan tersebut yang didapat dari dunia maya (internet) dan langsung menemui penemu formula Deorub K, Solikhin yang merupakan peneliti di Balai Penelitian Sembawa – Pusat Penelitian Karet. Dari pertemuannya deng an Solikhin dan setelah mendapat berbagai masukan dari sejumlah pihak, saat itu langsung disepakati untuk melakukan sosialisasi produk tersebut ke Jambi.
    Deolub merupakan produk yang sangat bermanfaat bagi petani karet sebagai bahan pembeku, dan kelebiha nnya dapat mencegah dan menghilangkan bau busuk yang selama ini sering dihasilkan karet, sehingga lingkungan pabrik juga menjadi bau dan mengganggu masyarakat sekitarnya. Disamping itu, Deolub juga bisa mempercepat proses penegeringan karet, sehingga bis a meningkatkan harga jual karet, keuntungan lain bagi pabrik pengolah karet, lingkungan pabrik tidak bau dan menghemat biaya transportasi, karena karet yang diangkut kadar airnya lebih rendah. “Kalau selama ini kadar karet keringnya hanya 50 persen, sete lah menggunakan Deorub bisa mencapai 60 persen bahkan lebih,” katanya.
    Oleh karena itu, Jazid Idris telah meminta persetujuan Gubernur Jambi untuk menganggarkan dana pada APBD 2010, guna pengadaan produk ini bekerja sama dengan tujuh kabupaten yang memil iki potensi penghasil karet. Masing – masing kabupaten/kota diharapkan bisa membeli 20 ton, sehingga jika ditambah Pemprov bisa dibeli 160 ton, bahan ini nantinya diberikan kepada masyarakat sebagai bahan perkenalan dan percobaan bagi petani. Diharapkan ke depan para petani bisa menghasilkan karet yang bersih, sehingga kualitas karet akan lebih baik dan harga jualnya akan lebih tinggi. Petani juga bisa menggunakan bahan pembeku karet yang ramah lingkungan dan tidak berbahaya seperti cuka getah. Berdasarkan keterangan Gapkindo, menurut dia, selama ini daya saing karet Indonesia di luar negeri bukan karena kualitasnya, tapi harganya yang lebih murah dari karet yang dihasilkan negara lain, seperti Malaysia, Vietnam, dan Thailand yang saat ini juga telah men ggunakan bahan pembeku serupa.
    Deorub diproduksi dari cangang buah sawit dan merupakanformulasi asap cair dan asam – asam organik yang mengandung senyawa fenol, yang dapat mencegah dan mematikan pertumbuhan bakteri, serta berfugsi sebagai antioksidan. Untuk memperoleh larutan deorub dilakukan pencampuran deorub satu bagian dengan air 19 bagian, sedangkan harganya lebih murah jika dibandingkan dengan harga cuka getah, per liternya hanya Rp12.000 atau setengah dari harga cuka getah. Deorub merupakan hasil temuan asli putra Indonesia, dan saat ini telah dipatenkan, baik di dalam maupun luar negeri, dan beberapa negara telah menggunakan bahan ini seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam.Sedangkan di dalam negeri telah digunakan di Sumatra Selatan dan Kalimantan Selatan, temuan ini juga telah mendapat pengakuan, sehingga Solikhin sebagai penemu menerima berbagai penghargaan.

    Daftar Pustaka :
    http://www.antakowisena.com/2010/02 (diunduh 3 desember 2011)
    http://blogs.unpad.ac.id/satriani/category/off-farm-tugas-apres/ (diunduh 3 desember 2011 )

  24. Nama : Yossy Delfitri
    Kelas : D agribisnis
    NIM : D1B010041
    Status : Baru
    Saat ini karet merupakan salah satu komoditi terbesar di Indonesia. Bisa kita lihat bahwa semakin tingginya tingkat ekspor karet per tahun nya.Data menunjukan bahwa adanya peningkatan 1 juta ton pada tahun 1985 menjadi 1.3 juta ton pada tahun 1995 dan 1.9 juta ton pada tahun 2004.Hal ini sangat luar biasa karna melihat bahwa karet merupakan salah satu komoditi penyumbang devisa terbesar pada tahun 2004 hingga mencapai US$ 2.25 milyar, yang merupakan 5% dari pendapatan devisa non-migas.
    Kawasan Sumatera merupakan salah satu kawasan yang berpotensi untuk menanam tanaman karet.Berbagai masalah yang di hadapi oleh para petani terkait dengan usaha hulu serta hilir akan berusaha saya bahas dalam tulisan ini ,
    1. Tanaman karet memiliki sifat gugur daun sebagai respon tanaman terhadap kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan (kekurangan air/kemarau).

    Solusi nya : Sebaiknya penggunaan stimulan segera dihindarkan.

    2. Hasil penelitian yang dilakukan di Kabupaten Muara Bungo (RantauPandan, Sepunggur, Danau, Muara Kuamang) dan di Kabupaten Batanghari (Sungai Landai, Suka Damai, Malapari, Napal Sisik, Pelayangan, Rantau Kapas Mudo dan Tuo) menunjukkan bahwa rata-rata sekitar 47% petani melakukan sisipan pada kebun karet tuanya,sedangkan 53% petani meremajakan karetnya dengan didahului kegiatan tebas bakar dan sama sekali tidak pernah dan tidak tertarik untuk melakukan sisipan (Wibawa et al., 2000b).
    Ada lima alasan utama bagi petani untuk melakukan sisipan pada kebunkaret tuanya yaitu: (a) memperoleh pendapatan yang berkesinambungandari hasil karet maupun non karet yang ada di kebunnya (89%), (b) tidaktersedianya modal untuk melakukan usahatani yang lebih intensif dengansistem tebas bakar (70%), (c) memperkecil resiko kegagalan akibatserangan hama terutama babi hutan (65%), (d) cara sisipan ini sudahmenjadi tradisi lokal (59%), (e) membutuhkan sedikit tenaga kerjasehingga dapat dilakukan secara sambilan ketika tidak menyadap (36%).Ketergantungan petani terhadap pendapatan dari karet sangat tinggi, yaituhampir 70% (periksa Tabel 1). Hal ini menjadi kendala bagi petani untuk meremajakan tanaman karetnya secara tebas bakar, baik karena
    kehilangan hasil maupun diperlukannya investasi yang tinggi.

    Solusinya : petani yang melakukan sisipan dapat diharapkan melakukan pengamatan yang berguna sehingga akan meningkatkan pengetahuan dasar dari sistem tersebut.Di sini kita juga membutuhkan bantuan pemerintah selaku fasilitator untuk membantu petanidalam mempelajari akibat dari sisipan yang salah pada tanaman karet dan mengajarkan bagaimana tekhnik yang benar.

    3. Kerusakan yang ditimbulkan oleh hama babi hutan merupakan penyebab utama kematian anakan pohon pada wanatani berbasis karet di Jambi. Penyiangan mempunyai pengaruh langsung terhadap kerusakan oleh hama babi hutan. Anakan pohon karet yang tumbuh pada lantai kebun yang disiangi akan mudah dirusak oleh hama babi hutan karena lebih mudah dilihat dan dijangkau. Penelitian pengaruh babi hutan terhadappertumbuhan menemukan bahwa :• 70% batang anakan karet pada kebun yang dipagar menjadi patahterutama disebabkan oleh babi hutan;• Pada sistim sisipan, anakan karet yang terserang babi hutan rata-ratamencapai lebih dari 50%.

    Solusi : Berbagai metode perlindungan terhadap serangan babi hutan telahdilakukan oleh petani secara tradisional, antara lain dengan memagaranakan karet, memagar kebun, penggunaan anakan karet besar,penutupan anakan karet dengan semak, berburu, penggunaan predator ular python) dan memasang perangkap, namun demikian cara inidirasakan kurang efektif, walaupun memerlukan tenaga serta biaya yangcukup tinggi.Hasil pengamatan ICRAF terhadap cara pengendalian hama babi hutan yang dilakukan oleh masyarakat menunjukkan hasil sebagai berikut:• Pemagaran kebun dan pembersihan semak kurang efektif karenaanakan karet tetap terkena serangan yang cukup tinggi. Sedangkanpemagaran individu anakan karet dengan bambu dan ikatan duri pada sistem sisipan dapat mengurangi tingkat serangan babi hutan. Cara ini cukup efektif tetapi memerlukan biaya tinggi.• Kombinasi perlakuan pemagaran individu anakan karet – penutupananakan karet dengan semak – penggunaan perangkap dan pemberian racun dapat mengurangi tingkat serangan.• Penggunaan kayu manis yang ditanam dengan anakan karet kurang efektif, kemungkinan disebabkan kayu manis yang tumbuh kurang baik akibat kurangnya cahaya.• Jarak kebun dengan jalan yang dekat dan aktivitas petani di lahan yangtinggi dapat mengurangi kehadiran babi hutan.Pengendalian yang efisien harus menggunakan pendekatan landsekapkarena pengendalian serangan babi hutan secara lokal dapat menyebabkan peningkatan serangan babi hutan pada lokasi lainnya, misalnya kombinasi antara menjaga tempat untuk berlindung babi hutan (hutanhutandi sekitar aliran sungai, semak belukar tua dan lain-lain) dan cara cara tradisional, sehingga serangan babi hutan tetap pada tingkat yang wajar yang tidak merugikan petani.

    4. Ekspor karet alam Indonesia sebagian besar berbentuk bahan baku dengan mutu yang lebih rendah dibanding dengan negara lain sehingga kurang kompetitif di pasar internasional.

    Solusi : Untuk mengatasi hal ini perlu ditempuh percepatan pengembangan industri barang jadi karet dan diversifikasi produk.
    5. Masalah lahan gambut yang digunakan dalam budidaya tanaman karet, seringkali menggangu pertumbuhan tanaman karet karena tanah tidak sanggup menompang tajuk.

    Solusi : secara prinsip lahan gambut dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman karet namun dengan beberapa perlakuan sebagai berikut:
    1. Pembuatan drainase untuk menurunkan permukaan air tanah dan mencegah akar tegenang.
    2. Peningkatan pH tanah menjadi 5,5 – 7,0 sehingga pertumbuhan tanaman dapat optimal.
    3. Pemilihan klon yang relatif tahan masam.
    Semoga permasalah yang disampaikan tidak menyurutkan anda mencoba membudidayakan karet, justru sebaliknya semangat anda bertambah dalam meraih kesuksesan berkebun karet.
    Dari kelima masalah umum yang sering terjadi dalam sistem agribisnis tanaman karet, saya dapat menyimpulkan bahwa dalam setiap masalah yang terjadi ,pasti ada solusi nya.Untuk mengatasi masalah yang terjadi pada tanaman karet ,di butuhkan kerja sama yang kuat antara petani selaku pelaku agribisnis utama dan pemerintah sebagai fasilitator dalam membantu petani dalam menyelesaikan masalah yang terjadi.Semoga dengan adanya kerja sama yang terjalin antara petani dan pemerintah,usaha budidaya tanaman karet ini akan terus berkembang sehingga terus menjadi devisa bagi negara kita dan menciptakan lapangan kerja yang baru bagi masyarakat setempat.Satu hal yang harus kita perhatikan, selain terus berusaha menjadikan tanaman karet menjadi salah satu komoditas terpenting di negara kita, kita juga harus bisa memperhatikan lingkungan sekitar dengan terus merawat dan menjaga kondisi tanah kita.Semoga kita menjadi Negara yang tetap peduli dengan lingkungan ! ^_^

    Daftar pustaka :

    http://www.litbang.deptan.go.id/berita/one/355/
    http://www.perkebunanku.com/2010/04/masalah-penanaman-karet-di-lahan-gambut.html
    http://www.icraf.cgiar.org/sea “ Wanatani Kompleks berbasis karet “

  25. PERMASALAHAN YANG MUNCUL DALAM PENGEMBANGAN AGRIBISNIS PENGINDUSTRIAN KARET DI KABUPATEN TEBO KECAMATAN RIMBO ILIR DESA ALAI
    NAMA : SUGIYEM
    NIM : D1B010017
    PRODI : AGRIBISNIS KELAS (D)

    Gambaran keberadaan kelompok tani yang ada di Kabupaten Tebo umumnya
    mempunyai kegiatan disektor perkebunan, peternakan sapi, dan tanaman pangan. Namun di tinjau dari gambaran khusus tersebut di desa alai kecamatan rimbo ilir sebagian besar penduduknya mata pencaharianya di sector perkebunan terutama karet mempunyai perana sangat penting di tinjau dari kehidupan mereka. Karet adalah salah satu komoditas perkebunan yang paling penting, baik dalam lingkungan nasional maupun lingkungan internasional, di provinsi jambi karet merupakan tanaman perkebunan yang paling luas dengan luas Arealnya mencapai 140,718 atau 21,19% dari luas tanaman karet Provinsi Jambi dan jumplah produksi sebesar 47,245 ton/ha. Pada tahun 2006 Kabupaten Tebo memiliki jumlah lahan perkebunan karet 108.440 hekta. Namun dari jumlah tersebut para petani mempunyai kendala- kendala di di lihat dari subsistemnya di antaranya:
    1). dari subsistem agribisnis hulu yang terjadi yaitu: mulai menurunnya produksi karena kondisi tanaman karet hingga membutuhkan peremajaan. Selain memerlukan dana yang relatif besar dengan pengadaan bibit, pupuk, dan perawatan.
    2). Dilihat dari subsistem produksi/ usaha tani, petani karet di kabupaten tebo juga mengalami masalah di antaranya, kualitas produk yang belum baik di sebabkan petani karet di dalam menyadap tidak memperhatikan latek di dalam tempurung terdapat kotoran bekas sadap dari pohon (tatal), hingga di jual dengan harga murah oleh toke.dan lokasi tani yang terpencar dan skala produksi yang kecil sehingga sulit dalam proses pengumpulan karet.
    3). subsistem agribisnis hilir/berupa kegiatan perdagangan atau permasalahan dalam permasaran karet tersebut,berupa panjangnya saluran pemasaran yang ada sehingga harga jual petani menjadi lebih rendah, kondisi infrastuktur dan sarana transportrasi yang belum mendukung seperti jalan yang belum di perbaiki dari daerah produksi ke konsumen sehingga biaya biaya transportasi menjadi lebih tinggi.kurangnya fasilitas pemasaran, seperti lembaga keuangan formal dan KUD yang belum berperan sebagai lembaga pemasaran di sentra-sentra produksi.kurang lengkapnya informasi pasar tidak sampai ketingkat petani di mana ada kenaikan harga tingkat konsumen hanya di nikmati oleh pedagang. 3). dari segi subsistem lembaga penujang juga mengalami permasalahan yang di sebabkan tidak adanya lembaga penyuluhan yang aktif dalam menyampaikan informasi yang di butuhkan oleh petani.
    Tetapi dari semua segi di atas satu masalah yang di hadapi oleh petani kabupaten tebo yaitu subsistem usaha pertanian dan pemasaran( harga, kualitas) kualitas produk yang belum baik di sebabkan petani karet di dalam menyadap tidak memperhatikan latek di dalam tempurung terdapat tatal yang menyebabkan harga karet turun,, hingga di jual dengan harga murah oleh toke. Dari masalah tersebut upaya yang akan di capai ( alternatif pemecah masalahnya); untuk mencapai barang dari produksen ke konsumen perlu adanya perantaran yang berhubungan satu sama lain di antaranya dengan di adakanya pasar lelang yang teratur dalam ketataniaganya dan manajemen yang di tunjukan oleh petani untuk memperoleh manfaat. Adapun tujuanya dari pasar lelang yang ada di desa Alai Ilir Kecamatan Rimbo ilir Kabupaten Tebo yaitu; menciptakan transparan harga, mendorong meningkatkan kualitas bongkar, menciptakan harga yang wajar sebagai pusat informasi yang terbuka, sumber pasokan bagi eksportir baik di luar daerah maupun di dalam.
    Referensi:
    -http://nerifimylover.blogspot.com/2009/06/proposal-penelitian.html di akses pukul 22:30 tgl 2 desember 2011.
    -http://infokaretalamindonesia.blogspot.com/2009/04/karet-di-kabupaten-tebo.html di akses pukul 22:30 wib tgl 2 desember 2011
    -www.worldagroforestry.org/downloads/publications/…/B15905.PDF
    Jenis Berkas: PDF/Adobe Acrobat – Tampilan Cepat

  26. Nama : Eky Handriyani
    NIM : D1B010014
    Kelas : D Agribisnis
    Status : Baru

    Perkebunan karet di Provinsi Jambi sebagaimana umumnya pertanian di Indonesia masih terlibat dalam batas mikro-bisnis (usahatani) pada on-farm
    dalam sistem agribisnis. Linkage antara sub sistem on-farm dengan sub sistem
    agro-input (hulu) dan agroindustri (hilir) masih lemah. Karena salah satu masalah utama yang di hadapi petani yaitu produktifitas rendah yang di sebabkan oleh tanaman yang tua dan kurangya perawatan dari petani tersebut. Perkembangan perkebunan karet di propinsi jambi masih dinilai berjalan lambat karena sebagian besar masih merupakan perkebunan rakyat yang masih dikelola secara sederhana dengan segala keterbatasanya. Peremajaan tanaman
    karet dengan penyediaan bibit bermutu, pupuk dan pestisida oleh pemerintah
    daerah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dipandang sebagai
    upaya mewujudkan perkebunan sistem agribisnis tersebut salah satu upaya yang di lakukan oleh pemerintah adalah Peremajaan karet.
    Namun semua itu diharapkan tidak menjadi kendala untuk mengembangkan usaha bidang perkaretan di propinsi jambi baik itu perkebunan maupun industry hilirnya sehingga dimasa mendatang di propinsi jambi mampu menjadi sentra penghasil karet yang memiliki kualitas baik dan mampu bersaing dipasar nasional maupun internasional
    Adapun masalah yang dihadapi dalam pembinaan karet
    Rakyat di provinsi jambi yaitu:
    a. Tingkat penggunaan benih unggul baru masih rendah
    b. Tingkat produktivitas rendah, yaitu hanya 714 kg/ha/th
    c. Sekitar 136.000 ha areal karet perlu segera diremajakan secara bertahap.
    d. Masih banyaknya pedagang pengumpul yang berusaha menurunkan harga
    e. Cara budidaya yang belum mengikuti ketentuan teknis, sehingga kebun karet
    terkesan seperti hutan karet
    f. Tidak tersedia dana khusus untuk peremajaan dengan suku bunga yang
    wajar sesuai tingkat risiko yang dihadapi.
    g. Potensi kayu karet tua sampai saat ini belum dapat dimanfaatkan secara
    optimal
    h. Ketersediaan pupuk bersubsidi sangat sedikit dan lebih diprioritaskan untuk
    kebutuhan petani tanaman pangan, sehingga petani tanaman perkebunan
    kesulitan untuk mendapatkannya.
    Peremajaan tanaman dan penyediaan bibit bermutu, pupuk dan pestisida oleh pemerintah
    daerah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dipandang sebagai
    upaya mewujudkan perkebunan sistem agribisnis tersebut salah satu upaya yang di lakukan oleh pemerintah adalah Peremajaan karet.

    Daftar Pustaka

    http://litbangjambi11.files.wordpress.com/2011/07/badan-penelitian-dan-pengembangan-daerah.pdf

    http://pustaka.litbang.deptan.go.id/publikasi/wr303089.pdf
    http://www.litbang.deptan.go.id/special/publikasi/doc_perkebunan/karet/karet-bagian-b.pdf

  27. Nama :Amela Dwi Rahmadani
    NIM :D1B010029
    Kelas😀 Agribisnis
    Status :Baru
    Karet merupakan komoditi perkebunan yang sangat penting peranannya di Indonesia. Selain sebagai sumber lapangan kerja bagi sekitar 1,4 juta tenaga kerja, komoditi ini juga memberikan kontribusi yang signifikan sebagai salah satu sumber devisa non-migas, pemasok bahan baku karet dan berperan penting dalam mendorong pertumbuhan sentra-sentra ekonomi baru di wilayah-wilayah pengembangan karet. Sampai dengan tahun 1998 komoditi karet masih merupakan penghasil devisa terbesar dari subsector perkebunan dengan nilai US$ 1.106 juta, namun pada tahun 2003 turun menjadi nomor dua setelah kelapa sawit dengan nilai US$ 1.494 juta (nilai ekspor minyak sawit mencapai US$ 2.417 juta). Di samping itu perusahaan besar yang bergerak di bidang karet telah memberikan sumbangan pendapatan kepada negara dalam bentuk berbagai jenis pajak dan pungutan perusahaan.
    Perkebunan karet di Indonesia juga telah diakui menjadi sumber keragaman hayati yang bermanfaat dalam pelestarian lingkungan, sumber penyerapan CO dan penghasil O , serta memberi fungsi orologis bagi wilayah di sekitarnya. Selain itu tanaman karet ke depan akan merupakan sumber kayu potensial yang dapat menstubsitusi kebutuhan kayu yang selama ini mengandalkan hutan alam
    A. Agribisnis Primer dan Hulu
    menurut saragih (1999) subsistem hulu adalah Kegiatan ekonomi yang menyediakan sarana produksi bagi pertanian, seperti industri dan perdagangan agrokimia (pupuk, pestisida, dll), industri agrootomotif (mesin dan peralatan), dan industri benih/bibit. Di hubungkan dengan masalah perkembangan agribisnis karet di jambi petani karet di jambi masih kesuliatan mendapatkan bibit karet yang unggul salah satu alasan karena bibit yang mahal dan terkadang petani karet tertipu oleh para penjual bibit yang mengatakan bibit unggul dan murah. Yang kedua sulit nya mendapat kan bahan agroklima (Pupuk, dan penunjang yang lain) yang baik dan terkadang petani harus memebeli nya di luar jambi dengan harga yang tinggi

    Permasalahan utama yang dihadapi perkebunan karet nasional adalah rendahnya produktivitas karet rakyat (+ 600 kg/ha/th), antara lain karena sebagian besar tanaman masih menggunakan bahan tanam asal biji (seedling) tanpa pemeliharaan yang baik, dan tingginya
    proporsi areal tanaman karet yang telah tua, rusak atau tidak produktif (+ 13% dari total areal). Pada saat ini sekitar 400 ribu ha areal karet dalam kondisi tua dan rusak dan sekitar 2-3% dari areal tanaman menghasilkan (TM) yang ada setiap tahun akan memerlukan peremajaan. Dengan kondisi demikian, sebagian besar kebun karet rakyat menyerupai hutan karet.

    Masalah usahatani karet yang dihadapi petani secara umum adalah keterbatasan modal baik untuk membeli bibit unggul maupun sarana produksi lain seperti herbisida dan pupuk. Selain itu ketersediaan sarana produksi pertanian tersebut di tingkat petani juga masih terbatas. Bahan tanam karet unggul yang terjamin mutunya hanya tersedia di Balai Penelitian atau para penangkar benih binaan melalui sistem Waralaba di sentra-sentra pembibitan yang juga masih
    sangat terbatas jumlahnya.

    Perkembangan industri perbenihan di sentra-sentra produksi cukup pesat sejalan dengan meningkatnya permintaan bahan tanam karet klon unggul oleh petani. Namun secara umum mutu bibit karet yang dihasilkan oleh para penangkar bibit masih sangat beragam. Selain itu, masalah lain yang dihadapi penangkar bibit adalah keterbatasan sumber entres yang terjamin kemurniannya dan keterbatasan jenis klon unggul baru yang dimiliki.
    Ada pun masalah-masalah lain yang sering dihadapi dalam subsistem agribisnis hulu :
    1. Masalah lahan
    Sebagian lahan dijambi memiliki kondisi kering dan gambut. Sehingga perlu teknik-teknik khusus dalam pengolahan lahan tersebut.
    2. Ketersediaan modal
    Keterbatasan modal merupakan masalah utama petani. Sehingga perlunya sarana peminjaman modal bagi petani seperti koperasi yang berfungsi efektif bagi petani
    3. Tenaga kerja
    Rendahnya pengetahuan petani merupakan salah satu masalah yang harus diperhatikan.
    Solusinya:
    • adanya rumah pembenihan unggul bibit tanaman karet yang dikelolah oleh tenaga yang ahli, sehingga dapat menciptakan bibit-bibit unggul yang baik dan memiliki tingkat produktivitas yang tinggi.
    • program-program penyuluhan juga sangat penting di lakukan guna membantu membuka wawasan petani dalam mengelolah perkebunan karet miliknya
    • adanya peran pemerintah dalam membantu ketersediaan modal bagi petani.

    B. Agribisnis Hilir
    Saragih (1999) subsistem hilir adalah industri-industri yang mengolah komoditi pertanian primer menjadi olahan seperti industri makanan./minuman, industri pakan, industri barang-barang serat alam, industri farmasi, industri bio-energi dll. Di hubungkan dengan masalah perkembangan agribisnis karet di jambi, karet (lateks) dapat di produksi dengan berbagai bentuk dari alat rumah tangga sampai alat otomotif namun petani di Indonesia khusus nya di jambi hanya memproduksi Karet (lateks) dan Mengirim nya ke perantara (Tengkulak) dan dari Perantara di kirim lagi ke Pabrik pengolahan karet dan petani hanya mendapat laba sedikit dari system rantai Niaga tersebut.
    Bahan olah karet berupa lateks dapat diolah menjadi berbagai jenis produk barang jadi lateks (latex goods) dan karet padat (RSS,SIR) dijadikan bahan baku untuk menghasilkan berbagai jenis barang karet. Barang jadi dari karet terdiri atas ribuan jenis dan dapat diklasifikasikan atas dasar penggunaan akhir (end use) atau menurut saluran pemasaran (market channel). Pengelompokan yang umum dilakukan adalah menurut penggunaan akhir yakni: (1) ban dan produk terkait serta ban dalam, (2) barang jadi karet untuk industri, (3) kemiliteran, (4) alas kaki dan komponennya, (5) barang jadi karet untuk penggunaan umum dan (6) kesehatan dan farmasi.
    Solusinya: mencoba berinovasi dalam pengolahan karet sehingga petani tidak hanya menjual karet dalam bentuk primer,akan tetapi dalam bentuk olahan yang telah jadi barang industry yang memiliki nilai jual yang tinggi. Peltihan-pelatihan juga perlu dilakukan agar petani memiliki keahlian yang baik dalam pengolahan karet itu sendiri.
    C. Sub-sistem penyedia jasa agribisnis

    Saragih (1999) sub-sistem Penediaan jasa agribinis seperti perkreditan, transportasi dan pergudangan, Litbang, Pendidikan SDM, dan kebijakan ekonomi di hubungkan dengan masalah perkembangan agribisnis karet di jambi Pendidikan SDM petani karet di jambi masih kurang sehingga petani karet kurang mendapatkan pengetahuan mengenai karet dan masalah ke-2 dalam perkreditan atau pun pinjaman proses pinjaman Modal kepada perkerditan atau koperasi petani di buat sulit dengan proses pinjamannya yang rumit sehingga petani lebih memilih meminjam ke Perantara(Tengkulak) karena proses pinjaman nya mudah dan cepat tetapi pinjaman melalui perantara ada dampak negative nya yaitu setiap hasil produksi karet, petani harus mengirim nya ke tengkulak.

    Solusinya: menyediakan koperasi yang memihak petani bukan memberatkan petani sehingga petani mau bekerja sama dengan koperasi tanpa menggunakan perantara tengkulak yang sbenarnya malah akan erugikan petani. Koperasi yang aktif dan transparan semoga dapat membantu permsalahan-permasalahan petani dalam proses pemasaran agribisnis

    DAFTAR PUSTAKA
    http://www.litbang.deptan.go.id/berita/one/355/diakses tanggal 3 desember 2011jam19.00WIB

  28. NAMA : ASRI YULIA MAHARANI
    NIM : D1B010011
    KELAS : AGRIBISNIS (D)
    STATUS : BARU

    PERMASALAHAN WANATANI KARET YANG TERJADI DI BUNGO
    Sebagaimana umumnya desa-desa di Jambi, penduduk Bungo menggantungkan hidupnya dari kebun karet yang memang sudah dikenal sejak lama7. Pada awal abad ke-20, bibit karet masuk ke Sumatera melalui para pekerja pendatang di perkebunan, pedagang, maupun para jamaah haji8. Berdasarkan laporan seorang staf penyuluh pertanian pada 1918, bahwa kebun karet rakyat pertama kali dibudidayakan di Jambi pada 1904 dengan sistem tebas bakar sehabis menanam padi ladang. Karet yang mereka tanam ada yang dipelihara, tetapi banyak juga yang tidak, sehingga tampak seperti tanaman ”liar” yang tumbuh diantara tumbuhanhutan lainnya. Sistem ini masih berlangsung hingga saat ini dan dikenal dengan sistem wanatani karet. Selain menjadi sumber pendapatan utama dan sebagai cash income bagi petani, wanatani karet juga menjaga keragaman jenis flora yang hidup di dalamnya (Gouyon et al., 1993)
    Saat ini terdapat sekitar 87.887 ha kebun karet yang dikelola secara tradisional dan tersebar di 10 kecamatan 11 dan disadap oleh sekitar 45.228 petani dengan rata-rata kepemilikan 2 ha lahan. Tak mengherankan bila karet menjadi penyumbang terbesar dan diikuti oleh kelapa sawit, kopi, dan Cassiavera (kayu manis), karet masih yang terbanyak dan menjadi komoditas ekspor terbesar Kabupaten Bungo. Walaupun menjadi mata pencarian pokok masyarakat, perkebunan karet di Bungo dari tahun ke tahun belum memberikan nilai lebih bagi kesejahteraan petani. Pasalnya, perkebunan karet rakyat kebanyakan adalah perkebunan warisan yang usia dan besar tanamannya berbeda-beda 12. Selain itu, dengan sistem wanatani kompleks, kebun karet lebih terlihat sebagai hutan ketimbang kebun yang jarak tanam antar pohonnya tidak teratur. Hal ini menyebabkan produktivitas karet tidak maksimal. Penyebab lain adalah panjangnya rantai distribusi/pemasaran karet. Petani biasa menjual bahan olah karet rakyat (bokar) kepada pedagang pengumpul di desa. Dari sini bokar kemudian diserahkan ke pedagang besar pemasok pabrik kilang karet (crumb rubber). Sampai saat ini Bungo hanya memiliki satu kilang karet yaitu PT. Jambi Waras di Kecamatan Jujuhan, perbatasan dengan Propinsi Sumatera Barat.
    Selain kualitas dan kuantitas bokar, tata niaga yang masih panjang juga mempengaruhi harga bokar. Apalagi dengan harga karet yang fluktuatif dan cenderung tidak menguntungkan, petani banyak yang tidak mampu meremajakan tanamannya. Persoalan lain adalah masih lemahnya kualitas sumber daya petani dalam penanaman, pemeliharaan, dan pascapanen yang masih perlu ditingkatkan.

    SOLUSI DARI PENANGANAN PERMASALAHAN INDUSTRI KARET DI KABUPATEN BUNGO
    Beberapa solusi coba ditawarkan, diantaranya melalui program peremajaan karet, baik yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Bungo maupun Pemerintah Propinsi Jambi. Sayangnya program ini seringkali terkendala oleh faktor nonteknis, seperti bibit yang kurang baik, waktu pemberian bibit yang tidak sesuai dengan kalender musim tanam petani, hingga tidak adanya pendampingan bagi petani. Tak jarang beberapa kegiatan bahkan terindikasi korupsi. Solusi lain yang ditawarkan oleh kegiatan ICRAF, yaitu dengan memberikan pelatihan dan pendampingan kepada petani mengenai teknologi karet okulasi. Teknologi ini mengawinkan jenis karet yang kaya getah dengan karet lokal yang tahan hama. Sehingga produksinya dapat meningkat. Selain itu setiap kelompok petani diberikan tanaman induk, sehingga petani dapat secara mandiri menghasilkan bibit baru untuk ditanam. Saat ini terdapat beberapa kelompok percontohan di Rantau Pandan maupun di Pelepat.
    Solusi lain adalah melalui program kemitraan antara petani dengan perusahaan pengolah kayu untuk mengatasi tersendatnya peremajaan.Kayu karet tua dijadikan bahan baku dengan imbalan bibit, pupuk dan obat-obatan. Sebuah program yang cukup menjanjikan bagi petani. Hanya sayangnya, sampai kini solusi itu masih sebatas wacana. Selain perkebunan karet, pertanian juga memberikan kontribusi yang besar bagi perekonomian Bungo. Sektor pertanian, khususnya tanaman pangan (padi dan palawija) masih bersifat subsisten, khususnya untuk daerah- daerah di hulu sungai yang berbatasan dengan TNKS. Petani menanam di ladang untuk memenuhi kebutuhan makan tiap hari dan merupakan pekerjaan sambilan selain bekerja di perkebunan. Di daerah seperti di desa-desa Kecamatan Rantau Pandan atau Tanah Sepenggal, malahan ada pantangan untuk menjual padi. Kalau dahulu, sehabis panen padi disimpan di lumbung yang dibangun di pekarangan rumah, sekarang disimpan di dalam rumah atau gudang. Sementara pertanian komersial kebanyakan terdapat di desa permukiman transmigran seperti di Kuamang Kuning, Kecamatan Pelepat atau di Desa Jujuhan.
    Wanatani merupakan perpaduan antara sistem-sistem dan teknologi pemanfaatan lahan dimana tanaman berumur panjang (termasuk semak, palem, bambu dan kayu, dll) dan tanaman pangan serta pakan ternak berumur pendek diusahakan dalam satu petak. Dengan sistem ini terjadi interaksi antara ekologi dan ekonomi serta unsur-unsur lainnya, terutama dengan sosial-budaya masyarakat. Bagi masyarakat Bungo wanatani bukanlah sesuatu yang baru, bahkan sudah dikenal sejak zaman Belanda dahulu melalui wanatani karet. Secara ekologis kebun karet akan melindungi sistem tata air dan konservasi sumberdaya alam. Selain itu, kebun karet tua khususnya, juga memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang cukup tinggi yang tak kalah dengan hutan alam, karena dalam kebun karet tua juga terdapat tanaman kayu lainnya, semak dan lainnya sehingga tidak monokultur. Selain itu kawasan wanatani karet dapat menjadi habitat bagi berbagai jenis keragaman hayati dan cukup berpotensi sebagai kawasan penampung bagi jenis tumbuhan hutan, bahkan terdapat beberapa jenis tumbuhan yang dilindungi oleh Perundang-undangan Indonesia dan jenis yang termasuk kriteria kritis dan genting menurut IUCN/SSC.
    Selain itu, secara ekonomis, kebun karet akan menjadi sumber pendapatan rumah tangga. Sedangkan secara sosiokultural, kebun karet juga berperan dalam mempertahankan budaya lokal sebagai bentuk kearifan lokal. Bahkan di beberapa daerah di Rantau Pandan, praktek kebun karet ini dijadikan sebagai kebun lindung oleh masyarakat. Di beberapa tempat di kawasan ini juga terdapat berbagai inisiatif pengelolaan hutan dan sumberdaya alam yang berbasiskan masyarakat, seperti hutan adat di Batu Kerbau (luas 2.357 ha) dan Baru Pelepat (luas 820 ha).
    Di sini tutupan hutan menjadi sangat penting peranannya dalam melindungi tata air di daerah sub-DAS Batang Tebo pada umumnya dan Kabupaten Bungo khususnya. Sebagaimana daerah hulu pada umumnya, wilayah ini pun ditandai dengan curah hujan tinggi dan topografi berbukit, sehingga apabila terjadi perubahan fungsi lahan di kawasan ini akan mempengaruhi di daerah hilir. Ketiadaan tutupan hutan di daerah hulu, akibat penebangan (legal maupun illegal) maupun perubahan fungsi lahan (transmigrasi, perkebunan besar, pertambangan, dll) akan menjadi ancaman bagi daerah hilir, karena air hujan akan yang turun akan menjadi air permukaan dan mengalir ke sungai, tidak ada yang diresapkan karena hutan sebagai daerah resapan sudah tidak ada lagi. Ancaman banjir adalah hal yang takkan terelakkan. Selain itu, kawasan hulu juga berperan sebagai pemelihara keseimbangan ekologis dengan hilir. Hulu menjadi penyimpan dan distributor air ke hilir untuk keperluan pertanian, industri dan pemukiman. Mengingat terbatasnya pemanfaatan lahan hulu, maka kesalahan dalam perencanaan pemanfaatan di kawasan ini akan sangat berdampak negatif.

    daftar pustaka:
    http://potensidaerah.ugm.ac.id/?op=berita_baca&id=103. diakses pada tangga 4 desember 2011, 19:00
    http://www.antakowisena.com/2010/02. diakses 3 desember 2011.20:30

  29. NAMA : NANDA NOPIA DEWI
    NIM : DIB010062
    PRODI : AGRIBISNIS (E)
    STATUS : B

    Permasalahan yang muncul dalam pengembangan agribisnis karet di profinsi Jambi.

    Di Provinsi Jambi, komoditas perkebunan memiliki arti penting karena memberikan kontribusi terhadap nilai ekspor sector perkebunan sekitar US$ 60,3 juta. Salah satu komoditas perkebunan unggulan di Provinsi Jambi adalah karet alam yang memberikan kontribusi 85,82% dari nilai ekspor perkebunan.

    Peranan karet alam di Provinsi Jambi ini dapat dilihat dari luas areal dan juga jumlah penduduk yang bergantung pada industry perkaretan yang meliputi petani karet, pedagang karet, buruh dan karyawan pabrik pengolah serta instansi yang terkait baik langsung maupun tidak langsung. Jumlah tenaga kerja yang terserap oleh komoditas karet tercatat 414.000 tenaga kerja atau 55% dari tenaga kerja sub sector perkebunan. Pada tahun 2000, karet rakyat di Provinsi Jambi mencakup seluas 543.000 ha atau 97% dari total areal karet di Provinsi Jambi dengan total produksi sekitar 224.000 ton.

    Secara umum permasalahan yang ditemui di perkebunan karet rakyat di Provinsi Jambi adalah rendahnya produktivitas hasil serta beragam dan rendahnya mutu bahan olah karet (bokar). Hal ini disebabkan antara lain masih luasnya areal karet tua yang perlu diremajakan, yaitu sekitar 87.000 ha yang tersebar di 6 kabupaten sentra karet. Selain itu, data statistic menunjukkan bahwa luas areal karet rakyat yang mampu dibangun memalui berbagai proyek bantuan selama 20 tahun hanya sekitar 30.000 ha atau 14% dari karet di Provinsi Jambi.

    Dengan adanya kegiatan peremajaan karet yang diprogramkan oleh pemerintah Provinsi Jambi, petani akan membuka lahan karet tua mereka dengan melakukan penebangan dan penyiapan lahan untuk ditanami tanaman karet muda klon unggul bantuan pemerintah. Kalau kita amati, petani kita akan sedikit gelisah karena disebabkan selama masa pemeliharaan tanaman karet muda hingga menghasilkan perlu waktu 5 tahun, sedangkan mereka perlu biaya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari disamping biaya untuk pembelian saprodi tanaman karet tersebut.

    Pemecahan Masalah

    Bentuk kegiatan pemecahan masalah untuk permasalahan di atas adalah pendidikan kepada masyarakat berupa penyuluhan, kunjungan lapangan dan keterampilan. Penyuluhan berupa ceramah dan diskusi dimaksudkan untuk menambah pemahaman teoritis dengan memberikan informasi tentang manfaat dan cara penanaman tanaman sela diantara tanaman karet muda, sehingga petani berminat untuk melakukannya. Kegiatan demontrasi dengan kunjungan lapang dimaksudkan untuk meningkatkan keterampilan dan penguasaan cara bercocok tanam bagi peserta. Untuk mengatasi kesulitan para peserta tentang materi yang diberikan maka perlu dilakukan konsultasi.

    Daftar Pustaka
    http://isjd.pdii.lipi.go.id
    http://www.litbang.deptan.go.id

  30. Nama: Nuri Trioni
    Nim: D1B010018
    Prodi : Agribisnis
    Kelas : D
    Status: B

    Karet merupakan kebutuhan yang vital bagi kehidupan manusia sehari-hari,hal ini terkait dengan mobilitas manusia dan barang yang memerlukan komponen yang terbuat dari karet seperti ban kendaraan, conveyor belt, sarung tangan, sabuk transmisi, dock fender, sepatu, sandal karet, dan bahkan karet gelang. Kebutuhan karet alam maupun karet sintetis terus meningkat sejalan dengan meningkatnya standar hidup manusia. Kebutuhan karet sintetis relatif lebih mudah dipenuhi karena sumber bahan baku relatif tersedia walaupun harganya mahal, akan tetapi karet alam dikonsumsi sebagai bahan baku industri tetapi diproduksi sebagai komoditi perkebunan (Anwar, 2005:3). Dengan adanya kebijakan pemerintah melalui Menteri Perdagangan berupa larangan ekspor karet dalam bentuk mentah, maka industri melengkapi diri dengan hammer mill dan pre breaker, dryer, dan alat-alat press untuk membuat crumb rubber (yaitu, SIR), agar produk yang dihasilkannya memenuhi persyaratan konsumen.Salah satu contoh berikut ini cara memanfaatkan biji karet yang tidak bermanfaat di kalangan petani dan dapat bermanfaat di bidang wirausaha agribisnis menjadi tempe biji karet yaitu yang terdapat di Kecamatan Mestong yang terlerak Kabupaten Muaro Jambi dengan luas wilayah 5.246 km² dan merupakan 10,24% dari luas wilayah propinsi Jambi. terletak antara 105’-2 001’ Lintang Selatan dan 1030 15’-104030’ Bujur Timur. Kecamatan Mestong terdiri dari berbagai desa dan pada umumnya mata pecaharian penduduk adalah petani karet. Tanaman yang ditanam adalah Karet. Tipe perkebunan di kecamatan mestong adalah perkebunan rakyat.Pada umumnya masyarakat Mestong memiliki tingkat pendidikan tertinggi yaitu SMA. Hanya sedikit yang melanjutkan ke perguruan tinggi .Penduduk yang tinggal di Mestong sebagian besar mata pencariannya adalah petani karet serta daerah penghasil karet yang pada umumnya tidak memanfaatkan biji karet baik sebagai bibit maupun sebagai bahan olahan, sedangkan bibit biji karet sendiri di datangkan dari daerah lain, seperti medan dan Pekanbaru , hal tersebut akan menjadikan biji karet yang di hasilkan lahan seluas 595.473 hektar di provinsi jambi tersebut tidak berguna.Biji karet sebenarnya bisa diolah menjadi berbagai macam produk seperti Tempe.
    Sekarang kita tahu bahwa masyarakat belum mengetahui ternyata di dalam biji karet yang selama ini cenderung dibuang-buang memiliki kebaikan dalam menerapkan wirausaha agribisnis yang tidak kalah besarnya dengan kedelai yaitu:
    1. Biji Karet memiliki potensi besar sebagai bahan baku alternatif pembuatan tempe dibandingkan kedelai karena harganya yang terjangkau.serta kelebihan tempe Karet (Havea brasiliensis) memiliki protein yang lebih besar
    jika dibanding dengan tempe kedelai.
    2. Lokasi ditentukan berdasarkan hasil survei yang dilakukan dimana daerah tersebut mempunyai luas wilayah kebun karet yang luas. Serta penduduk yang proaktif dalam bidang peningkatan kewirausahan sehingga dapat meningkatkatkan jiwa enterprenuer dan budaya wirausaha. Adapun lokasi yang akan dituju dikecamatan Mestong terdiri dari:
    1. Desa Pondok Meja
    2. Desa Sukamaju
    3. Desa Muaro sebapo
    Ketiga desa tersebut merupakan desa yang memiliki perkebunan karet yang luas dikecamatan Mestong kabupaten Muaro Jambi.

    Sumber:

    Eriyanto Agus. 2008. Penelitian Proposal Biji Karet. Universitas Jambi angkatan 2008 .

    Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo), 2006, Gapkindo Muaro Jambi, Jambi.

  31. NAMA : LUTHFI MEIDIANSYAH
    NIM : D1B010032
    KELAS : AGRIBISNIS (D)
    PERMASALAHAN KARET DI PROVINSI JAMBI:

    Karet masih menjadi komuditi yang cukup diandalkan, selain menjadi salah satu komoditi yang mampu mendongkrak perekonomian rakyat walaupun dalam hantaman badai krisis ekonomi global seperti yang terjadi beberapa tahun silam, perkebunan karet disini juga tetap mampu mempertahankan label daerah sebagai City Rubber (Kota Karet) di Indonesia.
    Pemerintah Provinsi Jambi menyadari betul, pengembangan terhadap sektor perkebunan karet merupakan salah satu langkah yang bisa meningkatkan ekonomi rakyat dalam kondisi perekonomian tidak stabil. Itulah sebabnya, peremajaan karet tua rakyat yang usianya sudah tidak lagi bisa berproduksi dengan baik terus dilakukan, termasuk di era kepemimpinan Gubernur Jambi Drs H Zulkifli Nurdin, dan akhirnya cukup dikenal sebagai program peremajaan karet yang cukup spektakuler.
    Sekarang, di tahun pertama kepemimpinan Gubernur Jambi Drs H Hasan Basri Agus (HBA), sektor perkebunan karet juga menjadi prioritas, dan sekarang peremajaan karet milik rakyat menjadi fokus yang dibuktikannya dengan penanaman bibit karet program pengembangan karet rakyat di Provinsi Jambi tahun 2010, di Desa Simpang Sungai Duren, Kecamatan Jambi Luar Kota (Jalu-ko), Kabupaten Muaro Jambi, Selasa (14/12-2010) lalu.
    Gubernur Jambi seusai melakukan penanaman dalam arahannya menyampaikan, sebagaimana diketahui bersama bahwa Provinsi Jambi memiliki sumber .daya alam yang melimpah, baik migas, batu bara, emas, manner, bahan semen maupun bahan-bahan tambang lainnya, yang semuanya tidak dapat diperbaharui, sehingga tidak menjamin untuk bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan.
    Dengan demikian, strategi dan kebijakan dalam pembangunan haruslah diarahkan pada pemanfaatan lahan yang masih luas untuk pembangunan sektor pertanian. Dan ini sangat sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Provinsi Jambi 2011-2015, bahwa pembangunan bidang pertanian, perkebunan menjadi salah satu prioritas program pembangunan.
    Menurutnya, pemerintah terus mendorong pertumbuhan sektor perkebunan, yang pernah mengalami zaman keemasan pada tempo dulu. Karenanya Pemerintah Provinsi Jambi bertekat kembali pada komoditi unggulan karet, dalamartian perlu langkah startegis dalam mengembangkan kebun karet dengan menggunakan bibit unggul, pemupukan dan penyuluhan yang intensif.
    Namun walaupun demikian, kata Hasan Basri Agus, perlu disadari bahwa perkebunan karet adalah tempat bersandarnya rakyat (ekonomi kerakyatan), karena sebagian besar perkebunan karet milik rakyat. Dalam struktur PDRB Provinsi Jambi sendiri, kontribusi sub-sektor perkebunan ini cukup besar.
    “Sejarah telah membukukan, dalamsituasi krisis ekonomi yang terjadi pada beberapa tahun yang lalu Provinsi Jambi tetap tegar, tidak banyak mengalami goncangan, hal ini disebabkan karena perekonomian Provinsi Jambi secara umum bertumpu pada sektor pertanian, khususnya sub-sektor perkebunan,” ujarnya.
    Lebih lanjut disampaikan gubernur, bahwa karet sebagai salah satu komoditi unggulan perkebunan Provinsi Jambi sudah lebih 100 tahun menjadi sumber pendapatan daerah dan merupakan sumber pendapatan sebagian besar petani. Terlebih harga komoditi karet saat ini, mengalami peningkatan yang cukup signifikan, sehingga mendorong minat petani di hampir semua kabupaten di Provinsi Jambi.
    Tetapi permasalahannya yang dihadapi saat ini, katanya, adalah rendahnya produktivitas, terutama pada perkebunan rakyat yang baru mencapai 821 kgkadar karet kering KKK, sedangkan potensi produksi bisa lebih dari satu ton KKK/ha/tahun. Menurut gubernur, rendahnya tingkat produktivitas ini, sebagai akibat karena terbatasnya penggunaan bibit karet klon ungul, kurangnya pemeliharaan, seperti pemupukan dan pengendalian hama/penyakit serta terjadinya peningkatan luas tanaman karet tua/rusak. .Disisi lain modal petani masih sangat lembah untuk meremajakan kebun karet. Menyikapi kondisi ini, tentunya peme-
    rintah tidak tinggal diam dan berpangku tangan. “Kami terus berupaya dan berusaha untuk mengatasi berbagai permasalahan terkait, dan upaya yang telah kita lakukan dengan membantu petani dalam penyediaan bibit karet unggul secara cuma-cuma. Disamping itu pemerintah juga telah melakukan pembinaan/ pengawasan penangkar, pelatihan petani dan pembangunan jalan produksi serta berbagai pembinaan lainnya,” jelas gu-bemur.
    Disamping itu dijelaskan gubernur, bahwa program pengembangan karet rakyat yang telah dilaksanakan di Provinsi Jambi sejak tahun 2006-2010, melalui dana APBD Provinsi Jambi telah mencapai 45.254 ha, melalui dana APBD Kabupaten seluas 16.700 ha dan melalui dana APBN seluas 3.746 ha. Diharapkan luasan kebun karet rakyat yang diremajakan akan terus meningkat, sehinggaproduksinya juga akan terus mengalami peningkatan.
    Gubernur juga menyampaikan, bahwa Kabupaten Muaro Jambi merupakan salah satu sentra produksi karet, yang telah memberikan kontribusi nyata dalam peremajaan kebun karet. Kontribusi lain dari perkebunan karet ini, yakni berkembangnya penangkar bibit karet secara pesat di Provinsi Jambi. Dengan demikian diharapkan akan dapat memenuhi kebutuhan bibit karet dalam peremajaan kebun karet, khususnya eks plasma PTPN VI di Kabupaten Muaro Jambi dan Kabupaten Batanghari.
    Melalui kesempatan ini gubernur mengajak seluruh petani di Provisni Jambi, khususnya di Kabupaten Muaro Jambi agar betul-betul menanam dan memelihara bibit karet unggul yang sudah diterima dan perlu diingat oleh para petani, bahwa bibit yang diberikan kepada para petani adalah ,bibit unggul, sehingga dalam pemeliharaannya perlu mendapatkan perlakukan yang intensif, seperti pemupukan, pengendalian hama/penyakit khususnya dari serangan jamur akar putih (JAP), dan serangan hama binatang pengganggu.

    DAN JUGA FENOMENA YANG TERJADI DI PETANI KARET SAAT INI ADALAH

    Petani karet yang meminjam uang kepada tauke getah, sehingga waktu persoalan kesulitan menyadap getah di musim merupakan persoalan yang dihadapi semua petani karet. Pada saat musim hujan produksi petani menurun hingga 50 persen.

    Selain persoalan menurunnya produksi, dia mengungkapkan masalah lain yang menghantui petani karet adalah harga getah yang semakin tidak bersahabat. Kini petani hanya menjual getah antara Rp 10 ribu- Rp 11 ribu per kilogram, atau turun sekitar Rp 2.000 dibandingkan bulan lalu.

    “Sangat menyedihkan memang. Saat hasil panen kami menurun, harga getah juga semakin anjlok. Kalau harga semakin tinggi di saat produksi menurun mungkin masih lumayan,” ucapnya.

    Hal senada juga diungkapkan Suparman, yang menyebut hasil panen getah karetnya tidak mencukupi lagi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membiayai hidup sekolah anak-anaknya. “Terpaksa kami harus minta pinjaman kepada tauke. Pada saat seperti ini kami bergantung pada tauke,” ujarnya.

    Dia mengungkapkan tauke biasanya tidak akan menolak permintaan petani meminjam uang. “Tauke juga sudah tahu kondisi kita seperti apa. Apalagi pinjaman itu bukan untuk foya-foya, tapi ini untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kalau bukan ke tauke kami pinjam sama siapa lagi,” katanya.

    Petani karet memperkirakan kondisi kehidupan mereka akan normal lagi akhir Januari mendatang, yakni saat musim hujan berakhir. Musim hujan dan kemarau sudah menjadi siklus yang harus mereka lalui setiap tahun, dan setiap musim itu mempunya persoalan tersendiri bagi petani karet.
    Dan juga Tetapi permasalahannya yang dihadapi saat ini, katanya, adalah rendahnya produktivitas, terutama pada perkebunan rakyat yang baru mencapai 821 kgkadar karet kering KKK, sedangkan potensi produksi bisa lebih dari satu ton KKK/ha/tahun. Menurut gubernur, rendahnya tingkat produktivitas ini, sebagai akibat karena terbatasnya penggunaan bibit karet klon ungul, kurangnya pemeliharaan, seperti pemupukan dan pengendalian hama/penyakit serta terjadinya peningkatan luas tanaman karet tua/rusak. .Disisi lain modal petani masih sangat lembah untuk meremajakan kebun karet. Menyikapi kondisi ini, tentunya peme-
    rintah tidak tinggal diam dan berpangku tangan. “Kami terus berupaya dan berusaha untuk mengatasi berbagai permasalahan terkait, dan upaya yang telah kita lakukan dengan membantu petani dalam penyediaan bibit karet unggul secara cuma-cuma. Disamping itu pemerintah juga telah melakukan pembinaan/ pengawasan penangkar, pelatihan petani dan pembangunan jalan produksi serta berbagai pembinaan lainnya,” jelas gu-bemur.
    Disamping itu dijelaskan gubernur, bahwa program pengembangan karet rakyat yang telah dilaksanakan di Provinsi Jambi sejak tahun 2006-2010, melalui dana APBD Provinsi Jambi telah mencapai 45.254 ha, melalui dana APBD Kabupaten seluas 16.700 ha dan melalui dana APBN seluas 3.746 ha. Diharapkan luasan kebun karet rakyat yang diremajakan akan terus meningkat, sehinggaproduksinya juga akan terus mengalami peningkatan.
    Gubernur juga menyampaikan, bahwa Kabupaten Muaro Jambi merupakan salah satu sentra produksi karet, yang telah memberikan kontribusi nyata dalam peremajaan kebun karet. Kontribusi lain dari perkebunan karet ini, yakni berkembangnya penangkar bibit karet secara pesat di Provinsi Jambi. Dengan demikian diharapkan akan dapat memenuhi kebutuhan bibit karet dalam peremajaan kebun karet, khususnya eks plasma PTPN VI di Kabupaten Muaro Jambi dan Kabupaten Batanghari.
    Melalui kesempatan ini gubernur mengajak seluruh petani di Provisni Jambi, khususnya di Kabupaten Muaro Jambi agar betul-betul menanam dan memelihara bibit karet unggul yang sudah diterima dan perlu diingat oleh para petani, bahwa bibit yang diberikan kepada para petani adalah ,bibit unggul, sehingga dalam pemeliharaannya perlu mendapatkan perlakukan yang intensif, seperti pemupukan, pengendalian hama/penyakit khususnya dari serangan jamur akar putih (JAP), dan serangan hama binatang pengganggu.

    menurut saya Pendekatan pemecahan masalah tersebut dapat dilakukan melalui metode Participatory Learning and Action (PLA). Partisipasi aktif anggota dari kedua kelompok diutamakan dalam berdiskusi, berbagi informasi dan pengalaman serta penerapan IbM. Untuk mengatasi berbagai masalah pada kelompok tani Karya Bakti dan Jaya Bersama telah dilakukan need assesment dengan metode partisipatif dan telah disepakati program yang perlu dilakukan : 1) Peningkatan pengetahuan anggota kelompok tani dalam budidaya tanaman karet yang sehat, biologi dan ekologi penyakit JAP yang berhubungan dengan fenologi tanaman, dan 2) Peningkatan kemampuan dalam penerapan metode pengendalian penyakit JAP secara terpadu dengan prinsip-prinsip dasar PHT, yaitu meningkatkan vigor dan kesehatan tanaman, meningkatkan peran musuh alami dan menekan perkembangan populasi JAP.
    Dan juga diperlukan campur tangan pemerintah di desa untuk petani melakukan keperluan simpan pinjam dalam hal ini kud , atau lembaga- lembaga di desa memudahkan para petani dalam mendapatkan modal dalam pengurusan administrasi simpan pinjam atau modal dengan bunga yang tidak besar terhadap petani..

    Daftar Pustaka
    http://bataviase.co.id/node/498428/di unduh pada tanggal 5 desember 2011 ,jam 12.00
    http://jambi.tribunnews.com/2011/11/24/petani-di-batanghari-pinjam-uang-sama-tauke,di unduh pada tanggal 5 desember 2011 , jam 13.20
    http://fuadnurdiansyah.wordpress.com/community-service/ibm-kelompok-tani-karet-di-desa-sungai-buluh-in-progress/ unduh pada tanggal 5 desember 2011 , jam 13.24

  32. Nama : Volmer Arman Tondang
    Nim : D1B010036 (B)
    Agribisnis D
    Permasalahan utama yang dihadapi oleh petani karet di Provinsi Jambi dan alternatif pemecahan masalahnya
    Provinsi Jambi merupakan daerah penanaman karet rakyat terluas kedua di Indonesia setelah Sumatera Selatan (Rosyid, MJ et al, 2004). Luas areal pertanaman karet di Provinsi Jambi mencapai 557.042 ha. Pertanaman karet terdapat pada semua Kabupaten, namun Kabupaten yang terluas pertanaman karetnya adalah Kabupaten Sarolangun, Merangin, Batang Hari dan Tebo (Dinas Perkebunan Provinsi Jambi, 2005). Tahun 2009 meningkat tajam sejak program peremajaan karet tua dan perluasan karet dicanangkan Pemerintah Provinsi Jambi tahun 2006 lalu. Disebutkan, dengan demikian maka komudias karet di Provinsi Jambi merupakan salah satu sumber devisa dan juga mata pencaharian pokok bagi sebagian besar penduknya. Permasalahan yang dihadapi relatif sama dengan daerah lain yaitu produktivitas, penerapan teknologi budidaya, dan mutu bokar yang rendah.
    Salah satu contoh masalah Agribisnis karet di Provinsi Jambi yaitu terdapat di Subsistem Agribisnis hulu. Pemerintah Provinsi Jambi membutuhkan sentra pembibitan karet unggul di Provinsi Jambi guna mendukung program peremajaan dan perluasan tanaman karet di Provinsi Jambi. Dengan adanya sentra pembibitan karet unggul tersebut, akan bermanfaat bagi kelangsungan perkebunan karet dan menyerap tenaga kerja di Provinsi Jambi.
    Tenaga Ahli Balai Penelitian Karet Sembawa, Sumatera Selatan, Mudji Lasminingsih, di Jambi, Minggu (3/5) mengatakan untuk pembuatan sentra penangkar karet di Provinsi Jambi dapat menjawab persoalan pengadaan bibit karet unggul di Provinsi Jambi yang selama ini menjadi kendala.
    Perlu juga dimengerti bahwa dalam menyiapkan bahan tanam unggul bermutu perlu waktu persiapan yang cukup. Untuk mendapatkan bahan tanam bermutu faktor yang sangat diperlukan ada beberapa hal, yaitu ketersediaan pembibitan batang bawah, ketersediaan entres yang bermutu, kondisi musim yang menunjang dan faktor harga bahan tanam ditingkat penangkar.
    Oleh karena itu dalam mewujudkan produksi tanaman karet skala besar di Provinsi Jambi maka dibutuhkan industri penyedia bibit secara besar.
    Diharapkan juga Pemerintah terus berupaya mengatasi berbagai permasalahan petani. Pemerintah berupaya untuk membantu petani dalam menyediakan bibit karet unggul secara cuma-cuma. Disamping itu pemerintah juga telah melakukan pembinaan/pengawasan penangkar, pelatihan petani dan pembangunan jalan produksi serta berbagai pembinaan lainnya. Selama ini, program pengembangan karet rakyat yang telah dilaksanakan di Provinsi Jambi sejak tahun 2006-2010, melalui dana APBD Provinsi Jambi telah mencapai 45.254 Ha, melalui dana APBD Kabupaten seluas 16.700 Ha dan melalui dana APBN seluas 3.746 Ha.
    Daftar Pustaka
    http://rosenmanmanihuruk.blogspot.com/2009/05/provinsi-jambi-butuh-sentra-pembibitan.html
    http://agroindustry.wordpress.com/2009/11/17/subsistem-agribisnis/
    http://www.jambiekspres.co.id/

  33. Nama : Eco Herwanto Butar-Butar
    Nim : D1B010022
    Jurusan : Agribisnis (D)

    Pengembangan Agribisnis Perkebunan Karet Di Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi

    Pengembangan Agribisnis Perkebunan Karet Di Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi
    Studi tentang strategi pengembangan agribisnis perkebunan karet yang diproyeksikan menjadi sektor unggulan

    Fenomena yang dijadikan obyek penelitian adalah pPengembangan agribisnis sub sektor perkebunan karet di Kabupaten Sarolangun yang dianggap belum optimal. Meskipun belum optimal, namun dari data PDRB diketahui bahwa kontribusi Sub Sektor Perkebunan Karet tergolong besar bila dibandingkan dengan kontribusi sub-sub sektor lainnya, karena produksi Sub Sektor Perkebunan Karet di Kabupaten Sarolangsung termasuk yang paling tinggi di antara produksi sub-sub Sektor Sektor Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan. Dengan pertumbuhan produksi yang tinggi itu, mestinya Sub Sektor Perkebunan Karet di Kabupaten Sarolangun dapat dikembangkan menjadi sektor unggulan, karena sub sektor tersebut potensial untuk menjadi sektor unggulan dalam menumbuhkan perekonomian daerah. Dan untuk menjadikan sub sektor perkebunan karet di Kabupaten Sarolangun sebagai sektor unggulan jelas diperlukan suatu kebijakan dan strategi pengembangan sub sektor tersebut.

    Konsep penelitian menggunakan pendekatan penelitian deskriptif. Pengolahan data menggunakan metode analisis kualitatif. Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer kuantitatif dari 30 responden penelitian dan data primer kualitatif dari 1 Informan Penelitian. Pengumpulan data primer kuantitatif menggunakan Kuesioner Penelitian, pengumpulan data primer kualitatif menggunakan teknik wawancara tertulis.

    Berdasarkan pembahasan hasil penelitian diperoleh pokok-pokok kesimpulan sebagai berikut :
    1. Sumber daya ekonomi perkebunan karet yang terdapat dalam lingkungan strategis belum tergarap secara optimal karena terkendala oleh kondisi tanaman karet yang tua dan rusak; sumber daya sosial perkebunan karet belum dioptimalkan untuk mengembangkan perkebunan karet sebagai sektor unggulan karena partisipasi para petani perkebunan masih redah; pembangunan infrastruktur perkebunan untuk mendukung pengembangan perkebunan karet sebagai sektor unggulan sangat terbatas; cukup banyak kendala pengembangan pemasaran hasil perkebunan karet; dan arah kebijakan Pemda Kabupaten Sarolangun dalam mengelola potensi dan permasalahan perkebunan karet sebagai sektor unggulan masih belum jelas
    Solusi; Petani harus lebih berpartisipasi terhadap perkebunan karet,Selain itu pemerinta harus memperbaiki infrastruktur agar pemasaran hasil karet dapat dengan baik dilaksanakan..
    2. Pemda Kabupaten Sarolangun belum mengidentifikasi dan menetapkan secara jelas faktor kunci keberhasilan dalam mengembangkan sumber daya perkebunan karet sebagai sektor unggulan.
    Solusi : Pemda setempat harus menetapkan dan mensosialisasikan kepada petanai secara jelas faktor kunci keberhasilan dalam mengembangkan sumber daya perkebunan karet sebagai sektor unggulan.

    3. Belum tercantum rumusan Visi Pengembangan Agribisnis Perkebunan Karet sebagai sektor unggulan; dan belum ada deskripsi Misi Pengembangan Agribisnis Perkebunan Karet sebagai sektor unggulan.
    Solusi : Pemda bsetempat dan petani harus menetapkan visi terlebih dahulu sebelum mengembanakan perkebunan karet supaya petani paham apa sebenarnya tujuan utama mereka mengusahakan perkebunan karet.
    4. Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Sarolangun tidak memiliki formulasi strategi pengembangan agribisnis perkebunan karet sebagai sektor unggulan; dan Dinas Kehutanan dan Perkebunan tidak memiliki prioritas strategi untuk segera menyikapi persoalan-persoalan pengembangan agribisnis perkebunan karet sebagai sektor unggulan.
    Solusi : Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Sarolangun harus memiliki formulasi strategi pengembangan agribisnis perkebunan karet sebagai sektor unggulan dan juga harus memiliki prioritas strategi untuk segera menyikapi persoalan-persoalan pengembangan agribisnis perkebunan karet sebagai sektor unggulan.

    Dengan demikian secara umum diperoleh gambaran aktual bahwa strategi pengembangan agribisnis perkebunan karet di Kabupaten Sarolangun belum terpola secara terarah, terpadu dan berkesinambungan.Oleh karena itu semua pihak terkait harus memperbaiki system pengembangan perkebunan karet yang selama ini dilakukan dengan melakukan/ menjalankan solusi- solusi y67ang telah diberikan.

    Daftar Pustaka
    http://tesisdisertasi.blogspot.com/2010/02/pengembangan-agribisnis-perkebunan.html

  34. Dewi Susanti
    D1B010068
    Kelas E
    Fenomena-fenomena Agribisnis Karet

    Harga ekspor karet di Indonesia sangat tergantung pada harga karet alam internasional, penawaran dan permintaan. Serta daya saing ekspor karet Indonesia dibandingkan dengan ekspor dari negara-negara pengekspor lainnya seperti Thailand dan Malaysia. Jenis produk ekspor karet di Indonesia pada pada tahun 1969 didominasi oleh Sit asap (Ribed Smoke Sheet-RSS), tetapi sepuluh tahun kemudian di dominasi oleh jenis karet spesifikasi teknis ( Standar Indonesian Ruber-SIR). Pada tahun 2004 jenis SIR mendominasi ekspor karet alam di Indonesia dengan porsi sekitar 91 % dari total keseluruhan ekspor yang ada.
    Dibandingkan dengan negara produsen karet alam yang lainnya seperti Thailand dan Malaysia, ragam produk karet yang di hasilkan dan di ekspor Indonesia masih terbatas jenisnya dan pada umumnya masih didominasi oleh produk primer dan produk setengah jadi. Ini menjadikan nilai ekspor yang dapat diraih tentu jauh dibawah negara yang sudah menghasilkan dan mengekspor beragam produk karet olahan.
    Inilah gambaran keadaan secara umum karet di Indonesia. Diprovinsi Jambi sendiri banyak sekali permasalah yang dihadapi terkait karet yang memang menjadi salah satu komoditi perkebunan unggulan dan sebagai sumber pendapatan daerah juga pendapatan sebagian besar petani karet itu sendiri . Masalah yang ditemui dalam perkebunan karet rakyat adalah masih rendahnya produktifitas hasil serta beragam dan rendahnya mutu bahan olah karet. Hal ini disebabkan oleh masih luasnya areal karet tua yang perlu diremajakan. Masalah ini telah mulai mendapat perhatian dari pemeritah dengan telah dicanangkannya program peremajaan karet yang juga telah mendapat sambutan yang baik dari petani. Selanjutnya untuk mendukung program peremajaan karet ini diperlukan bibit unggul agar lebih mengoptimalkan hasil. Karena selama ini banyak petani yang menggunakan bibit yang didapat dengan mengambil bibit dari lahan karet yang ada. Bibit yang tumbuh dari biji-biji karet yang jatuh dan secara liar tumbuh di sekitar lahan tersebut. Belum lagi harga karet yang naik dan turun tanpa bisa diperkirakan oleh petani, ini menjadi salah satu sebab banyaknya petani yang mengganti perkebunan karet dengan perkebunan sawit yang dalam perkiraan petani yang minim pendidikan ini lebih menjanjikan dengan melihat banyaknya pemilik lahan sawit yang hidupnya layak. Meski banyak juga pemilik lahan karet yang bisa dibilang lebih layak hidupnya. Semua ini adalah masalah yang dihadapi petani karet.
    Dalam hal jual beli karet diprovinsi jambi, masih dikuasai oleh pedagang perantara yang sangat merugikan petani. Pemerintah masih sangat diharapkan perannya dalam hal mengatur tata niaga karet tersebut. Ini dapat dilakukan dengan menjembatani petani karet langsung kepada pebrik-pabrik yang ada. Atau setidaknya, pemerintah membuat sebuah lembaga yang langsung menampung karet dari rakyat dan barulah menjualnya ke pabrik besar yang ada.
    Pemecahan masalah yang dapat dilakukan dengan menjalankan program peremajaan karet dan membuat tempat pembibitan unggul. Dari sini pemerintah dan pihak yang terkait dapat berhbungan langsung dengan petani, mendengar berbagai keluhan dan berusaha menampung semuanya untuk dicarikan solusi bersama. Ini juga dapat menjadi solusi untuk mengembalikan kepercayaan petani pada pemerintah yang sempat hilang. Juga melibatkan petani langsung dalam kerja nyata dilapangan secara bersama-bersama agar petani dapat belajar dan bisa mandiri dikemudian hari dengan pemerintah sebagai fasilitator.

    Sumber pustaka:

    http://rosenmanmanihuruk.blogspot.com/2009/05/provinsi-jambi-butuh-sentra-pembibitan.htm
    http://www.radartanjab-news.com

  35. NAMA : DEBY YULIA NINGSIH
    NIM : D1B010044
    KELAS : D

    Pada tahun 2004, jumlah penduduk kabupaten Batanghari berjumlah 210.561 jiwa yang tersebar di 8 kecamatan1. Sebagaian besar dari penduduk tersebut bermata pencaharian sebagai petani, baik itu yang bergerak dibidang pertanian maupun perkebunan karena dilihat dari Kondisi alam kabupaten yang merupakan daerah dataran rendah yang sebagian besar merupakan daerah perbukitan dan berawa dan memiliki curah hujan yang cukup tinggi sepanjang tahunnya sehingga sangat cocok untuk dikembangkan usaha dibidang perkebunan pertanian, secara garis besar usaha dibidang perkebunan didominasi oleh 2 komoditi unggulan kabupaten Batanghari yaitu usaha perkebunan karet.
    Permasalahan industry karet di kabupaten Batanghari hampir sama dengan permasalahan-permasalahan yang dihadapi didaerah sentra karet lainya diwilayah Sumatra maupun daerah-daerah lain di Indonesia, permasalahan industry karet dikabupaten Batanghari secara garis besar dapat berasal dari 2 faktor penyebab, yaitu;
    1.Factor yang berasal dari internal
    2.Factor yang berasal dari external
    Permasalahan dari factor internal adalah factor yang berasal dari dalam pelaku industry karet itu sendiri yang meliputi permasalahan ditingkat petani, industry pengolahan.
    Ditingkat petani permasalahan yang mendasar adalah system pengelolaan perkebunan karet yang ada sekarang masih dilakukan dengan cara yang sangat sederhana hal ini dipengaruhi oleh hampir 93% luas perkebunan yang ada dikabupaten Batanghari merupakan perkebunan milik rakyat yang dikelola secara mandiri oleh pemiliknya. Tentunya system pengelolaan yang seperti ini memiliki banyak kekurangan terutama di bidang permodalan dan pengetahuan dalam pengelolaan perkebunan dampak dari kekurangan tersebut dapat dilihat mulai dari cara persiapan lahan yang dilakukan dengan seadanya, pemilihan bibit yang kurang baik dan proses pembibitan yang berdasarkan pengalaman, proses penyadapan yang tidak teratur, pengolahan hasil dengan menggunakan teknologi yang sangat sederhana yang mereka peroleh secaraturun temurun sampai dengan rantai perdagangan yang sangat panjang, tentunya factor-faktor ini sangat berpengaruh terhadap kwalitas hasil yang mereka hasilkan dan daripada itu juga penghasilan yang diterima oleh petani juga jauh dari optimal.
    Dengan system pengolahan ditingkat petani yang terkesan apa adanya tersebut tentu berpengaruh terhadap permasalahan yang dihadapi di tingkat industry pengolahan karet karena karet yang dihasilkan oleh para petani memiliki kualitas dibawah standar perdagangan nasional maupun internasional karet maka pihak indutri pengolahan harus mengeluarkan biaya pengolahan yang cukup besar untuk mengolah karet petani tersebut agar menjadi karet yang memenuhi standar mutunya sehingga hasil yang mereka peroleh menjadi sangat kecil selain itu juga banyak industry pengolahan karet yang terkena masalah pemanfaatan limbah dari industrinya karena dalam pengolahan karet yang berasal dari perkebunan rakyat rata-rata mengahasilkan limbah selain karet yang cukup banyak seperti kulit pohon karet, daun-daun, tanah, dan lain sebagainya. Dan ini pula salah satunya yang menyebabkan keengganan investor menanamkan investasi dibidang pengolahan karet (industry hilir) dikabupaten Batanghari. Selain itu peran pemerintah khususnya pemerintah daerah kabupaten batanghari dalam usaha perkebunan karet di nilai masih sangat kurang dan masih kalah dengan bidang usaha lainya terutama usaha bahan tambang, hal ini dapat dilihat setelah sekian lamanya kabupaten Batanghari berdiri bahkan telah mengalami beberapa kali pemekaran wilayah dan pertukaran kepemimpinan system pengolahan kebun karet yang sebenarnya lambang dari kabupaten dan sumber pendapatan sebagian besar masyarakatnya tidak banyak mengalami perubahan bahkan mulai tergusur oleh perkebunan kelapa sawit yang dikelola oleh perusahaan swasta selain itukebijakan pemerintah pada saat ini masih berorientasi pada ekspor barang
    mentah sehingga hasil yang didapat sangat tidak optimal.
    Sedangkan factor external yang mempengaruhi dari perkembangan industry karet dikabupaten Batanghari adalah harga karet internasional yang belum stabil dan masih kalah bersaing dengan karet sintetis.

    SOLUSI PENANGANAN PERMASALAHAN KARET
    KABUPATEN BATANGHARI
    Dilihat dari permasalahan yang dihadapi oleh usaha industry perkaretna di kabupaten Batanghari dapat dilakukan usaha-usaha tertentu untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi tersebut dan usaha tersebut harus meliputi dari 3 unsur pokok yang mempunyai peran yang sangat penting dalam menunjang berkembangnya industry karet dikabupaten Batanghari.
    1.Petani Karet
    Mengatasi permasalahan ditingkat petani karet merupakan hal yang pokok dan mendasar yang harus dilakukan dalam industry karet karena ditingkat petani inilah yang menentukan tinggi rendahnya kwalitas suatu produk karet yang dihasilkan oleh industry pengolahan karet, dan perbaikkan ditingkat petani tersebut dapat dilakukan dengan memberikan pengetahuan dan teknologi kepada petani karet tentang pengelolaan industry karet yang baik dan benar mulai dari proses penyiapan lahan, pemilihan bibit, cara penanaman, cara perawatan, penyadapan/panen, sampai dengan pengelolaan hasil kebun. Dan semua itu harus mereka kuasai agar hasil yang mereka terima juga maksimal.
    2.Pelaku Industri
    3.Pemerintah
    untuk me-ningkatkan taraf hidup petani karet melalui ekstensifikasi perkebunan rakyat, terutama dalam kerangka peningkatan ekonomi rakyat.
    Yang perlu di berikan pemerintah kepada petani yaitu:
    1.Bantuan bibit unggul
    2.Bantuan pupuk,
    3.Bantuan biaya pemagaran atau parit

    DAFTAR PUSTAKA
    Anwar Chairil, 2001, “Menajemen dan Teknologi Budidaya Karet” (disampaikan
    pada pelatihan “Tekno Ekonomi Agribisnis Karet” tanggal 18 Mei 2006, di
    Jakarta oleh PT. FABA Indonesia Konsultan). Pusat Penelitian Karet; Medan
    Grahadyarin BM Lukita dan Hamzirwan,2007, “Petani Terhimpit di Hulu dan Hilir”,
    Penelitian Terhadap Keadaan Petani Karet di Sumatra Selatan
    Tim Penulis Penebar Swadaya,2008, “Buku Panduan Karet”(cetakan pertama),
    Penebar Swadaya: Jakarta
    http://www.kabbatanghari.go.id
    http://www.batanghari.com
    Disarikan dari berbagai informasi di internet

    • NAMA : DEBY YULIA NINGSIH
      NIM : D1B010044
      KELAS : D

      Pada tahun 2004, jumlah penduduk kabupaten Batanghari berjumlah 210.561 jiwa yang tersebar di 8 kecamatan1. Sebagaian besar dari penduduk tersebut bermata pencaharian sebagai petani, baik itu yang bergerak dibidang pertanian maupun perkebunan karena dilihat dari Kondisi alam kabupaten yang merupakan daerah dataran rendah yang sebagian besar merupakan daerah perbukitan dan berawa dan memiliki curah hujan yang cukup tinggi sepanjang tahunnya sehingga sangat cocok untuk dikembangkan usaha dibidang perkebunan pertanian, secara garis besar usaha dibidang perkebunan didominasi oleh 2 komoditi unggulan kabupaten Batanghari yaitu usaha perkebunan karet.
      Permasalahan industry karet di kabupaten Batanghari hampir sama dengan permasalahan-permasalahan yang dihadapi didaerah sentra karet lainya diwilayah Sumatra maupun daerah-daerah lain di Indonesia, permasalahan industry karet dikabupaten Batanghari secara garis besar dapat berasal dari 2 faktor penyebab, yaitu;
      1.Factor yang berasal dari internal
      2.Factor yang berasal dari external
      Permasalahan dari factor internal adalah factor yang berasal dari dalam pelaku industry karet itu sendiri yang meliputi permasalahan ditingkat petani, industry pengolahan.
      Ditingkat petani permasalahan yang mendasar adalah system pengelolaan perkebunan karet yang ada sekarang masih dilakukan dengan cara yang sangat sederhana hal ini dipengaruhi oleh hampir 93% luas perkebunan yang ada dikabupaten Batanghari merupakan perkebunan milik rakyat yang dikelola secara mandiri oleh pemiliknya. Tentunya system pengelolaan yang seperti ini memiliki banyak kekurangan terutama di bidang permodalan dan pengetahuan dalam pengelolaan perkebunan dampak dari kekurangan tersebut dapat dilihat mulai dari cara persiapan lahan yang dilakukan dengan seadanya, pemilihan bibit yang kurang baik dan proses pembibitan yang berdasarkan pengalaman, proses penyadapan yang tidak teratur, pengolahan hasil dengan menggunakan teknologi yang sangat sederhana yang mereka peroleh secaraturun temurun sampai dengan rantai perdagangan yang sangat panjang, tentunya factor-faktor ini sangat berpengaruh terhadap kwalitas hasil yang mereka hasilkan dan daripada itu juga penghasilan yang diterima oleh petani juga jauh dari optimal.
      Dengan system pengolahan ditingkat petani yang terkesan apa adanya tersebut tentu berpengaruh terhadap permasalahan yang dihadapi di tingkat industry pengolahan karet karena karet yang dihasilkan oleh para petani memiliki kualitas dibawah standar perdagangan nasional maupun internasional karet maka pihak indutri pengolahan harus mengeluarkan biaya pengolahan yang cukup besar untuk mengolah karet petani tersebut agar menjadi karet yang memenuhi standar mutunya sehingga hasil yang mereka peroleh menjadi sangat kecil selain itu juga banyak industry pengolahan karet yang terkena masalah pemanfaatan limbah dari industrinya karena dalam pengolahan karet yang berasal dari perkebunan rakyat rata-rata mengahasilkan limbah selain karet yang cukup banyak seperti kulit pohon karet, daun-daun, tanah, dan lain sebagainya. Dan ini pula salah satunya yang menyebabkan keengganan investor menanamkan investasi dibidang pengolahan karet (industry hilir) dikabupaten Batanghari. Selain itu peran pemerintah khususnya pemerintah daerah kabupaten batanghari dalam usaha perkebunan karet di nilai masih sangat kurang dan masih kalah dengan bidang usaha lainya terutama usaha bahan tambang, hal ini dapat dilihat setelah sekian lamanya kabupaten Batanghari berdiri bahkan telah mengalami beberapa kali pemekaran wilayah dan pertukaran kepemimpinan system pengolahan kebun karet yang sebenarnya lambang dari kabupaten dan sumber pendapatan sebagian besar masyarakatnya tidak banyak mengalami perubahan bahkan mulai tergusur oleh perkebunan kelapa sawit yang dikelola oleh perusahaan swasta selain itukebijakan pemerintah pada saat ini masih berorientasi pada ekspor barang
      mentah sehingga hasil yang didapat sangat tidak optimal.
      Sedangkan factor external yang mempengaruhi dari perkembangan industry karet dikabupaten Batanghari adalah harga karet internasional yang belum stabil dan masih kalah bersaing dengan karet sintetis.

      SOLUSI PENANGANAN PERMASALAHAN KARET
      KABUPATEN BATANGHARI
      Dilihat dari permasalahan yang dihadapi oleh usaha industry perkaretna di kabupaten Batanghari dapat dilakukan usaha-usaha tertentu untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi tersebut dan usaha tersebut harus meliputi dari 3 unsur pokok yang mempunyai peran yang sangat penting dalam menunjang berkembangnya industry karet dikabupaten Batanghari.
      1.Petani Karet
      Mengatasi permasalahan ditingkat petani karet merupakan hal yang pokok dan mendasar yang harus dilakukan dalam industry karet karena ditingkat petani inilah yang menentukan tinggi rendahnya kwalitas suatu produk karet yang dihasilkan oleh industry pengolahan karet, dan perbaikkan ditingkat petani tersebut dapat dilakukan dengan memberikan pengetahuan dan teknologi kepada petani karet tentang pengelolaan industry karet yang baik dan benar mulai dari proses penyiapan lahan, pemilihan bibit, cara penanaman, cara perawatan, penyadapan/panen, sampai dengan pengelolaan hasil kebun. Dan semua itu harus mereka kuasai agar hasil yang mereka terima juga maksimal.
      2.Pelaku Industri
      3.Pemerintah
      untuk me-ningkatkan taraf hidup petani karet melalui ekstensifikasi perkebunan rakyat, terutama dalam kerangka peningkatan ekonomi rakyat.
      Yang perlu di berikan pemerintah kepada petani yaitu:
      1.Bantuan bibit unggul
      2.Bantuan pupuk,
      3.Bantuan biaya pemagaran atau parit

      DAFTAR PUSTAKA
      Anwar Chairil, 2001, “Menajemen dan Teknologi Budidaya Karet” (disampaikan
      pada pelatihan “Tekno Ekonomi Agribisnis Karet” tanggal 18 Mei 2006, di
      Jakarta oleh PT. FABA Indonesia Konsultan). Pusat Penelitian Karet; Medan
      Grahadyarin BM Lukita dan Hamzirwan,2007, “Petani Terhimpit di Hulu dan Hilir”,
      Penelitian Terhadap Keadaan Petani Karet di Sumatra Selatan
      Tim Penulis Penebar Swadaya,2008, “Buku Panduan Karet”(cetakan pertama),
      Penebar Swadaya: Jakarta
      http://www.kabbatanghari.go.id
      http://www.batanghari.com
      Disarikan dari berbagai informasi di internet

  36. NAMA : URIP
    NIM : D1B010088
    KELAS : E
    STATUS KONTRAK : BARU

    PENDAHULUAN
    Karet merupakan komoditi ekspor yang mampu memberikan kontribusi di dalam upaya peningkatan devisa Indonesia. Ekspor Karet Indonesia selama 20 tahun terakhir terus menunjukkan adanya peningkatan dari 1.0 juta ton pada tahun 1985 menjadi 1.3 juta ton pada tahun 1995 dan 2.0 juta ton pada tahun 2005. Pendapatan devisa dari komoditi ini pada semester pertama tahun 2006 mencapai US$ 2.0 milyar, dan diperkirakan nilai ekspor karet pada tahun 2006 akan mencapai US $ 4,2 milyar (Kompas, 2006).
    Sejumlah lokasi di Indonesia memiliki keadaan lahan yang cocok untuk pertanaman karet, sebagian besar berada di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Luas area perkebunan karet tahun 2005 tercatat mencapai lebih dari 3.2 juta ha yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Diantaranya 85% merupakan perkebunan karet milik rakyat, dan hanya 7% perkebunan besar negara serta 8% perkebunan besar milik swasta. Produksi karet secara nasional pada tahun 2005 mencapai 2.2 juta ton. Jumlah ini masih akan bisa ditingkatkan lagi dengan melakukan peremajaan dan memberdayakan lahan-lahan pertanian milik petani serta lahan kosong/tidak produktif yang sesuai untuk perkebunan karet.
    Dengan memperhatikan adanya peningkatan permintaan dunia terhadap komoditi karet ini dimasa yang akan datang, maka upaya untuk meningkatakan pendapatan petani melalui perluasan tanaman karet dan peremajaaan kebun bisa merupakan langkah yang efektif untuk dilaksanakan. Guna mendukung hal ini, perlu diadakan bantuan yang bisa memberikan modal bagi petani atau pekebun swasta untuk membiayai pembangunan kebun karet dan pemeliharaan tanaman secara intensif.
    PEMBAHASAN
    Permasalahan Pengembangan Agribisnis di Provinsi Jambi
    Secara garis besar, penyebab dari permasalahan agribisnis karet di provinsi Jambi ada 2 faktor yaitu :
    1.Factor yang berasal dari internal
    2.Factor yang berasal dari external
    Permasalahan dari factor internal adalah factor yang berasal dari dalam pelaku industry karet itu sendiri yang meliputi permasalahan ditingkat petani.
    Ditingkat petani permasalahan yang mendasar adalah system pengelolaan perkebunan karet yang ada sekarang masih dilakukan dengan cara yang sangat sederhana hal ini dipengaruhi oleh hampir 93% luas perkebunan dikabupaten Batanghari merupakan perkebunan milik rakyat yang dikelola secara mandiri oleh pemiliknya. Tentunya system pengelolaan yang seperti ini memiliki banyak kekurangan terutama di bidang permodalan dan pengetahuan dalam pengelolaan perkebunan dampak dari kekurangan tersebut dapat dilihat mulai dari cara persiapan lahan yang dilakukan dengan seadanya, pemilihan bibit yang kurang baik dan proses pembibitan yang berdasarkan pengalaman, proses penyadapan yang tidak teratur, pengolahan hasil dengan menggunakan teknologi yang sangat sederhana yang mereka peroleh secara turun temurun sampai dengan rantai perdagangan yang sangat panjang, tentunya factor-faktor ini sangat berpengaruh terhadap kwalitas hasil yang mereka hasilkan dan daripada itu juga penghasilan yang diterima oleh petani juga jauh dari optimal.
    Dengan system pengolahan ditingkat petani yang terkesan apa adanya tersebut tentu berpengaruh terhadap permasalahan yang dihadapi di tingkat industry pengolahan karet karena karet yang dihasilkan oleh para petani memiliki kualitas dibawah standar perdagangan nasional maupun internasional karet maka pihak indutri pengolahan harus mengeluarkan biaya pengolahan yang cukup besar untuk mengolah karet petani tersebut agar menjadi karet yang memenuhi standar mutunya sehingga hasil yang mereka peroleh menjadi sangat kecil selain itu juga banyak industry pengolahan karet yang terkena masalah pemanfaatan limbah dari industrinya karena dalam pengolahan karet yang berasal dari perkebunan rakyat rata-rata mengahasilkan limbah selain karet yang cukup banyak seperti kulit pohon karet, daun-daun, tanah, dan lain sebagainya. Dan ini pula salah satunya yang menyebabkan keengganan investor menanamkan investasi dibidang pengolahan karet (industry hilir) dikabupaten Batanghari. Selain itu peran pemerintah khususnya pemerintah daerah kabupaten batanghari dalam usaha perkebunan karet di nilai masih sangat kurang dan masih kalah dengan bidang usaha lainya terutama usaha bahan tambang, hal ini dapat dilihat setelah sekian lamanya kabupaten Batanghari berdiri bahkan telah mengalami beberapa kali pemekaran wilayah dan pertukaran kepemimpinan system pengolahan kebun karet yang sebenarnya lambang dari kabupaten dan sumber pendapatan sebagian besar masyarakatnya tidak banyak mengalami perubahan bahkan mulai tergusur oleh perkebunan kelapa sawit yang dikelola oleh perusahaan swasta selain itu kebijakan pemerintah pada saat ini masih berorientasi pada ekspor barang
    mentah sehingga hasil yang didapat sangat tidak optimal.
    Sedangkan factor external yang mempengaruhi dari perkembangan industry karet dikabupaten Batanghari adalah harga karet internasional yang belum stabil dan masih kalah bersaing dengan karet sintetis.
    SOLUSI PERMASALAHAN KARET
    Petani sebagai pelaku industri karet haruslah diberikan pembinaan dan penyuluhan mengenai pengelolaan industry karet yang baik dan benar mulai dari proses penyiapan lahan, pemilihan bibit, cara penanaman, cara perawatan, penyadapan/panen, sampai dengan pengelolaan hasil kebun agar hasil yang mereka terima juga maksimal.
    PERMASALAHAN UTAMA
    Selain permasalahan diatas, yang menjadi masalah utama saat ini adalah harga karet yang tidak stabil sehingga sangat merugikan pihak petani dan belum semua petani yang dapat menjual langsung karet ke pabrik crum rubber.
    Harga karet yang tidak stabil pada saat ini diduga karena factor cuaca yang mengakibatkan menurunnya kualitas karet. Menghadapi situasi ini , untuk kedepannya memang dibutuhkan perencanaan strategi pengembangan baik dalam hal pemberdayaan sumber daya manusia (petani), tekhnik budidaya dan semua subsistem agribisnis tanaman karet.
    Untuk permasalahan petani yang belum begitu banyak bisa menjual langsung hasil karetnya ke pabrik, ini disebabkan masih kurangnya akses petani. Jadi, dari pihak-pihak pemerintah hendaknya ikut andil dalam hal pembinaan tata niaga dan pemutusan rantai tata niaga agribisnis karet yang begitu panjang. Selain itu juga pemerintah diharapkan lebih banyak mengadakan sekolah lapangan yang menjangkau seluruh daerah di provinsi jambi sehingga dapat menghasilkan karet yang berkualitas baik.

    DAFTAR PUSTAKA

    http://www.bumn.go.id/ptpn5/galeri/perkembangan-pasar-dan-prospek-agribisnis-karet-di-indonesia/

  37. NAMA : URIP
    NIM : D1B010088
    KELAS : E
    STATUS KONTRAK : BARU

    PENDAHULUAN
    Karet merupakan komoditi ekspor yang mampu memberikan kontribusi di dalam upaya peningkatan devisa Indonesia. Ekspor Karet Indonesia selama 20 tahun terakhir terus menunjukkan adanya peningkatan dari 1.0 juta ton pada tahun 1985 menjadi 1.3 juta ton pada tahun 1995 dan 2.0 juta ton pada tahun 2005. Pendapatan devisa dari komoditi ini pada semester pertama tahun 2006 mencapai US$ 2.0 milyar, dan diperkirakan nilai ekspor karet pada tahun 2006 akan mencapai US $ 4,2 milyar (Kompas, 2006).
    Sejumlah lokasi di Indonesia memiliki keadaan lahan yang cocok untuk pertanaman karet, sebagian besar berada di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Luas area perkebunan karet tahun 2005 tercatat mencapai lebih dari 3.2 juta ha yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Diantaranya 85% merupakan perkebunan karet milik rakyat, dan hanya 7% perkebunan besar negara serta 8% perkebunan besar milik swasta. Produksi karet secara nasional pada tahun 2005 mencapai 2.2 juta ton. Jumlah ini masih akan bisa ditingkatkan lagi dengan melakukan peremajaan dan memberdayakan lahan-lahan pertanian milik petani serta lahan kosong/tidak produktif yang sesuai untuk perkebunan karet.
    Dengan memperhatikan adanya peningkatan permintaan dunia terhadap komoditi karet ini dimasa yang akan datang, maka upaya untuk meningkatakan pendapatan petani melalui perluasan tanaman karet dan peremajaaan kebun bisa merupakan langkah yang efektif untuk dilaksanakan. Guna mendukung hal ini, perlu diadakan bantuan yang bisa memberikan modal bagi petani atau pekebun swasta untuk membiayai pembangunan kebun karet dan pemeliharaan tanaman secara intensif.
    PEMBAHASAN
    Permasalahan Pengembangan Agribisnis di Provinsi Jambi
    Secara garis besar, penyebab dari permasalahan agribisnis karet di provinsi Jambi ada 2 faktor yaitu :
    1.Factor yang berasal dari internal
    2.Factor yang berasal dari external
    Permasalahan dari factor internal adalah factor yang berasal dari dalam pelaku industry karet itu sendiri yang meliputi permasalahan ditingkat petani.
    Ditingkat petani permasalahan yang mendasar adalah system pengelolaan perkebunan karet yang ada sekarang masih dilakukan dengan cara yang sangat sederhana hal ini dipengaruhi oleh hampir 93% luas perkebunan dikabupaten Batanghari merupakan perkebunan milik rakyat yang dikelola secara mandiri oleh pemiliknya. Tentunya system pengelolaan yang seperti ini memiliki banyak kekurangan terutama di bidang permodalan dan pengetahuan dalam pengelolaan perkebunan dampak dari kekurangan tersebut dapat dilihat mulai dari cara persiapan lahan yang dilakukan dengan seadanya, pemilihan bibit yang kurang baik dan proses pembibitan yang berdasarkan pengalaman, proses penyadapan yang tidak teratur, pengolahan hasil dengan menggunakan teknologi yang sangat sederhana yang mereka peroleh secara turun temurun sampai dengan rantai perdagangan yang sangat panjang, tentunya factor-faktor ini sangat berpengaruh terhadap kwalitas hasil yang mereka hasilkan dan daripada itu juga penghasilan yang diterima oleh petani juga jauh dari optimal.
    Dengan system pengolahan ditingkat petani yang terkesan apa adanya tersebut tentu berpengaruh terhadap permasalahan yang dihadapi di tingkat industry pengolahan karet karena karet yang dihasilkan oleh para petani memiliki kualitas dibawah standar perdagangan nasional maupun internasional karet maka pihak indutri pengolahan harus mengeluarkan biaya pengolahan yang cukup besar untuk mengolah karet petani tersebut agar menjadi karet yang memenuhi standar mutunya sehingga hasil yang mereka peroleh menjadi sangat kecil selain itu juga banyak industry pengolahan karet yang terkena masalah pemanfaatan limbah dari industrinya karena dalam pengolahan karet yang berasal dari perkebunan rakyat rata-rata mengahasilkan limbah selain karet yang cukup banyak seperti kulit pohon karet, daun-daun, tanah, dan lain sebagainya. Dan ini pula salah satunya yang menyebabkan keengganan investor menanamkan investasi dibidang pengolahan karet (industry hilir) dikabupaten Batanghari. Selain itu peran pemerintah khususnya pemerintah daerah kabupaten batanghari dalam usaha perkebunan karet di nilai masih sangat kurang dan masih kalah dengan bidang usaha lainya terutama usaha bahan tambang, hal ini dapat dilihat setelah sekian lamanya kabupaten Batanghari berdiri bahkan telah mengalami beberapa kali pemekaran wilayah dan pertukaran kepemimpinan system pengolahan kebun karet yang sebenarnya lambang dari kabupaten dan sumber pendapatan sebagian besar masyarakatnya tidak banyak mengalami perubahan bahkan mulai tergusur oleh perkebunan kelapa sawit yang dikelola oleh perusahaan swasta selain itu kebijakan pemerintah pada saat ini masih berorientasi pada ekspor barang
    mentah sehingga hasil yang didapat sangat tidak optimal.
    Sedangkan factor external yang mempengaruhi dari perkembangan industry karet dikabupaten Batanghari adalah harga karet internasional yang belum stabil dan masih kalah bersaing dengan karet sintetis.
    SOLUSI PERMASALAHAN KARET
    Petani sebagai pelaku industri karet haruslah diberikan pembinaan dan penyuluhan mengenai pengelolaan industry karet yang baik dan benar mulai dari proses penyiapan lahan, pemilihan bibit, cara penanaman, cara perawatan, penyadapan/panen, sampai dengan pengelolaan hasil kebun agar hasil yang mereka terima juga maksimal.
    PERMASALAHAN UTAMA
    Selain permasalahan diatas, yang menjadi masalah utama saat ini adalah harga karet yang tidak stabil sehingga sangat merugikan pihak petani dan belum semua petani yang dapat menjual langsung karet ke pabrik crum rubber.
    Harga karet yang tidak stabil pada saat ini diduga karena factor cuaca yang mengakibatkan menurunnya kualitas karet. Menghadapi situasi ini , untuk kedepannya memang dibutuhkan perencanaan strategi pengembangan baik dalam hal pemberdayaan sumber daya manusia (petani), tekhnik budidaya dan semua subsistem agribisnis tanaman karet.
    Untuk permasalahan petani yang belum begitu banyak bisa menjual langsung hasil karetnya ke pabrik, ini disebabkan masih kurangnya akses petani. Jadi, dari pihak-pihak pemerintah hendaknya ikut andil dalam hal pembinaan tata niaga dan pemutusan rantai tata niaga agribisnis karet yang begitu panjang. Selain itu juga pemerintah diharapkan lebih banyak mengadakan sekolah lapangan yang menjangkau seluruh daerah di provinsi jambi sehingga dapat menghasilkan karet yang berkualitas baik.

    DAFTAR PUSTAKA

    http://www.bumn.go.id/ptpn5/galeri/perkembangan-pasar-dan-prospek-agribisnis-karet-di-indonesia/

  38. NAMA: YENNI O SIALLAGAN
    NIM: D1B010001
    KELAS: D

    Kejadian dan permasalahan yang terjadi dalam pengembangan agribisnis karet sbb:”Pengembangan agribisnis sub sektor perkebunan karet di Kabupaten Sarolangun ” Fenomena yang dijadikan obyek penelitian adalah Pengembangan agribisnis sub sektor perkebunan karet di Kabupaten Sarolangun yang dianggap belum optimal. Meskipun belum optimal, namun dari data PDRB diketahui bahwa kontribusi Sub Sektor Perkebunan Karet tergolong besar bila dibandingkan dengan kontribusi sub-sub sektor lainnya, karena produksi Sub Sektor Perkebunan Karet di Kabupaten Sarolangsung termasuk yang paling tinggi di antara produksi sub-sub Sektor Sektor Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan. Dengan pertumbuhan produksi yang tinggi itu, mestinya Sub Sektor Perkebunan Karet di Kabupaten Sarolangun dapat dikembangkan menjadi sektor unggulan, karena sub sektor tersebut potensial untuk menjadi sektor unggulan dalam menumbuhkan perekonomian daerah. Dan untuk menjadikan sub sektor perkebunan karet di Kabupaten Sarolangun sebagai sektor unggulan jelas diperlukan suatu kebijakan dan strategi pengembangan sub sektor tersebut.

    Konsep penelitian menggunakan pendekatan penelitian deskriptif. Pengolahan data menggunakan metode analisis kualitatif. Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer kuantitatif dari 30 responden penelitian dan data primer kualitatif dari 1 Informan Penelitian. Pengumpulan data primer kuantitatif menggunakan Kuesioner Penelitian, pengumpulan data primer kualitatif menggunakan teknik wawancara tertulis.

    Berdasarkan pembahasan hasil penelitian diperoleh pokok-pokok kesimpulan sebagai berikut :
    1. Sumber daya ekonomi perkebunan karet yang terdapat dalam lingkungan strategis belum tergarap secara optimal karena terkendala oleh kondisi tanaman karet yang tua dan rusak; sumber daya sosial perkebunan karet belum dioptimalkan untuk mengembangkan perkebunan karet sebagai sektor unggulan karena partisipasi para petani perkebunan masih redah; pembangunan infrastruktur perkebunan untuk mendukung pengembangan perkebunan karet sebagai sektor unggulan sangat terbatas; cukup banyak kendala pengembangan pemasaran hasil perkebunan karet; dan arah kebijakan Pemda Kabupaten Sarolangun dalam mengelola potensi dan permasalahan perkebunan karet sebagai sektor unggulan masih belum jelas.
    2. Pemda Kabupaten Sarolangun belum mengidentifikasi dan menetapkan secara jelas faktor kunci keberhasilan dalam mengembangkan sumber daya perkebunan karet sebagai sektor unggulan.
    3. Belum tercantum rumusan Visi Pengembangan Agribisnis Perkebunan Karet sebagai sektor unggulan; dan belum ada deskripsi Misi Pengembangan Agribisnis Perkebunan Karet sebagai sektor unggulan.
    4. Kebijakan yang menunjukkan rumusan tujuan pembangunan yang perlu dicapai melalui pengembangkan agribinis perkebunan karet belum jelas; dan oleh sebab itu sasaran pembangunan yang perlu dicapai melalui pengembangkan agribinis perkebunan karet juga tidak jelas.
    5. Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Sarolangun tidak memiliki formulasi strategi pengembangan agribisnis perkebunan karet sebagai sektor unggulan; dan Dinas Kehutanan dan Perkebunan tidak memiliki prioritas strategi untuk segera menyikapi persoalan-persoalan pengembangan agribisnis perkebunan karet sebagai sektor unggulan.
    6. Belum ada pelaksanaan crash program pengembangan agribisnis perkebunan karet sebagai sektor unggulan yang benar-benar terintegrasi, efektif dan efisien; dan belum ada perencanaan program jangka menengah pengembangan agribisnis perkebunan karet yang dapat menjamin terwujudnya pengembangan agribisnis perkebunan karet sebagai sektor unggulan.
    7. Dengan demikian secara umum diperoleh gambaran aktual bahwa strategi pengembangan agribisnis perkebunan karet di Kabupaten Sarolangun belum terpola secara terarah, terpadu dan berkesinambungan.

    Solusi:
    seharusnya Pemda Kabupaten Sarolangun lebih mampu mengidentifikasi dan menetapkan secara jelas faktor kunci keberhasilan dalam mengembangkan sumber daya perkebunan karet sebagai sektor unggulan.

    Daftar pustaka:
    http://tesisdisertasi.blogspot.com/2010/02/pengembangan-agribisnis-perkebunan.html

    • Kejadian dan permasalahan yang terjadi dalam pengembangan agribisnis karet sbb:”Pengembangan agribisnis sub sektor perkebunan karet di Kabupaten Sarolangun ” Fenomena yang dijadikan obyek penelitian adalah Pengembangan agribisnis sub sektor perkebunan karet di Kabupaten Sarolangun yang dianggap belum optimal. Meskipun belum optimal, namun dari data PDRB diketahui bahwa kontribusi Sub Sektor Perkebunan Karet tergolong besar bila dibandingkan dengan kontribusi sub-sub sektor lainnya, karena produksi Sub Sektor Perkebunan Karet di Kabupaten Sarolangsung termasuk yang paling tinggi di antara produksi sub-sub Sektor Sektor Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan. Dengan pertumbuhan produksi yang tinggi itu, mestinya Sub Sektor Perkebunan Karet di Kabupaten Sarolangun dapat dikembangkan menjadi sektor unggulan, karena sub sektor tersebut potensial untuk menjadi sektor unggulan dalam menumbuhkan perekonomian daerah. Dan untuk menjadikan sub sektor perkebunan karet di Kabupaten Sarolangun sebagai sektor unggulan jelas diperlukan suatu kebijakan dan strategi pengembangan sub sektor tersebut.

      Konsep penelitian menggunakan pendekatan penelitian deskriptif. Pengolahan data menggunakan metode analisis kualitatif. Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer kuantitatif dari 30 responden penelitian dan data primer kualitatif dari 1 Informan Penelitian. Pengumpulan data primer kuantitatif menggunakan Kuesioner Penelitian, pengumpulan data primer kualitatif menggunakan teknik wawancara tertulis.

      Berdasarkan pembahasan hasil penelitian diperoleh pokok-pokok kesimpulan sebagai berikut :
      1. Sumber daya ekonomi perkebunan karet yang terdapat dalam lingkungan strategis belum tergarap secara optimal karena terkendala oleh kondisi tanaman karet yang tua dan rusak; sumber daya sosial perkebunan karet belum dioptimalkan untuk mengembangkan perkebunan karet sebagai sektor unggulan karena partisipasi para petani perkebunan masih redah; pembangunan infrastruktur perkebunan untuk mendukung pengembangan perkebunan karet sebagai sektor unggulan sangat terbatas; cukup banyak kendala pengembangan pemasaran hasil perkebunan karet; dan arah kebijakan Pemda Kabupaten Sarolangun dalam mengelola potensi dan permasalahan perkebunan karet sebagai sektor unggulan masih belum jelas.
      2. Pemda Kabupaten Sarolangun belum mengidentifikasi dan menetapkan secara jelas faktor kunci keberhasilan dalam mengembangkan sumber daya perkebunan karet sebagai sektor unggulan.
      3. Belum tercantum rumusan Visi Pengembangan Agribisnis Perkebunan Karet sebagai sektor unggulan; dan belum ada deskripsi Misi Pengembangan Agribisnis Perkebunan Karet sebagai sektor unggulan.
      4. Kebijakan yang menunjukkan rumusan tujuan pembangunan yang perlu dicapai melalui pengembangkan agribinis perkebunan karet belum jelas; dan oleh sebab itu sasaran pembangunan yang perlu dicapai melalui pengembangkan agribinis perkebunan karet juga tidak jelas.
      5. Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Sarolangun tidak memiliki formulasi strategi pengembangan agribisnis perkebunan karet sebagai sektor unggulan; dan Dinas Kehutanan dan Perkebunan tidak memiliki prioritas strategi untuk segera menyikapi persoalan-persoalan pengembangan agribisnis perkebunan karet sebagai sektor unggulan.
      6. Belum ada pelaksanaan crash program pengembangan agribisnis perkebunan karet sebagai sektor unggulan yang benar-benar terintegrasi, efektif dan efisien; dan belum ada perencanaan program jangka menengah pengembangan agribisnis perkebunan karet yang dapat menjamin terwujudnya pengembangan agribisnis perkebunan karet sebagai sektor unggulan.
      7. Dengan demikian secara umum diperoleh gambaran aktual bahwa strategi pengembangan agribisnis perkebunan karet di Kabupaten Sarolangun belum terpola secara terarah, terpadu dan berkesinambungan.

      Solusi:
      seharusnya Pemda Kabupaten Sarolangun lebih mampu mengidentifikasi dan menetapkan secara jelas faktor kunci keberhasilan dalam mengembangkan sumber daya perkebunan karet sebagai sektor unggulan.

      Daftar pustaka:
      http://tesisdisertasi.blogspot.com/2010/02/pengembangan-agribisnis-perkebunan.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s