Tugas Pembangunan Pertanian


Tugas Pembangunan Pertanian dapat dimasukkan dalam comment post ini. Mohon maaf atas keterlambatannya.

 

10 comments on “Tugas Pembangunan Pertanian

  1. NAMA : ERU MISLIANRA
    NIM : D1B108043
    PRODI : AGRIBISNIS
    M.K : PEMBANGUNAN PERTANIAN

    TRANSFORMASI STRUKTURAL EKONOMI NASIONAL

    1. DEFINISI TRANSFORMASI STRUKTURAL
    Teori Chenery memfokuskan pada perubahan struktur dalam tahapan proses perubahan ekonomi di suatu negara yang mengalami transformasi dari pertanian tradisional ke sektor industri sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi.
    Faktor-faktor penyebab transisi ekonomi:
    • Kondisi dan Struktur awal ekonomi dalam negeri
    Suatu negara yang pada awal pembangunan ekonomi sudah memiliki industri-industri dasar yang relatif kuat akan mengalami proses industrialisasi yang lebih pesat.
    • Besarnya pasar dalam negeri
    Pasar dalam negeri yang besar merupakan salah satu faktor insentif bagi pertumbuhan kegiatan ekonomi, termasuk industri, karena menjamin adanya skala ekonomis dan efisiensi dalam proses produksi.
    • Pola distribusi pendapatan
    Merupakan faktor pendukung dari faktor pasar. Tingkat pendapatan tidaklah berarti bagi pertumbuhan industri-industri bila distribusinya sangat pincang.
    • Karakteristik Industrialisasi
    Mencakup cara pelaksanaan atau strategi pembangunan industri yang diterapkan, jenis industri yang diunggulkan, pola pembangunan industri, dan insentif yang diberikan.
    • Keberadaan sumber daya alam
    Ada kecenderungan bahwa negara yang kaya SDA mengalami pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah, terlambat melakukan industrialisasi, tidak berhasil melakukan diversifikasi ekonomi (perubahan struktur) daripada negara yang miskin
    A. Transformasi Struktural di Negara Maju
    Proses transformasi struktural negara maju cenderung seragam antara satu negara dengan negara lain, dimana proses tersebut terdiri dari 2 tahap,
    a. Pertama, pada awalnya sumber-sumber daya ekonomi sebagian besar dialokasikan pada sektor pertanian, yang kemudian seiring dengan pertumbuhan ekonomi alokasi ekonomi bertransformasi ke sektor industri dan jasa.
    b. Kedua, alokasi sumber-sember daya ekonomi kembali bertransformasi dari sektor pertanian dan industri ke sektor jasa. Berarti dengan adanya kenaikan Produk Domestik Bruto (PDB), hasil dari sektor pertanian akan menurun, hasil dari sektor industri pada awalnya akan naik tetapi kemudian turun, dan hasil dari sektor jasa akan selalu meningkat.
    Negara-negara maju ini mengalami proses pertumbuhan yang panjang dalam perekonomiannya terutama terkait dengan pertumbuhan PDBnya. Menurut Duarte dan Restuccia (2008), sebagian besar negara-negara maju mengalami peningkatan PDB yang sangat signifikan karena mereka mengalami pergeseran alokasi sumber daya ekonomi dari yang tadinya mayoritas dialokasikan ke sektor pertanian menjadi teralokasi ke sektor jasa.
    B. Transformasi Struktural di Negara Berkembang
    Negara berkembang memiliki pola transformasi struktural yang berbeda dengan negara maju walaupun memang ada beberapa negara yang mengikuti pola negara maju. Perbedaannya terletak di dua dimensi, yaitu :
    a. slope atau efek transisi, dimana menunjukkan sifat hubungan antara perubahan dalam bagian output sektoral dengan perubahan log GDP per kapita ;
    b. efek level, dimana menunjukkan level bagian output sektoral pada GDP per kapita tertentu.
    Selain itu, kesimpulan yang dapat diambil berkaitan dengan pola transformasi struktural, terdapat heterogenitas yang besar akan pola transformasi struktural yang ada di negara berkembang. Pada intinya, penelitian memperlihatkan perbedaan pola transformasi struktural pada negara berkembang, baik dengan negara maju maupun dengan sesama negara berkembang. Perbedaan transformasi struktural antara negara-negara berkembang itu kemudian penulis jabarkan dalam golongan-golongan berdasarkan perbedaan geografis menjadi negara-negara di Asia, Afrika dan Amerika Latin.
    c. Transformasi Struktural di Asia
    Secara umum transformasi struktural di Asia memiliki kemiripan dengan negara maju, yaitu terjadi dari sektor pertanian ke sektor industri dan jasa. Nemun demikian, keunikan transformasi struktural di Asia terletak pada tahap transformasi pertama yaitu dari sektor pertanian ke sektor industri.
    Latar belakang dari fenomena ini dianalisa dengan melihat berbagai faktor yang ada. Salah satu hal yang kami nilai menjadi faktor tingginya tingkat transformasi struktural ke sektor industri adalah terjadinya manufacturing export boom di Asia sekitar tahun 1980an hingga sekarang. Dalam hal ini, Asia menjadi pilihan utama negara-negara di dunia untuk memperoleh barang-barang hasil industri.
    Hal ini mungkin disebabkan oleh ketersediaan bahan baku serta harga faktor produksi yang murah. Hal ini kemudian mengarah kepada suatu liberalisasi perdagangan. Perdagangan ekspor di Asia ini kemudian berkembang menjadi yang paling terdiversifikasi di antara negara berkembang lain di dunia dikarenakan faktor perkembangan teknologi. Selain itu, faktor lainnya adalah kebijakan pemeritah beberapa negara yang meningkatkan privatisasi. Hal ini kemudian meningkatkan foreign direct investment khususnya pada sektor manufaktur yang berorientasi ekspor. Di samping itu, liberalisasi finansial juga berperan pada transformasi struktural di Asia. Dalam hal ini bank-bank mulai berperan aktif dalam memberikan pinjaman untuk investasi.
    d. Transformasi Struktural di Afrika
    Penelitian transformasi struktural di Afrika dilakukan dengan mengambil sampel 16 negara yang terletak di Sub-Saharan Afrika periode 1965–2000. Gambaran antara GDP per kapita dengan jumlah output seperti misleading, karena beberapa waktu GDP per kapita nya mengalami penurunan sementara output sektor jasa tetap tinggi. Kemudian secara keseluruhan terlihat bahwa jumlah output sektor bernilai konstan antara 1965 – 2000.
    Hal tersebut dapat terjadi dikarenakan tidak proporsionalnya masing-masing proses transformasi struktural yang terjadi. Jumlah output masing-masing sektor yang konstan menunjukkan proses akumulasi dan alokasi yang tidak berjalan secara kontinyu. Masing-masing sektor berjalan sendiri-sendiri tanpa dipengaruhi langsung oleh peningkatan GDP per kapita. Pergerakan output yang konstan ini tidak menggambarkan adanya pergerakan pengalihan dari sektor pertanian ke sektor industri kemudian ke sektor jasa. Hal ini dapat terjadi karena karakteristik negara Afrika yang tingkat permintaannya cenderung stabil. Tidak terdapat permintaan yang fluktuatif yang dapat menyebabkan perubahan pada struktur penawaran produksi yang akan berakibat pada pergeseran pada lapangan pekerjaan maupun output produksi.
    e. Transformasi Struktural di Amerika Latin
    Penelitian transformasi struktural di Amerika Latin dilakukan dengan mengambil sampel 12 negara yang terletak di Amerika Latin periode 1965 – 2000. Sementara pada Amerika Latin, polanya berada di “tengah-tengah”, dalam artian hubungan peningkatan dan penurunannya cukup menyerupai pola negara maju, namun jumlahnya cenderung tidak sesuai. Penurunan jumlah output sektor pertanian diikuti oleh peningkatan jumlah output sektor jasa telah bernilai tinggi walaupun di awal-awal proses transformasi berjalan serta jumlah output sektor industri yang cenderung masih di batas bawah kurva negara maju di sebagian besar negara.
    Beberapa hal mempengaruhi pola transformasi struktural di Amerika Selatan. Salah satunya krisis hutang yang terjadi di sebagian negara Amerika Latin pada tahun 1982. Hal ini menyebabkan pergeseran subsitusi impor ke promosi ekspor. Selain itu, kebijakan stabilisasi serta penyesuaian struktural yang dilakukan pemerintah di sebagian negara pun turut mempengaruhi transformasi struktural yang terjadi di Amerika Latin.

    2. PENGARUH TRANSFORMASI TERHADAP PENYERAPAN TENAGA KERJA
    Tahun Bekerja
    Pertanian Industri Total
    1990 42.378 7.693 50.071
    1995 35.233 10.127 45360
    2000 40.677 11.642 52319
    2005 41.814 11.652 53466
    2010 41.611 12.839 54450

    Pada tabel diatas terlihat seberapa besar pengaruh transformasi terhadap penyerapan tenaga kerja di Indonesia. Setiap tahunnya jumlah tenaga kerja pada sektor pertanian terus menurun seiring pertambahan jumlah tenaga kerja pada sektor industri.
    Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain :
    • ketersediaan bahan baku serta harga faktor produksi yang murah. Hal ini kemudian mengarah kepada suatu liberalisasi perdagangan.
    • faktor perkembangan teknologi.
    • terjadinya penurunan output pada sektor pertanian.
    • alokasi sumber-sember daya ekonomi yang bertransformasi dari sektor pertanian ke industri. Berarti dengan adanya kenaikan Produk Domestik Bruto (PDB), hasil dari sektor pertanian yang awalnya akan naik kemudian akan menurun, dan hasil dari sektor industri akan selalu meningkat.
    • tenaga kerja yang semula bekerja di sektor pertanian akhirnya terpaksa bekerja di sektor industri dan jasa karena di perdesaan tidak mampu memberikan penghidupan yang lebih baik.

    3. Peranan Agribisnis Terhadap Perekonomian Nasional
    Konsep agribisnis adalah mulai dari proses produksi, pengolahan hasil, pemasaran dan aktivitas lain yang berkaitan dengan kegiatan pertanian.Mengingat pentingnya peranan sektor pertanian dalam perekonomian nasional tersebut sudah seharusnya kebijakan-kebijakan negara berupa kebijakan fiskal, kebijakan moneter, serta kebijakan perdagangan tidak mengabaikan potensi sektor pertanian. Salah satu tantangan utama dalam menggerakan kinerja dan memanfaatkan sektor pertanian ini adalah modal atau investasi. Pengembangan investasi di sektor pertanian diperlukan untuk dapat memacu pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kesempatan kerja dan pendapatan petani, serta pengembangan wilayah khususnya wilayah perdesaan.
    Seiring dengan transisi (transformasi) struktural ini sekarang kita menghadapi berbagai permasalahan. Di sektor pertanian kita mengalami permasalahan dalam meningkatkan jumlah produksi pangan, perkembangan penduduk yang semakin besar membuat kebutuhan lahan untuk tempat tinggal dan berbagai sarana pendukung kehidupan masyarakat juga bertambah.
    Ini juga menunjukkan peran penting dari sektor pertanian sebagai sektor tempat mayoritas tenaga kerja Indonesia memperoleh penghasilan untuk hidup. Sesuai dengan permasalahan di sektor pertanian yang sudah disampaikan di atas, maka kita mempunyai dua strategi yang dapat dilaksanakan untuk pembukaan lapangan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia di masa depan.
    Strategi pertama adalah melakukan revitalisasi berbagai sarana pendukung sektor pertanian, dan pembukaan lahan baru sebagai tempat yang dapat membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat Indonesia. Keberpihakan bagi sektor pertanian, seperti ketersediaan pupuk dan sumber daya yang memberikan konsultasi bagi petani dalam meningkatkan produktivitasnya, perlu dioptimalkan kinerjanya. Keberpihakan ini adalah insentif bagi petani untuk tetap mempertahankan usahanya dalam pertanian. Karena tanpa keberpihakan ini akan semakin banyak tenaga kerja dan lahan yang akan beralih ke sektor-sektor lain yang insentifnya lebih menarik.
    Strategi kedua adalah dengan mempersiapkan sarana dan prasarana pendukung bagi sektor lain yang akan menyerap pertumbuhan tenaga kerja Indonesia. Sektor ini juga merupakan sektor yang jumlah tenaga kerjanya banyak, yaitu sektor perdagangan, hotel, dan restoran serta industri pengolahan. Sarana pendukung seperti jalan, pelabuhan, listrik adalah sarana utama yang dapat mengakselerasi pertumbuhan di sektor ini.
    Struktur perekonomian Indonesia sekarang adalah refleksi dari arah perekonomian yang dilakukan di masa lalu. Era orde baru dan era reformasi juga telah menunjukkan bahwa sektor pertanian masih menjadi sektor penting yang membuka banyak lapangan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia. Sektor pertanian juga menyediakan pangan bagi masyarakat Indonesia.
    Pengembangan sektor pertanian diperlukan konsep agribisnis, yaitu memproduksi hasil pertanian yang mempunyai keunggulan komparatif (prospek ekspor) dan perwilayahan (pengembangan komoditi berdasarkan potensi wilayah), memprosesnya dan selanjutnya memasarkan untuk konsumsi lokal dan ekspor. Untuk itu diperlukan fasilitas pendukung peningkatan produktivitas pertanian, permodalan atau perbankan yang mendukung berkembangnya industri pengolahan hasil pertanian dan perluasan pasar.
    Peranan pertanian/agribisnis dalam mendukung perekonomian suatu bangsa tidak diragukan lagi. Sejarah negara-negara maju di dunia ini seperti Eropa Barat, Amerika Serikat, Jepang, Rusia, Australia, Cina dan lain-lain menunjukkan bahwa keberhasilannya dalam membangun ekonomi sangat ditentukan oleh kesuksesannya dalam membangun agribisnisnya. Negara-negara yang tidak berhasil membangun pertanian sebagai dasar pembangunan sektor ekonomi akan mengalami kemunduran setelah mencapai tahapan perkembangan ekonomi tertentu.
    Para pakar sepakat menterjemahkan agribisnis sebagai sebuah sistem yang didalamnya ada berbagai subsistem, seperti subsistem usahatani, input, pengolahan (agro industri), pemasaran, jasa pendukung, dan sebagainya. Sementara itu agribisnis merupakan sebuah sistem yang terintegrasi dari segala kegiatan dalam pengusahaan tumbuhan dan hewan yang berorientasi pasar dan perolehan nilai tambah (value added).
    Fakta menunjukkan bahwa sektor agribisnis merupakan satu-satunya sektor yang mampu bertahan serta tumbuh selama krisis ekonomi melanda Indonesia. Sementara sektor industri, yang sering disebut lokomotif pembangunan nasional, ternyata tidak mampu menunjukkan kehandalannya, sebagai akibat terlalu besarnya ketergantungan industri kepada import content.
    Peran penting agribisnis terhadap perekonomian nasional tampak pada Produk Domestik Bruto (PDB) yang dihasilkan, penciptaan devisa, penyediaan pangan dan bahan baku industri, pengentasan kemiskinan, penyediaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat. Selain melalui kontribusi langsung tersebut, sektor agribisnis juga mempunyai kontribusi tidak langsung berupa efek pengganda (multiplier effect) melalui kaitan kedepan dan ke belakang yang dampaknya relatif besar terhadap sektor-sektor perekonomian lainnya sehingga layak dijadikan sebagai sektor andalan dalam pembangunan ekonomi nasional menuju Indonesia maju dan berdaulat.

  2. NAMA : JEFRY ANANDA
    NIM : D1B108042
    PRODI : AGRIBISNIS
    M.K : PEMBANGUNAN PERTANIAN
    JUDUL : TRANSFORMASI STRUKTURAL EKONOMI
    NASIONAL
    1. PENDAHULUAN
    Transformasi struktural merupakan prasyarat dari peningkatan dan kesinambungan pertumbuhan dan penanggulangan kemiskinan, sekaligus pendukung bagi kelanjutan pembangunan. Pada kenyataannya,pertumbuhan ekonomi di Indonesia tidak disertai dengan perubahan struktur tenaga kerja yang berimbang..artinya titik balik untuk aktivitas ekonomi tercapai lebih dahulu dibanding titik balik penggunaan tenaga kerja. Sehingga terjadi masalah-masalah yang seringkali diperdebatkan diantaranya apakah pangsa PDB sebanding dengan penurunan pangsa serapan tenaga kerja sektoral dan industri mana yang berkembang lebih cepat, agroindustri atau industri manufaktur. Apabila transformasi kurang seimbang dikuatirkan akan terjadi proses pemiskinan dan eksploitasi sumber daya manusia pada sektor primer.
    Proses perubahan struktur perekonomian di Indonesia ditandai dengan:
    1. Merosotnya pangsa sektor primer (pertanian)
    2. Meningkatnya pangsa sektor sekunder (industri)
    3. Pangsa sektor jasa kurang lebih konstan, tetapi kontribusinya akan meningkat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi.
    Faktor-faktor penyebab transisi ekonomi:
    • Kondisi dan Struktur awal ekonomi dalam negeri
    • Besarnya pasar dalam negeri
    • Pola distribusi pendapatan
    • Karakteristik Industrialisasi
    • Keberadaan sumber daya alam

    A. Transformasi Struktural di Negara Maju
    Proses transformasi struktural negara maju cenderung seragam antara satu negara dengan negara lain, dimana proses tersebut terdiri dari 2 tahap,
    a. Pertama, pada awalnya sumber-sumber daya ekonomi sebagian besar dialokasikan pada sektor pertanian, yang kemudian seiring dengan pertumbuhan ekonomi alokasi ekonomi bertransformasi ke sektor industri dan jasa.
    b. Kedua, alokasi sumber-sember daya ekonomi kembali bertransformasi dari sektor pertanian dan industri ke sektor jasa. Berarti dengan adanya kenaikan Produk Domestik Bruto (PDB), hasil dari sektor pertanian akan menurun, hasil dari sektor industri pada awalnya akan naik tetapi kemudian turun, dan hasil dari sektor jasa akan selalu meningkat.
    Negara-negara maju ini mengalami proses pertumbuhan yang panjang dalam perekonomiannya terutama terkait dengan pertumbuhan PDBnya. Menurut Duarte dan Restuccia (2008), sebagian besar negara-negara maju mengalami peningkatan PDB yang sangat signifikan karena mereka mengalami pergeseran alokasi sumber daya ekonomi dari yang tadinya mayoritas dialokasikan ke sektor pertanian menjadi teralokasi ke sektor jasa.
    B. Transformasi Struktural di Negara Berkembang
    Negara berkembang memiliki pola transformasi struktural yang berbeda dengan negara maju walaupun memang ada beberapa negara yang mengikuti pola negara maju. Perbedaannya terletak di dua dimensi, yaitu :
    a. slope atau efek transisi, dimana menunjukkan sifat hubungan antara perubahan dalam bagian output sektoral dengan perubahan log GDP per kapita ;
    b. efek level, dimana menunjukkan level bagian output sektoral pada GDP per kapita tertentu.
    Selain itu, kesimpulan yang dapat diambil berkaitan dengan pola transformasi struktural, terdapat heterogenitas yang besar akan pola transformasi struktural yang ada di negara berkembang. Pada intinya, penelitian memperlihatkan perbedaan pola transformasi struktural pada negara berkembang, baik dengan negara maju maupun dengan sesama negara berkembang. Perbedaan transformasi struktural antara negara-negara berkembang itu kemudian penulis jabarkan dalam golongan-golongan berdasarkan perbedaan geografis menjadi negara-negara di Asia, Afrika dan Amerika Latin.

    2. PENGARUH TRANSFORMASI TERHADAP PENYERAPAN TENAGA KERJA
    Tahun Bekerja
    Pertanian Industri Total
    1990 42.378 7.693 50.071
    1995 35.233 10.127 45360
    2000 40.677 11.642 52319
    2005 41.814 11.652 53466
    2010 41.611 12.839 54450

    Pada tabel diatas terlihat seberapa besar pengaruh transformasi terhadap penyerapan tenaga kerja di Indonesia. Setiap tahun terjadi penurunan jumlah tenaga kerja pada sektor pertanian akan tetapi terjadi pertambahan tenaga kerja pada sektor industri.
    Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain :
    • ketersediaan bahan baku serta harga faktor produksi yang murah. Hal ini kemudian mengarah kepada suatu liberalisasi perdagangan.
    • faktor perkembangan teknologi. .
    • tenaga kerja yang semula bekerja di sektor pertanian akhirnya terpaksa bekerja di sektor industri dan jasa karena di perdesaan tidak mampu memberikan penghidupan yang lebih baik.

    3. Peranan Agribisnis Terhadap Perekonomian Nasional
    Konsep agribisnis adalah mulai dari proses produksi, pengolahan hasil, pemasaran dan aktivitas lain yang berkaitan dengan kegiatan pertanian.Mengingat pentingnya peranan sektor pertanian dalam perekonomian nasional tersebut sudah seharusnya kebijakan-kebijakan negara berupa kebijakan fiskal, kebijakan moneter, serta kebijakan perdagangan tidak mengabaikan potensi sektor pertanian. Seiring dengan transisi (transformasi) struktural ini sekarang kita menghadapi berbagai permasalahan. Di sektor pertanian kita mengalami permasalahan dalam meningkatkan jumlah produksi pangan, perkembangan penduduk yang semakin besar membuat kebutuhan lahan untuk tempat tinggal dan berbagai sarana pendukung kehidupan masyarakat juga bertambah.
    Ini juga menunjukkan peran penting dari sektor pertanian sebagai sektor tempat mayoritas tenaga kerja Indonesia memperoleh penghasilan untuk hidup. Sesuai dengan permasalahan di sektor pertanian yang sudah disampaikan di atas, maka kita mempunyai dua strategi yang dapat dilaksanakan untuk pembukaan lapangan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia di masa depan.
    Struktur perekonomian Indonesia sekarang adalah refleksi dari arah perekonomian yang dilakukan di masa lalu. Era orde baru dan era reformasi juga telah menunjukkan bahwa sektor pertanian masih menjadi sektor penting yang membuka banyak lapangan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia. Sektor pertanian juga menyediakan pangan bagi masyarakat Indonesia.
    Saat ini kita mempunyai kesempatan untuk mempersiapkan kebijakan yang dapat membentuk struktur perekonomian Indonesia di masa depan. Namun, beberapa permasalahan yang dihadapi sektor pertanian di masa ini perlu segera dibenahi, sehingga kita dapat meneruskan hasil dari kebijakan perekonomian Indonesia yang sudah dibangun puluhan tahun lalu, dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia sampai saat sekarang ini.
    Sesudah melewati 5 kali Pelita (25 tahun) diharapkan Indonesia menjadi negara industri, tetapi akibat krisis ekonomi Juni 1997, harapan tersebut jadi buyar. Bahkan sektor pertanian sebagai salah satu penyelamat dalam perekonomian di Indonesia.
    Peran sektor pertanian dari tahun 1980 ke tahun 1990 turun (25% – 20%) = 5%, pada hal jumlah PDB sektor Pertanian naik dari Rp.100 juta pada tahun 1980 menjadi Rp.200 juta pada tahun 1990 (naik 100%).
    PDB yang disumbangkan oleh subsektor tanaman per-kebunan rakyat jauh lebih besar daripada PDB tanaman perkebunan besar. Pada setiap tahun PDB dari tanaman perkenunan rakyat tiga kali lipat lebih besar daripada PDB tanaman perkebunan besar. Hal ini selalu terdapat kekeliruan pada masyarakat/mahasiswa, bahwa persepsi mereka hasil tanaman perkebunan besar lebih hebat daripada hasil tanaman perkebunan besar.
    Sekali lagi dapat dilihat bahwa peran Perkebunan Rakyat di Indonesia tiga kali lipat lebih besar daripada peran Perkebunan Besar pada periode tahun 1990-1992. Peran sektor pertanian dalam PDB makin lama makin menurun, pada tahun 1990 perannya masih sebesar 21,86%, tetapi pada tahun 2004 tinggal 15,38%.
    Menurunnya peran sektor pertanian dalam PDB bukan berarti nilai PDB sektor pertanian juga turun. Atas dasar harga berlaku, jumlah PDB sektor pertanian pada tahun 1990 adalah Rp.50.032 milyar, pada tahun 2004 adalah Rp.354.435 milyar. Menurunnya peran sektor pertanian disebabkan begitu naiknya PDB sektor-sektor lain, terutama sektor industri dan sektor perdagangan/jasa.
    Di luar tentang fenomena perubahan iklim yang telah menjadi agenda nasional, pada kesempatan tersebut, Pemerintah juga menargetkan perbaikan kinerja sektor pertanian pada tahun 2011 sebesar 3,61 persen per tahun serta hal-hal lain yang umumnya dikenal dengan istilah transformasi struktural perekonomian Indonesia. Target tersebut memang sangat tinggi mengingat kinerja pertumbuhan sektor pertanian sampai triwulan tiga tahun 2010 hanya mencapai 2,6 persen. Rendahnya pertumbuhan sektor pertanian sekarang ini juga sangat berhubungan dengan rendahnya nilai tambah yang dihasilkan sektor ini, terutama pada pertengahan tahun.

    Kinerja pertumbuhan triwulan dua ke triwulan tiga yang mencapai 6 persen belum cukup untuk menggapai kinerja sektoral yang memuaskan bagi sektor yang sebenarnya mampu menyerap tenaga kerja, menciptakan lapangan kerja baru, dan menggandakannya ke sektor-sektor lain yang lebih produktif. Target pertumbuhan 3,61 persen per tahun sebenarnya bukan seuatu yang mustahil untuk dicapai, jika pemeritah mampu mengambil langkah-langkah kebijakan yang memberikan insentif bagi pelaku usaha di sektor pertanian dan sektor lainnya untuk meningkatkan produktivitas dan kinerjanya.

    Target lain yang dicanangkan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pertanian, adalah peningkatan penyerapan tenaga kerja sektor pertanian dari 41,4 persen pada tahun 2010 menjadi 44,1 persen pada tahun 2011. Target peningkatan penyerapan tenaga sektor pertanian itu tampak anomali dengan prinsip-prinsip dasar transformasi struktural dari pembangunan ekonomi suatu bangsa. Teori ekonomi pembangunan percaya bahwa pangsa sektor pertanian dalam perekonomian atau pendapatan nasional (produk domestik bruto=PDB) semakin lama semakin menurun. Pangsa PDB sektor pertanian telah menurun dari 30 persen pada dekade 1970-an, menjadi 23 persen pada 1980-an, dan hanya 15-16 persen saat ini. Demikian pula, pangsa atau persentase penduduk yang bekerja di sektor pertanian juga semakin menurun, seiring dengan berkembangnya sektor industri dan jasa. Pangsa penyerapan tenaga kerja sektor pertanian juga telah menurun dari 62 persen pada 1970-an, menjadi 56 persen pada 1980-an dan 41 persen saat ini.

  3. NAMA :TAUFIK
    NIM :D1B107046
    PRODI :SEP /AGRIBISNIS
    TUGAS :PEMBANGUNAN PERTANIAN

    1.pengertian transpormasi struktural
    I. Transformasi Struktural di Negara Maju.
    Pada bagian awal dari paper ini El-hadj Bah memaparkan penemuan dari penelitian-penelitian sebelumnya tentang transformasi struktural. Dalam hal ini El-hadj Bah mendasarkan penelitiannya pada penelitian Kuznets (1971). Kuznets menemukan bahwa proses transformasi struktural negara maju cenderung seragam antara satu negara dengan negara lain, dimana proses tersebut terdiri dari 2 tahap. Pertama, pada awalnya sumber-sumber daya ekonomi sebagian besar dialokasikan pada sektor pertanian, yang kemudian seiring dengan pertumbuhan ekonomi alokasi ekonomi bertransformasi ke sektor industri dan jasa. Kedua, alokasi sumber-sember daya ekonomi kembali bertransformasi dari sektor pertanian dan industri ke sektor jasa. Berarti dengan adanya kenaikan Produk Domestik Bruto (PDB), hasil dari sektor pertanian akan menurun, hasil dari sektor industri pada awalnya akan naik tetapi kemudian turun, dan hasil dari sektor jasa akan selalu meningkat.
    Negara-negara maju ini mengalami proses pertumbuhan yang panjang dalam perekonomiannya terutama terkait dengan pertumbuhan PDBnya. Menurut Duarte dan Restuccia (2008), sebagian besar negara-negara maju mengalami peningkatan PDB yang sangat signifikan karena mereka mengalami pergeseran alokasi sumber daya ekonomi dari yang tadinya mayoritas dialokasikan ke sektor pertnian menjadi teralokasi ke sektor jasa.

    II. Transformasi Struktural di Negara Berkembang.
    Selanjutnya El-hadj Bah mencoba meneliti transformasi struktural yang terjadi di negara berkembang. Dalam hal ini El-hadj Bah ingin melihat apakah transformasi struktural di negara berkembang memiliki pola yang sama dengan di negara maju. Dalam analisa ini, El-hadj Bah memilih 38 negara berkembang yang terletak di Sub-Saharan Afrika, Asia Timur dan Tenggara serta Amerika Latin sebagai sampel.Berdasarkan penelitian yang dilakukan ternyata teori Kuznets tidak berlaku di negara berkembang. Penelitian dalam paper ini memberikan kesimpulan bahwa negara berkembang memiliki pola transformasi struktural yang berbeda dengan negara maju walaupun memang ada beberapa negara yang mengikuti pola negara maju output.

    III. Transformasi Struktural di Asia.
    Penelitian transformasi struktural di Asia dilakukan penulis dengan mengambil sampel 10 negara Asia periode 1965 – 2000. Secara umum transformasi struktural di Asia memiliki kemiripan dengan negara maju, yaitu terjadi dari sektor pertanian ke sektor industri dan jasa. Nemun demikian, keunikan transformasi struktural di Asia terletak pada tahap transformasi pertama yaitu dari sektor pertanian ke sektor industri. Latar belakang dari fenomena ini coba kami analisa dengan melihat berbagai faktor yang ada. Salah satu hal yang kami nilai menjadi faktor tingginya tingkat transformasi struktural ke sektor industri adalah terjadinya manufacturing export boom di Asia sekitar tahun 1980an hingga sekarang. Dalam hal ini, Asia menjadi pilihan utama negara-negara di dunia untuk memperoleh barang-barang hasil industri. Hal ini mungkin disebabkan oleh ketersediaan bahan baku serta harga faktor produksi yang murah. Hal ini kemudian mengarah kepada suatu liberalisasi perdagangan. Perdagangan ekspor di Asia ini kemudian berkembang menjadi yang paling terdiversifikasi di antara negara berkembang lain di dunia dikarenakan faktor perkembangan teknologi. Selain itu, faktor lainnya adalah kebijakan pemeritah beberapa negara yang meningkatkan privatisasi. Hal ini kemudian meningkatkan foreign direct investment khususnya pada sektor manufaktur yang berorientasi ekspor. Di samping itu, liberalisasi finansial juga berperan pada transformasi struktural di Asia. Dalam hal ini bank-bank mulai berperan aktif dalam memberikan pinjaman untuk investasi.
    IV. Transformasi Struktural di Afrika.
    Penelitian transformasi struktural di Afrika dilakukan El-hadj Bah dengan mengambil sampel 16 negara yang terletak di Sub-Saharan Afrika periode 1965 – 2000. Transformasi struktural di Afrika dapat dikatakan ’anomali’ bila dibandingkan dengan penelitian Kuznets pada negara maju. Gambaran antara GDP per kapita dengan jumlah output seperti misleading, karena beberapa waktu GDP per kapita nya mengalami penurunan sementara output sektor jasa tetap tinggi. Kemudian secara keseluruhan terlihat bahwa jumlah output sektor bernilai konstan antara 1965 – 2000. Hal tersebut dapat terjadi dikarenakan tidak proporsionalnya masing-masing proses transformasi struktural yang terjadi. Jumlah output masing-masing sektor yang konstan menunjukkan proses akumulasi dan alokasi yang tidak berjalan secara kontinyu. Masing-masing sektor berjalan sendiri-sendiri tanpa dipengaruhi langsung oleh peningkatan GDP per kapita. Pergerakan output yang konstan ini tidak menggambarkan adanya pergerakan pengalihan dari sektor pertanian ke sektor industri kemudian ke sektor jasa. Hal ini dapat terjadi karena karakteristik negara Afrika yang tingkat permintaannya cenderung stabil. Tidak terdapat permintaan yang fluktuatif yang dapat menyebabkan perubahan pada struktur penawaran produksi yang akan berakibat pada pergeseran pada lapangan pekerjaan maupun output produksi.
    V. Transformasi Struktural di Amerika Latin.
    Penelitian transformasi struktural di Amerika Latin dilakukan penulis dengan mengambil sampel 12 negara yang terletak di Amerika Latin periode 1965 – 2000. Sementara pada Amerika Latin, polanya berada di “tengah-tengah”, dalam artian hubungan peningkatan dan penurunannya cukup menyerupai pola negara maju, namun jumlahnya cenderung tidak sesuai. Penurunan jumlah output sektor pertanian diikuti oleh peningkatan jumlah output sektor jasa telah bernilai tinggi walaupun di awal-awal proses transformasi berjalan serta jumlah output sektor industri yang cenderung masih di batas bawah kurva negara maju di sebagian besar negara.Beberapa hal mempengaruhi pola transformasi struktural di Amerika Selatan. Salah satunya krisis hutang yang terjadi di sebagian negara Amerika Latin pada tahun 1982. Hal ini menyebabkan pergeseran subsitusi impor ke promosi ekspor [3]. Selain itu, kebijakan stabilisasi serta penyesuaian struktural yang dilakukan pemerintah di sebagian negara pun turut mempengaruhi transformasi struktural yang terjadi di Amerika Latin [4].

    VI. Transformasi Struktural dan Stagnasi Ekonomi.
    Dengan terjadinya transformasi struktural, akan merubah struktur ekonomi berupa sumber daya dan output yang digunakan untuk membangun. Menurut Syrquin (1994) terdapat hubungan yang kuat antara struktur ekonomi dengan tingkat pembangunan tertentu dan pertumbuhan dan perubahan strukturnya. Hal ini terjadi sejak periode stagnasi ekonomi dan penurunan ekonomi. Misalnya saja di Amerika Latin terjadi struktural transformasi dari pertanian ke industri, di Brazil shares output jasa meningkat ketika per kapita GDP stagnan $ 5000, di negara Afrika GDP perkapita tahun 2000 sama atau lebih rendah dari tahun 1965 walaupun pengalaman struktur transformasinya telah terjadi pada tahun 1965-2000. Berdasarkan Kuznet ini merupakan puzzle karena kita awalnya mengekspektasi bahwa share output sektoral tidak akan berubah jika GDP perkapita tidak berubah.
    Hal tersebut mendeskripsikan substansi dari struktur transformasi dengan penurunan besar GDP per kapita, kebalikan dari apa yang kita ekpsktasikan. Ketika negara sedang tumbuh (berkembang) dalam output sektoral maka akan mengikuti arah yang benar. Tetapi ketika negara mengalami stagnan atau penurunan ekonomi maka menjadi arah yang salah.

    VII. Efek Perubahan Harga.
    Analisis sebelumnya, share dari output sektoral diperoleh dengan membagi nilai tambah sektoral harga berlaku dibagi GDP harga berlaku. Oleh karena itu perubahan share output sektoral dapat menyebabkan perubahan pada output dan harga relatif. Agar harga relatif tidak berubah, maka kita harus merekonstruksi nilai tambah dari share output sektoral berdasarkan harga konstan dan nilai tambah sektoral. Untuk negara berkembang hanya sedikit sekali yang memiliki data tentang indikator dalam US$ dengan tahun dasar 2000. Kebanyakan negara berkembang memiliki data dari 1970, sedangkan untuk negara maju data yang dijadikan sampel pada penelitian ini dimulai dari tahun 1971. Dengan menggunakan regresi panel, ternyata transformasi struktural negara berkembang antara tahun 1970-2000 tidak sama dengan proses transformasi negara maju. Hal ini bisa dilihat pada contoh kasus 5 negara yang hasil regresinya menunjukkan hasil regresi dari nilai tambah dan GDP dengan harga konstan berbeda jika dibandingkan dengan hasil regresi harga berlaku. Hasilnya menunjukkan dengan harga konstan ternyata nilai R square untuk ketiga sektor (pertanian, industri dan jasa) lebih kecil, sehingga terlihat terdapat perbedaan proses transformasi struktural.

    Dari pola perbedaan dari lima negara berkembang, ada satu hal yang unik. Polanya menyerupai pola proses trasnsformasi yang memiliki sektor jasa yang besar (Senegal, Brazil, Palistan, Korea, dan Ghana), negara dengan share output jasa yang tinggi dalam harga berlaku memiliki nilai tambah share jasa yang tinggi pula pada harga konstan. Untuk kasus negara maju proses transformasi strukturalnya sama dengan Kuznets, apalagi negara maju telah berada dalam tahap kedua proses transformasi struktural. Seperti disebutkan sebelumnya, tidak terdapat satupun perbedaan yang besar antara series yang diperoleh dengan menggunakan harga tetap dan mengunakan harga berlaku. Oleh karena itu semua penemuan yang sebelumnya secara lebih lanjut untuk dijadikan ”pegangan”.

    2. PENGARUH TRANSFORMASI TERHADAP PENYERAPAN TENAGA KERJA
    Tahun Bekerja
    Pertanian Industri Total
    1990 42.378 7.693 50.071
    1995 35.233 10.127 45360
    2000 40.677 11.642 52319
    2005 41.814 11.652 53466
    2010 41.611 12.839 54450

    Pada tabel diatas terlihat seberapa besar pengaruh transformasi terhadap penyerapan tenaga kerja di Indonesia. Setiap tahun terjadi penurunan jumlah tenaga kerja pada sektor pertanian akan tetapi terjadi pertambahan tenaga kerja pada sektor industri.
    Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain :
    • ketersediaan bahan baku serta harga faktor produksi yang murah. Hal ini kemudian mengarah kepada suatu liberalisasi perdagangan.
    • faktor perkembangan teknologi. .
    • tenaga kerja yang semula bekerja di sektor pertanian akhirnya terpaksa bekerja di sektor industri dan jasa karena di perdesaan tidak mampu memberikan penghidupan yang lebih baik.

    3. Peranan Pertanian Dalam pembangunan Perekonomian Indonesia
    Peranan Pertanian Dalam pembangunan Perekonomian Indonesia
    PENDAHULUAN
    Pembangunan Pertanian di Indonesia tetap dianggap terpenting dari keseluruhan pembangunan ekonomi, apalagi semenjak sektor pertanian ini menjadi penyelamat perekonomian nasional karena justru pertumbuhannya meningkat, sementara sektor lain pertumbuhannya negatif. Beberapa alas an yang mendasari pentingnya pertanian di Indonesia salah satunya :
    (1) potensi sumberdayanya yang besar dan beragam,
    (2) pangsa terhadap pendapatan nasional cukup besar,
    (3) besarnya penduduk yang menggantungkan hidupnya pada sektor ini dan
    (4) menjadi basis pertumbuhan di pedesaan tersebut.
    Potensi pertanian yang besar namun sebagian besar dari petani banyak yang termasuk golongan miskin adalah sangat ironis terjadi di Indonesia. Hal ini mengindikasikan bahwa pemerintah bukan saja kurang memberdayakan petani tetapi sektor pertanian keseluruhan. Disisi lain adanya peningkatan investasi dalam pertanian yang dilakukan oleh investor PMA dan PMDN yang berorientasi pada pasar ekspor umumnya padat modal dan perananya kecil dalam penyerapan tenaga kerja atau lebih banyak menciptakan buruh tani.
    Mampu menjadi sumber pertumbuhan baru bagi perekonomian Indonesia, khususnya dalam hal pencapaian sasaran :
    (1) mensejahterkan petani,
    (2) menyediakan pangan,
    (3) sebagai wahana pemerataan pembangunan untuk mengatasi kesenjangan pendapatan antar masyarakat maupun kesenjangan antar wilayah,
    (4) merupakan pasar input bagi pengembangan agroindustri,
    (5) menghasilkan devisa,
    (6) menyediakan lapangan pekerjaan,
    (7) peningkatan pendapatan nasional, dan
    (8) tetap mempertahankan kelestarian sumberdaya.
    POTENSI AGRIBISNIS DI INDONESIA
    Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar dalam pengembangan agribisnis bahkan dimungkinkan akan menjadi leading sector dalam pembangunan nasional. Potensi agribisnis tersebut diuraikan sebagai berikut :
    1. Dalam Pembentukan Produk Domestik bruto , sektor agribisnis merupakan penyumbang nilai tambah (value added) terbesar dalam perekonomian nasional, diperkirakan sebesar 45 persen total nilai tambah.
    2. Sektor agrbisnis merupakan sektor yang menyerap tenaga kerja terbesar diperkirakan sebesar 74 persen total penyerapan tenaga kerja nasional.
    3. Sektor agribisnis juga berperan dalam penyediaan pangan masyarakat. Keberhasilan dalam pemenuhan kebutuhan pangan pokok beras telah berperan secara strategis dalam penciptaan ketahanan pangan nasional (food security) yang sangat erat kaitannya dengan ketahanan social (socio security), stabilitas ekonomi, stabilitas politik, dan keamanan atau ketahanan nasional (national security).
    4. Kegiatan agribisnis umumnya bersifat resource based industry. Tidak ada satupun negara di dunia seperti Indonesia yang kaya dan beraneka sumberdaya pertanian secara alami (endowment factor). Kenyataan telah menunjukkan bahwa di pasar internasional hanya industri yang berbasiskan sumberdaya yang mempunyai keunggulan komparatif dan mempunyai konstribusi terhadap ekspor terbesar, maka dengan demikian pengembangan agribisnis di Indonesia lebih menjamin perdagangan yang lebih kompetitif.
    5. Kegiatan agribisnis mempunyai keterkaitan ke depan dan kebelakang yang sangat besar (backward dan forward linkages) yang sangat besar. Kegiatan agribisnis (dengan besarnya keterkaitan ke depan dan ke belakang) jika dampaknya dihitung berdasarkan impact multilier secara langsung dan tidak langsung terhadap perekonomian diramalkan akan sangat besar.
    6. Dalam era globalisasi perubahan selera konsumen terhadap barangbarang konsumsi pangan diramalkan akan berubah menjadi cepat saji dan pasar untuk produksi hasil pertanian diramalkan pula terjadi pergeseran dari pasar tradisional menjadi model Kentucky. Dengan demikian agroindustri akan menjadi kegiatan bisnis yang paling attraktif.
    7. Produk agroindustri umumnya mempunyai elastisitas yang tinggi, sehingga makin tinggi pendapatan seseorang makin terbuka pasar bagi produk agroindustri.
    8. Kegiatan agribisnis umumnya menggunakan input yang bersifat renewable, sehingga pengembangannya melalui agroindustri tidak hanya memberikan nilai tambah namun juga dapat menghindari pengurasan sumberdaya sehingga lebih menjamin sustainability.
    9. Teknologi agribisnis sangat fleksibel yang dapat dikembangkan dalam padat modal ataupun padat tenaga kerja, dari manejement sederhana sampai canggih, dari skala kecil sampai besar. Sehingga Indonesia yang penduduknya sangat banyak dan padat, maka dalam pengembangannya dimungkinkan oleh berbagai segmen usaha.
    10. Indonesia punya sumberdaya pertanian yang sangat besar, namun produk pertanian umumnya mudah busuk, banyak makan tempat, dan musiman. Sehingga dalam era globalisasi dimana konsumen umumnya cenderung mengkonsumsi nabati alami setiap saat, dengan kualitas tinggi dan tidak busuk dan makan tempat, maka peranan agroindustri akan dominant.
    ARAH PEMBANGUNAN SEKTOR PERTANIAN DI MASA YANG AKAN DATANG.
    Secara teoritis arah pembangunan secara umum adalah untuk memaksimumkan kesejahteraan sosial (social welfare) yang harus memenuhi empat komponen tujuan utama, yakni:
    – pertumbuhan, pemerataan, kelestarian, hak asasi manusia. Oleh karena itu dalam pembangunan pertanian tujuan utama ini dicoba akan diwujudkan sesuai dengan potensi dan peluangnya. Berdasarkan identifikasi masalah dan isu pembangunan pertanian sesuai dengan tuntutan demokratisasi dan globalisasi tersebut, maka dapat dibuat arah pembangunan pertanian pada masa datang.. Arah pembangunan pertanian tersebut dirumuskan dalam bentuk visi, misi, tuan dan strategii pembangunan pertanian.

    Visi pembangunan pertanian adalah membangun petani melalui bisnis pertanian yang modern, efisien, dan lestari yang terpadu dengan pembanguna wilayah.
    Ciri-ciri dari visi ini adalah :
    a) Membangun petani mengandung pengertian prioritas pembangunan pertanian harus mendahulukan kesejahteraan petani dalam arti luas sehingga mampu menumbuh kembangkan partisipasi petani dan mampu meningkatkan keadaan sosial-ekonomi petani melalui peningkatan akses terhadap teknologi, modal, dan pasar.
    b) Bisnis pertanian mengandung pengertian pertanian harus dikembangkan dalam suatu sistem agribisnis pertanian mulai dari bisnis input produksi, hasil produksi pertanian, deversifikasi usaha pertanian, serta bisnis hasil olahannya yang mampu akses ke pasar internasional. Melalui aktifitas agribisnis pertanian yang lebih luas ini diharapkan mampu lebih meningkatkan peran pertanian terhadap pembangunan nasional baik terhadap penyerapan tenaga kerja, pendapatan nasional, perolehan devisa, maupun peningkatan gizi masyarakat
    c) Modern mengandung pengertian menggunakan teknologi yang dinamis dan spesifik lokasi pengembangan sesuai dengan tutuntan zaman.
    d) Efisien mengandung pengertian mampu berdaya saing di pasar internasional yang dicirikan pada pengembangan yang didasarkan sumberdaya yang mempunyai keunggulan komparatif dan berkualitas tinggi
    e) Lestari mengandung pengertian menggunakan sumberdaya yang optimal dan tetap memperhatikan aspek kelestarian sumberdaya pertanian.
    f) Terpadu dengan pembangunan wilayah mengandung pengertian pembangunan pertanian harus didukung oleh pembangunan wilayah baik pembangunan infrastruktur maupun pembangunan sosial ekonomi kemasyarakatan.

    Misi Berdasarkan visi pembangunan tersebut, maka misi pembangunan pertanian dapat dirumuskan sebagai berikut:
    1. Memfasilitasi dan mengembangkan pusat-pusat petumbuhan komoditas unggulan yang berdaya saing yang terorganisasi oleh organisasi ekonomi petani dalam system agribisnis
    2. Memodernisasi sektor pertanian sebagai aktifitas bisnis berspektrum luas mulai dari bisnis input produksi, deversifikasi usaha pertanian, penangan pasca panen, serta bisnis hasil olahannya yang mampu akses ke pasar internasional melalui inovasi teknologi spesifik lokasi dan ramah lingkungan
    3. Memfasilitasi dan mendorong peningkatan kualitas sumberdaya manusia baik aparat pemerintah, maupun pelaku agribisnis khususnya petani melalui pengetahuan dan ketrampilan petani pada setiap pusat pertumbuhan agribisnis melalui sekolah pertanian lapang dengan melibatkan perguruan tinggi dan libang-litbang pertanian
    4. Memfasilitasi dan mendorong berkembangnya usaha-usaha agroindustri hulu maupun pengolahan hasil dengan prioritas skala kecil di setiap wilayah
    5. Memfasilitasi dan mendorong keterpaduan pembangunan agribisnis dengan pembangunan wilayah baik pembangunan infrastruktur maupun pembangunan sosial ekonomi kemasyarakatan.
    6. Memfasilitasi dan mendorong citra produk-produk pertanian Indonesia melalui promosi di pasar internasional Tujuan
     Meningkatkan kesejahteraan petani terutama kelompok masyarakat yang mata pencahariannya berkaitan langsung dengan sumberdaya pertanian.
     Meningkatkan keunggulan komparatif dan kompetitif produk agribisnis baik produk primer maupun olahan, sehingga mampu berdaya saing di pasar internasional
     Meningkatkan posisi tawar petani melalui penguatan kelembagaan petani dan meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan petani sehingga mampu meningkatkan berpartisipasi dan aksesibilitas terhadap inovasi teknologi, perkreditan, informasi pasar, kelestarian sumberdaya dalam pengelolaan sumberdaya pertanian.
     Meningkatkan kesempatan kerja di wilayah melalui pengembangan agroindustri skala kecil
     Mewujudkan sistem ketahanan pangan yang berbasis pada keragaman sumberdaya local
     Menjadikan sektor pertanian sebagai pusat pertumbuhan khususnya pada wilayah-wilayah berbasiskan sumberdaya pertanian
     Meningkatkan layanan informasi teknologi, perkreditan, sarana produksi dan prasarana pertanian kepada petani
     Menjaga dan meningkatkan kualitas sumberdaya pertanian
    Peran Subsektor Perkebunan dalam Pembangunan Nasional Sebagai salah satu subsektor penting dalam sektor pertanian, subsektor perkebunan secara tradisional mempunyai kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian Indonesia . Sebagai negara berkembang dimana penyediaan lapangan kerja merupakan masalah yang mendesak, subsektor perkebunan mempunyai kontribusi yang cukup signifikan. Sampai dengan tahun 2003, jumlah tenaga kerja yang terserap oleh subsektor perkebunan diperkirakan mencapai sekitar 17 juta jiwa. Jumlah lapangan kerja tersebut belum termasuk yang bekerja pada industri hilir perkebunan. Kontribusi dalam penyediaan lapangan kerja menjadi nilai tambah sendiri, karena subsektor perkebunan menyediakan lapangan kerja di pedesaan dan daerah terpencil. Peran ini bermakna strategis karena penyediaan lapangan kerja oleh subsektor berlokasi.

  4. NAMA :RD. HERMANSYAH
    NIM :D1B108038
    PRODI :SEP/AGRIBISNIS
    TUGAS :PEMBANGUNAN PERTANIAN

    1. Definisi transformasi struktural
    I. Pendahuluan.
    Transformasi struktural merupakan salah satu hal yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di berbagai negara. Hampir seluruh negara mengawali pertumbuhan ekonominya dengan suatu transformasi struktural. Namun demikian, pola transformasi struktural mungkin saja tidak sama antar satu negara dengan negara lain.Dalam paper ini, El-hadj Bah membagi golongan negara di dunia menjadi dua yaitu negara maju dan negara berkembang. El-hadj Bah kemudian menganalisa perbandingan proses transformasi struktural yang terjadi di dua golongan negara tersebut.
    Proses perubahan struktur perekonomian di Indonesia ditandai dengan:
    1. Merosotnya pangsa sektor primer (pertanian)
    2. Meningkatnya pangsa sektor sekunder (industri)
    3. Pangsa sektor jasa kurang lebih konstan, tetapi kontribusinya akan meningkat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi.
    Faktor-faktor penyebab transisi ekonomi:
    • Kondisi dan Struktur awal ekonomi dalam negeri
    • Besarnya pasar dalam negeri
    • Pola distribusi pendapatan
    • Karakteristik Industrialisasi
    • Keberadaan sumber daya alam

    II. Transformasi Struktural di Negara Maju.
    Pada bagian awal dari paper ini El-hadj Bah memaparkan penemuan dari penelitian-penelitian sebelumnya tentang transformasi struktural. Dalam hal ini El-hadj Bah mendasarkan penelitiannya pada penelitian Kuznets (1971). Kuznets menemukan bahwa proses transformasi struktural negara maju cenderung seragam antara satu negara dengan negara lain, dimana proses tersebut terdiri dari 2 tahap. Pertama, pada awalnya sumber-sumber daya ekonomi sebagian besar dialokasikan pada sektor pertanian, yang kemudian seiring dengan pertumbuhan ekonomi alokasi ekonomi bertransformasi ke sektor industri dan jasa. Kedua, alokasi sumber-sember daya ekonomi kembali bertransformasi dari sektor pertanian dan industri ke sektor jasa. Berarti dengan adanya kenaikan Produk Domestik Bruto (PDB), hasil dari sektor pertanian akan menurun, hasil dari sektor industri pada awalnya akan naik tetapi kemudian turun, dan hasil dari sektor jasa akan selalu meningkat.
    Negara-negara maju ini mengalami proses pertumbuhan yang panjang dalam perekonomiannya terutama terkait dengan pertumbuhan PDBnya. Menurut Duarte dan Restuccia (2008), sebagian besar negara-negara maju mengalami peningkatan PDB yang sangat signifikan karena mereka mengalami pergeseran alokasi sumber daya ekonomi dari yang tadinya mayoritas dialokasikan ke sektor pertnian menjadi teralokasi ke sektor jasa.

    III. Transformasi Struktural di Negara Berkembang.
    Selanjutnya El-hadj Bah mencoba meneliti transformasi struktural yang terjadi di negara berkembang. Dalam hal ini El-hadj Bah ingin melihat apakah transformasi struktural di negara berkembang memiliki pola yang sama dengan di negara maju. Dalam analisa ini, El-hadj Bah memilih 38 negara berkembang yang terletak di Sub-Saharan Afrika, Asia Timur dan Tenggara serta Amerika Latin sebagai sampel.Berdasarkan penelitian yang dilakukan ternyata teori Kuznets tidak berlaku di negara berkembang. Penelitian dalam paper ini memberikan kesimpulan bahwa negara berkembang memiliki pola transformasi struktural yang berbeda dengan negara maju walaupun memang ada beberapa negara yang mengikuti pola negara maju. Perbedaannya terletak di dua dimensi, yaitu (1) slope atau efek transisi, dimana menunjukkan sifat hubungan antara perubahan dalam bagian output sektoral dengan perubahan log GDP per kapita; (2) efek level, dimana menunjukkan level bagian output sektoral pada GDP per kapita tertentu. Selain itu, kesimpulan yang dapat diambil berkaitan dengan pola transformasi struktural, terdapat heterogenitas yang besar akan pola transformasi struktural yang ada di negara berkembang. Pada intinya, penelitian dalam paper ini memperlihatkan perbedaan pola transformasi struktural pada negara berkembang, baik dengan negara maju maupun dengan sesama negara berkembang. Perbedaan transformasi struktural antara negara-negara berkembang itu kemudian penulis jabarkan dalam golongan-golongan berdasarkan perbedaan geografis menjadi negara-negara di Asia, Afrika dan Amerika Latin.

    IV. Transformasi Struktural di Asia.
    Penelitian transformasi struktural di Asia dilakukan penulis dengan mengambil sampel 10 negara Asia periode 1965 – 2000. Secara umum transformasi struktural di Asia memiliki kemiripan dengan negara maju, yaitu terjadi dari sektor pertanian ke sektor industri dan jasa. Nemun demikian, keunikan transformasi struktural di Asia terletak pada tahap transformasi pertama yaitu dari sektor pertanian ke sektor industri. Latar belakang dari fenomena ini coba kami analisa dengan melihat berbagai faktor yang ada. Salah satu hal yang kami nilai menjadi faktor tingginya tingkat transformasi struktural ke sektor industri adalah terjadinya manufacturing export boom di Asia sekitar tahun 1980an hingga sekarang. Dalam hal ini, Asia menjadi pilihan utama negara-negara di dunia untuk memperoleh barang-barang hasil industri. Hal ini mungkin disebabkan oleh ketersediaan bahan baku serta harga faktor produksi yang murah. Hal ini kemudian mengarah kepada suatu liberalisasi perdagangan. Perdagangan ekspor di Asia ini kemudian berkembang menjadi yang paling terdiversifikasi di antara negara berkembang lain di dunia dikarenakan faktor perkembangan teknologi. Selain itu, faktor lainnya adalah kebijakan pemeritah beberapa negara yang meningkatkan privatisasi. Hal ini kemudian meningkatkan foreign direct investment khususnya pada sektor manufaktur yang berorientasi ekspor. Di samping itu, liberalisasi finansial juga berperan pada transformasi struktural di Asia. Dalam hal ini bank-bank mulai berperan aktif dalam memberikan pinjaman untuk investasi.
    V. Transformasi Struktural di Afrika.
    Penelitian transformasi struktural di Afrika dilakukan El-hadj Bah dengan mengambil sampel 16 negara yang terletak di Sub-Saharan Afrika periode 1965 – 2000. Transformasi struktural di Afrika dapat dikatakan ’anomali’ bila dibandingkan dengan penelitian Kuznets pada negara maju. Gambaran antara GDP per kapita dengan jumlah output seperti misleading, karena beberapa waktu GDP per kapita nya mengalami penurunan sementara output sektor jasa tetap tinggi. Kemudian secara keseluruhan terlihat bahwa jumlah output sektor bernilai konstan antara 1965 – 2000. Hal tersebut dapat terjadi dikarenakan tidak proporsionalnya masing-masing proses transformasi struktural yang terjadi. Jumlah output masing-masing sektor yang konstan menunjukkan proses akumulasi dan alokasi yang tidak berjalan secara kontinyu. Masing-masing sektor berjalan sendiri-sendiri tanpa dipengaruhi langsung oleh peningkatan GDP per kapita. Pergerakan output yang konstan ini tidak menggambarkan adanya pergerakan pengalihan dari sektor pertanian ke sektor industri kemudian ke sektor jasa. Hal ini dapat terjadi karena karakteristik negara Afrika yang tingkat permintaannya cenderung stabil. Tidak terdapat permintaan yang fluktuatif yang dapat menyebabkan perubahan pada struktur penawaran produksi yang akan berakibat pada pergeseran pada lapangan pekerjaan maupun output produksi.
    VI. Transformasi Struktural di Amerika Latin.
    Penelitian transformasi struktural di Amerika Latin dilakukan penulis dengan mengambil sampel 12 negara yang terletak di Amerika Latin periode 1965 – 2000. Sementara pada Amerika Latin, polanya berada di “tengah-tengah”, dalam artian hubungan peningkatan dan penurunannya cukup menyerupai pola negara maju, namun jumlahnya cenderung tidak sesuai. Penurunan jumlah output sektor pertanian diikuti oleh peningkatan jumlah output sektor jasa telah bernilai tinggi walaupun di awal-awal proses transformasi berjalan serta jumlah output sektor industri yang cenderung masih di batas bawah kurva negara maju di sebagian besar negara.Beberapa hal mempengaruhi pola transformasi struktural di Amerika Selatan. Salah satunya krisis hutang yang terjadi di sebagian negara Amerika Latin pada tahun 1982. Hal ini menyebabkan pergeseran subsitusi impor ke promosi ekspor . Selain itu, kebijakan stabilisasi serta penyesuaian struktural yang dilakukan pemerintah di sebagian negara pun turut mempengaruhi transformasi struktural yang terjadi di Amerika Latin .

    VII. Transformasi Struktural dan Stagnasi Ekonomi.
    Dengan terjadinya transformasi struktural, akan merubah struktur ekonomi berupa sumber daya dan output yang digunakan untuk membangun. Menurut Syrquin (1994) terdapat hubungan yang kuat antara struktur ekonomi dengan tingkat pembangunan tertentu dan pertumbuhan dan perubahan strukturnya. Hal ini terjadi sejak periode stagnasi ekonomi dan penurunan ekonomi. Misalnya saja di Amerika Latin terjadi struktural transformasi dari pertanian ke industri, di Brazil shares output jasa meningkat ketika per kapita GDP stagnan $ 5000, di negara Afrika GDP perkapita tahun 2000 sama atau lebih rendah dari tahun 1965 walaupun pengalaman struktur transformasinya telah terjadi pada tahun 1965-2000. Berdasarkan Kuznet ini merupakan puzzle karena kita awalnya mengekspektasi bahwa share output sektoral tidak akan berubah jika GDP perkapita tidak berubah.
    Hal tersebut mendeskripsikan substansi dari struktur transformasi dengan penurunan besar GDP per kapita, kebalikan dari apa yang kita ekpsktasikan. Ketika negara sedang tumbuh (berkembang) dalam output sektoral maka akan mengikuti arah yang benar. Tetapi ketika negara mengalami stagnan atau penurunan ekonomi maka menjadi arah yang salah.

    VII. Efek Perubahan Harga.
    Analisis sebelumnya, share dari output sektoral diperoleh dengan membagi nilai tambah sektoral harga berlaku dibagi GDP harga berlaku. Oleh karena itu perubahan share output sektoral dapat menyebabkan perubahan pada output dan harga relatif. Agar harga relatif tidak berubah, maka kita harus merekonstruksi nilai tambah dari share output sektoral berdasarkan harga konstan dan nilai tambah sektoral. Untuk negara berkembang hanya sedikit sekali yang memiliki data tentang indikator dalam US$ dengan tahun dasar 2000. Kebanyakan negara berkembang memiliki data dari 1970, sedangkan untuk negara maju data yang dijadikan sampel pada penelitian ini dimulai dari tahun 1971. Dengan menggunakan regresi panel, ternyata transformasi struktural negara berkembang antara tahun 1970-2000 tidak sama dengan proses transformasi negara maju. Hal ini bisa dilihat pada contoh kasus 5 negara yang hasil regresinya menunjukkan hasil regresi dari nilai tambah dan GDP dengan harga konstan berbeda jika dibandingkan dengan hasil regresi harga berlaku. Hasilnya menunjukkan dengan harga konstan ternyata nilai R square untuk ketiga sektor (pertanian, industri dan jasa) lebih kecil, sehingga terlihat terdapat perbedaan proses transformasi struktural.

    Dari pola perbedaan dari lima negara berkembang, ada satu hal yang unik. Polanya menyerupai pola proses trasnsformasi yang memiliki sektor jasa yang besar (Senegal, Brazil, Palistan, Korea, dan Ghana), negara dengan share output jasa yang tinggi dalam harga berlaku memiliki nilai tambah share jasa yang tinggi pula pada harga konstan. Untuk kasus negara maju proses transformasi strukturalnya sama dengan Kuznets, apalagi negara maju telah berada dalam tahap kedua proses transformasi struktural. Seperti disebutkan sebelumnya, tidak terdapat satupun perbedaan yang besar antara series yang diperoleh dengan menggunakan harga tetap dan mengunakan harga berlaku. Oleh karena itu semua penemuan yang sebelumnya secara lebih lanjut untuk dijadikan ”pegangan”.

    2. PENGARUH TRANSFORMASI TERHADAP PENYERAPAN TENAGA KERJA
    Tahun Bekerja
    Pertanian Industri Total
    1990 42.378 7.693 50.071
    1995 35.233 10.127 45360
    2000 40.677 11.642 52319
    2005 41.814 11.652 53466
    2010 41.611 12.839 54450

    Pada tabel diatas terlihat seberapa besar pengaruh transformasi terhadap penyerapan tenaga kerja di Indonesia. Setiap tahun terjadi penurunan jumlah tenaga kerja pada sektor pertanian akan tetapi terjadi pertambahan tenaga kerja pada sektor industri.
    Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain :
    • ketersediaan bahan baku serta harga faktor produksi yang murah. Hal ini kemudian mengarah kepada suatu liberalisasi perdagangan.
    • faktor perkembangan teknologi. .
    • tenaga kerja yang semula bekerja di sektor pertanian akhirnya terpaksa bekerja di sektor industri dan jasa karena di perdesaan tidak mampu memberikan penghidupan yang lebih baik.

    3. Peranan Agribisnis Dalam pembangunan Perekonomian Nasiona
    PENDAHULUAN
    Pembangunan Pertanian di Indonesia tetap dianggap terpenting dari keseluruhan pembangunan ekonomi, apalagi semenjak sektor pertanian ini menjadi penyelamat perekonomian nasional karena justru pertumbuhannya meningkat, sementara sektor lain pertumbuhannya negatif. Beberapa alas an yang mendasari pentingnya pertanian di Indonesia :
    (1) potensi sumberdayanya yang besar dan beragam,
    (2) pangsa terhadap pendapatan nasional cukup besar,
    (3) besarnya penduduk yang menggantungkan hidupnya pada sektor ini dan
    (4) menjadi basis pertumbuhan di pedesaan
    Potensi pertanian yang besar namun sebagian besar dari petani banyak yang termasuk golongan miskin adalah sangat ironis terjadi di Indonesia. Hal ini mengindikasikan bahwa pemerintah bukan saja kurang memberdayakan petani tetapi sektor pertanian keseluruhan. Disisi lain adanya peningkatan investasi dalam pertanian yang dilakukan oleh investor PMA dan PMDN yang berorientasi pada pasar ekspor umumnya padat modal dan perananya kecil dalam penyerapan tenaga kerja atau lebih banyak menciptakan buruh tani.
    Berdasarkan latar belakang tersebut ditambah dengan kenyataan justru kuatnya aksesibilitas pada investor asing /swasta besar dibandingkan dengan petani kecil dalam pemanfaatan sumberdaya pertanian di Indonesia, maka dipandang perlu adanya grand strategy pembangunan pertanian melalui pemberdayaan petani kecil. Melalui konsepsi tersebut, maka diharapkan mampu menumbuhkan sektor pertanian, sehingga pada gilirannya mampu menjadi sumber pertumbuhan baru bagi perekonomian Indonesia, khususnya dalam hal pencapaian sasaran :
    (1) mensejahterkan petani,
    (2) menyediakan pangan,
    (3) sebagai wahana pemerataan pembangunan untuk mengatasi kesenjangan pendapatan antar masyarakat maupun kesenjangan antar wilayah,
    (4) merupakan pasar input bagi pengembangan agroindustri,
    (5) menghasilkan devisa,
    (6) menyediakan lapangan pekerjaan,
    (7) peningkatan pendapatan nasional, dan
    (8) tetap mempertahankan kelestarian sumberdaya.
    POTENSI AGRIBISNIS INDONESIA
    Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar dalam pengembangan agribisnis bahkan dimungkinkan akan menjadi leading sector dalam pembangunan nasional. Potensi agribisnis tersebut diuraikan sebagai berikut :
    1. Dalam Pembentukan Produk Domestik bruto , sektor agribisnis merupakan penyumbang nilai tambah (value added) terbesar dalam perekonomian nasional, diperkirakan sebesar 45 persen total nilai tambah.
    2. Sektor agrbisnis merupakan sektor yang menyerap tenaga kerja terbesar diperkirakan sebesar 74 persen total penyerapan tenaga kerja nasional.
    3. Sektor agribisnis juga berperan dalam penyediaan pangan masyarakat. Keberhasilan dalam pemenuhan kebutuhan pangan pokok beras telah berperan secara strategis dalam penciptaan ketahanan pangan nasional (food security) yang sangat erat kaitannya dengan ketahanan social (socio security), stabilitas ekonomi, stabilitas politik, dan keamanan atau ketahanan nasional (national security).
    4. Kegiatan agribisnis umumnya bersifat resource based industry. Tidak ada satupun negara di dunia seperti Indonesia yang kaya dan beraneka sumberdaya pertanian secara alami (endowment factor). Kenyataan telah menunjukkan bahwa di pasar internasional hanya industri yang berbasiskan sumberdaya yang mempunyai keunggulan komparatif dan mempunyai konstribusi terhadap ekspor terbesar, maka dengan demikian pengembangan agribisnis di Indonesia lebih menjamin perdagangan yang lebih kompetitif.
    5. Kegiatan agribisnis mempunyai keterkaitan ke depan dan kebelakang yang sangat besar (backward dan forward linkages) yang sangat besar. Kegiatan agribisnis (dengan besarnya keterkaitan ke depan dan ke belakang) jika dampaknya dihitung berdasarkan impact multilier secara langsung dan tidak langsung terhadap perekonomian diramalkan akan sangat besar.
    6. Dalam era globalisasi perubahan selera konsumen terhadap barangbarang konsumsi pangan diramalkan akan berubah menjadi cepat saji dan pasar untuk produksi hasil pertanian diramalkan pula terjadi pergeseran dari pasar tradisional menjadi model Kentucky. Dengan demikian agroindustri akan menjadi kegiatan bisnis yang paling attraktif.
    7. Produk agroindustri umumnya mempunyai elastisitas yang tinggi, sehingga makin tinggi pendapatan seseorang makin terbuka pasar bagi produk agroindustri.
    8. Kegiatan agribisnis umumnya menggunakan input yang bersifat renewable, sehingga pengembangannya melalui agroindustri tidak hanya memberikan nilai tambah namun juga dapat menghindari pengurasan sumberdaya sehingga lebih menjamin sustainability.
    9. Teknologi agribisnis sangat fleksibel yang dapat dikembangkan dalam padat modal ataupun padat tenaga kerja, dari manejement sederhana sampai canggih, dari skala kecil sampai besar. Sehingga Indonesia yang penduduknya sangat banyak dan padat, maka dalam pengembangannya dimungkinkan oleh berbagai segmen usaha.
    10. Indonesia punya sumberdaya pertanian yang sangat besar, namun produk pertanian umumnya mudah busuk, banyak makan tempat, dan musiman. Sehingga dalam era globalisasi dimana konsumen umumnya cenderung mengkonsumsi nabati alami setiap saat, dengan kualitas tinggi dan tidak busuk dan makan tempat, maka peranan agroindustri akan dominant.
    ARAH PEMBANGUNAN SEKTOR PERTANIAN MASA DATANG
    Secara teoritis arah pembangunan secara umum adalah untuk memaksimumkan kesejahteraan sosial (social welfare) yang harus memenuhi empat komponen tujuan utama, yakni:
    pertumbuhan, pemerataan, kelestarian, hak asasi manusia. Oleh karena itu dalam pembangunan pertanian tujuan utama ini dicoba akan diwujudkan sesuai dengan potensi dan peluangnya. Berdasarkan identifikasi masalah dan isu pembangunan pertanian sesuai dengan tuntutan demokratisasi dan globalisasi tersebut, maka dapat dibuat arah pembangunan pertanian pada masa datang.. Arah pembangunan pertanian tersebut dirumuskan dalam bentuk visi, misi, tuan dan strategii pembangunan pertanian.

    Visi pembangunan pertanian adalah membangun petani melalui bisnis pertanian yang modern, efisien, dan lestari yang terpadu dengan pembanguna wilayah.
    Ciri-ciri dari visi ini adalah :
    a) Membangun petani mengandung pengertian prioritas pembangunan pertanian harus mendahulukan kesejahteraan petani dalam arti luas sehingga mampu menumbuh kembangkan partisipasi petani dan mampu meningkatkan keadaan sosial-ekonomi petani melalui peningkatan akses terhadap teknologi, modal, dan pasar.
    b) Bisnis pertanian mengandung pengertian pertanian harus dikembangkan dalam suatu sistem agribisnis pertanian mulai dari bisnis input produksi, hasil produksi pertanian, deversifikasi usaha pertanian, serta bisnis hasil olahannya yang mampu akses ke pasar internasional. Melalui aktifitas agribisnis pertanian yang lebih luas ini diharapkan mampu lebih meningkatkan peran pertanian terhadap pembangunan nasional baik terhadap penyerapan tenaga kerja, pendapatan nasional, perolehan devisa, maupun peningkatan gizi masyarakat
    c) Modern mengandung pengertian menggunakan teknologi yang dinamis dan spesifik lokasi pengembangan sesuai dengan tutuntan zaman.
    d) Efisien mengandung pengertian mampu berdaya saing di pasar internasional yang dicirikan pada pengembangan yang didasarkan sumberdaya yang mempunyai keunggulan komparatif dan berkualitas tinggi
    e) Lestari mengandung pengertian menggunakan sumberdaya yang optimal dan tetap memperhatikan aspek kelestarian sumberdaya pertanian.
    f) Terpadu dengan pembangunan wilayah mengandung pengertian pembangunan pertanian harus didukung oleh pembangunan wilayah baik pembangunan infrastruktur maupun pembangunan sosial ekonomi kemasyarakatan.
    Misi Berdasarkan visi pembangunan tersebut, maka misi pembangunan pertanian dapat dirumuskan sebagai berikut:
    1. Memfasilitasi dan mengembangkan pusat-pusat petumbuhan komoditas unggulan yang berdaya saing yang terorganisasi oleh organisasi ekonomi petani dalam system agribisnis
    2. Memodernisasi sektor pertanian sebagai aktifitas bisnis berspektrum luas mulai dari bisnis input produksi, deversifikasi usaha pertanian, penangan pasca panen, serta bisnis hasil olahannya yang mampu akses ke pasar internasional melalui inovasi teknologi spesifik lokasi dan ramah lingkungan
    3. Memfasilitasi dan mendorong peningkatan kualitas sumberdaya manusia baik aparat pemerintah, maupun pelaku agribisnis khususnya petani melalui pengetahuan dan ketrampilan petani pada setiap pusat pertumbuhan agribisnis melalui sekolah pertanian lapang dengan melibatkan perguruan tinggi dan libang-litbang pertanian
    4. Memfasilitasi dan mendorong berkembangnya usaha-usaha agroindustri hulu maupun pengolahan hasil dengan prioritas skala kecil di setiap wilayah
    5. Memfasilitasi dan mendorong keterpaduan pembangunan agribisnis dengan pembangunan wilayah baik pembangunan infrastruktur maupun pembangunan sosial ekonomi kemasyarakatan.
    6. Memfasilitasi dan mendorong citra produk-produk pertanian Indonesia melalui promosi di pasar internasional Tujuan
     Meningkatkan kesejahteraan petani terutama kelompok masyarakat yang mata pencahariannya berkaitan langsung dengan sumberdaya pertanian.
     Meningkatkan keunggulan komparatif dan kompetitif produk agribisnis baik produk primer maupun olahan, sehingga mampu berdaya saing di pasar internasional
     Meningkatkan posisi tawar petani melalui penguatan kelembagaan petani dan meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan petani sehingga mampu meningkatkan berpartisipasi dan aksesibilitas terhadap inovasi teknologi, perkreditan, informasi pasar, kelestarian sumberdaya dalam pengelolaan sumberdaya pertanian.
     Meningkatkan kesempatan kerja di wilayah melalui pengembangan agroindustri skala kecil
     Mewujudkan sistem ketahanan pangan yang berbasis pada keragaman sumberdaya local
     Menjadikan sektor pertanian sebagai pusat pertumbuhan khususnya pada wilayah-wilayah berbasiskan sumberdaya pertanian
     Meningkatkan layanan informasi teknologi, perkreditan, sarana produksi dan prasarana pertanian kepada petani
     Menjaga dan meningkatkan kualitas sumberdaya pertanian
    Peran Subsektor Perkebunan dalam Pembangunan Nasional Sebagai salah satu subsektor penting dalam sektor pertanian, subsektor perkebunan secara tradisional mempunyai kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian Indonesia . Sebagai negara berkembang dimana penyediaan lapangan kerja merupakan masalah yang mendesak, subsektor perkebunan mempunyai kontribusi yang cukup signifikan. Sampai dengan tahun 2003, jumlah tenaga kerja yang terserap oleh subsektor perkebunan diperkirakan mencapai sekitar 17 juta jiwa. Jumlah lapangan kerja tersebut belum termasuk yang bekerja pada industri hilir perkebunan. Kontribusi dalam penyediaan lapangan kerja menjadi nilai tambah sendiri, karena subsektor perkebunan menyediakan lapangan kerja di pedesaan dan daerah terpencil. Peran ini bermakna strategis karena penyediaan lapangan kerja oleh subsektor berlokasi.

  5. nama :darsiti
    nim : d1b108004
    prodi : agribisnis

    1. Definisi transformasi struktural dalam ekonomi ?
    Transformasi struktural adalah perubahan struktur ekonomi dari semua didominasi sector pertanian menjadi sector industry. Menurut Johnstone (1975), pembangunan akan berlangsung bila terjadi perubahan struktur ekonomi dari dominasi pertanian ke dominasi industry.(sumber : diktat pengantar pembangunan pertanian.armen mara, dosen faperta unja,okt 2006).

    2. Pengaruh transformasi terhadap tenaga kerja dilihat dari PDB Indonesia ?
    Table 1.1. jumlah tenaga kerja menurut sector dari tehun ke tahun….
    Sector 1990 2001 2005 2008

    Pertanian 50,1 43,77 43,57 40,30

    Industry 17,0 13,31 12,72 12,24
    Sumber : statistic Indonesia 2001-2009 dikutip dari jurnal Rezal Wicaksono_c2b006050.pdf.

    pengaruh transformasi terhadap tenaga kerja adalah dengan adanya transformasi maka tenaga kerja disektor pertanian mengalami penurunan dari tahun ketahun. Selama tahun 1990 an perubahahan tenaga kerja untuk sector industri lebih tinggi dari kurun waktu 2001-2008. Hal tersebut dikarenakan pada tahun 2002,2005, dan 2008 terjadi kenaikan harga bahan bakar. Kenaikan tersebut akan meningkatkan beban perusahaan dalam memproduksi output. Untuk mengurangi beban tersebut maka perusahaan mengurangi penyerapan tenaga kerja.

    3. Bagaimana kontribusi sector pertanian dan sector industri terhadap PDB Indonesia ?
    Tabel 1.2. kontribusi sector pertanian terhadap PDB Indonesia dari tahun ke tahun.
    Sektor 1990 1994 2001 2005 2008

    Pertanian 19,6 17,4 16,35 14,5 13,67

    Industri 23,9 26,30 28,08 26,76
    Sumber : statistic Indonesia 2001-2009 dikutip dari jurnal Rezal Wicaksono_c2b006050.pdf.

    kontribusi sector pertanian dan sector industri terhadap PDB Indonesia adalah
    sector industri memberikan kontribusi yang besar terhadap pembentukan PDB. Hal ini dilihat dari jumlah peningkatan dari tahun ketahun. Pada sector pertanian semakin merosot karena police (kebijakan) dari pemerintah terlalu menekan transformasi kesektor industry manufacturing. kontribusi sektor pertanian dalam PDB terus menurun selama 20 tahun terakhir.

    4. Bagaimana peranan pembangunan agribisnis terhadap pembangunan ekonomi nasional ?
    yaitu :
    • Mengingat pentingnya sector pertanian dalam perekonomian nasional, maka pembangunan ekonomi nasional harus dititik beratkan pada sector pertanian.
    (sumber : diktat pengantar pembangunan pertanian. Armen Mara, Dosen Faperta Unja, okt 2006)
    • Pembangunan pertanian di Indonesia tetap dianggap terpenting dari keseluruhan pembangunan ekonomi, apalagi semenjak sector pertanian ini menjadi penyelamat perekonomian nasional karena justru pertumbuhannya meningkat, sementara sector lain pertumbuhannya negatife. Serta Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar dalam pembangunan agribisnis bahkan dimungkinkan akan menjadi leading sector dalam pembangunan nasional.
    (sumber: http://kevin040.student.umum.ac.id/peranan-pertanian-dalam-pembangunan-perekonomian-nasionl/.

  6. NAMA :ABDULLAH
    NIM :D1B108051
    PRODI :SEP/AGRIBISNIS
    TUGAS :PEMBANGUNAN PERTANIAN

    NOMOR .1
    Pendahuluan
    Transformasi struktural merupakan salah satu hal yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di berbagai negara.Hampir seluruh negara mengawali pertumbuhan ekonominya dengan suatu transformasi struktural. Namun demikian, pola transformasi struktural mungkin saja tidak sama antar satu negara dengan negara lain.
    Dalam paper ini, El-hadj Bah membagi golongan negara di dunia menjadi dua yaitu negara maju dan negara berkembang. El-hadj Bah kemudian menganalisa perbandingan proses transformasi struktural yang terjadi di dua golongan negara tersebut.
    Transformasi Struktural di Negara Maju
    Pada bagian awal dari paper ini El-hadj Bah memaparkan penemuan dari penelitian-penelitian sebelumnya tentang transformasi struktural.Dalam hal ini El-hadj Bah mendasarkan penelitiannya pada penelitian Kuznets (1971). Kuznets menemukan bahwa proses transformasi struktural negara maju cenderung seragam antara satu negara dengan negara lain, dimana proses tersebut terdiri dari 2 tahap. Pertama, pada awalnya sumber-sumber daya ekonomi sebagian besar dialokasikan pada sektor pertanian, yang kemudian seiring dengan pertumbuhan ekonomi alokasi ekonomi bertransformasi ke sektor industri dan jasa.Kedua, alokasi sumber-sember daya ekonomi kembali bertransformasi dari sektor pertanian dan industri ke sektor jasa. Berarti dengan adanya kenaikan Produk Domestik Bruto (PDB), hasil dari sektor pertanian akan menurun, hasil dari sektor industri pada awalnya akan naik tetapi kemudian turun, dan hasil dari sektor jasa akan selalu meningkat.
    Negara-negara maju ini mengalami proses pertumbuhan yang panjang dalam perekonomiannya terutama terkait dengan pertumbuhan PDBnya. Menurut Duarte dan Restuccia (2008), sebagian besar negara-negara maju mengalami peningkatan PDB yang sangat signifikan karena mereka mengalami pergeseran alokasi sumber daya ekonomi dari yang tadinya mayoritas dialokasikan ke sektor pertanian menjadi teralokasi ke sektor jasa.
    Transformasi Struktural di Negara Berkembang
    Selanjutnya El-hadj Bah mencoba meneliti transformasi struktural yang terjadi di negara berkembang. Dalam hal ini El-hadj Bah ingin melihat apakah transformasi struktural di negara berkembang memiliki pola yang sama dengan di negara maju. Dalam analisa ini, El-hadj Bah memilih 38 negara berkembang yang terletak di Sub-Saharan Afrika, Asia Timur dan Tenggara serta Amerika Latin sebagai sampel.
    Berdasarkan penelitian yang dilakukan ternyata teori Kuznets tidak berlaku di negara berkembang.Penelitian dalam paper ini memberikan kesimpulan bahwa negara berkembang memiliki pola transformasi struktural yang berbeda dengan negara maju walaupun memang ada beberapa negara yang mengikuti pola negara maju. Perbedaannya terletak di dua dimensi, yaitu (1) slope atau efek transisi, dimana menunjukkan sifat hubungan antara perubahan dalam bagian output sektoral dengan perubahan log GDP per kapita; (2) efek level, dimana menunjukkan level bagian output sektoral pada GDP per kapita tertentu. Selain itu, kesimpulan yang dapat diambil berkaitan dengan pola transformasi struktural, terdapat heterogenitas yang besar akan pola transformasi struktural yang ada di negara berkembang. Pada intinya, penelitian dalam paper ini memperlihatkan perbedaan pola transformasi struktural pada negara berkembang, baik dengan negara maju maupun dengan sesama negara berkembang.Perbedaan transformasi struktural antara negara-negara berkembang itu kemudian penulis jabarkan dalam golongan-golongan berdasarkan perbedaan geografis menjadi negara-negara di Asia, Afrika dan Amerika Latin.

    Transformasi Struktural di Asia
    Penelitian transformasi struktural di Asia dilakukan penulis dengan mengambil sampel 10 negara Asia periode 1965 – 2000.Secara umum transformasi struktural di Asia memiliki kemiripan dengan negara maju, yaitu terjadi dari sektor pertanian ke sektor industri dan jasa.Nemun demikian, keunikan transformasi struktural di Asia terletak pada tahap transformasi pertama yaitu dari sektor pertanian ke sektor industri.
    Latar belakang dari fenomena ini coba kami analisa dengan melihat berbagai faktor yang ada. Salah satu hal yang kami nilai menjadi faktor tingginya tingkat transformasi struktural ke sektor industri adalah terjadinya manufacturing export boom di Asia sekitar tahun 1980an hingga sekarang[1]. Dalam hal ini, Asia menjadi pilihan utama negara-negara di dunia untuk memperoleh barang-barang hasil industri. Hal ini mungkin disebabkan oleh ketersediaan bahan baku serta harga faktor produksi yang murah. Hal ini kemudian mengarah kepada suatu liberalisasi perdagangan. Perdagangan ekspor di Asia ini kemudian berkembang menjadi yang paling terdiversifikasi di antara negara berkembang lain di dunia dikarenakan faktor perkembangan teknologi[2]. Selain itu, faktor lainnya adalah kebijakan pemeritah beberapa negara yang meningkatkan privatisasi.Hal ini kemudian meningkatkan foreign direct investment khususnya pada sektor manufaktur yang berorientasi ekspor.Di samping itu, liberalisasi finansial juga berperan pada transformasi struktural di Asia.Dalam hal ini bank-bank mulai berperan aktif dalam memberikan pinjaman untuk investasi.
    Transformasi Struktural di Afrika
    Penelitian transformasi struktural di Afrika dilakukan El-hadj Bah dengan mengambil sampel 16 negara yang terletak di Sub-Saharan Afrika periode 1965 – 2000.Transformasi struktural di Afrika dapat dikatakan ’anomali’ bila dibandingkan dengan penelitian Kuznets pada negara maju. Gambaran antara GDP per kapita dengan jumlah output seperti misleading, karena beberapa waktu GDP per kapita nya mengalami penurunan sementara output sektor jasa tetap tinggi. Kemudian secara keseluruhan terlihat bahwa jumlah output sektor bernilai konstan antara 1965 – 2000.
    Hal tersebut dapat terjadi dikarenakan tidak proporsionalnya masing-masing proses transformasi struktural yang terjadi. Jumlah output masing-masing sektor yang konstan menunjukkan proses akumulasi dan alokasi yang tidak berjalan secara kontinyu. Masing-masing sektor berjalan sendiri-sendiri tanpa dipengaruhi langsung oleh peningkatan GDP per kapita. Pergerakan output yang konstan ini tidak menggambarkan adanya pergerakan pengalihan dari sektor pertanian ke sektor industri kemudian ke sektor jasa. Hal ini dapat terjadi karena karakteristik negara Afrika yang tingkat permintaannya cenderung stabil. Tidak terdapat permintaan yang fluktuatif yang dapat menyebabkan perubahan pada struktur penawaran produksi yang akan berakibat pada pergeseran pada lapangan pekerjaan maupun output produksi.

    Transformasi Struktural di Amerika Latin
    Penelitian transformasi struktural di Amerika Latin dilakukan penulis dengan mengambil sampel 12 negara yang terletak di Amerika Latin periode 1965 – 2000. Sementara pada Amerika Latin, polanya berada di “tengah-tengah”, dalam artian hubungan peningkatan dan penurunannya cukup menyerupai pola negara maju, namun jumlahnya cenderung tidak sesuai. Penurunan jumlah output sektor pertanian diikuti oleh peningkatan jumlah output sektor jasa telah bernilai tinggi walaupun di awal-awal proses transformasi berjalan serta jumlah output sektor industri yang cenderung masih di batas bawah kurva negara maju di sebagian besar negara.
    Beberapa hal mempengaruhi pola transformasi struktural di Amerika Selatan.Salah satunya krisis hutang yang terjadi di sebagian negara Amerika Latin pada tahun 1982.Hal ini menyebabkan pergeseran subsitusi impor ke promosi ekspor [3].Selain itu, kebijakan stabilisasi serta penyesuaian struktural yang dilakukan pemerintah di sebagian negara pun turut mempengaruhi transformasi struktural yang terjadi di Amerika Latin [4].
    Transformasi Struktural dan Stagnasi Ekonomi
    Dengan terjadinya transformasi struktural, akan merubah struktur ekonomi berupa sumber daya dan output yang digunakan untuk membangun. Menurut Syrquin (1994) terdapat hubungan yang kuat antara struktur ekonomi dengan tingkat pembangunan tertentu dan pertumbuhan dan perubahan strukturnya.Hal ini terjadi sejak periode stagnasi ekonomi dan penurunan ekonomi. Misalnya saja di Amerika Latin terjadi struktural transformasi dari pertanian ke industri, di Brazil shares output jasa meningkat ketika per kapita GDP stagnan $ 5000, di negara Afrika GDP perkapita tahun 2000 sama atau lebih rendah dari tahun 1965 walaupun pengalaman struktur transformasinya telah terjadi pada tahun 1965-2000. Berdasarkan Kuznet ini merupakan puzzle karena kita awalnya mengekspektasi bahwa share output sektoral tidak akan berubah jika GDP perkapita tidak berubah.
    Hal tersebut mendeskripsikan substansi dari struktur transformasi dengan penurunan besar GDP per kapita, kebalikan dari apa yang kita ekpsktasikan. Ketika negara sedang tumbuh (berkembang) dalam output sektoral maka akan mengikuti arah yang benar. Tetapi ketika negara mengalami stagnan atau penurunan ekonomi maka menjadi arah yang salah.
    Efek Perubahan Harga
    Analisis sebelumnya, share dari output sektoral diperoleh dengan membagi nilai tambah sektoral harga berlaku dibagi GDP harga berlaku. Oleh karena itu perubahan share output sektoral dapat menyebabkan perubahan pada output dan harga relatif. Agar harga relatif tidak berubah, maka kita harus merekonstruksi nilai tambah dari share output sektoral berdasarkan harga konstan dan nilai tambah sektoral.Untuk negara berkembang hanya sedikit sekali yang memiliki data tentang indikator dalam US$ dengan tahun dasar 2000.Kebanyakan negara berkembang memiliki data dari 1970, sedangkan untuk negara maju data yang dijadikan sampel pada penelitian ini dimulai dari tahun 1971.
    Dengan menggunakan regresi panel, ternyata transformasi struktural negara berkembang antara tahun 1970-2000 tidak sama dengan proses transformasi negara maju. Hal ini bisa dilihat pada contoh kasus 5 negara yang hasil regresinya menunjukkan hasil regresi dari nilai tambah dan GDP dengan harga konstan berbeda jika dibandingkan dengan hasil regresi harga berlaku. Hasilnya menunjukkan dengan harga konstan ternyata nilai R square untuk ketiga sektor (pertanian, industri dan jasa) lebih kecil, sehingga terlihat terdapat perbedaan proses transformasi struktural.
    Dari pola perbedaan dari lima negara berkembang, ada satu hal yang unik. Polanya menyerupai pola proses trasnsformasi yang memiliki sektor jasa yang besar (Senegal, Brazil, Palistan, Korea, dan Ghana), negara dengan share output jasa yang tinggi dalam harga berlaku memiliki nilai tambah share jasa yang tinggi pula pada harga konstan. Untuk kasus negara maju proses transformasi strukturalnya sama dengan Kuznets, apalagi negara maju telah berada dalam tahap kedua proses transformasi struktural.

    NOMOR .2
    2. PENGARUH TRANSFORMASI TERHADAP PENYERAPAN TENAGA KERJA
    Tahun Bekerja
    Pertanian Industri Total
    1990 42.378 7.693 50.071
    1995 35.233 10.127 45360
    2000 40.677 11.642 52319
    2005 41.814 11.652 53466
    2010 41.611 12.839 54450

    Pada tabel diatas terlihat seberapa besar pengaruh transformasi terhadap penyerapan tenaga kerja di Indonesia. Setiap tahun terjadi penurunan jumlah tenaga kerja pada sektor pertanian akan tetapi terjadi pertambahan tenaga kerja pada sektor industri.
    Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain :
    • ketersediaan bahan baku serta harga faktor produksi yang murah. Hal ini kemudian mengarah kepada suatu liberalisasi perdagangan.
    • faktor perkembangan teknologi. .
    • tenaga kerja yang semula bekerja di sektor pertanian akhirnya terpaksa bekerja di sektor industri dan jasa karena di perdesaan tidak mampu memberikan penghidupan yang lebih baik.

    NOMOR .3
    Peranan Pertanian Dalam pembangunan Perekonomian Indonesia
    Peranan Pertanian Dalam pembangunan Perekonomian Indonesia
    PENDAHULUAN
    Pembangunan Pertanian di Indonesia tetap dianggap terpenting dari keseluruhan pembangunan ekonomi, apalagi semenjak sektor pertanian ini menjadi penyelamat perekonomian nasional karena justru pertumbuhannya meningkat, sementara sektor lain pertumbuhannya negatif. Beberapa alas an yang mendasari pentingnya pertanian di Indonesia :
    (1) potensi sumberdayanya yang besar dan beragam,
    (2) pangsa terhadap pendapatan nasional cukup besar,
    (3) besarnya penduduk yang menggantungkan hidupnya pada sektor ini dan
    (4) menjadi basis pertumbuhan di pedesaan
    Potensi pertanian yang besar namun sebagian besar dari petani banyak yang termasuk golongan miskin adalah sangat ironis terjadi di Indonesia.Hal ini mengindikasikan bahwa pemerintah bukan saja kurang memberdayakan petani tetapi sektor pertanian keseluruhan. Disisi lain adanya peningkatan investasi dalam pertanian yang dilakukan oleh investor PMA dan PMDN yang berorientasi pada pasar ekspor umumnya padat modal dan perananya kecil dalam penyerapan tenaga kerja atau lebih banyak menciptakan buruh tani.
    Berdasarkan latar belakang tersebut ditambah dengan kenyataan justru kuatnya aksesibilitas pada investor asing /swasta besar dibandingkan dengan petani kecil dalam pemanfaatan sumberdaya pertanian di Indonesia, maka dipandang perlu adanya grand strategy pembangunan pertanian melalui pemberdayaan petani kecil. Melalui konsepsi tersebut, maka diharapkan mampu menumbuhkan sektor pertanian, sehingga pada gilirannya mampu menjadi sumber pertumbuhan baru bagi perekonomian Indonesia, khususnya dalam hal pencapaian sasaran :
    (1) mensejahterkan petani,
    (2)menyediakan pangan,
    (3) sebagai wahana pemerataan pembangunan untuk mengatasi kesenjangan pendapatan antar masyarakat maupun kesenjangan antar wilayah,
    (4) merupakan pasar input bagi pengembangan agroindustri,
    (5) menghasilkan devisa,
    (6) menyediakan lapangan pekerjaan,
    (7) peningkatan pendapatan nasional, dan
    (8) tetap mempertahankan kelestarian sumberdaya.
    POTENSI AGRIBISNIS INDONESIA
    Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar dalam pengembangan agribisnis bahkan dimungkinkan akan menjadi leading sector dalam pembangunan nasional. Potensi agribisnis tersebut diuraikan sebagai berikut :
    1. Dalam Pembentukan Produk Domestik bruto , sektor agribisnis merupakan penyumbang nilai tambah (value added) terbesar dalam perekonomian nasional, diperkirakan sebesar 45 persen total nilai tambah.
    2. Sektor agrbisnis merupakan sektor yang menyerap tenaga kerja terbesar diperkirakan sebesar 74 persen total penyerapan tenaga kerja nasional.
    3. Sektor agribisnis juga berperan dalam penyediaan pangan masyarakat. Keberhasilan dalam pemenuhan kebutuhan pangan pokok beras telah berperan secara strategis dalam penciptaan ketahanan pangan nasional (food security) yang sangat erat kaitannya dengan ketahanan social (socio security), stabilitas ekonomi, stabilitas politik, dan keamanan atauketahanan nasional (national security).
    4. Kegiatan agribisnis umumnya bersifat resource based industry. Tidak ada satupun negara di dunia seperti Indonesia yang kaya dan beraneka sumberdaya pertanian secara alami (endowment factor). Kenyataan telah menunjukkan bahwa di pasar internasional hanya industri yang berbasiskan sumberdaya yang mempunyai keunggulan komparatif dan mempunyai konstribusi terhadap ekspor terbesar, maka dengan demikian pengembangan agribisnis di Indonesia lebih menjamin perdagangan yang lebih kompetitif.
    5. Kegiatan agribisnis mempunyai keterkaitan ke depan dan kebelakang yang sangat besar (backward dan forward linkages) yang sangat besar. Kegiatan agribisnis (dengan besarnya keterkaitan ke depan dan ke belakang) jika dampaknya dihitung berdasarkan impact multilier secara langsung dan tidak langsung terhadap perekonomian diramalkan akan sangat besar.
    6. Dalam era globalisasi perubahan selera konsumen terhadap barangbarang konsumsi pangan diramalkan akan berubah menjadi cepat saji dan pasar untuk produksi hasil pertanian diramalkan pula terjadi pergeseran dari pasar tradisional menjadi model Kentucky. Dengan demikian agroindustri akan menjadi kegiatan bisnis yang paling attraktif.
    7. Produk agroindustri umumnya mempunyai elastisitas yang tinggi, sehingga makin tinggi pendapatan seseorang makin terbuka pasar bagi produk agroindustri.
    8. Kegiatan agribisnis umumnya menggunakan input yang bersifat renewable, sehingga pengembangannya melalui agroindustri tidak hanya memberikan nilai tambah namun juga dapat menghindari pengurasan sumberdaya sehingga lebih menjamin sustainability.
    9. Teknologi agribisnis sangat fleksibel yang dapat dikembangkan dalam padat modal ataupun padat tenaga kerja, dari manejement sederhana sampai canggih, dari skala kecil sampai besar. Sehingga Indonesia yang penduduknya sangat banyak dan padat, maka dalam pengembangannya dimungkinkan oleh berbagai segmen usaha.
    10. Indonesia punya sumberdaya pertanian yang sangat besar, namun produk pertanian umumnya mudah busuk, banyak makan tempat, dan musiman. Sehingga dalam era globalisasi dimana konsumen umumnya cenderung mengkonsumsi nabati alami setiap saat, dengan kualitas tinggi dan tidak busuk dan makan tempat, maka peranan agroindustri akan dominant.
    ARAH PEMBANGUNAN SEKTOR PERTANIAN MASA DATANG
    Secara teoritis arah pembangunan secara umum adalah untuk memaksimumkan kesejahteraan sosial (social welfare) yang harus memenuhi empat komponen tujuan utama, yakni:
    pertumbuhan, pemerataan, kelestarian, hak asasi manusia. Oleh karena itu dalam pembangunan pertanian tujuan utama ini dicoba akan diwujudkan sesuai dengan potensi dan peluangnya. Berdasarkan identifikasi masalah dan isu pembangunan pertanian sesuai dengan tuntutan demokratisasi dan globalisasi tersebut, maka dapat dibuat arah pembangunan pertanian pada masa datang.. Arah pembangunan pertanian tersebut dirumuskan dalam bentuk visi, misi, tuan dan strategii pembangunan pertanian.
    Visi
    Visi pembangunan pertanian adalah membangun petani melalui bisnis pertanian yang modern, efisien, dan lestari yang terpadu dengan pembanguna wilayah.
    Ciri-ciri dari visi ini adalah :
    a) Membangun petani mengandung pengertian prioritas pembangunan pertanian harus mendahulukan kesejahteraan petani dalam arti luas sehingga mampu menumbuh kembangkan partisipasi petani dan mampu meningkatkan keadaan sosial-ekonomi petani melalui peningkatan akses terhadap teknologi, modal, dan pasar.
    b) Bisnis pertanian mengandung pengertian pertanian harus dikembangkan dalam suatu sistem agribisnis pertanian mulai dari bisnis input produksi, hasil produksi pertanian, deversifikasi usaha pertanian, serta bisnis hasil olahannya yang mampu akses ke pasar internasional. Melalui aktifitas agribisnis pertanian yang lebih luas ini diharapkan mampu lebih meningkatkan peran pertanian terhadap pembangunan nasional baik terhadap penyerapan tenaga kerja, pendapatan nasional, perolehan devisa, maupun peningkatan gizi masyarakat
    c) Modern mengandung pengertian menggunakan teknologi yang dinamis dan spesifik lokasi pengembangan sesuai dengan tutuntan zaman.
    d) Efisien mengandung pengertian mampu berdaya saing di pasar internasional yang dicirikan pada pengembangan yang didasarkan sumberdaya yang mempunyai keunggulan komparatif dan berkualitas tinggi
    e) Lestari mengandung pengertian menggunakan sumberdaya yang optimal dan tetap memperhatikan aspek kelestarian sumberdaya pertanian.
    f) Terpadu dengan pembangunan wilayah mengandung pengertian pembangunan pertanian harus didukung oleh pembangunan wilayah baik pembangunan infrastruktur maupun pembangunan sosial ekonomi kemasyarakatan.
    Misi Berdasarkan visi pembangunan tersebut, maka misi pembangunan pertanian dapat dirumuskan sebagai berikut:
    1. Memfasilitasi dan mengembangkan pusat-pusat petumbuhan komoditas unggulan yang berdaya saing yang terorganisasi oleh organisasi ekonomi petani dalam system agribisnis
    2. Memodernisasi sektor pertanian sebagai aktifitas bisnis berspektrum luas mulai dari bisnis input produksi, deversifikasi usaha pertanian, penangan pasca panen, serta bisnis hasil olahannya yang mampu akses ke pasar internasional melalui inovasi teknologi spesifik lokasi dan ramah lingkungan
    3. Memfasilitasi dan mendorong peningkatan kualitas sumberdaya manusia baik aparat pemerintah, maupun pelaku agribisnis khususnya petani melalui pengetahuan dan ketrampilan petani pada setiap pusat pertumbuhan agribisnis melalui sekolah pertanian lapang dengan melibatkan perguruan tinggi dan libang-litbang pertanian
    4. Memfasilitasi dan mendorong berkembangnya usaha-usaha agroindustri hulu maupun pengolahan hasil dengan prioritas skala kecil di setiap wilayah
    5. Memfasilitasi dan mendorong keterpaduan pembangunan agribisnis dengan pembangunan wilayah baik pembangunan infrastruktur maupun pembangunan sosial ekonomi kemasyarakatan.
    6. Memfasilitasi dan mendorong citra produk-produk pertanian Indonesia melalui promosi di pasar internasional Tujuan
     Meningkatkan kesejahteraan petani terutama kelompok masyarakat yang mata pencahariannya berkaitan langsung dengan sumberdaya pertanian.
     Meningkatkan keunggulan komparatif dan kompetitif produk agribisnis baik produk primer maupun olahan, sehingga mampu berdaya saing di pasar internasional
     Meningkatkan posisi tawar petani melalui penguatan kelembagaan petani dan meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan petani sehingga mampu meningkatkan berpartisipasi dan aksesibilitas terhadap inovasi teknologi, perkreditan, informasi pasar, kelestarian sumberdaya dalam pengelolaan sumberdaya pertanian.
     Meningkatkan kesempatan kerja di wilayah melalui pengembangan agroindustri skala kecil
     Mewujudkan sistem ketahanan pangan yang berbasis pada keragaman sumberdaya local
     Menjadikan sektor pertanian sebagai pusat pertumbuhan khususnya pada wilayah-wilayah berbasiskan sumberdaya pertanian
     Meningkatkan layanan informasi teknologi, perkreditan, sarana produksi dan prasarana pertanian kepada petani
     Menjaga dan meningkatkan kualitas sumberdaya pertanian
    Peran Subsektor Perkebunan dalam Pembangunan Nasional Sebagai salah satu subsektor penting dalam sektor pertanian, subsektor perkebunan secara tradisional mempunyai kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian Indonesia .Sebagai negara berkembang dimana penyediaan lapangan kerja merupakan masalah yang mendesak, subsektor perkebunan mempunyai kontribusi yang cukup signifikan.Sampai dengan tahun 2003, jumlah tenaga kerja yang terserap oleh subsektor perkebunan diperkirakan mencapai sekitar 17 juta jiwa.Jumlah lapangan kerja tersebut belum termasuk yang bekerja pada industri hilir perkebunan.Kontribusi dalam penyediaan lapangan kerja menjadi nilai tambah sendiri, karena subsektor perkebunan menyediakan lapangan kerja di pedesaan dan daerah terpencil.Peran ini bermakna strategis karena penyediaan lapangan kerja oleh subsektor berlokasi.

  7. Nama : JAMES STEVAN
    Nim : D1B108053
    Prodi : SEP/AGRIBISNIS
    Mata Kuliah : Pembangunan Pertanian

    1. Transformasi struktural ekonomi Nasional dan bagaimana pengaruh terhadap tenaga karja ?
    Transformasi struktural merupakan prasyarat dari peningkatan dan kesinambungan pertumbuhan dan penanggulangan kemiskinan, sekaligus pendukung bagi kelanjutan pembangunan. Pada kenyataannya,pertumbuhan ekonomi di Indonesia tidak disertai dengan perubahan struktur tenaga kerja yang berimbang..artinya titik balik untuk aktivitas ekonomi tercapai lebih dahulu dibanding titik balik penggunaan tenaga kerja. Sehingga terjadi masalah-masalah yang seringkali diperdebatkan diantaranya apakah pangsa PDB sebanding dengan penurunan pangsa serapan tenaga kerja sektoral dan industri mana yang berkembang lebih cepat, agroindustri atau industri manufaktur. Apabila transformasi kurang seimbang dikuatirkan akan terjadi proses pemiskinan dan eksploitasi sumber daya manusia pada sektor primer.
    Komponen
    Proses perubahan struktur perekonomian di Indonesia ditandai dengan:
    1. Merosotnya pangsa sektor primer (pertanian)
    2. Meningkatnya pangsa sektor sekunder (industri)
    3. Pangsa sektor jasa kurang lebih konstan, tetapi kontribusinya akan meningkat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi.
    Dalam menganalisis struktur ekonomi terdapat dua teori utama, yaitu teori Arthur Lewis (teori migrasi) dan Hollins Chenery (teori transformasi struktural). Dalam teorinya, Lewis mengasumsikan bahwa perekonomian suatu negara pada dasarnya terbagi menjadi dua yaitu perekonomian tradisional di pedesaan yang didominasi sektor pertanian dan perekonomian modern di perkotaan dengan industri sebagai sektor utama. Di pedesaan, pertumnuhan pertumbuhan penduduknya tinggi sehingga terjadi kelebihan suplai tenaga kerja. Akibat over supply tenaga kerja ini, tingkat upah menjadi sangat rendah. Sebaliknya, di perkotaan, sektor industri mengalami kekurangan tenaga kerja. Hal ini menarik banyak tenaga kerja pindah dari sektor
    Landasan teori tentang fenomena transformasi struktural itu sudah sangat solid, sehingga terkesan “aneh dan melawan arus” jika pemerintah justru menetapkan target peningkatan tambahan tenaga kerja di sektor pertanian. Di antaranya adalah logika teori konsumsi oleh Ernst Engle bahwa pangsa konsumsi pangan semakin menurun dengan semakin besarnya tingkat pendapatan. Dalam hal ini pertanian adalah sektor utama penghasil bahan pangan pertambahan, sehingga pangsa pertanian dalam PDB pasti semakin menurun seiring terjadinya transformasi struktural pembangunan ekonomi suatu bangsa dari sektor pertanian menuju sektor industri manufaktur dan jasa.
    Pertama ke sektor kedua sehingga terjadi suatu proses migrasi dan urbanisasi.selain itu tingkat pendapatan di negara bersangkutan meningkat sehingga masyarakat cenderung mengkonsumsi macam-macam produk industri dan jasa. Hal ini menjadi motor utama pertumbuhan output di sektor-sektor nonpertanian.
    Teori Chenery memfokuskan pada perubahan struktur dalam tahapan proses perubahan ekonomi di suatu negara yang mengalami transformasi dari pertanian tradisional ke sektor industri sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi.
    Faktor-faktor penyebab transisi ekonomi:
    1. Kondisi dan Struktur awal ekonomi dalam negeri
    Suatu negara yang pada awal pembangunan ekonomi sudah memiliki industri-industri dasar yang relatif kuat akan mengalami proses industrialisasi yang lebih pesat.
    2. Besarnya pasar dalam negeri
    Pasar dalam negeri yang besar merupakan salah satu faktor insentif bagi pertumbuhan kegiatan ekonomi, termasuk industri, karena menjamin adanya skala ekonomis dan efisiensi dalam proses produksi.
    3. Pola distribusi pendapatan
    Merupakan faktor pendukung dari faktor pasar. Tingkat pendapatan tidaklah berarti bagi pertumbuhan industri-industri bila distribusinya sangat pincang.
    4. Karakteristik Industrialisasi
    Mencakup cara pelaksanaan atau strategi pembangunan industri yang diterapkan, jenis industri yang diunggulkan, pola pembangunan industri, dan insentif yang diberikan.

    5. Keberadaan sumber daya alam
    Ada kecenderungan bahwa negara yang kaya SDA mengalami pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah, terlambat melakukan industrialisasi, tidak berhasil melakukan diversifikasi ekonomi (perubahan struktur) daripada negara yang miskin
    Demikian pula, landasan teori tentang peningkatan produktivitas dalam sektor pertanian seiring semakin majunya suatu bangsa juga berlaku universal, sehingga negara yang tidak mampu melakukan strategi peningkatan produktivitas pasti akan ketinggalan zaman. Landasan teori lain yang sering digunakan untuk menjelaskan fenomena transformasi struktural ini adalah semakin meningkatnya keunggulan komparatif dan kompetitif suatu bangsa, terutama setelah berkiprah dalam perdagangan internasional.
    Landasan teori tentang penurunan pangsa penyerapan tenaga kerja seiring dengan pembangunan ekonomi juga sangat solid, karena perekonomian bergerak menuju suatu tingkat produktivtias dan efisiensi yang lebih tinggi. Penurunan pangsa tenaga kerja di sektor pertanian ini dapat dilihat sebagai faktor pendorong (push factor) dan faktor penarik (pull-factor). Faktor pendrong umumnya berkonotasi negatif, karena menunjukkan adanya kemiskinan di sektor pertanian dan pedesaan, sehingga tenaga kerja yang semula bekerja di sektor pertanian akhirnya terpaksa bekerja di sektor industri dan jasa karena di perdesaan tidak mampu memberikan penghidupan yang lebih baik.
    Secara tidak langsung, push factor ini juga mencirikan keterbuangan tenaga kerja sektor pertanian dari lingkungannya sendiri, sekaligus menjadi penanda gagalnya transformasi struktural pembangunan ekonomi. Sedangkan faktor penarik (pull-factor) umumnya berkonotasi positif karena sektor non-pertanian lebih atraktif bagi tenaga kerja perdesaan (pertanian) yang memiliki keterampilan tertentu. Mereka yang memiliki tambahan ketrampilan juga menjadi salah satu cermin dari perbaikan pendidikan di pertanian atau bahkan taraf hidup di daerah perdesaan. Di sini terdapat dimensi peningkatan produktivitas dan peningkatan nilai tambah dalam sektor-sektor perekonomian, sehingga pembangunan ekonomi akan membawa tambahan kesejahteraan baik bagi tenaga kerja sektor pertanian maupun bagi sektor industri dan jasa.
    Walau pun pemerintah mencoba membuat klarifikasi bahwa target peningkatan penyerapan tenaga kerja 44,1 persen di sektor pertanian tidak hanya dari sisi budidaya, tetapi juga meliputi sektor hilir dan industri pertanian, agak sulit untuk meyakinkan masyarakat bahwa pemerintah telah memiliki rencana pembangunan ekonomi yang solid. Dalam kosa kata ekonomi pembangunan, rencana besar dan strategi implementasi proses transformasi struktural ekonomi Indonesia tampak tidak terintegrasi (sekadar tidak menyebut “berantakan”) karena kecenderungan masing-masing sektor menjalankan visi dan misi administrasinya sendiri, tanpa suatu kesatuan yang utuh.

    Rapat koordinasi bidang perekonomian yang melibatkan menteri-menteri atau anggota Kabinet Indonesia Bersatu Kedua yang memilliki portofolio pembangunan ekonomi mungkin saja rutin dilaksanakan. Contoh kecil tentang pengembangan industri hilir pertanian dengan cara bereksperimen melalui penetapan pungutan ekspor atau bea keluar ternyata belum mampu meningkatkan nilai tambah bagi perekonomian Indonesia. Kebijakan pungutan ekspor minyak sawit mentah (CPO), kakao, dan lain-lain masih belum mampu mendorong investasi di hilir atau pendalaman industri (industrial deepening) berdaya saing dan bernilai tambah tinggi ini. Persoalan klasik yang berpangkal pada kondusivitas iklim usaha dan investasi baru kini semakin terlihat nyata di lapangan, yang tentu saja tidak akan mampu dipecahkan sendiri oleh Kementerian Pertanian atau Kementerian Perindustrian saja. Apalagi, jika sinyalemen tentang beberapa pelaku ekonomi domestik justru telah melakukan investasi pengembangan industri hilir pertanian di luar negeri benar adanya, maka proses transformasi struktural ekonomi Indonesia pasti semakin sulit.
    Beberapa langkah berikut mungkin dapat dijadikan pertimbangan untuk kembali meluruskan proses transformasi struktural agar sesuai dengan amanat konstitusi “memajukan kesejahteraan umum” yang dapat juga dimulai dari peningkatan kesejahteraan petani. Pertama, fokus pada peningkatan produktivitas dan efisiensi di pertanian, dengan misi besar untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Misalnya, pada produksi pangan beras, langkah ini dapat dimulai dengan upaya besar pengurangan kehilangan pascapanen, yang kini telah mencapai 22 persen lebih. Seandainya tingkat kehilangan tersebut dapat ditekan sampai 15 persen saja, maka produksi beras di dalam negeri akan bertambah 3,5 juta ton, sehingga Indonesia tidak harus mengalami kontroversi ekonomi-politik impor beras seperti saat ini.
    Kedua, masih pada komoditas padi atau beras, pemerintah dapat fokus pada penyediaan sarana pengeringan (dryer) padi, sekaligus untuk antisipasi musim basah yang masih akan berlangsung sampai Mei 2011. Akses terhadap sarana pasca-panen seperti ini juga untuk menjaga agar harga jual gabah petani tidak anjlok pada musim panen raya. Kementerian Pertanian dan Kementerian Perindustrian dapat bekerjasama untuk, misalnya memobilisasi dana perbankan agar dapat diakses oleh petani dan pelaku usaha penggilingan padi, untuk meningkatkan efisinensi penggilingan dan kapasitas pengloahan agar nilai tambah dapat dinikmati petani dan sektor perdesaan pada umumnya.
    Ketiga, penyempurnaan landasan kebijakan penanganan pasca-panen yang mengarah pada peningkatan efisiensi. Agak mengejutkan juga jika sampai saat ini Indonesia hanya memiliki aturan perundang-undangan berupa Keputusan Presiden No. 47 Tahun 1986 tentang Peningkatan Penanganan Pascapanen dan Hasil Pertanian. Apabila landasan kebijakan itu dibuat lebih mengikat para perumus dan pelaksana kebijakan di Iingkat pusat dan tingkat daerah, maka penanganan pascapanen akan lebih efektif, dengan kriteria yang jelas dan terukur.

    Keempat, pembangunan pertanian bukan pekerjaan sambilan yang dapat dilakukan oleh satu-dua sektor sambil santai, tetapi merupakan agenda besar negara yang akan dapat menentukan wujud perekonomian Indonesia ke depan. Di sinilah pentingnya komitmen penelitian dan pengembangan (R&D) untuk memajukannya, dari berbagai dimensi dan kepentingan, dengan tujuan besar untuk meningatkan kesejahteraan rakyat.
    Pandangan baru dari Berkeley mengenai pemahaman tentang proses perkembangan ekonomi dalam konteks dinamika transformasi struktural seperti yang diuraikan di atas, sebenarnya secara bebas telah dikemukakan oleh almarhum Professor Joan Robinson di Univesitas Cambridge, Inggris pada tahun 1979. Bedanya ialah bahwa pandangan transformasi struktural ala Berkeley ditujukan untuk memecahkan persoalan ekonomi Amerika Serikat yang diguncang oleh defisit yang kronis dalam neraca transaksi berjalannya sedangkan pandangan tranformasi struktural ala Cambridge khusus ditujukan untuk memecahkan persoalan keterbelakangan ekonomi di negara-negara dunia ketiga. Secara spesifik pemikiran transformasi struktural Cambridge meletakkan sektor pertanian sebagai fondasi pembangunan dan sektor industri sebagai motor pembangunan dengan saling keterkaitan yang kokoh. Sebagai motor pembangunan, sektor industri adalah merupakan offshoot dari sektor pertanian.
    Pembangunan ekonomi nasional telah menunjukkan adanya transformasi struktur perekonomian dari sektor pertanian ke sektor industri. Indikator ekonomi yang menunjukkan menurunnya pangsa sektor pertanian serta meningkatnya pangsa sektor industri dalam Produk Domestik Bruto (PDB) dapat menjadi bukti. Pangsa relatif sektor pertanian dalam PDB sebesar 49,3 % pada 1969 menjadi 18,5 % pada 1993, sedangkan sektor industri meningkat dari 9,2% menjadi 22,4 % untuk periode yang sama (Wiwoho, 1994). Inilah yang sering kali disebut-sebut sebagai “keberhasilan” transformasi.
    Namun demikian, pangsa tenaga kerja sektor pertanian belum menurun secara berarti, yaitu sebesar 56 persen pada tahun 1980 dan hanya turun menjadi 48 persen pada tahun 1995. Ketidakseimbangan penurunan pangsa sektor pertanian terhadap PDB dibandingkan dengan penurunannya terhadap total tenaga kerja menunjukkan bahwa sektor pertanian semakin tidak produktif dan tidak efisien. Dari data tersebut bisa terlihat semakin menurunnya pendapatan per kapita tenaga kerja di sektor pertanian.
    Proses industrialisasi yang terjadi pada masa orde baru yang dilakukan dengan gencar, cepat dan berhasil melakukan transformasi struktural perekonomian Indonesia, ternyata belum mengait ke belakang (backward linkage) ke sektor pertanian. Dengan kata lain, sektor pertanian tidak mendapatkan perhatian yang cukup seimbang dibandingkan dengan sektor industri. Ini berakibat pada tertinggalnya sektor petanian dari sektor industri. Tidak saja dalam struktur PDB, tetapi juga juga dalam struktur masyarakat, dimana sampai saat ini masyarakat yang hidup di sektor pertanian (petani) tak kunjung sejahtera dibandingkan masyarakat yang hidup di sektor industri. Nilai tukar petani juga belum membaik. Produktivitas dan efisiensi yang rendah, serta sikap mental dan budaya yang masih tradisional membawa kelompok masyarakat ini dalam ketertinggalan (Arif Satria, 1997).
    Transformasi struktural bukan berarti meninggalkan sektor pertanian menuju sektor industri, tetapi menjadikan pangsa sektor industri terhadap PDB yang lebih besar dari sektor pertanian, yang disebabkan oleh pertumbuhan sektor industri yang lebih tinggi akibat faktor eksternalitas industrialisasi yang lebih besar. Transformasi struktural yang telah dicapai di atas, akan kurang berarti apabila masih menyisakan adanya ketimpangan antarsektor atau ketertinggalannya suatu sektor dalam pembangunan. Karena proses pembangunan adalah proses yang saling mengkait antara satu sektor dengan sektor yang lain. Ketertinggalan suatu sektor dalam pembangunan akan mengakibatkan pertumbuhan pembangunan yang tidak seimbang dan tidak kokoh. Hal ini terbukti ketika terjadi krisis ekonomi yang melanda pada tahun 1998. Sektor industri mengalami keterpurukan yang dahsyat, sementara sektor pertanian – sektor yang tertinggal itu – sebagian besar masih mampu bertahan.
    Setidaknya ada beberapa faktor yang bisa diungkapkan bahwa sektor pertanian menjadi penting dalam proses pembangunan, yaitu:
    1. Sektor pertanian menghasilkan produk-produk yang diperlukan sebagai input sektor lain, terutama sektor industri, seperti: industri tekstil, industri makanan dan minuman;
    2. Sebagai negara agraris (kondisi historis) maka sektor pertanian menjadi sektor yang sangat kuat dalam perekonomian dalam tahap awal proses pembangunan. Populasi di sektor pertanian (pedesaan) membentuk suatu proporsi yang sangat besar. Hal ini menjadi pasar yang sangat besar bagi produk-produk dalam negeri baik untuk barang produksi maupun barang konsumsi, terutama produk pangan. Sejalan dengan itu, ketahanan pangan yang terjamin merupakan prasyarat kestabilan sosial dan politik;
    3. Karena terjadi transformasi struktural dari sektor pertanian ke sektor industri maka sektor pertanian menjadi sektor penyedia faktor produksi (terutama tenaga kerja) yang besar bagi sektor non-pertanian (industri).
    4. Sektor pertanian merupakan sumber daya alam yang memiliki keunggulan komparatif dibanding bangsa lain. Proses pembangunan yang ideal mampu menghasilkan produk-produk pertanian yang memiliki keunggulan kompetitif terhadap bangsa lain, baik untuk kepentingan ekspor maupun substitusi impor (Tambunan, 2001).
    Kasus di Indonesia

    Perubahan struktur ekonomi boleh dikatakan cukup pesat. Periode sejak tahun 1983 hingga krisis ekonomi peran sektor-sektor primer cenderung menurun sedangkan sektor sekunder (seperti industri manufaktur; listrik, gas, dan air; serta kontruksi) dan sektor tersier (perdagangan, hotel, dan restoran, transport& komunikasi, bank& keuangan, dan kegiatan-kegiatan ekonomi lainnya) terus meningkat.

    Pada sektor pertanian sendiri juga telah terjadi perubahan struktur ekonomi antar subsektor yang tidak seimbang dengan perubahan struktur pangsa penyerapan tenaga kerja. Beban penumpukan tenaga kerja yang terjadi saat ini pada sektor pertanian tidak terdistribusi dengan merata pada masing-masing subsektor, dimana hampir semuanya ditanggung subsektor tanaman pangan sehingga kondisi keluarga petani tanaman pangan semakin memprihatinkan.
    Secara umum telah terjadi perbaikan kualitas sumber daya manusia di Indonesia, terbukti komposisi penduduk dengan pendidikan setara pendidikan setara pendidikan menengah ke atas semakin besar, sebaliknya komposisi penduduk dengan tingkat pendidikan sekolah dasar ke bawah berkurang. Namun, perbaikan kualitas sumber daya manusia tersebut tidak diikuti oleh adanya kemampuan dari pemerintah Indonesia untuk menciptakan kesempatan kerja sesuai dengan kualifikasi dari perbaikan kualitas sumberdaya manusia tersebut.
    Solusi Masalah
    1) Untuk mengatasi terjadinya penumpukan tenaga kerja di sektor pertanian yang pada umumnya berada di daerah pedesaan dapat dilakukan melalui pengembangan industri berbasis pedesaan, dengan harapan di satu sisi mampu menyerap kelebihan tenaga kerja tersebut, dan di sisi lain mampu mendatangkan nilai tambah bagi produk pertanian. Sehingga pada akhirnya proses percepatan pemiskinan di sektor pertanian bisa diperlambat.
    2) Pengembangan teknologi pertanian terutama pada daerah-daerah yang kelebihan tenaga kerja sebaiknya diarahkan pada inovasi teknologl sarat tenaga kerja, sehingga masalah kelebihan tenaga kerja pada daerah tersebut dapat dikurangi.
    3) Perlu adanya restrukturisasi industri di Indonesia yang mengarah pada kesesuaian denga kualitas dan kualifikasi tenaga kerja yang ada sekarang. Sebaliknya, jenis pendidikan yang harus dikembangkan harus disesuaikan dengan kebutuhan pasar tenaga kerja, khususnya pasar tenaga kerja pada sektor industri

    2. Pengaruh Transformasi terhadap penyerapan tenaga kerja dari Tahun 1995, 2000, 2005, 2010 !

    Tahun Bekerja
    Pertanian Industri Total
    1995 35.233 10.127 45.360
    2000 40.677 11.642 52.319
    2005 41.814 11.652 53.466
    2010 41.611 12.839 54450

    Pangsa tenaga kerja sektor pertanian belum meningkat secara berarti, yaitu pada tahun 1995 dan pada tahun 2000 hanya meningkat dengan jumlah tenaga kerja 5444 dan terus meningkat pada tahun 2005 dengan jumlah tenaga kerja 1137, namun pada tahun 2010 jumlah tenaga kerja pada sector pertanian menurun dengan jumlah tenaga kerja 203 , dari data tersebut dari tahun 1995-2010 jumlah tenaga kerja terus mengalami peningkatan.

    2. b Kontribusi Sektor Pertanian dan Industri Terhadap PDB Pada Tahun 1995, 2000, 2005, 2010 !

    Pendapatan Domestik Bruto Atas Dasar Harga Konstan
    Sektor Tahun
    1995 2000 2005 2010
    Pertanian 253.881 296.369
    Total 253.881 296.369
    IDUSTRI
    Migas 48.658 46.611
    Non-Migas 442.902 522.939
    Total 491.561 569.551
    Total PDB 1.750.815 2.176.975

    Pendapatan Domestik Bruto Atas Dasar Harga Berlaku
    Sektor Tahun
    1995 2000 2005 2010
    Pertanian 364.169 857.241
    Total 364.169 857.241
    IDUSTRI
    Migas 138.441 209.973
    Non-Migas 621.924 1.267.700
    Total 760.365 1.477.673
    Total PDB 2.774.281 5.603.871

    3. Peranan Agribisnis terhadap ekonomi Nasional ?
    Agribisnis sering diartikan sempit, yaitu perdagangan atau pemasaran hasil pertanian. Padahal konsep agribisnis adalah utuh, mulai dari proses produksi, pengolahan hasil, pemasaran dan aktivitas lain yang berkaitan dengan kegiatan pertanian. Agribisnis dapat berkembang di Indonesia karena kondisi daerah yang menguntungkan, antara lain: lokasinya di garis khatulistiwa, berada diluar zona angin taifun, tersedianya sarana dan prasarana pendukung berkembangnya agribisnis, dan kemauan politik pemerintah untuk memberikan prioritas. Hambatan dalam pengembangan agribisnis di Indonesia terletak pada berbagai aspek, antara lain: Pola produksi terletak di lokasi yang berpencar, sarana dan prasrana belum memadai di luar Jawa, biaya transportasi menjadi lebih tinggi, adanya pemusatan agroindustri di kota-kota besar, dan sistem kelembagaan kurang mendukung berkembangnya kegiatan agribisnis. Dengan adanya persaingan yang ketat terhadap pemasaran hasil pertanian di pasaran dunia, menuntut peranan kualitas produk, dan kemampuan menerobos pasar dunia.
    Pentingnya Sektor Pertanian
    Agar sasaran pembangunan pertanian mempunyai kontribusi yang nyata, maka upaya khusus perlu dikembangkan, yaitu; tetap memperhatikan prinsip keunggulan komparatif; meningkatkan keterampilan masyarakat setempat; meningkatkan kesinambungan pasokan bahan baku; menyediakan fasilitas kredit serta pelayanan yang memadai. Pengembangan sektor pertanian diperlukan konsep agribisnis, yaitu memproduksi hasil pertanian yang mempunyai keunggulan komparatif (prospek ekspor) dan perwilayahan (pengembangan komoditi berdasarkan potensi wilayah), memprosesnya dan selanjutnya memasarkan untuk konsumsi lokal dan ekspor. Untuk itu diperlukan fasilitas pendukung peningkatan produktivitas pertanian, permodalan atau perbankan yang mendukung berkembangnya industri pengolahan hasil pertanian dan perluasan pasar.
    Peranan pertanian/agribisnis dalam mendukung perekonomian suatu bangsa tidak diragukan lagi. Sejarah negara-negara maju di dunia ini seperti Eropa Barat, Amerika Serikat, Jepang, Rusia, Australia, Cina dan lain-lain menunjukkan bahwa keberhasilannya dalam membangun ekonomi sangat ditentukan oleh kesuksesannya dalam membangun agribisnisnya. Negara-negara yang tidak berhasil membangun pertanian sebagai dasar pembangunan sektor ekonomi akan mengalami kemunduran setelah mencapai tahapan perkembangan ekonomi tertentu.
    Para pakar sepakat menterjemahkan agribisnis sebagai sebuah sistem yang didalamnya ada berbagai subsistem, seperti subsistem usahatani, input, pengolahan (agro industri), pemasaran, jasa pendukung, dan sebagainya. Sementara itu agribisnis merupakan sebuah sistem yang terintegrasi dari segala kegiatan dalam pengusahaan tumbuhan dan hewan yang berorientasi pasar dan perolehan nilai tambah (value added).
    Fakta menunjukkan bahwa sektor agribisnis merupakan satu-satunya sektor yang mampu bertahan serta tumbuh selama krisis ekonomi melanda Indonesia. Sementara sektor industri, yang sering disebut lokomotif pembangunan nasional, ternyata tidak mampu menunjukkan kehandalannya, sebagai akibat terlalu besarnya ketergantungan industri kepada import content.
    Peran penting agribisnis terhadap perekonomian nasional tampak pada Produk Domestik Bruto (PDB) yang dihasilkan, penciptaan devisa, penyediaan pangan dan bahan baku industri, pengentasan kemiskinan, penyediaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat. Selain melalui kontribusi langsung tersebut, sektor agribisnis juga mempunyai kontribusi tidak langsung berupa efek pengganda (multiplier effect) melalui kaitan kedepan dan ke belakang yang dampaknya relatif besar terhadap sektor-sektor perekonomian lainnya sehingga layak dijadikan sebagai sektor andalan dalam pembangunan ekonomi nasional menuju Indonesia maju dan berdaulat.
    Untuk dapat membangun agribisnis diperlukan informasi peluang usaha yang dapat dikembangkan, pemanfaatan tehnologi pertanian, sistem agribisnis yang sehat, pengendalian laju konversi lahan pertanian, pengembangan kelembagaan ekonomi dan sosial yang berkelanjutan, serta kebijakan pemerintah yang melindungi sektor pertanian dalam negeri sehingga sektor agribisnis dapat menggerakkan perekonomian nasional yang kuat dan berdaulat.
    Kondisi perekonomian Indonesia mulai bergeser dari dominasi sektor primer khususnya pertanian digantikan dengan sektor lain. Oleh karenanya perkembangan sektor pertanian dan industri menjadi saling mendukung, karena adanya kemauan politik (political will) pemerintah yang mengarahkan perekonomian berimbang. Namun peranan pertanian masih dominan dan mempunyai nilai tambah yang lebih tinggi dengan meningkatkan peran penting agroindustri dan agribisnis.

  8. T U G A S
    P E M B A N G U N A N P E R T A N I A N
    OLEH:
    DEDI RAHMAN
    D1B107045

    DOSEN PENGAMPU
    ZAKY FATHONI, SP, MSc.

    PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
    JURUSAN AGRIBISNIS
    FAKULTAS PERTANIAN
    UNIVERSITAS JAMBI

    1. Transpormasi Struktural Ekonomi Nasional Bagaimana Pengaruh Terhadap Tenaga Kerja?
    Pada 29 Desember 2010, Kementerian Pertanian menyampaikan ”Refleksi Tahun 2010 dan Prospek Pembangunan Pertanian Tahun 2011”. Sebagaimana dapat diduga, perubahan iklim ekstrem masih menjadi tantangan pertanian pada tahun 2011 karena sekian macam dampak buruk yang akan ditimbulkannya. Pemerintah secara gentle mengakui keterlambatannya untuk mengantisipasi perubahan iklim tersebut, walaupun kini telah mulai dikembangkan varietas tanaman pangan (terutama padi, jagung dan kedelai) yang mampu beradaptasi dengan perubahan iklim.
    Di luar tentang fenomena perubahan iklim yang telah menjadi agenda nasional, pada kesempatan tersebut,Pemerintah juga menargetkan perbaikan kinerja sektor pertanian pada tahun 2011 sebesar 3,61 persen per tahun serta hal-hal lain yang umumnya dikenal dengan istilah transformasi struktural perekonomian Indonesia.Target tersebut memang sangat tinggi mengingat kinerja pertumbuhan sektor pertanian sampai triwulan tiga tahun 2010 hanya mencapai 2,6 persen. Rendahnya pertumbuhan sektor pertanian sekarang ini juga sangat berhubungan dengan rendahnya nilai tambah yang dihasilkan sektor ini, terutama pada pertengahan tahun.

    Kinerja pertumbuhan triwulan dua ke triwulan tiga yang mencapai 6 persen belum cukup untuk menggapai kinerja sektoral yang memuaskan bagi sektor yang sebenarnya mampu menyerap tenaga kerja, menciptakan lapangan kerja baru, dan menggandakannya ke sektor-sektor lain yang lebih produktif. Target pertumbuhan 3,61 persen per tahun sebenarnya bukan seuatu yang mustahil untuk dicapai, jika pemeritah mampu mengambil langkah-langkah kebijakan yang memberikan insentif bagi pelaku usaha di sektor pertanian dan sektor lainnya untuk meningkatkan produktivitas dan kinerjanya.

    Target lain yang dicanangkan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pertanian, adalah peningkatan penyerapan tenaga kerja sektor pertanian dari 41,4 persen pada tahun 2010 menjadi 44,1 persen pada tahun 2011. Target peningkatan penyerapan tenaga sektor pertanian itu tampak anomali dengan prinsip-prinsip dasar transformasi struktural dari pembangunan ekonomi suatu bangsa. Teori ekonomi pembangunan percaya bahwa pangsa sektor pertanian dalam perekonomian atau pendapatan nasional (produk domestik bruto=PDB) semakin lama semakin menurun. Pangsa PDB sektor pertanian telah menurun dari 30 persen pada dekade 1970-an, menjadi 23 persen pada 1980-an, dan hanya 15-16 persen saat ini. Demikian pula, pangsa atau persentase penduduk yang bekerja di sektor pertanian juga semakin menurun, seiring dengan berkembangnya sektor industri dan jasa. Pangsa penyerapan tenaga kerja sektor pertanian juga telah menurun dari 62 perse pada 1970-an, menjadi 56 persen pada 1980-an dan 41 persen saat ini.

    Landasan teori tentang fenomena transformasi struktural itu sudah sangat solid, sehingga terkesan “aneh dan melawan arus” jika pemerintah justru menetapkan target peningkatan tambahan tenaga kerja di sektor pertanian. Di antaranya adalah logika teori konsumsi oleh Ernst Engle bahwa pangsa konsumsi pangan semakin menurun dengan semakin besarnya tingkat pendapatan. Dalam hal ini pertanian adalah sektor utama penghasil bahan pangan pertambahan, sehingga pangsa pertanian dalam PDB pasti semakin menurun seiring terjadinya transformasi struktural pembangunan ekonomi suatu bangsa dari sektor pertanian menuju sektor industri manufaktur dan jasa.

    Demikian pula, landasan teori tentang peningkatan produktivitas dalam sektor pertanian seiring semakin majunya suatu bangsa juga berlaku universal, sehingga negara yang tidak mampu melakukan strategi peningkatan produktivitas pasti akan ketinggalan zaman. Landasan teori lain yang sering digunakan untuk menjelaskan fenomena transformasi struktural ini adalah semakin meningkatnya keunggulan komparatif dan kompetitif suatu bangsa, terutama setelah berkiprah dalam perdagangan internasional.

    Landasan teori tentang penurunan pangsa penyerapan tenaga kerja seiring dengan pembangunan ekonomi juga sangat solid, karena perekonomian bergerak menuju suatu tingkat produktivtias dan efisiensi yang lebih tinggi. Penurunan pangsa tenaga kerja di sektor pertanian ini dapat dilihat sebagai faktor pendorong (push factor) dan faktor penarik (pull-factor). Faktor pendrong umumnya berkonotasi negatif, karena menunjukkan adanya kemiskinan di sektor pertanian dan pedesaan, sehingga tenaga kerja yang semula bekerja di sektor pertanian akhirnya terpaksa bekerja di sektor industri dan jasa karena di perdesaan tidak mampu memberikan penghidupan yang lebih baik.

    Secara tidak langsung, push factor ini juga mencirikan keterbuangan tenaga kerja sektor pertanian dari lingkungannya sendiri, sekaligus menjadi penanda gagalnya transformasi struktural pembangunan ekonomi. Sedangkan faktor penarik (pull-factor) umumnya berkonotasi positif karena sektor non-pertanian lebih atraktif bagi tenaga kerja perdesaan (pertanian) yang memiliki keterampilan tertentu. Mereka yang memiliki tambahan ketrampilan juga menjadi salah satu cermin dari perbaikan pendidikan di pertanian atau bahkan taraf hidup di daerah perdesaan. Di sini terdapat dimensi peningkatan produktivitas dan peningkatan nilai tambah dalam sektor-sektor perekonomian, sehingga pembangunan ekonomi akan membawa tambahan kesejahteraan baik bagi tenaga kerja sektor pertanian maupun bagi sektor industri dan jasa.

    Walau pun pemerintah mencoba membuat klarifikasi bahwa target peningkatan penyerapan tenaga kerja 44,1 persen di sektor pertanian tidak hanya dari sisi budidaya, tetapi juga meliputi sektor hilir dan industri pertanian, agak sulit untuk meyakinkan masyarakat bahwa pemerintah telah memiliki rencana pembangunan ekonomi yang solid. Dalam kosa kata ekonomi pembangunan, rencana besar dan strategi implementasi proses transformasi struktural ekonomi Indonesia tampak tidak terintegrasi (sekadar tidak menyebut “berantakan”) karena kecenderungan masing-masing sektor menjalankan visi dan misi administrasinya sendiri, tanpa suatu kesatuan yang utuh. Rapat koordinasi bidang perekonomian yang melibatkan menteri-menteri atau anggota Kabinet Indonesia Bersatu Kedua yang memilliki portofolio pembangunan ekonomi mungkin saja rutin dilaksanakan.

    2. A. Pengaruh Transformasi terhadap penyerapan tenaga kerja dari Tahun 1995, 2000, 2005, 2010 !

    Tahun Bekerja
    Pertanian Industri Total
    1995 35.233 10.127 45.360
    2000 40.677 11.642 52.319
    2005 41.814 11.652 53.466
    2010 41.611 12.839 54450

    Pangsa tenaga kerja sektor pertanian belum meningkat secara berarti, yaitu pada tahun 1995 dan pada tahun 2000 hanya meningkat dengan jumlah tenaga kerja 5444 dan terus meningkat pada tahun 2005 dengan jumlah tenaga kerja 1137, namun pada tahun 2010 jumlah tenaga kerja pada sector pertanian menurun dengan jumlah tenaga kerja 203 , dari data tersebut dari tahun 1995-2010 jumlah tenaga kerja terus mengalami peningkatan.
    2. b Kontribusi Sektor Pertanian dan Industri Terhadap PDB Pada Tahun 1995, 2000, 2005, 2010 !
    Pendapatan Domestik Bruto Atas Dasar Harga Konstan
    Sektor Tahun
    1995 2000 2005 2010
    Pertanian 253.881 296.369
    Total 253.881 296.369
    IDUSTRI
    Migas 48.658 46.611
    Non-Migas 442.902 522.939
    Total 491.561 569.551
    Total PDB 1.750.815 2.176.975

    Pendapatan Domestik Bruto Atas Dasar Harga Berlaku
    Sektor Tahun
    1995 2000 2005 2010
    Pertanian 364.169 857.241
    Total 364.169 857.241
    IDUSTRI
    Migas 138.441 209.973
    Non-Migas 621.924 1.267.700
    Total 760.365 1.477.673
    Total PDB 2.774.281 5.603.871
    3. Jelaskan peranan Agribisnis terhadap Ekonomi Nasional !
    Pembangunan agrbisnis sebagai fokus pembangunan ekonomi nasional mengingat pentingnya sector pertanian dalam perekonomian nasional, maka pembangunan ekonomi nasional harus dititik beratkan pada sektor pertanian. Sector pertanian terkait langsung dengan sektor-sektor lainnya seperti sektor industri, sektor perdangangan, transportasi, jasa perbankan, pendidika dan seterusnya. Oleh karena itu, pembangunan sector lain dalam lingkup pembangunan nasional harus dilihat keterkaitannya dengan sektor pertanian.
    Mendorong pembangunan industry yang terkait dengan sector hulu dan hilir dari sector pertanian. Keterkaitan pembangunan pertanian dengan sector industry dapat dilihat dalam bentuk keterkaitan kebelakang (backward) dan keterkaitan kedepan (forward). Keterkaitan kebalakang (industry hulu) dapat dilihat dari penyediaan sarana produksi seperti industry pembuat alat-alat pertanian (cangkul, sabit, parang, pisau, pisau sadap, ani-ani, traktor dan mesin-mesin lainnya), industry penghasil pupuk dan obat-obatan dan bibit unggul baru. Sedangkan keterkaitan kedepan (industry hilir) dapat dilihat dari peranan industry pengolah bahan-bahan pertanian (agroindustri) sebagai penampung hasil-hasil pertanian. Pembangunan ekonomi nasional berdasarkan konsep agribisnis dapat digambarkan sebagai berikut:

  9. Nama : Winarto Rapolo Manik
    NIM : D1B208015
    Prodi : PKP
    1. Apa itu Transformasi Struktural ?
    Jawab : Transformasi Struktural merupakan suatu prasyarat dari peningkatan kesinambungan pertumbuhan dan penanggulangan kemiskinan sekaligus pendukung bagi keberlanjutan pembangunan suatu negara.
    2. Bagaimana pengaruh Transformasi Struktural terhadap tenaga kerja?
    Jawab : Transformasi struktural dipengaruhi secara positif dan signifikan oleh kemajuan tingkat pendidikan, sedangkan pertumbuhan ekonomi tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap transformasi struktural. Pertumbuhan ekonomi dipengaruhi secara positif dan signifikan oleh kesempatan kerja dan investasi. Kesempatan kerja dipengaruhi secara positif dan signifikan oleh pertumbuhan ekonomi, sedangkan transformasi struktural dan tingkat upah memiliki pengaruh yang negatif terhadap kesempatan kerja
    3. Data BPS antara penyerapan tenaga kerja dan industri pada tahun 1990,1995,2000,2005,2010 ?
    Jawab : Tahun 1990 – Sektor Pertanian = -3 %
    – Sektor Industri = 7 %
    Tahun 1995 – Sektor Pertanian = 12%
    – Sektor Industri = 18 %
    Tahun 2000 – Sektor Pertanian = -3%
    – Sektor Industri = – 8 %
    Tahun 2005 – Sektor Pertanian = 3 %
    – Sektor Industri = -3 %
    Tahun 2009 – Sektor Peretanian = 4 %
    – Sektor Insudtri = 3%
    Sumber data : http://gizi.depkes.go.id
    4. Bagaimana kontribusi sektor pertanian dan industri terhadap PDB pada tahun 1990 dan 2010?
    Jawab : Di Indonesia pertumbuhan ekonomi tidak disertai dengan perubahan struktur tenaga kerja yang berimbang. Artinya aktivitas ekonomi tercapai lebih dahulu dibandingkan dengan penggunaan tenaga kerja.
    Di Indonesia terjadi perubahan struktur perekonomian, hal ini ditandai dengan :
    a. Merosotnya pangsa sektor primer ( pertanian )
    b. Meningkatnya pangsa sektor sekunder ( industri )
    c. Pangsa sektor jasa kurang lebih konstan, tetapi kontribusinya akan meningkat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi

    5. Apa peranan agribisnis terhadap pembangunan ekonomi nasional?
    Jawab : Peranan Agribisnis terhadap perekonomian nasional adalah :
    a. Pengahasil bahan pangan
    b. Penyedia lapangan pekerjaan
    c. Pendorong munculnya kesempatan perusahaan
    d. Penghasil devisa ( melalui kegiatan ekspor )

  10. Nama: Rona Antika R
    NIM: D1B107007
    Prodi: Agribisnis

    1. Definisi dari transformasi structural dalam pembangunan ekonomi.
    Transformasi struktural merupakan prasyarat dari peningkatan dan kesinambungan pertumbuhan dan penanggulangan kemiskinan, sekaligus pendukung bagi kelanjutan pembangunan. Pada kenyataannya,pertumbuhan ekonomi di Indonesia tidak disertai dengan perubahan struktur tenaga kerja yang berimbang..artinya titik balik untuk aktivitas ekonomi tercapai lebih dahulu dibanding titik balik penggunaan tenaga kerja. Sehingga terjadi masalah-masalah yang seringkali diperdebatkan diantaranya apakah pangsa PDB sebanding dengan penurunan pangsa serapan tenaga kerja sektoral dan industri mana yang berkembang lebih cepat, agroindustri atau industri manufaktur. Apabila transformasi kurang seimbang dikuatirkan akan terjadi proses pemiskinan dan eksploitasi sumber daya manusia pada sektor primer.

    Komponen
    Proses perubahan struktur perekonomian di Indonesia ditandai dengan:
    1. Merosotnya pangsa sektor primer (pertanian)
    2. Meningkatnya pangsa sektor sekunder (industri)
    3. Pangsa sektor jasa kurang lebih konstan, tetapi kontribusinya akan meningkat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi.
    Dalam menganalisis struktur ekonomi terdapat dua teori utama, yaitu teori Arthur Lewis (teori migrasi) dan Hollins Chenery (teori transformasi struktural). Dalam teorinya, Lewis mengasumsikan bahwa perekonomian suatu negara pada dasarnya terbagi menjadi dua yaitu perekonomian tradisional di pedesaan yang didominasi sektor pertanian dan perekonomian modern di perkotaan dengan industri sebagai sektor utama. Di pedesaan, pertumnuhan pertumbuhan penduduknya tinggi sehingga terjadi kelebihan suplai tenaga kerja. Akibat over supply tenaga kerja ini, tingkat upah menjadi sangat rendah. Sebaliknya, di perkotaan, sektor industri mengalami kekurangan tenaga kerja. Hal ini menarik banyak tenaga kerja pindah dari sektor pertama ke sktor kedua sehingga terjadi suatu proses migrasi dan urbanisasi.selain itu tingkat pendapatan di negara bersangkutan meningkat sehingga masyarakat cenderung mengkonsumsi macam-macam produk industri dan jasa. Hal ini menjadi motor utama pertumbuhan output di sektor-sektor nonpertanian.

    Kasus di Indonesia
    Perubahan struktur ekonomi boleh dikatakan cukup pesat. Periode sejak tahun 1983 hingga krisis ekonomi peran sektor-sektor primer cenderung menurun sedangkan sektor sekunder (seperti industri manufaktur; listrik, gas, dan air; serta kontruksi) dan sektor tersier (perdagangan, hotel, dan restoran, transport& komunikasi, bank& keuangan, dan kegiatan-kegiatan ekonomi lainnya) terus meningkat.
    Pada sektor pertanian sendiri juga telah terjadi perubahan struktur ekonomi antar subsektor yang tidak seimbang dengan perubahan struktur pangsa penyerapan tenaga kerja. Beban penumpukan tenaga kerja yang terjadi saat ini pada sektor pertanian tidak terdistribusi dengan merata pada masing-masing subsektor, dimana hampir semuanya ditanggung subsektor tanaman pangan sehingga kondisi keluarga petani tanaman pangan semakin memprihatinkan.
    Secara umum telah terjadi perbaikan kualitas sumber daya manusia di Indonesia, terbukti komposisi penduduk dengan pendidikan setara pendidikan setara pendidikan menengah ke atas semakin besar, sebaliknya komposisi penduduk dengan tingkat pendidikan sekolah dasar ke bawah berkurang. Namun, perbaikan kualitas sumber daya manusia tersebut tidak diikuti oleh adanya kemampuan dari pemerintah Indonesia untuk menciptakan kesempatan kerja sesuai dengan kualifikasi dari perbaikan kualitas sumberdaya manusia tersebut.

    Solusi Masalah
    1) Untuk mengatasi terjadinya penumpukan tenaga kerja di sektor pertanian yang pada umumnya berada di daerah pedesaan dapat dilakukan melalui pengembangan industri berbasis pedesaan, dengan harapan di satu sisi mampu menyerap kelebihan tenaga kerja tersebut, dan di sisi lain mampu mendatangkan nilai tambah bagi produk pertanian. Sehingga pada akhirnya proses percepatan pemiskinan di sektor pertanian bisa diperlambat.
    2) Pengembangan teknologi pertanian terutama pada daerah-daerah yang kelebihan tenaga kerja sebaiknya diarahkan pada inovasi teknologl sarat tenaga kerja, sehingga masalah kelebihan tenaga kerja pada daerah tersebut dapat dikurangi.
    3) Perlu adanya restrukturisasi industri di Indonesia yang mengarah pada kesesuaian denga kualitas dan kualifikasi tenaga kerja yang ada sekarang. Sebaliknya, jenis pendidikan yang harus dikembangkan harus disesuaikan dengan kebutuhan pasar tenaga kerja, khususnya pasar tenaga kerja pada sektor industri.

    No. Lapangan Pekerjaan Utama 2004 2005 (Feb) 2005 (Nov) 2006 (Feb) 2006 (Agst) 2007 (Feb) 2007 (Agst) 2008 (Feb) 2008 (Agst) 2009 (Feb) 2009 (Agst) 2010 (Feb) 2010 (Agst)
    1 Pertanian, Kehutanan, Perburuan dan Perikanan 40 608 019 41 814 197 41 309 776 42 323 190 40 136 242 42 608 760 41 206 474 42 689 635 41 331 706 43 029 493 41 611 840 42 825 807 41,494,941
    2 Pertambangan dan Penggalian 1 034 716 808 842 904 194 947 097 923 591 1 020 807 994 614 1 062 309 1 070 540 1 139 495 1 155 233 1 188 634 1,254,501
    3 Industri Pengolahan 11 070 498 11 652 406 11 952 985 11 578 141 11 890 170 12 094 067 12 368 729 12 440 141 12 549 376 12 615 440 12 839 800 13 052 521 13,824,251
    4 Listri, Gas, dan Air 228 297 186 801 194 642 207 102 228 018 247 059 174 884 207 909 201 114 209 441 223 054 208 494 234,070
    5 Bangunan 4 540 102 4 417 087 4 565 454 4 373 950 4 697 354 4 397 132 5 252 581 4 733 679 5 438 965 4 610 695 5 486 817 4 844 689 5,592,897
    6 Perdagangan Besar, Eceran, Rumah Makan, dan Hotel 19 119 156 18 896 902 17 909 147 18 555 057 19 215 660 19 425 270 20 554 650 20 684 041 21 221 744 21 836 768 21 947 823 22 212 885 22,492,176
    7 Angkutan, Pergudangan dan Komunikasi 5 480 527 5 552 525 5 652 841 5 467 308 5 663 956 5 575 499 5 958 811 6 013 947 6 179 503 5 947 673 6 117 985 5 817 680 5,619,022
    8 Keuangan, Asuransi, Usaha Persewaan Bangunan, Tanah, dan Jasa Perusahaan 1 125 056 1 042 786 1 141 852 1 153 292 1 346 044 1 252 195 1 399 940 1 440 042 1 459 985 1 484 598 1 486 596 1 639 748 1,739,486
    9 Jasa Kemasyarakatan, Sosial dan Perorangan 10 515 665 10 576 572 10 327 496 10 571 965 11 355 900 10 962 352 12 019 984 12 778 154 13 099 817 13 611 841 14 001 515 15 615 114 15,956,423
    Total 93 722 036 94 948 118 93 958 387 95 177 102 95 456 935 97 583 141 99 930 217 102 049 857 102 552 750 104 485 444 104 870 663 107 405 572 108,207,767
    Sumber: Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) 2004, 2005, 2006, 2007, 2008, 2009 dan 2010

    2. Pengaruh transformasi dalam penyerapan tenaga kerja
    Dilihat dari data PDRB menunjukkan bahwa total nilai PDRB rata – rata setiap tahun nya mengalami peningkatan. Adanya peningkatan total PDRB mengindikasikan bahwa pada penyerapan tenaga kerja mengalami peningkatan

    3. Bagaimana kontribusi sektor pertanian dan industry terhadap PDB Indonesia
    Pada tabel di tunjukkan bahwa pertanian penyumbang terbesar pada PDB, tetapi nilainya berfluktuasi sedangkan industry menyumbang pada PDB tidak terlalu besar, akan tetapi perkembangan nya sektor industry mengalami peningkatan tiap tahun nya.
    4.bagaimana peran agribisnis terhadap pembangunan ekonomi nasional
    – Sektor agribisnis mempunyai peranan penting didalam pembangunan. Ada lima peran penting dari sektor pertanian dalam kontribusi pembangunan ekonomi antara lain meningkatkan produksi pangan untuk konsumsi domestik, penyedia tenaga kerja terbesar, memperbesar pasar untuk industri, meningkatkan supply uang tabungan dan meningkatkan devisa. Sampai saat ini, peranan sektor pertanian di Indonesia begitu besar dalam mendukung pemenuhan pangan dan memberikan lapangan kerja bagi rumah tangga petani. Tahun 2003, sektor pertanian mampu memperkerjakan sebanyak 42 juta orang atau 46,26 persen dari penduduk yang bekerja secara keseluruhan.
    Sektor agribisnis mempunyai peranan penting didalam pembangunan. Ada lima peran penting dari sektor pertanian dalam kontribusi pembangunan ekonomi antara lain meningkatkan produksi pangan untuk konsumsi domestik, penyedia tenaga kerja terbesar, memperbesar pasar untuk industri, meningkatkan supply uang tabungan dan meningkatkan devisa. Sampai saat ini, peranan sektor pertanian di Indonesia begitu besar dalam mendukung pemenuhan pangan dan memberikan lapangan kerja bagi rumah tangga petani. Tahun 2003, sektor pertanian mampu memperkerjakan sebanyak 42 juta orang atau 46,26 persen dari penduduk yang bekerja secara keseluruhan.
    Pertanian sangat berperan dalam pembangunan suatu daerah dan perekonomian dengan, pertanian harapannya mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi penduduk, sebagai sumber pendapatan, sebagai sarana untuk berusaha, serta sebagai sarana untuk dapat merubah nasib ke arah yang lebih baik lagi. Peranan pertanian/agribisnis tersebut dapat dilakukan dengan meningkatkan ekonomi petani dengan cara pemberdayaan ekonomi kerakyatan.
    Sektor pertanian mempunyai peranan yang penting dan strategis dalam pembangunan nasional. Peranan tersebut antara lain: meningkatkan penerimaan devisa negara, penyediaan lapangan kerja, perolehan nilai tambah dan daya saing, pemenuhan kebutuhan konsumsi dalam negeri, bahan baku industri dalam negeri serta optimalisasi pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Hal ini ditunjukkan oleh besarnya kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) terutama pada masa kirisis ekonomi yang dialami Indonesia, satu-satunya sektor yang menjadi penyelamat perekonomian Indonesia pada tahun 1997-1998 hanyalah sektor agribisnis, dimana agribisnis memiliki pertumbuhan yang positif.
    Dalam jangka panjang, pengembangan lapangan usaha pertanian difokuskan pada produk-produk olahan hasil pertanian yang memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional, seperti pengembangan agroindustri. Salah satu lapangan usaha pertanian yang berorientasi ekspor dan mampu memberikan nilai tambah adalah sektor perekebunan. Nilai PDB sektor pertanian mengalami pertumbuhan yang semakin membaik dari tahun ke tahun. Jika diperhatikan dengan baik, peranan sektor pertanian masih dapat ditingkatkan sebagai upaya dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat tani di Indonesia.Secara empirik, keunggulan dan peranan pertanian/agribisnis tersebut cukup jelas, yang pertama dilihat hádala peranan penting agribisnis (dalam bentuk sumbangan atau pangsa realtif terhadap nilai tambah industri non-migas dan ekspor non-migas), yang cukup tinggi. Penting pula diperhatikan bahwa pangsa impor agribisnis relatif rendah, yang mana ini berarti bahwa agribisnis dari sisi ekonomi dan neraca ekonomi kurang membebani neraca perdagangan dan pembayaran luar negeri. Sehingga dengan demikian sektor agribisnis merupakan sumber cadangan devisa bagi negara. Diharapkan sektor pertanian mampu menjadi sumber pertumbuhan perekonomian status bangsa, terutama negara-negara berkembang yang perekonomiannya masih 60persen bertumpu pada sektor pertanian.
    Disisi lain, dilihat ternyata pembangunan agribisnis mampu menunjukkan peningkatan produktivitas di sektor pertanian, hal ini menunjukkan dua hal yakni, bahwa terjadi peningkatan productivitas pada hasil produk pertanian yang diikuti oleh perbaikan koalitas, perbaikan teknologi yang mengikutinya dan peningkatan jumlah tenaga kerja di sektor pertanian, seperti yang ditunjukkan pada awal-awal bab ini.
    Pada dasarnya tidak perlu diragukan lagi, bahwa pembangunan ekonomi yang berbasiskan lepada sektor pertanian (agribisnis), karena telah memberikan bukti dan dan peranan yang cukup besar dalam pembangunan perekonomian bangsa, dan tentunya lebih dari itu.
    Pembangunan pertanian dalam kerangka pembangunan ekonomi nasional berarti menjadikan perekonomian daerah sebagai tulang punggung perekonomian nasional. Sebagai agregasi dari ekonomi daerah, perekonomian nasional yang tangguh hanya mungkin diwujudkan melalui perekonomian yang kokoh. Rapuhnya perekonomian nasional selama ini disatu sisi dan tingginya disparitas ekonomi antar daerah dan golongan disisi lain mencerminkan bahwa perekonomian nasional Indonesia dimasa lalu tidak berakar kuat pada ekonomi daerah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s